METODOLOGI MENYINGKAP MASA SILAM
Pendekatan akademik seperti dipergunakan oleh para arkeolog dan filolog, coba mengembangkan hipotesa berdasarkan artefak yang ditemukan : relief, prasasti, manuskrip kuna, dan semacamnya. Sekeras apapun usaha mereka, apa yang diungkapkan tetap adalah hipotesa tentang masa lalu. Maka sejarah menjadi sangat wajar, bisa berbeda-beda versinya. Jikapun para arkeolog dan filolog ini mengupayakan benar kejujuran ilmiah, tetap ada kendala2 teknis yang sulit dilampaui.
Sebagai contoh, jika bertemu dengan satu relief. Pertama harus dibaca dulu usia relief itu, cara yang paling dipercaya adalah dengan uji carbon. Baru coba diuraikan makna yang tertoreh di relief itu dikaitkan dengan konteks saat relief itu dibuat. Tentu, untuk memahami ini dibutuhkan sumber sumber informasi lain. Keberadaan prasasti dan manuskrip kuna dianggap sangat membantu.
Masalahnya adalah, seberapa akurat data hasil uji carbon? Seberapa jauh kita bisa memastikan data tidak meleset atau tidak disembunyikan? Sebagai contoh Candi Sukuh dan segenap reliefnya, dikatakan dibuat di era Majapahit. Itu jelas tak akurat. Karena di candi itu ada banyak layer, era Majapahit hanya masa yang paling muda. Usia batu-batuan dan reliefnya jelas beda-beda. Ini saya deteksi dengan pendekatan non akademik. Makanya saya tak asal percaya satu pernyataan sekalipun disebut itu dari seorang ahli.
Jika bicara manuskrip, lebih rumit lagi. Bisakah kita memastikan keotentikannya, terlebih jika bicara sejarah? Pada akhirnya semua filolog, apalagi penulis novel sejarah, pasti meraba-raba, bermain dengan hipotesa. Itu wajar, memang itu resiko dari menggunakan metoda akademik.
Saya tidak dianugerahi kemampuan sebagai filolog. Saya gak bisa membaca manuskrip kuna. Tadinya saya mau protes pada Tuhan. Sekarang saya berterima kasih, saya dijaga untuk punya pandangan yang murni tidak terdistorsi oleh manuskrip kuna yang ternyata banyak dimanipulasi. Banyak manuskrip kuna tentang spiritualitas misalnya, malah bikin bingung, gak membantu pada pencerahan.
Yang peka dalam merasakan vibrasi pasti bisa mengerti bagaimana vibrasi dari satu buku atau manuskrip. Banyak sekali manuskrip kuna tentang spiritualitas yang vibrasinya tidak jernih alias kalo diukur LoCnya pasti rendah. Apalagi itu diterjemahkan dan ditafsirkan oleh orang yang belum tercerahkan. Hasilnya nyasar kuadrat.
Lalu, bagaimana cara saya menyingkap masa silam. Saya pakai jalan non akademis. Saya pakai keheningan, mendayagunakan rasa sejati. Tentu saja ini jadi sangat subyektif. Tapi bagi saya ini lebih memuaskan karena saya tidak terjebak keraguan akibat banyaknya tabir tak tertembus dalam pendekatan akademik.
Akurasi dari pendekatan rasa sejati, sangat tergantung kejernihan yang melakukan. Ini juga yang berlaku dalam channeling. Jika metoda ini dilakukan oleh orang yang belum jernih emosi, karma, energi dan persepsinya ya pasti nyasar. Sekadar mengandalkan penglihatan dan dunia lain ya kemungkinan besar ya nyasar..
Misal, mengaku mendapatkan info dari leluhur tertentu. Bagaimana bisa memastikan itu leluhur beneran dan bukan siluman atau iblis yang nyamar. Lalu, saat melihat pemandangan tertentu, bagaimana bisa tahu itu benar penyingkapan masa silam, bukan hasil manipulasi pikiran oleh para dari forces.
Penjelajah waktu, penjelajah dimensi, dan para chaneller harus tercerahkan dulu baru akurat. Saya punya tim seperti ini sekitar 10 orang, di bagi ke beberapa clue agar bisa saling memvalidasi. 10 orang ini saya gembleng khusus, dan bibitnya memang bagus. Dalam hal ini, saya memang dianugerahi kemampuan menjadi ahli mendidik manusiq sesuai nama saya. Lalu, setiap temuan tidak langsung dibenarkan tapi diselami lagi. Kadang ada distorsi karena penangkap pesannya sedang tak jernih ada yang mendistorsi. Kalo terdistorsi ya harus dibuang, hening lagi sampai ketemu pesan yang jernih.
Maka semua berita langit di status FB saya adalah hasil kerja tim. Ini sudah divalidasi sehingga menjadi kebenaran kolektif. Soal Anda percaya tidak ya bebas. Tak ada paksaan. Tapi missi kami jelas, membangkitkan kesadaran agung dari bangsa ini.
Post a Comment