Rabu, 08 Juni 2016

ENERGI PADA MANUSIA



 

Manusia hidup karena energi.  Dan di dalam diri manusia, terdapat berbagai kategori dan simpul energi.  Semua energi bermula dan bersumber dari Realitas Tertinggi, yaitu Gusti Yaktining Hurip.  Namun, energi di dalam diri manusia ini berbeda-beda   

Energi yang paling murni bersumber pada telenging manah.  Inilah energi spiritual, energi ruh, atau divine energy pada diri manusia.  Keterhubungan dengan energi ini menegaskan posisi manusia sebagai makhluk spiritual atau sebagai titah urip yang paling sempurna mengejawantahkan keberadaan Gusti.


Selain itu, di dalam diri manusia, bisa muncul energi dari proses metabolisme tubuh.  Inilah energi yang biasa dipergunakan manusia untuk bergerak, berpikir, bekerja, dan dinamai energi fisik.  Baik berada dalam kesadaran spiritual maupun tidak, manusia pasti selalu mendapatkan pasokan energi ini untuk hidup melalui proses hambegan atau bernafas, makan, minum dan tidur.  Selama organ-organ vital tidak mengalami kerusakan parah, manusia yang terus hambegan, makan, minum dan tidur, niscaya akan tetap bisa hidup di Planet Bumi ini.  Namun, energi fisik seperti ini, semakin besar ketika manusia mengolah raganya, seperti dengan push up, angkat beban, dan semacamnya.

Energi lain yang mungkin ada pada diri manusia adalah apa yang dikenal sebagai tenaga dalam.  Ini adalah energi yang pusatnya ada di titik di bawah pusar dan di atas kemaluan.  Energi tipe ini muncul ketika manusia melakukan pengolahan hambegan.  Sebagai contoh, dengan membiasakan pengaturan hambegan segitiga: tarik nafas dalam 8 hitungan, tahan nafas 9 hitungan, dan keluarkan nafas 7 hitungan.  Dengan energi ini manusia bisa melakukan berbagai perkara yang tidak bisa dilakukan sekadar dengan mengandalkan energi dari makan dan minum.  Sebagai contoh, dengan memiliki tenaga dalam, manusia bisa mematahkan sebilah besi dengan tangan, atau mengangkat barang yang sangat berat.  Bisa juga berjalan sangat cepat sampai memperingan tubuh sehingga bisa seperti terbang.  Energi seperti ini, biasa dimiliki para praktisi bela diri dari beragam aliran.

Energi lain pada diri manusia adalah kundalini yang bersumber di ujung tulang ekor.  Energi ini mengalir melalui saluran tulang sumsum.  Energi ini pada manusia umumnya bersifat potensial.  Bahasa populernya, belum aktif. Sekalipun kata belum aktif ini juga tidak pas.  Karena kundalini ini sebagai salah satu energi hidup, bagaimanapun pasti telah aktif, hanya intensitasnya atau kepejalan energinya pada setiap orang bisa berbeda sesuai dengan cetak biru dan laku hidupnya.  Melalui laku semedi atau meditasi, juga yoga, energi kundalini bisa ditingkatkan intensitasnya.  Kebangkitan energi kundalini bisa membawa sensasi fisik dan metafisik, dan mungkin juga memunculkan kekuatan-kekuatan yang tidak umum pada manusia.

Energi berikutnya adalah energi otak, energi pikiran, atau mind power.  Sumbernya adalah otak, dan lebih spesifik lagi adalah pineal gland.  Energi kategori ini, bisa ditingkatkan intensitasnya melalui meditasi dengan fokus pada pinal gland dan mata ketiga (perangkat semacam teleskop yang berada di kening, di antara dua mata, yang terhubung langsung dengan pineal gland).  Tradisi lain adalah Neuro Linguistik Programming dan hipnotis.  Ini adalah cara memberdayakan mind power melalui pengaturan bahasa.  Teknik yang bisa digunakan adalah sugesti, visualisasi kreatif, penjangkaran, dan semacamnya.  Dengan energi ini, seseorang bisa saja mengubah energi menjadi materi yang pejal.  Apa yang semula hanya muncul dalam imajinasi, ketika dialirkan emosi dan energi kepadanya, itu bisa menjadi kenyataan yang bergatra.  Dengan energi ini, seseorang bisa juga mempengaruhi orang lain bahkan mengendalikan orang lain.

Berbagai energi sebagaimana diuraikan di atas, ada karena memang ada perangkatnya.  Itu merupakan bagian dari keberadaan manusia.  Siapapun yang menyadari dan melakukan tindakan-tindakan untuk mengaksesnya, pasti bisa memiliki dan mendayagunakannya.  Maka, tumbuhnya berbagai tradisi yang membawa manusia bisa memiliki tenaga fisik, tenaga dalam, kundalini maupun mind power yang semakin besar, adalah sebuah kewajaran. 

Tetapi, jika tujuan kita adalah meraih kesejatian hidup, maka yang perlu diakses sumber energy murni di telenging manah,

Tidak ada komentar: