Jumat, 06 November 2015

RAHASIA MOKSA



Moksa atau dalam ngelmu Jawa dinyatakan sebagai sampurna, adalah peristiwa perpindahan sukma seseorang ke dimensi kehidupan yang lebih lembut dengan membawa serta raganya.

Seseorang yang moksa menempati kehidupan baru di salah satu planet di jagad raya yang luas tak terbatas ini, dengan mengemban tugas dan missi baru.  Tetapi tidak menutup kemungkinan mereka bisa kembali ke planet bumi, jika diperuntukkan demikian, tanpa membuat mereka menderita layaknya orang kebanyakan yang hidup di bumi.  Sebagai contoh, orang yang telah mengalami kepenuhan hidup, telah sampai tataran paripurna, tetapi di muka bumi dibutuhkan orang dengan kriteria seperti itu, ia bisa dihidupkan kembali di muka bumi oleh Hyang Suksma.  Yang seperti ini lahir melalui orang tua yang telah menata diri terlebih dahulu, dan menjalankan tindakan – tindakan yang selaras untuk melahirkan bayi berkualitas.  Tapi yang mengalami moksa dengan cara seperti ini hanya manusia yang mendapatkan tugas atau proyek tertentu dalam kehidupan di muka bumi,  tidak bisa sekehendak sendiri untuk pulang ke bumi.  Ia harus mengikuti rancangan Sang Maha Segala-galanya untuk menyelesaikan tugas atau proyek itu.



Jadi, konsep reinkarnasi yang menyebutkan bahwa siapapun yang lahir di bumi, setelah mati akan kembali lagi ke bumi sampai menemukan kesempurnaan, tidak selamanya tepat.  Galaksi ini luas, mereka yang pernah hidup di muka bumi tidak mesti akan kembali ke muka bumi.  Mereka bisa mendiami planet di galaksi lain, sesuai tataran perjalanan mereka ketika hidup di muka bumi.  Terlebih, orang yang moksa tidak lagi terikat atau tergantung oleh atmosfer di bumi, ia bisa berjalan ke berbagai tempat dengan atmosfer yang berbeda.

Bukan berarti reinkarnasi itu tidak ada.  Tapi tidak setiap orang mesti menjalani reinkarnasi karena ada banyak opsi lain untuk melanjutkan kehidupan setelah sukma berpisah dengan raga.

Moksa, bisa juga dikatakan sebagai cara mati yang pener atau tepat. Langkahnya adalah di masa masih hidup mesti mampu mengerti cara hidup yang pener atau tepat pula.  Bagaimanakah itu? Yaitu mau menjalani seluruh hidup ini dengan mengikuti atau mematuhi segala pituduh atau petunjuk dari Gusti, yang dalam ungkapan  Jawa  adalah net,  yaitu  suara lembut atau getaran yang muncul pertama kali dari dalam pusat hati atau telenging manah seseorang yang merupakan suatu tanda, dan tanda atau sinyal itu bisa dimengerti oleh dirinya.

Nah, selama seseorang selalu mau mematuhi pada tuntunan net ini, tentulah dirinya tidak akan pernah keliru dalam menjalani setiap jengkal hidupnya. Yang menjadi persoalan adalah kecenderungan manusia sering mengabaikan tuntunan dari net ini, karena lebih suka untuk mengikuti cara bernalar mereka sendiri yang berdasarkan pada perhitungan otak saja. Dan inilah yang menyebabkan banyak manusia menjalani hidupnya tidak bisa selaras dengan realitas kesemestaan, sehingga tidak mampu memenuhi standar hidup sesuai cetak birunya. Sebetulnya hidup atau mati itu tidak ada, semua cuma unen-unen.  Realitasnya kita ya hidup terus, hanya mengalami perubahan bentuk terus menerus.

Tidak ada komentar: