
Ini adalah serial tulisan yang merupakan kelanjutan dari Story of SHD 1-30. Tulisan perdana ini saya buat setelah hening cipta atau bermeditasi di Lauriston Castle Edinburgh Skotlandia.
Ada apa dengan Edinburgh? Mengapa saya ke kota ini pada situasi seperti saat ini? Begini, semua langkah dan tindakan saya didasarkan tuntunan dari Hingsun atau Diri Sejati. Saya ke sini bukan karena ingin, tapi semata-mata mengikuti panggilan semesta.
Sebenarnya memang tak mudah sampai Edinburgh. Di Indonesia sendiri berseliweran informasi yang jika saya tanggapi dengan pikiran, saya pasti tidak jadi berangkat.
Salah satu issue yang beredar adalah bandara di seluruh Indonesia tutup tepat pada jadwal keberangkatan saya. Beruntung saya tak percaya issue, hanya ikuti sabda kebenaran dari pusat hati.
Saya tetap dititah untuk berangkat, maka saya pun berangkat dengan segala resikonya. Beruntung saya juga punya keluarga yang sudah terbiasa dengan gerak dan langkah yang tak mengikuti nalar umum.
Kesulitan berikutnya adalah saat melewati petugas imigrasi di Bandara Edinburgh. Mereka sulit menerima ada orang Indonesia yang nekat datang ke Edinburgh dalam situasi seperti ini, apalagi saya bilang ke kota itu hanya untuk meditasi. Tampaknya mereka menyangka saya semacam mata2 atau justru bagian dari organisasi kriminal.
Maka tas saya dibongkar. Mereka melakukannya dengan sopan dan akhirnya menyimpulkan saya aman. Mereka juga memastikan saya punya sumber daya untuk tinggal di Edinburgh dalam waktu yang lebih panjang jika tiba-tiba ada kebijakan lockdown di Skotlandia. Sayapun bisa melewati kendala di imigrasi ini dan sampai ke hotel yang sudah saya pesan.
Sebenarnya, secara manusiawi tidak mudah bagi saya ada di Edinburgh sendiri, tanpa ada yang saya kenal, dalam situasi kota yang cukup sepi karena tempat keramaian publik ditutup akibat issue virus corona.
Tapi semua saya lampaui dengan kesadaran bahwa saya tengah menjalankan tugas semesta dengan segala resikonya. Saya sudah biasa hidup dengan kesadaran ini, kesetiaan atau loyalitas yang tidak pada Diri Sejati adalah hal nomor satu bagi saya.
Perjalanan ke Edinburgh adalah bagian dari upaya nyata merealisasikan visi persatuan dunia dimulai dari tataran energi. Di sini saya belajar tentang semangat dan kesadaran dari King Arthur dan Merlin, dua tokoh legendaris dari tanah Britania yang Agung Di sini pula saya dituntun untuk mengenal dan terhubung dengan para ancient avatar dari tanah Eropa. Di Edinburgh inilah saya dibimbing untuk menghayati semboyan "KITA ADALAH SATU".
Dari Edinburgh saya mulai merealisasikan missi global, lewat tindakan pada tataran energi. Agenda pertama saya adalah berkunjung dan bermeditasi di Lauriston Castle, salah satu jejak peninggalan dari King Arthur dan Merlin.
Dalam meditasi di tempat tersebut saya menjadi makin sadar, bahwa di alam cahaya, tidak ada keterpisahan. Para entitas cahaya atau keberadaan ilahi, bersatu padu membantu manusia untuk mengatasi problema-problema bersama manusia secara global.
Tetapi dibutuhkan keberadaan manusia yang berjiwa murni dan menjalankan peran sebagai Ksatria cahaya agar manusia terbantu oleh keberadaan para entitas cahaya atau keberadaan ilahi itu. Ini memang terkait dengan hukum non intervensi antar dimensi. Mereka yang ada di dimensi luhur hanya bisa berkiprah di dimensi 5 melalui keberadaan manusia yang masih punya tubuh fisik.
Saya mengajak Anda para pembaca untuk menjadi para Ksatria Cahaya. Murnikan jiwa raga Anda, lalu jadikan diri Anda sebagai wahana menyebar luasnya energi kasih yang paling murni.
Biarlah dalam setiap tarikan dan hembusan nafas terpancar selalu energi kesukacitaan dan kedamaian. Dunia yang sedang diterpa beragam tantangan ini hanya bisa diselamatkan oleh aksi nyata para Ksatria cahaya yang konsisten berada dalam keheningan dan terus berkarya sesuai tuntunan Diri Sejati.
Edinburgh 22/03/2020
Post a Comment