Jumat, 16 Maret 2012

CATATAN NAPAK TILAS KE KI AGENG GIRING DAN MANEKUNG DI WIJILAN

“Niat ingsun nyebar gondo arum, tyas manis kang mantesi, ruming wicara kang mranani, sinembah laku utama.”

Pelajaran dari Petilasan Ki Ageng Giring
Awal Maret ini saya berkesempatan kembali menjejakkan kaki di Tlatah Mataram. Tujuan utamanya adalah memenuhi niat yang telah muncul sejak beberapa waktu lampau: sowan ke petilasan Ki Ageng Giring. Puji syukur kepada Gusti Ingkang Murbeng Gesang, saya lagi-lagi dimudahkan, karena kepergian saya ke sana didampingi oleh Ki Sabdalangit dan Nyi Untari. Selain itu ada Mas Dono – adik Nyi Untari, dan Mas Agung – salah satu sahabat yang tinggal di Jogja dan pekerja di Kantor Pajak. Jarak yang sekitar 50 km dari pusat Kota Yogya, menjadi mudah dilewati. Petilasan Ki Ageng Giring berada di Sodo, sebuah desa di Gunung Kidul. Untuk menuju ke sana, kita harus melewati tanjakan Pathuk yang laksana Puncak-nya Jogja.

Kami tiba di petilasan Ki Ageng Giring sekitar pukul 13.30. Kami leyeh-leyeh dulu di pendopo, dan menikmati suguhan teh manis hangat dari Pak Yusuf, kuncen di situ. Saya mengamati silsilah di dinding pendopo, dan teringat cerita yang pernah saya baca. Ki Ageng Giring yang kami kunjungi petilasannya ini adalah Ki Ageng Giring III. Beliau adalah cucu dari Ki Ageng Giring I, yang merupakan salah satu keturunan Prabu Brawijaya IV, melalui Adipati Pengging Sepuh, Ki Ageng Handayaningrat. Ki Ageng Giring I berarti saudara tiri dari Ki Ageng Kebo Kenongo dan Ki Ageng Kebo Kanigoro yang merupakan cucu dari Prabu Brawijaya V melalui putrid beliau Retno Pembayun yang menikah dengan K Ageng Handayaningrat.

Ki Ageng Giring (III) ini terkenal dengan kisah kelapa hijau pertanda wahyu keprabon yang justru diminum oleh Ki Ageng Pemanahan.  Alkisah di masa pemerintahan Kerajaan Pajang tersebutlah dua orang sahabat karib, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring. Ki Ageng Giring terkenal sebagai seorang petani pertapa sekaligus penyadab nira kelapa yang hidup di tengah pegunungan selatan, sedangkan Ki Ageng Pemanahan merupakan abdi dalem Sultan Hadiwijoyo. Dalam satu pertapaannya Ki Ageng Giring mendapatkan ‘wahyu gagak emprit’ berwujud sebuah degan dimana barang siapa meminum air degantersebut sekali tenggak maka anak turunnya akan menjadi raja-raja besar di tanah Jawa.

Dengan pertimbangan agar sekali teguk air degan dapat habis maka Ki Ageng Giring menaruh degannya di pawon rumahnya untuk pergi ke ladang dengan maksud nanti setelah bekerja di ladang dan kehausan maka dia akan segera pulang dan menenggak habis air degannya.

Tanpa diduga sebelumya, tiba-tiba datanglah Ki Ageng Pemanahan mampir ingin menengok sahabat karibnya. Setibanya di depan rumah Ki Ageng Giring, Ki Ageng Pemanahan mendapati rumah sahabatnya kosong tanpa penghuni. Ia kemudian njujuk ke pawon dan mendapati sebuah degan yang ranum di sebuah babagran pawonsahabatnya. Ia berpikir mungkin sahabatnya sengaja menyediakandegan tersebut bagi sang tamu yang kehausan setelah menempuh perjalanan jauh. Tanpa berpikir panjang degan tersebut kemudian diboboknya untuk kemudian ditenggaknya sekali tenggak habis.

Tak begitu lama kemudian datanglah Ki Ageng Giring dari ladang. Ia langsung menuju pawon bermaksud meminum degannya. Ternyata didapati degan sudah dibobok orang dan isinya sudah habis. Ia keluar ke belakang rumah dan didapatinya sang sahabat, Ki Ageng Pemanahan sedang bersantai menikmati semilir angin di bawah waru doyong. “Adi Pemanahan? kapan tiba di gubugku ini Di?” tanyanya. “Baru saja Kakang, aku sekedar mampir setelah menengok Alas Mentaok atas perintah Kanjeng Sultan Pajang”,jawab Ki Ageng Pemanahan. “Dan Kakang, karena perjalanan jauh yang telah ketempuh tadi aku langsung njujug dipawon dan meminum degan yang ada di babragan milik Kakang, aku mohon maaf sebelumnya Kakang” lanjut Pemanahan.

“Ketiwasan Adi!”, sergah Ki Ageng Giring dengan nada lemas dan kecewa berat. “Sebenarnya Adi, degan tersebut merupakan wahyu yang telah aku upadi dengan tapa brata yang sulit untuk mendapatkan kemuliaan bagi anak cucuku kelak di kemudian hari”,ia menegaskan. Ia kemudian menceritakan mengenai ‘wahyu gagak emprit’ yang diperolehnya berwujud degan tersebut. Dengan besar hati akhirnya ia berkata, “Adi, barangkali ini semua memang sudah menjadi titah Gusti, sehingga aku harus rela anak cucumulah kelak yang akan menjadi penguasa tanah Jawa ini. Namun Adi, apabila engkau tidak berkeberatan izinkan juga anak cucuku setelah keturunan ke tujuh darimu juga ikutnunut mukti.”

Ki Ageng Pemanahan kemudian menjawab, “ Aduh Kakang beribu ampun aku minta maaf, karena ketidaktahuanku aku menjadi penghalang kemuliaan anak cucumu, tapi barangkali ini memang sudah ginarising pepesthen, namun demikian aku rela dengan permintaan Kakang agar setelah keturunanku yang ke tujuh nanti anak cucu Kakang ikut mukti wibawa. Dan untuk itu Kakang, apabila kita kelak mempunyai anak kuusulkan agar kita berbesanan sebagai jalan tengah”. Akhirnya kedua sahabat tersebut bersepakat.

Kelak di kemudian hari terbuktilah oleh sejarah, Panembahan Senopati atau Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan berhasil menjadi raja Mataram pertama meneruskan era Kerajaan Pajang. Dan setelah tujuh generasi, melalui Pangeran Puger yang kemudian bergelar Susuhunan Paku Buwana I, keturunan Ki Ageng Giring ikut mengemban tahta.

Di petilasan Ki Ageng Giring ini saya menyaksikan hal menarik. Saat berada di makam Raden Ajeng Niken Purwosari yang disebut juga Rara Lembayung – putri Ki Ageng Giring yang menjadi salah satu istri Panembahan Senopati – saya merasakan bagian lantai di sekitar makam itu, yang dibatasi oleh pagar besi dan tidak beratap, terasa benar-benar dingin. Sementara cuaca saat itu sangat terik, dan lantai di bagian lain di luar pagar, sangat panas karena memang diterpa panas matahari. Pertanda apakah ini? Tampaknya ini pertanda kemuliaan sosok yang dimakamkan di situ. Fenomena demikian juga bisa ditemui di Imogiri: kita bisa mencium bau harum dari satu lubang di makam Kanjeng Sultan Agung.

Selanjutnya, perkenankan saya membagi kawruh yang diwedar oleh Ki Sabdalangit dan Nyi Untari tentang etika ziarah atau sowan ke makam/petilasan leluhur. Pertama, hendaknya kita hadir dengan hati yang tulus untuk menghaturkan sembah pangabekti. Sudah menjadi kewajiban kita untuk hadir dan nyambung rasa dengan para leluhur, karena keberadaan kita saat ini bagaimanapun juga dijembatani oleh beliau-beliau. Kurang patut jika sowan ke makam/petilasan leluhur dengan hati penuh pamrih. Lebih jelasnya, pikiran kita saat mulai nyambung rasa dengan leluhur, harus di-nol-kan. Kita semata-mata sumeleh pasrah kepada Gusti Ingkang Moho Suci.

Saya pribadi, menjalankan prosesi persambung rasa dengan para leluhur tersebut diawali dengan menghaturkan sembah hormat, sambah pangabekti, dan permohonan kepada Gusti Ingkang Moho Suci, supaya leluhur yang saya kunjungi tersebut mendapatkan anugerah, kesentausaan, dan kebahagiaan, dan terus berjalan menuju tataran kemuliaan yang semakin meninggi. Doa semacam ini bukan didasari kesadaran bahwa leluhur yang kita sowani butuh dibantu dengan doa kita. Karena sebagian leluhur – khususnya para leluhur agung dari masa silam – rata-rata telah berada pada tempat yang mulia – dan kalau soal berdoa, tentu saja beliau lebih kompeten dalam berdoa ketimbang kita yang masih terjebak di kehidupan yang penuh gejolak nafsu. Tapi, doa tersebut kita haturkan semata-mata sebagai bukti rasa cinta kita kepada leluhur. Jikapun kita hendak benar-benar mendoakan leluhur (orang tua kita), perlu disadari bahwa yang benar-benar membutuhkan itu adalah para leluhur (orang tua) yang masih “berjuang dan menebus kesalahan” di alam pangrantosan (alam antara dunia dan alam kemuliaan sejati yang menjadi muara dari sukma manusia). Dan doa yang lebih dibutuhkan bukanlah doa dalam bentuk verbal: tetapi dalam bentuk tindakan nyata, berupa tindakan kebajikan yang menggenapi hal-hal yang kurang/belum tuntas dilakukan oleh para leluhur/orang tua kita.

Jikapun saya terpaksa meminta sesuatu kepada para leluhur, konteksnya adalah karena saya menganggap beliau sebagai orang tua yang memang masih jumeneng dan selayaknya saya mintai bantuan dan dukungan agar hidup saya menjadi lebih sempurna, yang saya bahasakan sebagai “gesang langgeng ayem tentrem ing madyopodo”. Dan saat saya meminta bantuan untuk hal spesifik, saya betul-betul memastikan bahwa itu bukan untuk memenuhi hasrat nafsu pribadi/rahsaning karep – atau semata-mata untuk kepentingan individu saya, tetapi demi kebermanfaatan sebanyak mungkin manusia. Contoh, saya sering meminta bantuan para leluhur agar beliau berkenan mendukung kiprah saya di bidang politik, sesuai dengan otoritas dan kemampuan yang beliau miliki. Tapi, itu bukan karena saya gila kekuasaan dan memandang kekuasaan sebagai pangkal kebahagiaan. Tetapi semata-mata karena didasari kesadaran, kekuasaan itu perlu dipegang untuk memperbaiki nasib bangsa, untuk menegakkan keadilann di Nusantara ini, dan dengan begitu, lebih banyak orang yang bisa menikmati hidup penuh martabat.

Etika kedua, soal bahasa yang kita pakai dalam nyambung rasa dengan leluhur. Disampaikan Ki Sabdalangit, bahwa lebih pantas jika kita mempergunakan bahasa yang sesuai dengan bahasa para leluhur sendiri, atau setidaknya bahasa kita sehari-hari. Kita nyambung rasa dengan leluhur itu mirip dengan jika kita sowan kepada orang tua atau sesepuh yang masih jumeneng di dunia. Supaya kita bisa menghayati komunikasi yang kita bangun, tentu saja kita perlu menggunakan bahasa yang kita sendiri juga paham, dan sesuai dengan bahasa yang dipergunakan sesepuh atau orang tua kita. Lalu, dalam komunikasi kita tidak perlu muter-muter: kita perlu hindari merapal berbagai bacaan doa yang justru ditujukan bagi leluhur bangsa lain dulu, baru leluhur kita sendiri malah disebut paling belakang. Terlebih jika itu dilantunkan dengan suara keras yang malang menghilangkan keheningan dan mengganggu pihak lain yang sedang/ingin samadhi. Hal demikian sungguh tidak patut. Apalagi jika dilandasi asumsi bahwa leluhur kita “kalah mulia” ketimbang leluhur bangsa lain sehingga hanya bisa selamat jika mendapatkan “jaminan keselamatan” dari leluhur bangsa lain itu.

Consciousness from Wijilan
Di Petilasan Ki Ageng Giring, saya berusaha untuk menunjukkan niat sembah hormat dan sambah pangabekti kepada para leluhur yang jumeneng di situ, lalu hening, untuk mendapatkan petunjuk-petunjuk khusus terkait dengan missi hamemayu hayuning bawono. Dan proses demikian saya lanjutkan dengan manekung di Wijilan, di rumah Ki Sabdalangit/Nyi Untari. Malam hari, saya bersila di atas dipan kayu – di samping patung-patung punokawan yang berjejer. Saya ingin menggali kesadaran-kesadaran baru yang bisa mengarahkan kehidupan saya ke arah lebih baik dan lebih berguna bagi banyak orang.

Dalam hening, terbetik kesadaran-kesadaran tentang tugas hamemayu hayuning bawono-nya seorang kstaria – dan itulah yang saya bagikan kepada sidang pembaca kali ini.
Selama ini saya bertanya-tanya, benarkah, atau tepatkah, niat saya untuk terjun ke dunia politik. Sementara saya tidak punya rekam jejak terlibat dalam kegiatan partai politik – saya lebih banyak berperan sebagai seorang pemikir, konseptor, guru, penulis, dan peran-peran lain yang pada masa lalu dikenal sebagai fungsi seorang brahmana dan pujangga. Saya mulai berpikir terjun ke dunia politik ketika menyadari mengalirnya darah ksatria di dalam raga ini, dan ada peran yang harus saya jalani sebagai seorang ksatria, sebagaimana dulu leluhur-leluhur saya melakukannya.
Ada keraguan yang membayang – dan pertanyaan yang paling menohok adalah, “Untuk apa saya terjun ke politik? Apa gunanya itu bagi kemajuan spiritual saya, sementara saya menyadari sepenuhnya bahwa yang terpenting bagi saya saat ini adalah mencapai kemajuan spiritual, menggapai kebahagiaan yang hakiki, yang landasannya adalah nglakoni urip kang sejati?”

Dalam manekung di Wijilan itulah saya mendapatkan beberapa kesadaran yang memantapkan hati saya untuk terus melangkah (dan berkiprah di jalur politik).

Pertama, prinsip hamemayu hayuning bawono harus diterapkan sesuai dengan “cetakan” diri setiap orang. Seorang orang punya “cetakan” yang berbeda, sehingga manifestasi hamemayu hayuning bawono-nya pun berbeda. Yang saya maksud cetakan ini adalah “potensi diri” yang terformulasikan dalam DNA masing-masing orang. Dalam istilah yang lebih mistis, cetakan ini terkait dengan “siapa diri kita di masa lalu, atau siapa yang menitisi diri kita – yang memberi gambaran tentang kemampuan/keunggulan potensial kita, dan peran/dharma yang harus kita jalani pada saat ini”.

Sejauh saya menelusuri diri saya pribadi, saya menemukan dua potensi yang sama besarnya, menjadi seorang brahmana sekaligus kstaria. Itu saya simpulkan berdasarkan jejak genetik saya, merujuk pada siapa leluhur saya, juga berdasarkan pemahaman tentang siapa diri saya di masa lalu/siapa yang menitisi diri saya. Intinya, saya mendapatkan gambaran kemana saya potensi diri saya mesti dikembangkan: menjadi seorang satria yang sekaligus seorang pandhito. Role model bagi saya adalah sosok halnya Gusti Mangkunegoro IV, atau Ki Ageng Kebo Kenongo, atau Panembahan Senopati. Mereka adalah sosok-sosok yang terasa sangat dekat dengan hidup saya: mereka adalah sosok ksatria, yang memiliki kedalaman spiritualitas, dan menjadikan pencapaian spiritualitasnya sebagai landasan untuk menjalankan tugas sebagai seorang ksatria.
Selanjutnya, dalam manekung di Wijilan tersebut, saya kian menyadari kondisi negeri ini:sebuah negeri yang cukup lama berada pada pusaran masa wolak-waliking jaman, dan sudah waktunya untuk memasuki jaman baru. Saat ini, dunia politik telah menjadi dunia yang busuk. Alih-alih berlomba menawarkan policy, wisdom atau kebijaksanaan yang berguna bagi masyarakat banyak dan meningkatkan martabat bangsa, banyak politisi justru menunjukkan “watak sasatoan” atau “perilaku binatang (dalam makna negatifnya)” berupa kelicikan, sikap mau menang dan untung sendiri, dan sikap tega mengorbankan orang lain dan menggadaikan negaranya sendiri. Politik telah menjadi ajang transaksi kepentingan-kepentingan sesaat; mereka yang memiliki uang atau diback-up para pemilik modal besar, memanipulasi media dan rakyat sehingga bisa meraih kekuasaan, dan dengan kekuasaan itu justru mengeksploitasi sumber daya negara demi kepentingan segelintir orang. Hasilnya adalah negara yang rakyatnya ibarat “anak ayam kelaparan di lumbung padi”; banyak rakyat kita terjebak kemiskinan yang akut dan bersifat struktural.
Di sisi lain, kebudayaan bangsa Indonesia yang dulu dikenal luhur, halus, lembut, kini porak poranda. Masyarakat banyak yang kehilangan jatidiri dan tak lagi berpegang pada budaya luhur yang diwariskan para pendahulu/leluhurnya. Maka, secara agregat, tercipta ketidakharmonisan antara manausia dengan lingkungannya: kita terjebak kedalam KETIDAKSELARASAN.

Situasi seperti ini, membawa kita pada titik persimpangan: HANCUR LEBUR, atau sebaliknya, kita melejit ke arah KEJAYAAN BANGSA. Semuanya tergantung dari apa yang kita pilih, dan apa yang dilakukan warga negeri ini.

Pada titik ini, sudah sepatutnya jika mereka yang telah intensif menjalankan laku prihatin, dan menyadari keterkaitan yang erat dengan para leluhur dan apa yang diharapkan leluhur terhadap negeri ini, untuk mulai bertindak. Mereka yang berdarah ksatria, tak bisa lagi hanya sibuk manekung dan menonton negeri ini kian dirusak oleh orang-orang yang takluk pada nafsu keserakahan.

Mereka yang menyadari makna urip kang sejati, pastilah memahami bahwa kita perlu memberikan sesuatu yang istimewa sebagai balasan terhadap anugerah kehidupan yang kita terima. Dan bagi para ksatria, balasan yang paling pantas diberikan adalah menyerahkan jiwa raganya, pikiran dan tenaganya, untuk membawa bangsa ini keluar dari krisis dan beranjak maju untuk memenuhi nujuman bangsa ini sebagai bangsa yang besar dan jaya – seperti terserat dalam Jangka Jayabaya.

Negeri ini perlu kembali dipegang dan diarahkan oleh para pemimpin yang berjiwa ksatria sekaligus berwatak pandhito. Yaitu mereka yang bisa berpolitik berlandaskan motif yang luhur, dan bisa menjadi teladan hidup yang becik, bener, dan pener, bisa menegakkan keadilan, dan lebih ideal lagi bisa menjalankan prinsip Hasta Brata: meneladani sang matahari, bulan, air, api, bumi, angin, bintang, dan samudera. Hanya dengan begitu, rakyat negeri ini bisa terayomi dan merasakan keadilan.

Demikianlah, berdasarkan kesadaran itu saya mantap untuk terjun ke politik. Menang atau kalah bukan hal yang terlalu penting buat saya, sekalipun saya mengupayakan yang terbaik untuk menang. Yang terpenting adalah saya sudah berusaha berbakti dan mengabdi kepada negeri ini, karena demikianlah dharma seorang ksatria. Semoga, anda juga bisa menunjukkan jiwa ksatria Anda, demi kebaikan negeri ini.

Surodiro jayaningrat lebur dening pangastuti!

4 komentar:

Anonim mengatakan...

JAYA NUSWANTARA

WASIS mengatakan...

bersikap adalah berpolitik juga....berpolitik praktis dengan rules yang ada sekarang sama dengan berkubang kebusukan dan rawan tercemar tanpa tau dan konsisten terhadap tujuan ideologi......saya sarankan sebagai ksatria berani keluar dari maeinstream sistem politik seperti yang di lakukan Ki ageng Pengging.......dan tak perlu di pisahkan antara islam dan kejawen.....pada masa setelah Mataram kodifikasi islam terhadap ajaran kejawen sudah pas...hanya sebagian aliran yang mebedakan sehingga terlihat berbeda.....siapa yang bisa menilai sech siti jenar sesat........tak ada yang berhak menilai saat ini dan pada zamannya kecuali kepentingan politik juga.....saya kira perlu pertimbangan dengan kearifan yang tinggi untuk tidak terjun ke politik praktis, kalau tak mau di bilang naif.........

WASIS mengatakan...

bersikap adalah berpolitik juga....berpolitik praktis dengan rules yang ada sekarang sama dengan berkubang kebusukan dan rawan tercemar tanpa tau dan konsisten terhadap tujuan ideologi......saya sarankan sebagai ksatria berani keluar dari maeinstream sistem politik seperti yang di lakukan Ki ageng Pengging.......dan tak perlu di pisahkan antara islam dan kejawen.....pada masa setelah Mataram kodifikasi islam terhadap ajaran kejawen sudah pas...hanya sebagian aliran yang mebedakan sehingga terlihat berbeda.....siapa yang bisa menilai sech siti jenar sesat........tak ada yang berhak menilai saat ini dan pada zamannya kecuali kepentingan politik juga.....saya kira perlu pertimbangan dengan kearifan yang tinggi untuk tidak terjun ke politik praktis, kalau tak mau di bilang naif.........

Anonim mengatakan...

Subhanallah..
Setiap manusia mempunyai nafsu..
setiap nafsu mempunyai pamrih..
setiap pamrih mempunyai tujuan
setiap tujuan mempunyai ahkir.
setiap ahkir mempunyai tanggung jawab
Setiap Tanggung jawab itu siapa sira..siapa ingsun.
Semoga perjalanaan meniti karier ke siapa ingsun tidak berbalik ke siapa sira...
Aamiin....salam rahayu..rahayu...rahayu