Sabtu, 06 Februari 2016

UNTUK APA SESALI DOSA?




Seorang pemuda yang penuh gairah untuk mendapatkan penyadaran spiritual, tetapi liarnya minta ampun sehingga dijuluki Sie Cah Mbeling, curhat kepada Sie Koeng Gembloeng, sosok berpenampilan bersahaja dan bernalar tidak umum.

“Saya sudah setahun belakangan ini sangat rajin bermeditasi.  Sudah banyak yang saya dapatkan dari praktik meditasi saya.  Pembawaan saya yang dulu emosional, sekarang menjadi lebih kalem.  Saya tidak lagi gampang marah dan meledak.  Namun, ada satu perkara.....saat sendiri, saya teringat perilaku saya di masa lalu.  Dan saya sadar, perilaku saya di masa lalu itu buruk sekali.  Saya telah banyak berbuat dosa Koeng...dan saya benar-benar menyesal telah melakukan itu semua.  Rasa sesal ini yang membuat saya tersiksa.   Seandainya saya bisa memutar waktu, saya pasti tak akan melakukan apa yang dulu saya lakukan.”

Sie Koeng Gembloeng, malah balik bertanya, “Hmmm...terus, ke depannya, kamu akan biarkan dirimu terus menyimpan sumber derita itu atau kamu mau memerdekakan dirimu darinya?

Sie Cah Mbeling terhenyak.  Ia tak mengerti apa arti perkataan Sie Koeng Gembloeng.  Maka Sie Koeng Gembloeng berkata, “Kenyataannya dengan mengingat-ingat masa lalu, kamu malah tersiksa, menderita.  Nah, kamu mau terus terpenjara oleh ingatanmu itu, atau kamu mau membuat dirimu terbebas darinya

Sie Cah Mbeling menegaskan hasrat hatinya, “Saya datang ke sini karena saya ingin mendapatkan solusi.  Tentu saja, saya tak nyaman dengan apa yang saya alami saat ini.”

Sie Koeng Gembloeng sembari tersenyum, melanjutkan petuahnya, “Ketidaknyamananmu, penderitaanmu, sebenarnya berakar pada pola nalarmu dan konsep yang kamu pegang.  Jadi, untuk dapat solusi sebenarnya ya gampang...tinggal mengubah pola nalarmu dan meninggalkan konsep yang membuat hidupmu jadi ruwet.”

Sie Cah Mbeling kembali bertanya, “Hmm.....apakah segampang itu

Sie Koeng Gembloeng membalikkan pertanyaan itu, “Lha mau dibuat gampang atau dibuat susah?”

Sie Cah Mbeling tak bisa untuk tidak tertawa, lalu menjawab, “He, he, he, he......Koeng ini malah membuat saya bingung.”

“Lho kok malah bingung...ha, ha, ha, ha, ha,”  Sie Koeng Gembloeng memberi tanggapan sambil tertawa.

“Apa yang harus saya lakukan Koeng?  Saya harus mulai dari mana untuk bisa mengatasi masalah ini?” tanya Sie Cah Mbeling sambil mengubah posisi duduknya mengajukan pertanyaan lanjutan.

Sambil tersenyum jenaka Sie Koeng Gembloeng menjawab, “Kan gampang tho, kunci dari penyelesaian masalahmu adalah dengan tidak menyesal.”

Sie Cah Mbeling penasaran hanya mendapatkan jawaban seperti itu, sehingga ia kembali bertanya, “Koeng, bagaimana mungkin saya tidak menyesal?  Perilaku saya buruk banget lho Koeng...”

Sie Koeng Gembloeng dengan wajah yang tetap dihiasi senyum menanggapi, “Sekarang begini, apa gunanya menyesal?  Lalu, apakah kamu juga masih melakukan perbuatan burukmu itu sekarang?”

Sie Cah Mbeling diam sejenak mendengar pertanyaan balik dari Sie Koeng Gembloeng.  Lalu ia berkata, “Hmmmm...saya sendiri tidak tahu apa gunanya penyesalan.  Mungkin dengan begitu, Tuhan akan mengampuni dosa-dosa saya.  Yang pasti penyesalan itu mendatangkan ketidaknyamanan di dalam diri saya.  Dan sebenarnya, saya juga sudah tidak lagi melakukan perbuatan buruk seperti masa lalu.”

Sie Koeng Gembloeng kemudian memaparkan dengan tenang, “Nak....kita diberi nalar itu ya untuk dipergunakan.  Jika memang kamu tidak menemukan kegunaan dari penyesalan, lalu untuk apa itu kamu pelihara?  Kenapa kamu biarkan dirimu terpenjara oleh rasa sesal?”

Kan sudah aku bilang, tidak perlu menyesal!  Tuhan tidak membutuhkan penyesalanmu.  Jika kamu sudah berkomitmen mengubah perilakumu yang kamu anggap buruk itu, dan kamu menjalankan komitmenmu, ya sudah.  Dia tak akan mengingat-ingatnya.  Rugi amat, menuh-menuhin tempat.   Lagi pula kamu mau jungkir balik, nyemplung jurang, tak akan membuat Tuhan marah, sedih, galau dan sebagainya.  Ha, ha, ha, ha.

Begini Nak, Tuhan itu memang keberadaan yang sulit dijelaskan dan diberi definisi.  Menyosokkan Tuhan juga sebetulnya tidak tepat.   Tetapi, kita memerlukan sebuah pendekatan untuk mengerti Tuhan, yang bisa membuat hidup terasa mengasyikkan.  Mereka yang mengerti Tuhan sebagaimana adanya, akan hidup penuh suka cita.”

Sejenak Sie Koeng Gembloeng berhenti berkata-kata.  Ia mengambil cangkir white cofee-nya lalu menyeruputnya perlahan-lahan.  Usai demikian baru ia melanjutkan paparannya, “Cobalah mencermati hidupmu sendiri, rasakan aliran nafasmu yang keluar masuk melalui hidung, kamu akan tahu bahwa ada keindahan yang menunggu untuk disadari keberadaannya.  Kehidupan ini berasal dari realitas yang maha indah, penuh kasih.  Karena itulah kemudian orang menyebut Tuhan sebagai Yang Maha Pengasih.  Tuhan adalah Kasih Murni, Kasih Absolut, Kasih yang tak terbatas.  Diri kita di hadapan-Nya, laksana seorang anak kesayangan di hadapan seorang Bapa yang penuh kasih.

Apapun kekeliruan langkah yang telah kita buat, tak akan mengurangi kasih-Nya.  Tak ada dendam dan benci dari-Nya.  Maka, siapapun yang telah berbuat keliru dan kembali pada tuntunan-Nya, tak akan pernah ada penolakan dari-Nya.  Dia adalah Bapa yang selalu menerima anak-anak tersayang yang membutuhkan rengkuhan dan perlindungan-Nya, setelah berjalan ke sana kemari tak tentu arah dan hanya menemukan penderitaan..

Sie Cah Mbeling kembali bertanya karena belum mengerti, “Maksud Koeng, perbuatan buruk yang saya lakukan di masa lalu, sebenarnya tidak membuat Tuhan marah dan membenci saya?”

Sie Koeng Gembloeng tertawa lepas, lalu kembali memaparkan, “Ha, ha, ha, ha, benci dan marah tidak mungkin bersatu dalam Kasih Murni.  Yang ada dalam kehidupan ini adalah jaringan sebab akibat.  Setiap tindakan membuahkan konsekuensi logis tertentu.  Perbuatan yang menurutmu buruk itu, memang menggangu harmoni semesta dan membuahkan duka bagi dirimu dan orang-orang di sekitarmu. Tapi tidak akan membuat Tuhan susah dan marah. Jika kamu teruskan, duka yang kamu rasakan akan semakin dalam.   Karena itu, karena Kasih-Nya, Dia memberimu pesan lewat berbagai saluran agar kamu mengubah perilakumu.   Nah, begitu kamu menangkap pesan itu, lalu kamu memperbaiki perilakumu dan memperbaharui hidupmu, ya sudah, semua selesai.  Kasus ditutup, tidak diingat-ingat lagi.”

Sie Cah Mbeling agak terhenyak oleh paparan Sie Koeng Gembloeng.  Tapi ia mengakui kebenaran dalam kata-kata Sie Koeng Gembloeng.  Iapun berkata perlahan, “Hmmm.....jadi bodoh sekali ya Koeng, saya malah repot mengingat-ingat masa silam dan tenggelam dalam penyesalan.”

Sie Koeng Gembloeng menanggapi sambil tertawa kembali, “Ya memang bodoh...ha, ha, ha, ha.  Penyesalan sama sekali tidak diperlukan.  Yang berguna untukmu pada saat ini adalah bersikap lebih waspada, dan sebisa mungkin berbuat sesuatu yang membawa pada harmoni, tidak merugikan dirimu maupun orang lain.”

Sie Cah Mbeling menukas, “Hmmm..sebentar Koeng.  Bukannya perilaku saya yang buruk itu akan dicatat sebagai dosa dan harus saya pertanggungjawabkan nanti di hari pengadilan setelah saya meninggal dunia?”

Sie Koeng Gembloeng balik bertanya, “Hmmmm...bukankah kamu sudah menanggung resiko logis dari perilakumu di masa lalu itu?  Itulah bentuk pertanggungjawabanmu yang nyata.  Dan kamu sudah melakukan pertaubatan.  Lalu kenapa kamu takut?”

Sie Cah Mbeling mengungkapkan pengertiannya, “Ya..ya..ya, jadi, jika sekarang saya sudah menghentikan perilaku saya dan memperbaharui  hidup saya, saya tak akan diadili saat saya meninggal dunia?”

Sie Koeng Gembloeng kembali tertawa dan melanjutkan penjelasannya, “Ha, ha, ha, bukankah sudah saya katakan bahwa Tuhan itu bukan pendendam?   Begini Widodo, manusia itu bisa berlaku laksana anak kecil yang bermain-main di sembarang tempat hingga penuh lumpur.  Nah, jika ia kembali pulang ke rumah, kembali kepada Sang Bapa yang pengasih, Sang Bapa itu akan menyambutnya penuh kasih, membersihkan dirinya, dan si anak akan bersih kembali dan siap untuk menjalani hidup baru.  Kasus lama ditutup, selesai.”

Sie Cah Mbeling sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal berkata, “Oooooo..........jadi, seburuk apapun perilaku saya di masa lalu jika itu sudah saya tinggalkan, dan saya menggantinya dengan perilaku yang baik, saya tidak perlu mengkhawatirkan apapun?”

Sie Koeng Gembloeng menanggapi dengan lugas, “Ya, tepat.  Jangan takut, jangan khawatir, bersuka citalah!”

(Dicuplik dari buku Formula Hidup Bejo, karya P.B. Susetyo dan S.H. Dewantoro, terbitan Penerbit Lakutama)

Tidak ada komentar: