Jumat, 15 April 2016

FORMULA KEBAHAGIAAN






Sebagian orang, bisa jadi merasakan hidup sebagai rangkaian penderitaan.  Kebahagiaan memang menjadi harapan utama dan bisa jadi sering dibicarakan.  Tapi kenyataannya, bagi sebagian orang yang dominan mewarnai hidup adalah rasa susah, nelangsa, menderita.

Penderitaan ini bisa muncul karena berbagai faktor.  Di antaranya adalah kekurangan uang, adanya penyakit, konflik rumah tangga, karier yang terhambat bahkan runtuh.  Ada kalanya, orang tetap menderita walau secara kongkrit tak persoalan berat yang muncul dalam kehidupannya.  Sebagai contoh, seseorang menderita karena ketakutan situasi buruk di masa depan.  Padahal itu belum tentu terjadi.  Bisa juga seseorang menderita karena bosan menjalani hidup yang tidak dinamis.  Semua serba ada, keadaan hidupnya serba aman, dan ia bosan karena itu.

Laku spiritual yang jernih, membawa manusia pada penyadaran tertentu yang tumbuhnya rasa sukacita walau menghadapi keadaan yang tidak seperti harapan, keadaan yang bisa dikategorikan sebagai “sulit” dan “membawa derita”.   Rasa sukacita ini berpangkal pada kesanggupan meresapi atau menikmati semua kesulitan dan derita.

Kunci Kebahagiaan

Kebahagiaan dalam kondisi apapun, bisa terjadi, pertama-tama, oleh tumbuhnya kesadaran bahwa seberat apapun sebuah penderitaan, itu bukan keadaan yang langgeng.  Pasti bisa selesai pada waktunya.  Kedua, penderitaan itu bisa menjadi bukan penderitaan lagi ketika seseorang bisa berdamai dengannya, menerimanya apa adanya, bahkan meresapinya.  Sakit yang disangkal dan diberontak, berbeda rasanya dengan sakit yang diterima adanya dan diresapi.

Di samping itu, kebahagian juga bisa muncul lebih konstan, berkelanjutan, manakala seseorang menyadari sepenuhnya apa yang sebenarnya terjadi pada raga ketika seseorang bahagia, atau sebaliknya, menderita baik karena rasa takut, sedih, marah dan semacamnya.

Sesungguhnya, perkara kebahagiaan dan penderitaan ini adalah perkara dinamika hormonal di dalam tubuh.  Kebahagiaan dan penderitaan bisa muncul karena ada perangkat di dalam tubuh manusia yang memang berhubungan dengan itu. Perangkat ini semuanya terkait dengan keberadaan otak manusia.  Karena antara raga dan jiwa pada manusia jumbuh, maka apa yang terjadi pada raga manusia, berpengaruh pada jiwanya.  Sekalipun kulit yang terluka, tetap yang merasakan sakit adalah jiwa manusia, sang aku atau sang hulun.  Demikian pula, kerja kelenjar yang menghasilkan hormon penyebab perasaan atau emosi tertentu, juga sang jiwa atau hulun yang merasakannya.  Bahkan perasaan atau emosi ini, bisa terekam pada jiwa (yang memiliki badan halus berlapis-lapis) sehingga jika tidak dimurnikan atau dijernihkan selama masa kehidupan di muka bumi ini, jiwa tetap bisa merasakannya tatkala telah berpisah dengan raga.

Rasa sakit dan senang pada tataran fisik, muncul karena keberadaan sensor perasa yang bersemayam di berbagai lapisan kulit dan dikendalikan dari otak.  Sementara perangkat yang bertanggung jawab terhadap rasa pada tataran jiwa, yaitu emosi atau perasaan, dinamakan sistem limbik, dan di dalam sistem limbik ini di antaranya terdapat hipotalamus, amigdala dan hipokampus.  

Kecanggihan Perangkat Manusia

Untuk mengerti perkara ini, tepat jika kita menyadari bahwa manusia memang dirancang demikian canggih, dengan perangkat yang membuatnya bisa melakukan berbagai perkara yang banyak titah urip lain tak bisa melakukannya.  Dan ini terkait erat dengan ketetapan manusia untuk memiliki free will.  

Jelasnya, manusia diberi perangkat untuk bisa merasakan sakit, marah, takut, menderita, sesungguhnya terkait dengan kelestarian hidup dan penunaian perannya di Planet Bumi.  Manusia yang tidak punya rasa sakit, takut dan menderita, karena punya free will, tentunya bisa sangat mudah menghancurkan dirinya sendiri, atau dengan sukarela membiarkan dirinya dihancurkan pihak lain.  Contoh sederhana dan terkesan konyol, tapi ini realistis. Jika manusia tak punya rasa sakit atau takut, bisa saja ia dengan santai memotong tangan atau kepalanya sendiri.  Ia juga bisa jadi tak akan menghindar ketika ada anjing yang menggigit tubuhnya.   Atau juga ia akan diam, manakala seseorang membakar tubuhnya hingga hangus padahal ia bisa berlari menghindar.  Tiadanya rasa sakit, membuat seseorang tidak punya motif mempertahankan keutuhan tubuh dan kelestarian hidupnya.  

Semesta telah merancang, berbagai rasa ini baik pada tataran fisik maupun emosi ini memiliki pasangan di sisi yang berlawanan.  Kesanggupan manusia dalam merasakan sakit, susah, menderita, membuatnya sanggup merasakan enak, senang dan bahagia.  Ini laksana dua sisi mata uang. Perangkatnya sama, tapi bisa memunculkan wajah berbeda.

Karena keberadaan berbagai emosi inilah manusia tergerak untuk membangun peradaban, yang motif dasarnya sebenarnya adalah mencapai kenyamanan dan kebahagiaan serta menghindar dari kesusahaan dan penderitaan.

Selanjutnya, perlu dimengerti berbaga perangkat di dalam sistem limbik, bekerja berdasarkan penalaran atau persepsi.  Perasaan tertentu bisa muncul akibat respon dari otak terhadap situasi dan kondisi yang dihadapi.  Persepsi dan penalaran ini yang memerintahkan bekerjanya kelenjar-kelenjar penghasil hormon yang bertanggung jawab terhadap kemunculan emosi.

Sebagai contoh, seseorang yang mendengar kata “anjing” ketika sedang berjalan melintasi sebuah gang, bisa marah dan sakit hati karena mempersepsi itu adalah ucapan penghinaan untuknya.  Seseorang juga bisa sakit luar biasa di ulu hati, orang menamakannya patah hati, ketika ditinggal orang yang dicintainya.

Tetapi peristiwa atau situasi dan kondisi yang sama, ketika direspon dengan berbeda, niscaya menghasilkan emosi yang berbeda.  Nah, penyadaran dan penjernihan diri melalui keterhubungan dengan rasa sejati, membantu manusia memiliki pola nalar yang membuat perangkat di dalam otaknya tidak bekerja menghasilkan hormon yang membawa rasa susah, sakit dan menderita.  Namun sebaliknya malah bekerja menghasilkan hormon yang memunculkan rasa tenang, senang dan bahagia.  Maka, seseorang yang terhubung intensif dengan rasa sejatinya, ketika dimaki-maki seseorang dengan kata “anjing”, bisa jadi tetap tersenyum dalam ketenangan dan kesukacitaan.  Demikian juga, orang bisa dengan mudah memulihkan hati yang patah lewat penyadaran dan persepsi yang konstruktif: bahwa ditinggalkan orang yang dicintai tidak membuat hidup seseorang jadi tidak sempurna.  Memang orang yang dicintai itu bukan jatahnya, dan di tempat lain menunggu sosok yang lebih membawa keselarasan untuknya.

Ketika seorang ayah atau ibu menghadapi anak yang bisa dinilai “bandel” pun selalu punya dua kemungkinan perasaan: tenang atau gelisah.  Jika ia menganggap kebandelan itu sebagai kewajaran dan proses yang perlu dijalani sang anak, dan pasti tuntas pada masanya, tentunya ia akan tetap tenang.  Sebaliknya jika ia menganggap kebandelan sang anak sebagai tanda ketidakmampuannya dalam mendidik, sebagai kutukan Tuhan kepadanya, dan persepsi sejenis, ia pasti gelisah.

Laku Sederhana Menuju Bahagia

Seseorang yang dalam kesehariannya sibuk dengan menyadari hambegan, fokus pada masa kini, tidak terjebak pada memori masa silam maupun bayangan masa depan, bisa mengecap kebahagiaan yang stabil.  Mengapa?  Karena ia tidak akan menghasilkan hormon penyebab rasa takut, gelisah, sudah dan menderita.  Sebaliknya hormon yang muncul pada tubuhnya adalah yang menyebabkan ketenangan, kedamaian, kesukacitaan dan kebahagiaan.

Mereka yang terhubung dengan rasa sejatinya, tidak akan keliru dalam membaca realitas dan membuat asumsi-asumsi yang memunculkan penderitaan yang sebetulnya tidak mesti muncul.  Tetapi, mereka juga bisa mengerti secara tepat jika ada bahaya yang mengancam keutuhan tubuh dan kelestarian hidupnya, sehingga niscaya menghindar.

Keterhubungan dengan rasa sejati, juga membuat daya pembasuh luka emosi mengalir dari pusat hatinya.  Benci, marah, kecewa, dan berbagai emosi lainnya bisa saja menumpuk di dalam memori manusia, baik yang disadari maupun tidak.  Ini bisa menjadi beban yang membuat manusia sulit hidup penuh sukacita dan bahagia.  Nah, daya dari pusat hati mengurai memori ini dan membersihkan beban-beban emosi yang mengganggu.  

Begitulah, hidup sukacita dan bahagia sesungguhnya berkaitan erat dengan penyadaran yang mencegah timbulnya penderitaan, dan keterhubungan dengan sumber energi kosmik yang bisa menyembuhkan luka jiwa.

Kita tak perlu memberontak terhadap realitas bahwa manusia memang dianugerahi perangkat yang membuatnya bisa merasakan penderitaan.  Toh, ada formula untuk membuat penderitaan ini bisa dihindari, dan justru membuat manusia bisa merasakan kesukacitaan dan kebahagiaan dalam berbagai keadaan.

Tidak ada komentar: