Jumat, 29 April 2016

Setiap Pribadi Adalah Pengejawantahan Gusti






Para pelaku spiritual yang jernih, niscaya bisa mengerti bahwa setiap pribadi merupakan pengejawantahan dari Gusti Yaktining Hurip.  Bahkan bisa dinyatakan, manusia merupakan pengejawantahan paling utuh dan sempurna.  Kesempurnaan ini karena keberadaan manusia laksana jagad raya itu sendiri.  Sehingga kemudian manusia dinyatakan sebagai jagad alit, mikrokosmos: minatur dari jagad raya.

Sebagaimana pada jagad raya, ada lapisan-lapisan keberadaan pada diri manusia, mulai dari yang paling kasar dan pejal, hingga yang teramat halus dan tak terlihat.  Pada jagad raya, lapisan paling inti adalah kegelapan murni yang tak bergatra dan tak terlihat.  Demikianpula pada diri manusia.  Sejatinya lapisan ini bukanlah sosok atau pribadi.  Tetapi, ia juga bisa mempribadi sekalipun tetap tak terlihat.  Ia mempribadi dalam pengertian menunjukkan keberadaan-Nya sebagai Yang Maha Berkehendak, Maha Menuntun, Maha Mengarahkan.  Realitas Tanpa Batas yang mempribadi di dalam diri manusia inilah yang dinyatakan sebagai Hingsun.

Untuk mengerti tentang Hingsun, kita perlu mundur ke belakang dengan mengurai terdahulu proses kejadian manusia.

Permulaan kejadian manusia adalah pertemuan antara sperma dan sel telur yang bermuara pada pembuahan. Ini terjadi baik melalui persetubuhan antara laki-laki dan perempuan, maupun melalui jalan lainnya seperti melalui teknologi bayi tabung.

Setelah pembuahan sempurna, terbentuklah janin atau jabang bayi.  Janin atau jabang bayi ini memiliki nyawa sekaligus membentuk kepribadian sendiri yang berbeda denga orang tuanya, termasuk ibunya.  Dan kepribadian tersendiri inilah yang disebut hulun.  Selama di dalam kandungan, berbagai perangkat dari hulun atau sang aku ini, disiapkan secara bertahap hingga mencapai titik kesempurnaan. 

Lalu, ketika bayi dilahirkan dan mulai menghirup udara, masuk dan bersenyawalah di dalam raga bayi itu pengejawantahan dari Gusti yang bernama Hingsun (Aku Sejati) dengan 4 kuasa yang mengiringinya (dalam manuskirp Gunung Klothok, 4 kuasa ini dijuluki sebagai para ngabida: Notodoko, Torogono, Gokonongodo dan Gonodoko).[1]  Hingsun kemudian bersingasana di telenging manah manusia, dan 4 kuasa  Gusti yang mengiringinya bertahta dalam wadah yang telah disiapkan selama manusia berada di dalam kandungan: kulit, tulang, daging, dan darah. 

Sehingga bisa dinyatakan, di dalam kandungan, telah terbentuk sang aku (hulun), tetapi sang aku tersebut belumlah memiliki kesadaran ketuhanan yang penuh sehingga belum terbentuk Hingsun  (dipadankan dengan konsep dalam tradisi Ibrani, ini adalah adam primordial).  Barulah ketika sang jabang bayi menghirup udara pertama, ia memiliki Hingsun dan menjadi manusia berkesadaran ketuhanan.   Seiring dengan perjalanan hidupnya, sang jabang bayi ini bisa memilih untuk menjadi atau tidak menjadi manusia dengan kesadaran ketuhanan yang penuh (jalma tumitah kang sampurna, dalam bahasa Ibrani disebut adam katmon).

Hingsun adalah sejatinya manusia, yang merupakan pengejawantahan perdana dari Gusti Yang Maha Tinggi dan Tak Bisa Dibatasi oleh apapun, yang membawa kesempurnaan Gusti.  Dalam keberadaan-Nya sebagai Hingsun inilah, Gusti menjadi Sang Penuntun di dalam diri manusia.   Hingsunlah yang selalu memberi titah, dawuh ataupun pesan kepada manusia.  Semakin jernih manusia, semakin pula manusia menunjukkan kepatuhan kepada titah, dawuh atau pesan ini, semakin penuhlah keterhubungan manusia dengan Hingsun.  Ini yang selanjutnya memungkinkan manusia langsung mengakses daya paling murni dari Sumber Kekuatan Kosmik yang bertahta di telenging manah, yaitu Hingsun.   Pada titik inilah, manusia bisa memiliki kekuatan tanpa batas, dan bisa menggatrakan berbagai perkara yang dalam kosakata manusia dimengerti sebagai elok (bahasa Jawa Kuna), miracle (bahasa Inggris) atau keajaiban (bahasa Indonesia).
Elok, miracle atau keajaiban ini muncul pada diri manusia karena manusia mengejawantahkan keperkasaan atau nowoso Gusti.  Namun, kuasa tanpa batas ini hanya bisa didayagunakan untuk kerja penataan, kerja konstruktif, sesuai kehendak dari Hingsun.  Sama sekali tak berjalan manakala ditujukan untuk mengikuti keinginan atau karep dari sang aku (hulun) semata apalagi sampai membawa pada kerusakan dan ketidakselarasan.

Hingsun Hanya Menuntun
Sekalipun pada diri Hingsun terhimpun semua kuasa kosmik, dalam relasinya dengan hulun, sang aku, atau pribadi manusia, Ia mengambil peran hanya sebagai penuntun, pemberi rekomendasi, penunjuk arah.  Tidak mengambil keputusan atau memaksakan kehendak.  Di sinilah letak free will atau kehendak bebas manusia.  Manusialah yang mengambil keputusan untuk mengikuti tuntunan dan arahan dari Hingsun atau mengikuti keinginannya sendiri.

Dalam terminologi Jawa dinyatakan sebagai berikut: Gusti kang murba, manungsa kang wasesa.   Gusti yang memegang kuasa, tetapi manusialah yang memegang wewenang.  Manusialah yang memutuskan bertindak apa dan melangkah kemana.  Kasunyatannya, bahkan pada keadaan ketika manusia sudah bisa berkomunikasi dengan Hingsun dan menangkap pesan-pesan dari-Nya, bentuk pernyataan-Nya bukanlah instruksi atau perintah yang memaksa.  Melainkan sekadar saran dan pemaparan mengenai resiko logis dari setiap opsi tindakan yang ada.  Manusia diberi kebebasan penuh untuk memutuskan opsi tindakan mana yang diambil.

Dengan rancangan seperti inilah, maka kehdupan di Planet Bumi dimana manusia berada, menjadi sangat dinamis dan penuh warna.  Segala kemungkinan bisa terjadi.  Pada satu kutub, bisa terealisasi skenario hamemayu hayuning bawana: ketika peradaban yang tergatra adalah yang mengejawantahkan keselarasan semesta.  Tapi pada kutub lain, ada skenario yang bertolak belakang: peradaban yang terbentuk adalah yang jauh dari keselarasan.  Bahkan tidak menutup kemungkinan, manusia malah merusak dan menghancurkan sendiri Planet Bumi sebagai tempat tinggalnya.  Skenario inilah yang pernah terjadi di masa silam, sehingga sebuah generasi bisa musnah dan manusia menata kembali peradabannya dari titik nol.

Pada skala pribadi, manusia juga bisa mengambil skenario tindakan yang serba patuh kepada tuntunan dan arahan Gusti, sehingga kehidupan yang tergatra adalah yang serba indah selaras dengan cetak birunya.  Dan pada kondisi itu, niscaya manusia bisa merasakan kebahagiaan penuh.  Tapi manusia juga bisa memilih untuk membangkang, memilih jalan yang tak sesuai cetak biru.  Resikonya jelas adalah keadaan hidup yang bisa membawa penderitaan: mulai dari sakit pada raga, sakit pada emosi, kekurangan finansial, keruntuhan rumah tangga, kehancuran  karier, dan sebagainya.

Keadaan-keadaan yang membawa pada penderitaan, sesungguhnya bukanlah hukuman atau pengejawantahan dari kebencian dan kemarahan Hingsun karena telah dibangkang.  Tidak sama sekali, karena tak akan ada kebencian, kemarahan dan hasrat menghukum pada Hingsun atau Gusti Yaktining Hurip.

Apapun keadaan yang dialami manusia, tak lebih dari resiko logis sebuah tindakan, yang telah termapankan dalam satu sistem kausalitas yang kompleks tapi pasti.  Jika manusia sembrono dalam melangkah, ia bisa terjatuh, dan jika saat terjatuh kakinya membentur batu, terlukalah kaki itu.  Luka itu membawa sakit, dan itu bisa membawa derita.  Sakit dan derita demikian, juga dalam seluruh bentuk yang lain, bukanlah hukuman dari Gusti Yaktining Hurip, tapi sekadar resiko logis.

Manusia Benar-benar Merdeka
Jika seseorang ingin merasakan sakit dan derita, tentu saja diperkenankan baginya untuk tidak patuh kepada jalan keselamatan yang dituntunkan Hingsun.  Jika seseorang siap menanggung resiko logis dari sebuah tindakan yang dia sudah mengerti akan membawa sakit dan derita tertentu, ya tidak ada larangan baginya untuk melakukan tindakan itu.

Pada kenyataannya, salah satu kondisi yang mematangkan jiwa manusia adalah ketika manusia masuk kepada situasi derita tertentu yang muncul karena ketidaktepatan tindakan.  Jadi, berani membangkang atau tidak patuh kepada titah Gusti,  juga tidak dilarang.  Tidak akan akan membuat Gusti marah atau benci.  Selama kita siap menanggung deritanya, dan selama kita sadar bahwa lewat penderitaan itu kita bisa mendapatkan pembelajaran hidup yang berharga, lakukan saja pembangkangan dan ketidakpatuhan itu.

Namun, secara umum, manusia memang tidak menyengajakan diri membangkang atau bersikap tidak patuh.  Yang sering kali terjadi manusia cuma tidak peka pada tuntunan Hingsun.  Atau, ia mengabaikan tuntunan itu karena tak kuasa melawan keinginannya sendiri, atau terpesona dengan penalarannya sendiri.  Baru ketika muncul resiko logis yang membawa beban atau penderitaan berat, jiwanya menjerit dan menyesal.  

Penyesalan karena keliru melangkah, apalagi jika dilakukan terus menerus, sebenarnya tiada berguna.  Karena itu tidak menghilangkan penderitaan, malah menambah intensitasnya.  Semakin tenggelam seseorang dalam penyesalan, semakin bertambah penderitaannya.

Maka, seseorang yang telah sampai pada penyadaran akan kejumbuhan hulun dan Hingsun, kawula dan Gusti, dan jernih mencermati realitas hidup, tak akan pernah mau tenggelam dalam penyesalan.  Jika suatu saat baik dengan sengaja maupun tak sengaja berbuat tidak tepat yang membuahkan resiko logis berupa kepahitan dan penderitaan, sikapnya sederhana.  Pertama, dengan ksatria mengakui bahwa tindakannya memang tidak tepat.  Kedua, dengan ksatria pula menanggung semua sakit dan derita yang muncul.  Ketiga, melakukan semua tindakan yang bisa dilakukan untuk memulihkan kondisi dan keluar dari sakit dan penderitaan itu.  Kenyataannya, pada situasi ketika manusia telah terjatuh pada sakit dan derita tertentu, Hingsun pun selalu memberi solusi atau tuntunan jalan keluar.

Semakin bijaksana dan matang jiwa seseorang, tentunya ia akan menjadi makin cermat dalam melangkah.  Ia semakin meminimalkan tindakan yang membawa pada kerugian.  Kerugian terbesar adalah jatah waktu hidup terbuang sementara tugas atau missi hidup belum tertunaikan. Sebaliknya, ia pasti memprioritaskan tindakan yang selaras dengan peruntukannya, sesuai dengan missi kehidupannya.  

Kongkritnya, seseorang yang telah berkesadaran penuh, menjalani detik demi detik kehidupannya, untuk berkarya dan melakukan tindakan hamemayu hayuning bawana sesuai cetak birunya.  Seiring dengan itu, ia meresapi keberadaannya sebagai manusia yang apa adanya: makan tatkala lapar, tidur tatkala mengantuk, melakukan hubungan seks tatkala hasrat itu muncul, menghibur diri ketika penat, dan seterusnya.  Ia sadar bahwa ia merdeka melakukan apapun, selama tidak mengganggu kemerdekaan orang lain.  Ia juga sadar, dalam segala tindakan yang ia lakukan, Hingsun atau Gusti selalu bersamanya.  Bahkan seluruh daya untuk melakukan semua tindakan itu sesungguhnya juga mengalir dan bersumber dari-Nya.


[1] Notodoko, Torogono, Gokonongodo dan Gonodoko adalah kuasa-kuasa Gusti yang ada di dalam diri manusia, dengan rincian sebagai berikut:
1.       Notodoko bertahta pada kulit, bertanggung jawab terhadap watak atau kesadaran manusia.  Kesadaran sendiri berfungsi sebagai bagian pengambil keputusan di dalam diri manusia.  Disimbolkan oleh telunjuk, dan pintunya adalah mata.
2.       Torogono bertahta pada tulang, bertanggung jawab terhadap rasa manusia.  Rasa ini berfungsi sebagai perangkat sensor terhadap berbagai realitas yang dihadapi manusia, mulai dari yang memiliki getaran kasar hingga getaran halus.  Disimbolkan oleh jari tengah, dan pintunya adalah hidung.
3.       Gokonongodo bertahta pada daging, bertanggung jawab terhadap nalar manusia.  Nalar ini berfungsi sebagai perangkat analisa dan pengolah terhadap data yang dicerap oleh rasa.  Simbolnya adalah jari manis dan pintunya adalah mulut.
4.       Gonodoko bertahta pada darah, bertanggung jawab pada nyawa manusia.  Nyawa ini adalah sumber power atau sumber daya yang memungkinkan seluruh perangkat kemanusiaan bisa bekerja.  Simbolnya adalah jari kelingking dan pintunya adalah telinga.

Tidak ada komentar: