Rabu, 23 Maret 2016

BUNYI GETAR KOSMIK





Para leluhur Nusantara di masa silam, melalui laku mangening yang intensif, bisa mendengar bunyi kosmik yang kemudian dibahasakan dengan terminologi “tawon gumana”.  Mengapa demikian?  Karena memang bunyinya seperti tawon atau lebah yang terbang berkelompok.  Gemrenggeng, demikian bunyi itu dinyatakan dalam bahasa Jawa. 

Demikianlah bunyi kosmik: NGNGNGNG.  Untuk buktikan itu, silakan tutup kedua telinga anda dengan telapak tangan, dan cermati bunyi yang terdengar.  Sebenarnya, iadalah suara berdengung yang juga muncul di jagad raya ini, ketika energi kosmik memancar dan bergetar.  Itu adalah realitas yang selalu ada, mengiringi keberadaan kosmik itu sendiri.  Ia menjadi permulaan dari keberadaan segala sesuatu yang menempati ruang dan waktu.

Untuk mengerti perkara ini, kita memang perlu lebih jauh mengungkap realitas kejadian kosmik.  Perbendaharaan sains modern mengungkapkan keberadaan dark energy, dark matter, dan ordinary matter.  Segala yang ada, yang dapat dilihat, disentuh atau dirasakan secara fisik, dinyatakan sebagai ordinary matter.  Itulah materi biasa, yang menempati ruang dan waktu tertentu.  Pengamatan terhadap semesta menemukan bahwa massa keseluruhan dari obyek semesta tertentu, ternyata lebih berat dari penjumlahan keseluruhan unsur pembentuknya.  Dari situ, ditemukanlah keberadaan dark matter.

Dark matter ini tak terlihat, invisible, tapi ada.  Dark matter ini yang sekaligus bekerja menahan keberadaan ordinary matter untuk tetap berada pada orbitnya.  Atau dalam bahasa lain, dark matter yang membuat antar ordinary matter selalu berada dalam jarak yang sama.  Dengan demikian, sebuah struktur tertentu tetap stabil.  

Sebagai contoh, galaksi yang sejak dahulu hingga sekarang tetap seperti itu.  Padahal, dari inti galaksi, memancar dark energy yang mendorong ekspansi galaksi tersebut.  Demikian pula, sebuah planet yang pada dasarnya adalah kumpulan dari berbagai unsur pembentuk, tetap berbentuk sebuah planet, tidak terus menerus membesar atau berekspansi.  Padahal dari inti planet, memacar energi pendorong ekspansi. Ada sesuatu yang mengeluarkan daya guna mengikat semua unsur itu. Itulah dark matter yang memiliki daya penarik atau daya gravitasi.

Keberadan ordinary matter dalam semesta yang diketahui (known unverse), hanya sekitar 4,5 %.  Sementara sisanya, 95,5 % adalah gabungan antara dark energy dan dark matter.

Para peneliti belum secara tegas menjelaskan hubungan tiga realitas ini.[1]  Namun, melalui pencermatan para pelaku mangening, bisa dimengerti bahwa ordinary matter merupakan pengejawantahan dari dark mattter atau materi gelap.  Materi gelap inilah yang bisa kita mengerti sebagai benih keberadaan.  Segala yang ada di jagad raya ini, ada bermula dari keberadaan dark matter.
Sementara dark matter sendiri, merupakan pengejawantahan dari dark energy, atau energi gelap.  Terminologi dark energy dipergunakan untuk menunjukkan bahwa realitas energy tidak menimbulkan cahaya.  Pelaku mangening, mengerti bahwa dark energy juga memang bersumber dari kegelapan total.  Sebelum ada apapun di jagad raya ini, yang ada hanyalah kegelapan total.  Kegelapan inilah yang bisa dimengerti sebagai gua garba, rahim, atau kandungan kosmik: darinya muncullah seluruh keberadaan dengan segenap gatranya.

Dari kegelapan total, memancar energi dengan pola fibonacci.[2]  Pancaran energi itu memunculkan getar.  Getaran itu berbunyi gemerenggeng, berdengung, itulah hong. Dari situ, muncullah dark matter.  Lalu pungkasannya, terjadilah ordinary matter: segala yang ada yang bisa dilihat, disentuh, dan dirasakan.  Uniknya, dark matter pulalah yang membuat ordinary matter tetap berada pada orbitnya, juga membuat sebuah struktur kompleks yang tersusun dari berbagai ordinary matter, tetap berada dalam struktur itu, tidak mengalami ekspans terus menerus.

Peristiwa pembentukan ordinary matter terjadi terus menerus.  Selalu ada yang baru di jagad raya ini.  Sehingga, bunyi dengung atau gemerenggeng yang diakibatkan oleh getaran energi yang memancar dari kegelapan total, terus terjadi.  Bunyi Hong selalu ada.  Tiada pernah berhenti.  Selamanya ada, sebagaimana kehidupan ini langgeng tanpa ada ujungnya.

Realitas Yang Melampaui Segalanya
Pencermatan melalui mangening, membuat manusia bisa sadar bahwa ada realitas yang melampaui dark energy, dark matter, dan ordinary matter, dan bahkan merancang, mengatur, dan menata semuanya itu.  Itulah yang dalam terminologi Jawa dinyatakan sebagai Yaktining Hurip, Ya Hu. Bisa juga dijuluki Gusti. Realitas ini tanpa gatra, tetapi nyata ada dan mencerminkan kecerdasan tanpa batas.

Terkait perkara ini, ada sebuah manuskrip Jawa Kuna dari Gunung Klothok Kediri yang membantu kita mengerti kasunyatan yang ada.  Dalam salah satu bagian yang diberi nama Layang Soworo, dinyatakan sebagai berikut:  Saking bayinat kang peteng, sumalihake Gusti trawang lan wenteh.”  Arti pernyataan ini adalah: “Dari keberadaan yang gelap, dirubah oleh Gusti menjadi jelas dan nyata.”
Gusti sewajarnya tak dipahami sebagai sosok, tapi sebagai Realitas Yang Menjadi Sumber Segala Yang Ada.  Bisa juga dimengerti sebagai Kecerdasan Tertinggi, The Ultimate Intelligence, yang menjadi desainer dari semesta dan kehidupan ini.  Keberadaannya menjadi inti dari segala yang ada, segaligus meliputi segala yang ada.   

Sungguh sulit membahasakan realitas Gusti, sehingga orang-orang Jawa Kuna menggunakan kalimat: “Tan kena kinira, tan kena kinaya ngapa” (Tak bisa diperkirakan dan dibayangkan keberadaannya seperti apa, karena segenap perkiraan dan bayangan pasti tak sesuai dengan Realitas-Nya). Sebagian bisa saja dengan sedikit bercanda, menyatakan Realitas-Nya dengan ungkapan: Sang Mbuh (Realitas yang nyata ada, tapi tak bisa dimengerti rinciannya oleh nalar manusia).
Tetapi, mesikipun tak bisa mendeskripsikannya dengan akurat, orang-orang Jawa Kuna sadar betul tentang keberadaan-Nya.  Gustilah yang menjadikan segala yang ada, yang terang, yang bisa dilihat dan nyata, dari keberadaan yang serba gelap.  

Orang-orang Jawa Kuna, selain mengungkapkan bunyi kosmik dengan terminologi tawon gumana, juga mengungkapkan terminologi ndog amun-amun.  Ini adalah pembahasaan untuk realitas yang menjadi benih semua materi dan keberadaan yang bergatra, menempati ruang dan waktu.  Dinyatakan sebagai ndog, karena dalam khazanah pengalaman manusia, bermula dari ndog atau telurlah, segala sesuatu bisa muncul.  Dinyatakan amun-amun, atau pangamun-amun, karena memang ia imajiner, bukan ndog atau telur sesungguhnya.  Itu hanya pembahasaan yang menyederhanakan realitas: bahwa dari realitas itulah, muncul segala yang ada. Jika dicermati, ndog amun-amun ini sesungguhnya sepadan dengan dark matter.  

Jika kita ungkap kembali secara lebih jelas kronologi kejadian kosmik, demikianlah gambarannya.  Dari kegelapan murni atau bayinat kang peteng, energi memancar dan bergetar.  Inilah yang dalam sains dinyatakan sebagai dark energy.  Maka, terdengarlah bunyi kosmik atau Hong yang mirip dengan bunyi tawon yang terbang berkelompok, sehingga dinyatakan sebagai tawon gumana.  Selanjutnya, muncullah ndog amun-amun yang sepadan dengan dark matter.  Energi terus bergerak dan bergetar, maka dark matter berubah menjadi ordinary matter atau materi biasa.  Lalu, dari materi biasa yang sederhana, terbentuklah materi biasa yang kompleks.  Lalu, ketika telah terbentuk sebuah struktur tertentu yang mapan sebagai akibat pertumbuhankembangan atau ekspansi yang didorong dark energy, dark matter bekerja menarik semua unsur pembentuk itu agar struktur tersebut tetap stabil, tetap pada gatra sebagaimana semula ia dijadikan.  Pada tahapan ini, Hong tetap muncul, karena pada tahapan manapun, selalu ada energi yang bergerak dan bergetar.

Segala Sesuatu Bertumbuh
Realitasnya, segala sesuatu itu mengada melalui proses bertumbuh.  Karena itulah, dalam Layang Soworo yang merupakan bagian dari manuskrip Gunung Klothok juga dinyatakan: “Kang Gusti cinanten, tumuwuh”, bahwa segala sesuatu yang telah Gusti tetapkan, bertumbuh.

Proses mengada, menjadi, berubah dan bertumbuh di jagad raya ini, tidak pernah berhenti.  Energi yang bersumber dari kegelapan murni, terus menerus bergerak, memancar dan bergetar.  Sehingga Hong juga selalu ada.

Realitas kosmik juga menjelaskan kepada kita, perubahan gatra atau bentuk dari ordinary matter atau materi biasa, bisa juga kita tangkap sebagai proses penghancuran.  Gatra atau bentuk lama hancur, lalu muncullah gatra atau bentuk baru.  Jadi, di jada raya ini, memang selalu ada peristiwa menjadikan, menata dan menghancurkan.  Yang langgeng dalam semua proses itu adalah energi.  Energilah yang memungkinkan sesuatu terjadi, tertata, dan kemudian dihancurkan untuk memunculkan yang lebih baru lagi.

Proses demikian, bisa dicermati pada raga kita sendiri.  Sains modern menjelaskan bahwa selalu ada sel lama yang mati dan sel baru yang tumbuh.  Dan pada titik tertentu, raga ini mengalami peleburan total untuk kemudian berubah menjadi raga baru, baik melalui proses kematian maupun kamuksan.

Inilah siklus kosmik yang terus terjadi.  Dan dalam peristiwa ini, rangkaiannya selalu sama.  Dark energy berubah dark matter, dark matter berubah menjadi ordinary matter, ordinary matter juga berubah lagi menjadi gatra yang lebih kompleks, tapi kemudian pada satu masa bisa hancur, dan mulailah siklus baru.  Dan tentu saja, di situ selalu ada hong.  Karena bunyi gemerenggeng selalu mengiringi energi yang bergerak dan bergetar.    Bunyi kosmik itu langgeng, sebagaimana energi dan sumber energi juga langgeng.


[1] Sebagai pembanding, mari kita kaji tentang dark energy dan dark matter dari pendekatan sains.

Dark energy, menurut penjelasan NASA, adalah perangkat semesta yang mempengaruhi perkembangan jagad raya ini.  Satu penjelasan yang logis dari dark energy, adalah a property of space, perangkat angkasa.  Albert Einstein mengungkapkan bahwa angkasa yang kosong sesungguhnya bukan berarti tidak ada apa-apanya.  Angkasa memilii property atau perangkat yang dinamakan sebagai dark energy, yang bertanggung jawab atas perkembangan yang terjadi pada angkasa, juga terbentuknya berbagai gatra atau bentuk atau keberadaan di angkasa.  Penjelasan lain, dark energy ini adalah energi dinamis yang mengalir dan mengisi sekaligus memenuhi seluruh keberadaan angkasa, dan berpengaruh terhadap ekspansi angkasa, yang berbeda dengan energi normal.  Secara terbuka, para ilmuwan menyatakan bahwa dark energy ini masih merupakan misteri, belum sepenuhnya terungkap. 


Dark matter atau materi gelap, adalah materi yang tidak dapat dideteksi dari radiasi yang dipancarkan atau dari penyerapan radiasi yang datang ke materi tersebut.  Tapi keberadaannya dapat dibuktikan dari adanya efek gravitasi pada berbagai materi yang tampak, seperti bintang dan galaksi.  Terminologi ini pertama kali diungkapkan astronom Swiss Fritz Zwicky pada tahun 1930.  Keberadaan dark matter ini diketahui bermula ketika ditemukan bahwa massa sebuah galaksi, lebih berat 5 kali lipat dibandingkan penjumlahan total masa setiap unsur penyusunnya seperti bintang-bintang, planet-planet hingga asteroid.  Selisih massa ini yang menimbulkan pertanyaan, ada apakah gerakan di luar keberadaan benda-benda yang terlihat, yang dalam terminologi sains dinamakan sebagai Baryonic Matter.

Dari semesta yang diketahui, sekitar 72,8 persennya dark energy, sekitar 22,7 persennya adalah dark matter yang tak bisa dilihat, dan sisanya sekitar 4,5 % adalah ordinary matter yang bisa dilihat.

Merujuk pengamatan Huble membuktikan bahwa jagad raya ini terus memuai, karena sejak Big Bang terjadi, partikel-partikel di jagad raya ini terus bergerak saling menjauh seiring perjalanan waktu.  Pengamatan Huble menunjukkan bahwa jarak antar galaksi terus menjauh.  Faktor ekspansi ini adalah dark energy.

Namun, ternyata, di dalam sebuah galaksi, jarak antar bintang cenderung tetap.  Sebuah galaksi tetaplah seperti ini sejak dahulu kala.  Itu terjadi karena adanya daya gravitasi dari obyek tak tampak, yang mengikat keseluruhan bintang dalam sebuah galaksi.  Sumber daya gravitasi inilah yang dinamakan sebagai dark matter.

Dari penjelasan di atas, terkesan ada karakter berkebalikan antara dark energy dan dark matter.  Para peneliti belum berani menjelaskan hubungan antara dark energy dan dark matter secara lebih jauh.

[2] Fibonacci adalah sistem perhitungan, yang muncul dalam berbagai peristiwa semesta, mulai dari pengaturan struktur dedaunan, pola kelopak bunga, struktur cangkang kerang, struktur nanas, dan seterusnya.  Sistem perhitungan ini ditemukan Leonardo Pisano, matematikawan Italia yang hidup pada 1175-1250 M.

Tidak ada komentar: