Rabu, 13 Januari 2016

MENGURAI RAHASIA NGELMU JAWA



Terminologi kembali pada jatidiri sebagai orang Jawa, bukanlah semacam penguatan identitas etnis yang kemudian bermuara pada chauvinisme (ideologi pengunggulan ras atau etnis tertentu).  Tetapi, ini lebih sebagai kesadaran mengenai kenyataan dirinya sebagai manusia yang lahir, hidup, makan dan minum, menghirup oksigen, di Tanah Jawa, sekaligus mewarisi DNA dari orang-orang terdahulu yang hidup di Tanah Jawa. 

Kata Jawa  berarti mengerti dengan tepat mengenai segala sesuatu perkara hidup dan kehidupan secara menyeluruh yang selaras dengan kehendak Sang Maha Hidup.  Lebih jelasnya, Jawa merupakan sikap hidup selaras dengan segala titah dari Gusti Kang Murba Ing Dumadi.  Jawa berarti hamemayu hayuning bawana.  Bisa juga berarti prasaja lan walaka, bersahaja dan jujur, hati dan sikap hidup yang serba klop... selaras.

Lebih jauh, Jawa bisa berarti mampu menyingkapkan Jarwane (teges/makna) dari apa yang menjadi Wadi (rahasia) ning hurip (hidup) .  Sehingga orang yang nJawani artinya adalah orang yang bisa bersikap layaknya Jawa secara essensial. 

Selanjutnya Jawa bisa dimengerti sebagai kemakrifatan (Arab) ataupun sod (Ibrani) dalam peri kehidupan manusia di jagad ini.  Jawa adalah merupakan realitas essensial manusia dalam perkara Pola Rasa-Pola Nalar-Pola Laku .yang membentuk suatu pola hidup selaras dengan Kehendak Gusti Kang Murba Ing Dumadi dan semesta raya ini.

Tegasnya, Jawa yang sejati tidak berkaitan dengan etnis, melainkan dengan pola hidup.  Siapapun yang pola hidupnya dilandasi penyadaran akan kasunyatan, apa adanya, serba selaras, maka dialah Jawa, apapun etnisnya.

Ngelmu Jawa itu adalah laku ngerti, tindakan untuk mengerti.  Saya juga bisa menangkap yang dimengerti adalah kenyataan..seperti kenyataan tentang diri ini, dan hidup ini.  Apakah  Ngelmu Jawa merupakan sebuah agama?

Jelas berbeda.  Agama adalah tatanan, seperangkat aturan untuk membuat hidup manusia tertata.  Asumsi mengapa agama diperlukan adalah bahwa manusia perlu ditata hidupnya melalui seperangkat aturan eksternal (dari luar).  Sementara Ngelmu Jawa  membimbing manusia untuk peka terhadap rasa-nya.....Dengan mengikuti rasa-nya ini, manusia tidak lagi perlu diberi rambu-rambu dari luar.

Sebagai contoh, dalam perkara penggunaan helm.  Jika memakai perspektif agama, agar setiap orang menggunakan helm, perlu dibuat aturan harus menggunakan helm, jika tidak diberi sanksi.  Sementara jika memakai Ngelmu Jawa, orang yang telah peka terhadap rasa-nya, bisa mengerti bahwa menggunakan helm itu penting untuk keselamatan diri karena bisa melindungi kepala pengemudi sepeda motor.  Sehingga meskipun tidak ada aturan yang mewajibkan, tetap menggunakan helm itu. 

Dalam Ngelmu Jawa, laku atau perbuatan kita sehari-hari ditata oleh rasa njero atau Kesadaran yang dituntun oleh rasa sejati.

Maka, bisa dikatakan bahwa inti Ngelmu Jawa adalah penyadaran diri tentang laku yang membawa harmoni untuk setiap pribadi.  Ngelmu Jawa menumbuhkan rasa peduli, membuat setiap pribadi sadar dan bisa menjalankan Hukum Kasih

Mengapa Perlu Belajar Ngelmu Jawa?

Mengapa Ngelmu Jawa diperlukan sementara sudah ada banyak agama?  Sebelum menjawabnya, justru kita perlu bertanya, apakah agama, atau segenap hukum eksternal, bisa menjadi solusi kehidupan yang paripurna?  Realitasnya, banyak orang tidak bisa menemukan solusi kehidupan dari agama.   Maka, opsi lain bagi manusia adalah melakukan tindakan penyadaran diri.  Penyadaran diri ini adalah gerbang untuk menemukan solusi itu.  Nah, melalui Ngelmu Jawa, manusia diajak menemukan realitas hidup, bukan imaji hidup.

Agama, sebenarnya adalah tindakan pendisiplinan untuk manusia yang hidupnya tidak bisa tertata dengan sendirinya.  Sementara Ngelmu Jawa menegaskan bahwa jika sesosok pribadi telah mengerti tentang kenyataan hidup, termasuk hukum tabur tuai dari sebuah tindakan, pasti akan membangun harmoni di dalam setiap lini kehidupan.  Tanpa ada pribadi di luar diri yang memberi instruksi, Manusia Jawa melakukan tindakan hamemayu hayuning bawana


Samakah Ngelmu Jawa dan Kejawen

Apakah Ngelmu Jawa sama dengan Kejawen?  Kita perlu mengurai terlebih dahulu pengertian Kejawen. Kejawen kan bermula dari kata Ke-Jawa-an.  Artinya segala perkara mengenai Jawa.  Itu mencakup seni, ritual, sandangan, dan berbagai perkara lainnya.  Untuk menentukan apakah Ngelmu Jawa sama dengan Kejawen atau tidak, kita harus lebih dahulu menyamakan persepsi tentang Kejawen. Jika Kejawen dimengerti sebagai Agama Jawa, atau agama yang dibuat oleh orang Jawa – dan isinya banyak menekankan soal ritual dan aturan eksternal, tentu itu berbeda dengan Ngelmu Jawa.

Tetapi jika Kejawen dimengerti mengikuti kata dasarnya sebagai segala perkara mengenai Jawa, maka Ngelmu Jawa adalah bagian dari Kejawaan itu.  Ngelmu Jawa adalah ajaran spiritualitasnya orang Jawa.  Melalui pengertian ini, Sapta Dharma, Subud, adalah juga bagian dari Kejawen, tepatnya, semua itu adalah contoh agama yang dibuat, dikembangkan dan dianut oleh orang Jawa.

Sebagai sebuah agama, mereka mengajarkan tentang tata cara manembah, etika, hukum, dan semacamnya.  Maka bisa dilihat sisi berbedaannya dengan Ngelmu Jawa karena justru Ngelmu Jawa tidak mengajak orang pada penyeragaman laku manembah, aturan hidup, dan seterusnya.  Jikapun ada sebuah pola yang dipergunakan bersama, itu perlu dimengerti sebagai sebuah cara, sebuah teknologi, yang bisa diverifikasi kegunaannya saat ini juga.  Ngelmu Jawa tidak mengajarkan orang untuk melakukan ritual penyembahan agar Tuhan senang dan memberi pahala.

Klaim Yang Tidak Pas

Yang agak repot, kalau sudah berbicara tentang agama, kita sering menemukan klaim tentang kriteria agama yang benar harus berasal dari Tuhan dan disampaikan oleh Nabi/Rasul dan memiliki Kitab Suci.  Nah, agama-agama yang lahir di Jawa pada umumnya tidak menyebutkan bahwa pembawanya adalah seorang Nabi atau Rasul, maka agama-agama itu tidak bisa disebut sebagai agama, hanya sebagai budaya. 

Padahal ya sejatinya sama-sama agama karena isinya adalah aturan untuk menata tindakan manusia.  Suatu saat akan terkuak bagaimana sesungguhnya kenyataan dari Ngelmu Jawa.  Kita akan tahu bahwa Ngelmu Jawa, bisa saja disebut sebagai agama karena punya elemen yang mirip, sekalipun sesungguhnya ia lebih berupa sains dan teknologi.  Orang tidak perlu dipaksa untuk yakin.  Orang hanya perlu menjalankannya, dan jika merasakan kegunaan nyata, silakan diteruskan.  Jika tidak ya sudah.  Tak ada ancaman dalam bentuk apapun.

Sebetulnya, yang diajarkan dalam Ngelmu Jawa adalah mangening, tindakan penjernihan diri, bukan penyembahan pada satu obyek.  Nah, cara mangening ini dari satu pribadi dengan pribadi lainnya bisa berbeda, sekalipun jika kita bicara acuan, tetap ada acuan yang sama.  Yang terpenting dalam Ngelmu Jawa dalah tindakan penyadaran diri sehingga setiap pribadi bisa membangun harmoni.  Setiap orang kondisinya tidak sama, jika diseragamkan pasti ada pemaksaan dan malah menjauhkan manusia dari harmoni.  Tetapi sangat dimungkinkan, jika ada orang-orang yang nglakoni Ngelmu Jawa lalu menerapkan sebuah metode yang sama.  Ini bukan penyeragaman yang memaksa, tapi memang satu situasi dimana banyak orang merasakan kegunaan nyata dari sebuah metode, lalu mereka mempraktekkan itu secara kolektif.

Laku Praktis Ngelmu Jawa

Laku spiritual orang Jawa yang sesungguhnya adalah menyadari kejumbuhan dengan seluruh keberadaan.  Bukan menyembah sesuatu di luar diri.   Jika tidak ada sebutan untuk Keberadaan juga tidak ada persoalan.  Yang terpenting adalah keselarasan dan ini menyangkut rasa yang paling halus.  Tanpa mengucapkan apapun, sebuah laku yang dilandasi penyadaran tetap akan memberikan dampak pembaharuan hidup.

Lebih jauh, Ngelmu Jawa adalah penyadaran akan Realitas Tanpa Batas yang memenuhi/melingkupi/menguasai/menghidupi setiap keberadaan: diri dan di luar diri, yang terlihat secara ragawi dan non ragawi.

Realitas Tanpa Batas itu bisa ditengarai atau dinamai dengan apapun, ataupun tidak ditengarai/dinamai juga tidak menjadi persoalan.  Karena begitu sudah sampai pada tindakan penengaraan atau penamaan, setiap etnis, ras, punya kosakata yang berbeda meskipun pengertiannya satu.  Nah, tentunya, sewajarnya jika orang Jawa yang mangening lalu membutuhkan kata-kata untuk membantu penyadaran, mereka mempergunakan bahasa Jawa.

Tetapi intinya adalah memberi perhatian pada yang hendak disadari, lalu mengamati dengan cermat.  Sebagai contoh menyadari hidup: Beri perhatian, amati, cermati nafas atau hambegan sebagai sumber hidup manusia.  Lebih jauh ya mengamati, memberi perhatian, mencermati berbagai realitas hidup.  Langkah ini membuat kita lebih mengerti tentang realitas, dan itu membawa pada kemerdekaan diri dan sesama.  Penyadaran diri seperti demikian, bisa juga disebut dengan manembah karo kahanan.....atau, tepatnya: mangening, laku penjernihan, laku menjadi wening.













Tidak ada komentar: