Minggu, 15 Februari 2009

SPIRITUALITAS YANG MENSEJAHTERAKAN

Seorang sahabat berkata, “Janganlah mengaku spiritual, jika untuk soal duitpun kita selalu kesusahan dan tergantung pada orang lain.” Lama saya pikirkan kata-katanya. Ingin saya benarkan itu sesegera mungkin, tapi saya tak mau melakukannya jika pengertian belum bulat. Bahkan, masih ada yang mengganjal dalam hati, sebuah pertanyaan, “Sudah tak bisa diterima lagikah ajaran para pertapa yang memuliakan kezuhudan bahkan kemiskinan?”
Setelah waktu berjalan lama, akhirnya pengertian yang bulat itu hadir. Saya sadari, bahwa kehadiran manusia di muka bumi ini adalah untuk menjadi pemakmurnya. Tugas manusia adalah hamemayu hayuning bawono, memakmurkan dan melestarikan alam. Itu dilakukan dalam rangka mencari hal yang paling dihasratkan hati manusia: kebahagiaan. Manusia hanya bisa bahagia, jika dia berhasil mewujudkan alam yang makmur dan lestari.
Spiritualitas, pada dasarnya adalah kesadaran manusia untuk menjaga agar hidupnya tetap selaras dengan missi utama yang diemban. Menjadi spiritual artinya selalu berusaha dekat dengan Tuhan, membuka diri pada bisikan-Nya, membuat diri menjadi peka dalam membaca tanda-tanda-Nya, dan mengikuti petunjuk-Nya, karena Ia tak pernah berhenti memberikan ilham dan inspirasi tentang bagaimana kita bisa menunaikan missi hidup kita. Ilham dan inspirasi itu, yang tak lain adalah suara hati, bisikan dari Yang Ilahi di dalam diri kita, membimbing kita untuk bisa memberikan yang terbaik kepada alam semesta dan mendapatkan manfaat terbesar darinya.
Mereka yang hidup berkekurangan, menghasratkan segunung emas tapi mendapatkan tak secuilpun, sebetulnya adalah sosok yang gagal hidup selaras dengan hukum-Nya yang maha adil: kita menuai apa yang kita tabur, kita mendapatkan apa yang kita kerjakan. Seseorang tak mendapatkan hal terbaik dari alam semesta ini, karena ia memang tak memberikan yang terbaik.
Mereka yang telah memberikan hal terbaik dalam kehidupan, pasti mendapatkan hal terbaik pula: kelimpahan, kecukupan, ketenangan, kebahagiaan.
Tapi jangan salah sangka, mereka yang bergelimang harta, belum tentu menunjukkan tingginya tingkat spiritualitas dan kedekatan dengan-Nya. Seseorang yang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan jalan yang merugikan sesama atau bahkan merampas hak pihak lain, bisa saja memiliki harta berlimpah, tapi ia tak pernah merasa cukup, jiwanya selalu dahaga, ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan tak hadir dalam hidupnya.
Yang harus kita lakukan adalah memastikan jalan hidup kita sesuai dengan prinsip kebenaran universal: berikan manfaat sebesar-besarnya sesama dan alam semesta, dan jangan pernah mengganggu dan merugikan sesama, apalagi merusak alam semesta dan membinasakan kehidupan di dalamnya. Sejauh jalan itu yang kita tempuh, kita telah menempuh jalan spiritual: dan salah satu tandanya, hidup kita berkecukupan (kita bisa memenuhi kebutuhan hidup kita – bukan memenuhi semua hasrat badani kita), penuh ketenangan, penuh kebahagiaan, dan wajah kita memancarkan cahaya kedamaian. [shd]

Tidak ada komentar: