Rabu, 23 Maret 2016

CAHAYA KOSMIK DI DALAM DIRI




Kehidupan manusia, ditandai dengan keberadaan cahaya kosmik di dalam diri manusia.  Para leluhur Jawa di masa silam, mengungkapkan 5 cahaya kosmik itu: hitam, kuning, putih, merah, dan pelangi.  Cahaya kosmik itu mencerminkan unsur kosmik yang ada di dalam diri manusia: tanah, air, udara, api, dan ether.[1]

Cahaya berpendar dari berbagai unsur kosmik tersebut, karena ada energi yang bergetar dan berbunyi dengung, setiap manusia hambegan.  Pusat energi itu ada di telenging manah.  Menjadi permulaan kehidupan dan cahaya manusia. 

Lebih jelasnya begini.  Cahaya di dalam diri manusia bisa muncul ketika ada unsur-unsur kosmik pada raga yang bisa berpijar, lalu terkena energi murni dari pusat hati.  Energi itu muncul dan memancar ketika manusia hambegan.  Oksigen yang dihirup manusia, membuat horeg pada raga.  Horeg itu sederhananya adalah bergoyang, seperti tanah ketika terkena gempa.  Itu memunculkan getaran kehidupan, dan seiring dengan itu muncullah bunyi berdengung atau gemerenggeng.  Itulah Hong.  Selanjutnya, terjadilah fenomena kelistrikan pada raga manusia, lalu terjadilah cahaya.  Demikian proses terjadinya cahaya kosmik di dalam diri manusia.

Pada semesta, kronologi kemunculan cahaya juga mirip seperti itu.  Cahaya muncul hanya ketika telah ada materi yang bisa berpijar.  Ketika diterpa energi dan bergetar, materi ini mengalami fenomena kelistrikan dan memendarlah cahaya darinya.

Sementara materi ini sendiri ada, didahului oleh keberadaan dua realitas. pertama: energi yang bersumber dari kegelapan murni, dan tidak memancarkan cahaya, sehingga dinamakan dark energy.    Kedua: materi gelap, atau dark energy, keberadaan yang tak terlihat tapi keberadaannya bisa dibuktikan oleh daya gravitasi yang dimunculkan.  Dark matter inilah yang dalam sains dinyatakan sebagai pengikat agar materi tetap berada dalam tempatnya, stabil dalam sebuah tatanan dan gatra.  Kemudian kita juga mengerti, melalui laku mangening, para leluhur Nusantara di masa lalu ternyata memiliki penyadaran, bahwa ada realitas yang merupakan benih keberadaan, benih dari segala yang ada, telur yang darinya menetas semua materi, dinyatakan sebagai ndog amun-amun. Dan tidak keliru jika ndog amun-amun ini diidentikkan dengan dark matter.

Dengan penjelasan ini, kita bisa mengerti tentang hieararki keberadaan semesta.  Cahaya bukanlah sumber segalanya, juga bukan realitas yang menempati hierarki tertinggi.  Cahaya adalah pengejawantahan dari Kegelapan Murni melalui proses yang berlapis: dari dark energy terbentuk dark matter, dalam proses ini muncul getar dan bunyi kosmik Hong.   Dark energy terus berekspansi sehingga dari dark matter muncul ordinary matter atau materi biasa.  Dan dari materi biasa inilah terbentuk berbagai keberadaan yang bergatra dan bisa diketahui manusia.  Dan lagi-lagi, dalam segenap prosesnya, ada getar dan bunyi kosmik, Hong.  Lalu, materi ini bisa berpijar dan memendarkan cahaya, lagi-lagi karena menerima terpaan dark energy, yang memunculkan fenomena kelistrikan.

Dengan menyadari tatanan jagad alit (mikrokosmos) dan jagad ageng (makrokosmos) seperti terurai di atas, bisa dinyatakan bahwa jalan untuk mengerti tentang Gusti, Yaktining Hurip atau Tuhan, tidak melalui cahaya.  Karena terlalu jauh jarak antara cahaya yang berlapis-lapis itu, dengan Sumber Keberadaan yang realitasnya adalah kegelapan murni.  Yang lebih dekat dengan itu adalah getar energi kosmik. Mengucapkan bunyi kosmik Hong, membuat siapapun langsung terhubung dengan getar energi kosmik ini.  Sehingga otomatis terhubung dengan Sumber Energi Kosmik itu: Yaktining Hurip, Gusti atau Tuhan.




[1] Lebih terperinci, berbagai cahaya kosmik, di dalam raga manusia mengejawantah ke dalam berbagai gatra berikut: Darah Putih, Ketuban, Ari-ari, Darah Marah.  Ini adalah simbol dari unsur semesta dan cahaya-cahaya energi kosmik yang membentuk perangkat kemanusiaan.

1.       Ketuban adalah simbol dari air, berwarna kuning, membangun eros atau hasrat akan keindahan serta menumbuhkan daya/kekuatan, atomnya adalah proton, dan membentuk karakter koleris.  Dalam pasaran Jawa, disebut Pon.
2.       Darah putih adalah simbol dari angin/udara, berwarna putih, membangun kewelasasihan dan kecenderungan spiritual di dalam diri manusia, atomnya adalah elektron, membentuk karakter plegmatis.  Dalam pasaran Jawa disebut Legi.
3.       Ari-ari, adalah simbol dari tanah, berwarna hitam, membangun dorongan ego/instink/kebutuhan, sehingga dengan dorongan ini manusia bisa bertahan hidup atau tetap bernyawa, atomnya adalah proton.  Membentuk karakter melankolis.  Dalam pasaran Jawa disebut Wage.
4.       Darah merah adalah simbol api, berwarna merah, membangun greget atau semangat, atomnya adalah elektron, membentuk karakter sanguinis.  Dalam pasaran Jawa disebut Pahing.

1 komentar:

toni biyozy mengatakan...

mengucapkan hong itu seperti apa?

apakah dari mulut berucap hong
atau mendengar dengungan bergetar...