Jumat, 29 Juli 2016

TUHAN, REALITAS YANG MELAMPAUI SEMUA IMAJI






Hana kang hanitahake siti pangelingan Djowo sumarengan jeng salir wose jejuluk GUSTI.  Sinungan  GUSTI kang sawara gesang,  hanitahake sawara prawasa ngagesang siti pangelingan Djowo, saking bayinat kang peteng sonoliko GUSTI sumalihake  trawang lan wenteh.   Kang  GUSTI cinanthen tumuwuh.

Ada yang menjadikan tanah pengingat Jawa beserta segala isinya yang dijuluki GUSTI. Dialah GUSTI yang merupakan permulaan hidup,  menjadikan permulaan aturan kehidupan tanah pengingat Jawa, dari keadaan yang gelap seketika itu GUSTI mengubahnya menjadi terang dan nyata.  Apa yang GUSTI ucapkan bertumbuh.   
(Layang Soworo, Dana 1)

Meditasi mendalam, niscaya membawa kita pada kesadaran bahwa ada realitas yang melampaui dark energy, dark matter, dan ordinary matter, dan bahkan merancang, mengatur, dan menata semuanya itu.  Itulah yang dalam terminologi Jawa dinyatakan sebagai Gusti. Realitas ini tanpa gatra, tetapi nyata ada dan mencerminkan kecerdasan tanpa batas.


Terkait perkara ini, ada sebuah manuskrip Jawa Kuna dari Gunung Klothok Kediri yang membantu kita mengerti kasunyatan yang ada.  Dalam salah satu bagian yang diberi nama Layang Soworo, dinyatakan sebagai berikut:  Saking bayinat kang peteng, sumalihake Gusti trawang lan wenteh.”  Arti pernyataan ini adalah: “Dari keberadaan yang gelap, dirubah oleh Gusti menjadi jelas dan nyata.”

Gusti sewajarnya tak dipahami sebagai sosok, tapi sebagai Realitas Yang Menjadi Sumber Segala Yang Ada.  Bisa juga dimengerti sebagai Kecerdasan Tertinggi, The Ultimate Intelligence, yang menjadi desainer dari semesta dan kehidupan ini.   Keberadaannya menjadi inti dari segala yang ada, segaligus meliputi segala yang ada.  Sungguh sulit membahasakan realitas Gusti, sehingga orang-orang Jawa Kuna menggunakan kalimat: “Tan kena kinira, tan kena kinaya ngapa” (Tak bisa diperkirakan dan dibayangkan keberadaannya seperti apa, karena segenap perkiraan dan bayangan pasti tak sesuai dengan Realitas-Nya).

Tetapi, mesikipun tak bisa mendeskripsikannya dengan akurat, orang-orang Jawa Kuna sadar betul tentang keberadaan-Nya.  Gustilah yang menjadikan segala yang ada, yang terang, yang bisa dilihat dan nyata, dari keberadaan yang serba gelap.  

Kegelapan Murni
Melalui penyaksian terhadap jagad raya, maupun melalui meditasi mendalam untuk menembus lapisan-lapisan keberadaan diri, niscaya pada ujungnya menemukan kegelapan murni.  Itu adalah keadaan dimana tak ada apa-apa lagi, dan yang tak dapat diasosiasikan dengan apapun karena tak ada sebuah gatrapun yang menyerupainya.  Segenap gatra yang terlihat, niscaya memiliki batasan, menempati ruang dan waktu tertentu.  Dan itu pasti bukan Tuhan yang menjadi sumber segala-galanya.  Hanya kegelapan murni yang tanpa batas dan meliputi segala keberadaan.

Realitas pamungkas yang ditemui saat menyibak jagad raya maupun melakukan perjalanan ke dalam diri ini, justru tanpa batasan, tanpa gatra.  Itulah Tuhan, yang menjadi inti dari segenap keberadaan, sekaligus yang meliputi keberadaan itu.  Para leluhur Jawa di masa silam menjuluki realitas ini sebagai Gusti, karena darinya muncul segenap keluhuran di hati manusia.  Realitas ini juga dijuluki YaHu atau Yaktining Hurip, karena memang realitas inilah kehidupan sesungguhnya: semua yang ada dan hidup, memang bermula dari-Nya, dan diliputi oleh-Nya.

Realitas inilah yang menjadi sumber dari dark energy, yang dalam sains dinyatakan bertanggung jawab terhadap ekspansi semesta dan pembentukan segenap benda dan gatra yang bisa diketahui di semesta ini.  
Berkaitan dengan manusia, bisa dinyatakan bahwa Tuhan bersenyawa sepenuhnya dengan manusia.  Pada tataran keberadaan, tak ada batasan antara Gusti atau YaHu dengan manusia.  Inilah pengertian jumbuhnya kawula dengan Gusti.  Gustilah yang menjadi inti hidup manusia, memenuhi segenap keberadaan manusia, dan meliputinya.

Tuhan adalah Kasih Murni
Tuhan bukanlah satu sosok, bukan pribadi.  Maka tak ada di sana emosi dan kepentingan laksana manusia.  Bagi-Nya tak ada pemihakan, tak ada musuh dan sekutu, tak ada benci dan suka.  Yang nyata ada adalah bahwa Dia menghidupi semuanya, dan semua yang dihidupi atau dijadikan oleh-Nya terikat pada sistem kausalitas yang teramat rumit namun terjamin kepastian dan keakuratannya.  

Jikapun ada karakter yang layak dilabelkan kepada Realitas ini, itu adalah Kasih Murni: Kasih yang selalu mengalir, membawa kehidupan dan keindahan.  

Bahkan terkait dengan keberadaan manusia atau titah urip lainnya yang memiliki free will sehingga mungkin mengalami kekeliruan, kejatuhan dan penderitaan, selalu ada solusi dari-Nya.  Kasih-Nya memulihkan siapapun yang terlanjur melukai dirinya sendiri dengan tindakan yang tidak tepat.  Dan tentu saja, pemulihan ini berjalan melalui proses yang bertahap dan bertumbuh.  Ini merupakan bagian dari sistem pengaturan kosmik yang mengikat semua keberadaan.

Tidak ada komentar: