Selasa, 28 Juni 2016

MEDITASI JAWA KUNA BERDASAR MANUSKRIP GUNUNG KLOTHOK







Di dalam Layang Djojobojo yang merupakan bagian dari Manuskrip Kuna Gunung Klothok, diperkenalkan 4 patrap atau posisi dalam bermeditasi.  Patrap ini bisa dipraktikkan oleh siapapun yang menghendaki kejernihan dan kemurnian diri.  Cara mempraktikkannya, dalam setiap posisi, dibarengi menyadari, mencermati dan menikmati nafas yang natural.

Meditasi yang terdiri atas 4 posisi ini, merupakan sarana penyadaran mengenai 4 perkara penting yang memastikan ketepatan dan keproporsionalan hidup.  

Pertama, kejumbuhan manusia dengan Gusti.  Tak ada keterpisahan antara manusia dengan Gusti.  Gusti bertahta di dalam diri manusia, dan keratonnya adalah di telenging manah.  Dan saat yang sama, Gusti meliputi dan memenuhi seluruh keberadaan manusia.  Gusti selalu menuntun manusia, memberi pelajaran secara langsung kepada manusia lewat pengejawantahannya di telenging manah, yaitu Sang Guru Sejati.  Dan keadaan ini sejatinya langgeng. 
 
Kedua, manusia memiliki sedulur papat kang sayekti, saudara empat yang sesungguhnya, yang dalam bahasa Jawa Kuna dinyatakan sebagai ngabida dan dijadikan dari angin.  Begitu bayi lahir, melalui hambegan udara memenuhi raganya, maka, mapanlah saudara empat yang masing-masing ngesuhi atau bertanggung jawab terhadap Wateg atau Kesadaran, Rasa, Nalar dan Kehendak/Nyawa.  Kuasa-kuasa Gusti inilah yang dalam manuskrip Gunung Klothok dinyatakan sebagai Notodoko, Torogono, Gokonongodo dan Gonodoko, sementara dalam pewayangan dikenal sebagai sang punakawan yang dijuluki Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.  Daya dahsyat yang dimiliki manusia, sebetulnya terletak pada penyadaran terhadap sedulur 4 yang sejati ini.

Ketiga, dalam kehidupannya di Planet Bumi manusia sejatinya berada dalam kandungan semesta.  Manusia dipersiapkan untuk sebuah kelahiran baru.   Dan untuk bisa menggapai kelahiran baru yang sempurna manusia perlu menuntaskan missi hidupnya.  Terkait dengan missi itu, manusia telah dijadikan Gusti secara sempurna.  Apapun kondisi ragawi manusia, itu selaras dengan cetak birunya, peruntukannya.  Dan Gusti telah menjamin semua kebutuhannya, sebagaimana kala manusia di dalam kandungan Ibu.  Manusia tak akan berkekurangan dalam sandang, pangan, papan, selama manusia menjalankan hidup selaras cetak birunya.  Dan kesempurnaan hidup manusia itu, bermula dari getar lembut di telenging manah, yang membuat manusia bisa bergerak dan berkarya. Lewat karya yang selaras dengan getar lembut dari telenging manah, manusia pasti bisa menampilkan kehidupan serba gemerlap, cemerlang, indah dan harmoni.

Keempat, manusia sewajarnya hidup selaras dengan tuntunan dari pusat hati.  Kesadaran, rasa dan nalarnya dituntun oleh net atau petunjuk Gusti dari telenging manah.  Ini pula arti patuh kepada Gusti: bukan patuh kepada aturan eksternal yang dikreasi manusia lain, tapi semata-mata patuh kepada aturan, prinsip, dan penataan dari Gustinya sendiri.  Karena justru sikap seperti ini yang memastikan munculnya harmoni kehidupan.  Tegasnya, hidup manusia pasti tertata terbimbing oleh net-nya.  Dengan intensif melakukan tindakan meneng  merasakan hambegan, manusia pasti menjadi wening, dan semuanya bisa dunung/mapan di tempat yang semestinya. 

1 komentar:

Sriadi Witjitro mengatakan...

Mohon dalam gambar 4 posisi patrap tersebut, diberi nomor urut terhadap 4 sarana penyadaran.