Selasa, 17 Mei 2016

CATATAN REVOLUSI DIRI







Mengenang masa lalu, saya pernah mengalami fase-fase penuh kesulitan karena kekeliruan dalam melangkah dan mengambil keputusan.  Termasuk dalam perkara spiritual.  Saya sempat menekuni jalan berliku yang ternyata tak kunjung membawa pada tataran dan keadaan yang diharapkan.

Sebuah kilas balik.  Pada tahun 2008 lalu, ada satu peristiwa penyadaran yang menggerakkan saya untuk menemukan jati dirinya sebagai manusia yang lahir dan hidup di Nusantara.  Saya lalu menjadi sangat bersemangat menggali kembali berbagai ajaran spiritual yang tumbuh di Nusantara ini, termasuk ajaran spiritual Jawa.  Bertahun-tahun, saya mendedikasikan hidup untuk terus belajar bahkan berkelana menemukan kaweruh yang bisa membawa pada kesempurnaan hidup.  Namun, ternyata, jalan spiritual tidak semudah yang dibayangkan. 

Saya sebenarnya sudah sejak dulu tahu, bahwa mendalami spiritualitas Jawa, bertujuan untuk mencapai kesempurnaan hidup.  Dan kesempurnaan hidup itu pintu gerbangnya adalah keterhubungan dengan Guru Sejati di dalam diri.  Namun itu barulah pengetahuan teoritis, wawasan kognitif.  Realitanya saya belum benar-benar mengerti bagaimana mencapai kondisi itu. 

Dan mencari penuntun dalam perkara ini memang tidak mudah.  Ternyata praktisi ajaran spiritual Jawa yang benar-benar murni memang sangat langka.   Itu membuat saya sempat terjebak pada laku yang justru membuatnya kian terhalang dengan Sang Guru Sejati dan tak kunjung mendekat pada kesempurnaan hidup.

Dulu saya sempat terpesona pada laku atau tindakan spiritual yang berorientasi ke luar diri, bukan ke dalam diri.  Saya mencari leluhur di berbagai pepundhen. Tapi saya melupakan bahwa DNA leluhur sejatinya ada pada raga sendiri dan di situ ada kode-kode yang perlu diurai agar saya bisa hidup sesuai jalan kehidupan yang pener atau tepat. 

Saya mencari Tuhan, tetapi saya terjebak oleh asumsi bahwa Tuhan ada pada posisi terpisah dari diri.  Saya juga berasumsi bahwa perlu menjalankan berbagai laku yang menyulitkan untuk bisa bertemu dengan-Nya.  Saya malah lupa menyadari keberadaan Tuhan yang menjadi inti hidup sekaligus sebagai kuasa tak terbatas yang serba meliputi.  Saya juga melupakan bahwa karakter dasar dari Tuhan adalah Kasih.  Sehingga sebenarnya tak logis jika seseorang berasumsi bahwa Tuhan menuntut manusia untuk bersusah payah apalagi menyiksa diri hanya untuk mengerti tentang Keberadaan-Nya. 

Sungguh, saya pribadi sering merasa geli menyaksikan rekaman dirinya di masa lalu sebagai manusia yang keliru jalan.  Laksana berjalan dari Solo dengan tujuan ke Bandung yang ada di sebelah Barat, saya malah memilih arah Timur ke Banyuwangi.  Capainya pasti, sampainya jelas tidak. 

Lalu, ketika sudah sadar bahwa arahnya ke Bandung, dan ia juga sudah mulai berbalik arah, ia masih sempat belok ke kanan dan ke kiri.  Tentu saja, hasilnya adalah ia tak kunjung sampai ke titik tujuan.

Namun, saya memang punya tekad kuat untuk mengerti tentang hidup yang sejati.  Maka, saya terus bergerak dan mencari.  Saya tak segan untuk belajar dari siapapun dan tentang apapun.  Saya benar-benar berhasrat menemukan jawaban atas misteri-misteri kehidupan yang belum sepenuhnya terungkap.  Dan rupanya, Sang Penyelenggara Hidup ini punya cara unik untuk menunjukkan Kasih-Nya. 

Tuhan Yang Maha Pengasih kemudian mempertemukan saya dengan orang-orang yang memberi peta jalan untuk bertemu dengan Diri Sejati dan Guru Sejati.  Dengan peta jalan itulah saya dengan penuh ketekunan menjalani laku kejernihan dan penyadaran.

Dalam tempo yang terbilang cepat, saya menjadi mengerti tentang berbagai cara untuk mencapai kesempurnaan hidup sebagai manusia.  Saya kini tahu, cara sederhana namun sangat efektif untuk terhubung dengan Sang Sumber Hidup.  Saya menjadi sadar akan Keberadaan yang serba memenuhi dan serba meliputi diri saya.  Saya bisa bertemu dengan Diri Sejati, terhubung dengan Guru Sejati dan menemukan kehidupan yang semakin terbimbing.

Saya seperti terlahir kembali.  Saya kini menjadi manusia baru, yang hidupnya lebih selaras dengan cetak biru yang telah dirancang oleh Sang Penyelenggara Hidup.  Saya punya gairah baru, karena hidup jadi  penuh arti.  Sekarang, dengan mantap saya berperan mewarnai kehidupan di jagad ini, melalui goresan pena di berbagai media, juga lewat kata-kata yang yang sampaikan kepada siapapun yang siap menerimanya.  Saya menjalani satu peran yang saya sadari sepenuhnya sebagai anugerah Gusti: menyebarluaskan penyadaran yang pasti memperbaharui hidup siapapun yang punya kelapangan hati untuk mencermatinya.

Kini saya menjadi benar-benar sadar, bahwa hidup sesungguhnya adalah sebuah anugerah.  Dulu saya memang pernah menganggap bahwa hidup ini adalah rangkaian derita tak berkesudahan.  Karena saya memang merasakannya begitu.  Namun, kini saya tahu bahwa akar semua derita itu sebetulnya adalah persepsi saya sendiri yang tidak tepat.  Saya melupakan anugerah yang nyata, yang hadir pada kekinian hidup.  Dan malah tenggelam dalam kekalutan pikiran yang sebenarnya saya buat sendiri. 

Ya, di masa silam saya sering membiarkan nalar saya penuh dengan ketakutan akan masa depan.  Juga, ketika ada persoalan dalam hidup, saya malah memilih menguras energinya dengan memeras otak tanpa mendapatkan solusi yang memadai.  Saya melupakan sikap berserah diri kepada Sang Sumber Hidup.

Kini, bukan berarti saya telah terlepas dari semua permasalahan hidup.  Saya tetap punya beberapa problema yang sebenarnya cukup berat.  Namun, saya kini punya sikap keberserahan diri yang penuh.  Saya tahu, bahwa yang bisa saya lakukan hanyalah memperbaharui hidup melalui tindakan yang tepat di masa kini.  Juga berkarya sesuai talenta agar kehidupan saya menjadi penuh arti.  Dan saya sadar, bahwa semesta ini memiliki kausalitas yang mencerminkan kemahaadilan Gusti Sang Sumber Hidup.  Bahwa siapapun pasti mendapatkan anugerah terbaik sesuai dengan apa yang dikerjakannya. 

Satu kesadaran yang tumbuh adalah bahwa menyelesaikan sebuah persoalan hidup itu ibarat bercocok tanam. Ada fase menggemburkan lahan, menyebar biji, memupuk, dan memanen. Panen akan terjadi pada waktunya, tidak bisa dipaksakan sesuai kehendak sang petani.  Demikian pula, semua persoalan hidup hanya akan tuntas pada waktu yang tepat sesuai pengaturan semesta.   Seiring dengan kembalinya seseorang pada laku yang selaras dengan cetak biru kehidupan, semua persoalan hidup akan terselesaikan dengan sendirinya.   

1 komentar:

toni biyozy mengatakan...

dijudul tulisan yg mana menjelaskan cara efektif bertemu guru sejati?

Saya kini tahu, cara sederhana namun sangat efektif untuk terhubung dengan Sang Sumber Hidup. Saya menjadi sadar akan Keberadaan yang serba memenuhi dan serba meliputi diri saya. Saya bisa bertemu dengan Diri Sejati, terhubung dengan Guru Sejati dan menemukan kehidupan yang semakin terbimbing.