Selasa, 29 Maret 2016

PERJALANAN SPIRITUAL MENYIBAK RAHASIA TUHAN







Laku spiritual yang tepat, niscaya membawa kejernihan pada nalar, rasa, dan tatanan energi pribadi sehingga realitas kehidupan sebagaimana adanya terungkapkan dan bisa dimengerti.  Termasuk yang menjadi bisa dimengerti adalah keberadaan Tuhan.  Itu tidak lagi menjadi sebatas konsepsi, tetapi menjadi realitas yang dialami.  

Tindakan praktis yang membawa kepada keadaan ini adalah memberi perhatian penuh dan mengarahkan penglihatan ke titik yang disebut susuhing angin di belakang ulu hati.  Siapapun yang melakukan tindakan ini, pada dasarnya tengah meniti sebuah perjalanan spiritual menembus lapisan-lapisan langit guna menyaksikan realitas tertinggi.  Tetapi lapisan-lapisan langit ini ada di dalam diri.  Ini adalah simbolisasi dari lapisan-lapisan tubuh pada diri manusia, yang bermula dari tubuh fisik dan berujung pada inti dan sumber hidup manusia.  

Tujuan tindakan ini adalah untuk bisa mengerti tentang Tuhan apa adanya.  Juga agar bisa menangkap pesan atau tuntunan Tuhan yang memang senantiasa disampaikan kepada manusia, melalui getar paling murni dari telenging manah yang dinamakan sebagai Net.  Inilah sebuah tindakan untuk mencapai fondasi dari kesempurnaan hidup.  Pengertian yang tepat terhadap Tuhan, juga penangkapan yang jernih terhadap segenap pesan-Nya, adalah prasyarat pertama agar manusia bisa menjalani kehidupan serba selaras dan menunaikan tugas kehidupan sesuai rancangan-Nya.

Para pembaca blog ini, tentu saja perlu melakukan tindakan ini agar bisa menangkap uraian selanjutnya sebagai pengalaman yang juga dialami, bukan sekadar sebagai cerita atau konsepsi.  Lakukan saja tak perlu memikirkan apapun, termasuk kelayakan diri.  Ini adalah perkara natural, yang sewajarnya dilakukan manusia.  Mengerti Tuhan apa adanya dan bisa menangkap pesan-Nya, adalah perkara yang wajar bagi seluruh manusia tanpa kecuali.

Rasakan hambegan yang natural.  Ucapkan Hong perlahan-lahan dengan intonasi rendah. Rasakan getaran di telenging manah.  Bawa penglihatan ke titik itu.  Lalu dalam kondisi raga yang diam dan suasana jiwa yang relaks, cermati apapun yang ditemui.  Dan jangan berhenti ketika melihat sesuatu, apapun itu.  Teruslah berjalan menembus lapis demi lapis keberadaan di dalam diri sendiri.

Inilah yang disimbolkan dalam cerita pewayangan dengan perjalanan Sang Bima yang menemui Dewa Ruci.  Siapapun melakukan ini, niscaya bertemu dengan Sang Dewa Ruci di dalam dirinya.  Dan siapapun yang terus berjalan, memasuki realitas Sang Dewa Ruci itu, niscaya bertemu dengan ujung perjalanan: sebuah realitas yang menjadi permulaan dan sumber kehidupan.  

Kegelapan Murni
Niscaya setiap orang pada ujung perjalanan menemukan kegelapan murni, keadaan dimana tak ada apa-apa lagi, dan yang tak dapat diasosiasikan dengan apapun karena tak ada sebuah gatrapun yang menyerupainya.  Segenap gatra yang terlihat, niscaya memiliki batasan, menempati ruang dan waktu tertentu.  Dan itu pasti bukan Tuhan yang menjadi sumber segala-galanya.  Hanya kegelapan murni yang tanpa batas dan meliputi segala keberadaan.

Realitas pamungkas yang ditemui pada perjalanan ke dalam diri ini, justru tanpa batasan, tanpa gatra.  Itulah Tuhan, yang menjadi inti dari segenap keberadaan, sekaligus yang meliputi keberadaan itu.  Para leluhur Jawa di masa silam menjuluki realitas ini sebagai Gusti, karena darinya muncul segenap keluhuran di hati manusia.  Realitas ini juga dijuluki YaHu atau Yaktining Hurip, karena memang realitas inilah kehidupan sesungguhnya: semua yang ada dan hidup, memang bermula dari-Nya, dan diliputi oleh-Nya.

Realitas inilah yang menjadi sumber dari dark energy, yang dalam sains dinyatakan bertanggung jawab terhadap ekspansi semesta dan pembentukan segenap benda dan gatra yang bisa diketahui di semesta ini.  Realitas ini bukan sosok, sekalipun bisa saja darinya muncul visualisasi sosok, sebuah hologram, yang membantu manusia untuk bisa menangkap pesan dan pengetahuan dari-Nya.  

Selanjutnya, niscaya juga bisa dimengerti bahwa realitas  yang bisa dijuluki sebagai Gusti ataupun YaHu ini, bersenyawa sepenuhnya dengan manusia.  Pada tataran keberadaan, tak ada batasan antara Gusti atau YaHu dengan manusia.  Inilah pengertian jumbuhnya kawula dengan Gusti.  Gustilah yang menjadi inti hidup manusia, memenuhi segenap keberadaan manusia, dan meliputinya.

Sebagai realitas yang bukan sosok, bukan pribadi, tak ada di sana emosi dan kepentingan laksana manusia.  Bagi-Nya tak ada pemihakan, tak ada musuh dan sekutu, tak ada benci dan suka.  Yang nyata ada adalah bahwa Dia menghidupi semuanya, dan semua yang dihidupi atau dijadikan oleh-Nya terikat pada sistem kausalitas yang teramat rumit namun terjamin kepastian dan keakuratannya.  Jikapun ada karakter yang layak dilabelkan kepada Realitas ini, itu adalah Kasih Murni: Kasih yang selalu mengalir, membawa kehidupan dan keindahan.  

Bahkan terkait dengan keberadaan manusia atau titah urip lainnya yang memiliki free will sehingga mungkin mengalami kekeliruan, kejatuhan dan penderitaan, selalu ada solusi dari-Nya.  Kasih-Nya memulihkan siapapun yang terlanjur melukai dirinya sendiri dengan tindakan yang tidak tepat.  Dan tentu saja, pemulihan ini berjalan melalui proses yang bertahap dan bertumbuh.  Ini merupakan bagian dari sistem pengaturan kosmik yang mengikat semua keberadaan. 

Tangga Dasar
Penyaksian akan realitas kegelapan murni yang menjadi sumber segala keberadaan, pengertian yang akurat mengenai Tuhan, ataupun penyadaran akan jumbuhnya manusia dengan Gusti, bukanlah tujuan puncak dari perjalanan hidup manusia di Planet Bumi.  Justru ini adalah tangga dasar yang perlu dicapai, agar manusia bisa mengerti apa tujuan hidupnya dan punya daya untuk menggatrakan tujuan itu.

Puncak perjalanan masuk ke dalam diri ini perlu dituntaskan, agar kemudian manusia bisa menangkap pesan atau tuntunan sebagai pedoman menjalani kehidupan hingga tercapainya ketuntasan dan kesempurnaan perjalanan di Planet Bumi ini.  Siapapun yang telah mengalami keadaan ini, niscaya telah terhubung dengan rasa sejati.  Dan melalui perangkat inilah, pesan dari Realitas Tanpa Batas yang dijuluki di Jawa sebagai Gusti atau Yaktining Hurip, bisa ditangkap dan dimengerti. 

Peristiwa sebagaimana digambarkan di atas, niscaya menjadi dasar perubahan hidup seseorang menuju kepada keselarasan dan kecemerlangan sesuai cetak birunya.  

Tidak ada komentar: