Kamis, 22 Februari 2018

INTISARI SASTRA JENDRA





Intisari dari Sastra Jendra sejatinya adalah tuntunan agar setiap pribadi mencapai kesempurnaan jiwa dan kebahagiaan sejati.  Tataran ini dicapai melalui proses jumbuhing kawula lan Gusti, atau tumbuhnya kesadaran akan sifat roroning atunggil (dwi tunggal) di dalam diri, yang ditunjukkan oleh konsep Aku ing sajroning Ingsun, Ingsuning sajroning Aku. Ajaran mistik Jawa dalam berbagai variannya – yang sejatinya mengurai Sastra Jendra - membimbing para penghayatnya untuk memasuki kondisi hening, sehingga bisa bertemu dengan alam sunyaruri. Mereka yang telah mencapai titik ini, akan mendapatkan ketenangan batin sekalipun menghadapai situasi dan kondisi yang sangat gawat. Karena antara manusia sebagai manifestasi dengan Tuhan sebagai Sang Sumber Keberadaan terjadi titik temu yang harmonis. Batin manusia selalu tersambung dengan getaran energi Tuhan: kehendak Tuhan menjadi dasar atas segala tindakan yang dilakukannya. Atau diistilahkan sebagai sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair. Sesotya adalah ungkapan yang mengandaikan Tuhan bagaikan permata yang indah tiada taranya. "Permata" yang menyatu ke dalam embanan. Embanan sebagai ungkapan dari raga. Praktisi spiritualis Jawa yang sejati,adalah sosok ideal sebagaimana dilukiskan dalam The Book of Mirdad karya Mikhail Naimy, pujangga keturunan Lebanon sahabat Kahlil Gibran: Ia yang berpikir, berbicara, bertindak, bersikap, dan berkehendak selaras dengan Kebenaran (karena Kebenaran, Tuhan, telah bersemayam di dalam dirinya!).
Untuk mencapai kondisi di atas, pembelajar Sastra Jendra menumbuhkan kesadaran sejati lapis demi lapis, melalui kegiatan semedi dan rangkaian laku prihatin. Semedi adalah meditasi ala Jawa: seseorang menarik diri dari kesibukan raga dan pikiran, memberi perhatian mendalam pada helaan nafas, dan perlahan-lahan memasuki alam hening. Pada titik tertentu, pelaku semedi niscaya bisa bertemu dengan Sukma Sejati atau Guru Sejati, manifestasi keberadaan Gusti di dalam diri. Lebih jauh lagi, pelaku semedi juga bisa mengalami persentuhan dengan Kekosongan Sejati (alam sunyaruri). Melalui semedi, mata batin kita menjadi terasah. Cakrawala pandang kita, dunia yang kita sentuh, akan melampaui apa yang selama ini begitu terbatas karena sekadar mengandalkan pencerapan oleh panca indera. Sementara itu, laku prihatin adalah pelengkap dari kegiatan semedi: di sini, berbagai kegiatan pengelolaan Angkara sekaligus ekspresi kewelasasihan kepada sesama dalam rangka hamemayu Hayuning Bawono dikondisikan menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup seorang penghayat mistisisme Jawa. Melalui peningkatan intensitas dan kualitas semedi maupun laku prihatin, diasumsikan seorang pelaku mistisisme Jawa bisa makin dekat dengan jatidirinya, makin tak berjarak dengan Gusti (Hyang ingkang papanipun ing bagusing ati), yang pada titik idealnya disebut dengan keadaan manunggaling kawulo kalawan gusti.
Seorang pembelajar Sastra Jendra yang konsisten, akan mengalami peningkatan kesadaran secara terus menerus, dari kesadaran ragawi,kesadaran rasional, hingga kesadaran sukma dan rasa sejati. Makin lama, doktrin yang beku, rumusan kebenaran yang bersifat eksternal yang dikondisikan atau dijejalkan dari luar,makin ditinggalkan, seiring dengan meningkatnya kesadaran bahwa sumber kebenaran itu sebenarnya ada di dalam diri.Saat yang sama, keselarasan dengan alam semesta makin meningkat: diri ini makin terasah untuk membaca tanda-tanda alam, alam telah menjadi buku suci yang menginformasikan keagungan Gusti sekaligus hukum-hukum-Nya yang kekal.

Tidak ada komentar: