Senin, 25 Mei 2009

PERJALANAN SEORANG MANUSIA (3)


Di Alam Kandungan

Sebelum terlahir ke muka bumi, sosok manusia mengalami proses penciptaan, proses pertumbuhkembangan, di dalam kandungan seorang perempuan, sang ibu, yang disebut juga alam rahim. Al Qur'an menjelaskannya dengan gamblang: " Kami menciptakanmu dari debu, kemudian dari setetes air mani, lalu dari segumpal darah, dan seterusnya dari sebongkah daging, ada yang genap bulannya, dan ada pula yang tidak. Selanjutnya Kami dudukkan janin-janin itu di dalam rahim menurut kehendak Kami selama umur kandungan, kemudian Kami keluarkan kamu dari rahim ibumu sebagai bayi." (QS Al Hajj, 22: 5)

Ditumbuhkembangkannya manusia yang pada awalnya adalah setitik debu dan setetes cairan hina, adalah wujud kasih sayang Allah. Untuk lebih meresapkan ke dalam jiwa kita betapa berharganya anugerah Ilahi bernama kehidupan, mari kita simak paparan Aziz Al Din Nasafi - seorang sufi yang wafat sekitar tahun 1295 M - tentang proses tumbuh kembang manusia di alam kandungan, di dalam rahim:
" Manusia adalah substansi tunggal, dan segala sesuatu yang lambat laun muncul di dalam diri manusia telah ada dalam substansi tunggal itu. Segala sesuatu menjadi terwujud pada masanya masing-masing. Substansi tunggal itu adalah tetes air mani. Dengan kata lain, semua bagian manusia, apakah substansi atau kejadian, terdapat dalam tetes air mani. Segala sesuatu yang berguna untuk mencapai kesempurnaan manusia telah ada di sana. Ini sama saja dengan mengatakan bahwa tetes air mani itu adalah penulis, pena, kertas, tinta, buku dan pembaca.

" Wahai darwis! Tetes air mani dari manusia adalah substansi pertama dari mikrokosmos (alam as-shagir), esensi dari mikrokosmos (alam as-shagir), benih dari mikrokosmos (alam as-shagir). Dunia cinta adalah mikrokosmos (alam as-shagir): Tetes air mani itu mencintai dirinya sendiri. Ia ingin melihat keindahannya sendiri dan menyaksikan sifat-sifag dan namanya sendiri. Ia akan mengungkapkan dirinya sendiri, menjadi terbungkus dalam sifat aktualitas, datang dari dunia tanpa perbedaan menuju dunia perbedaan, dan menjadi terwujud dalam banyak bentuk, kerangka, makna, dan cahaya. Dengan demikian keindahannya menda terwujud dan sifat-sifatnya, nama-namanya, dan tindakan-tindakannya akan muncul.

Ketika tetes air mani jatuh ke dalam rahim, selama beberapa waktu ia menjadi air mani, waktu selanjutnya menjadi segumpal darah, dan kemudian menjadi sebongkah daging. Di bongkah daging inilah muncul tulang, urat-urat dan saraf hingga tiga bulan berlalu. Lalu, pada awal bulan keempat, yaitu saat perputaran matahari, ia mulai hidup. Indra dan gerakan-gerakan yang dilakukan dengan sengaja secara lambat laun muncul di dalamnya, sampai bulan keempat berlalu.

Ketika bulan keempat berlalu, tubuh dan jiwa diaktualkan dan penciptaan bagian-bagian dan anggota-anggota badan selesai. Darah yang terkumpul di dalam rahim ibu menjadi makanan anak dan mencapainya melalui pusar. Tubuh, ruh, dan bagian-bagian dari anak itu secara lambat laun mencapai kesempurnaan, sampai bulan kedelapan lewat. Pada bulan kesembilan, ketika giliran Yupiter tiba, anak itu dilahirkan dari rahim ibunya ke dunia ini.."

Dalam konsep Jawa, di alam kandungan ini, kasih sayang Allah mewujud melalui penjagaan dan perlindungan dari Sedulur Papat: kakang kawah, adhi ari-ari, adhi getih, adhi puser. Sebuah bait tembang dari Sunan Kalijaga menyatakannya:

"Ana kidung akadang premati
among tuwuh ing kuwasanira
nganakaken saciptane
kakang kawah puniku
kang rumeksa ing anak mami
anekaken sedya
pan kuwasanipun
adhi ari-ari ika
kang mayungi ing laku kuwasaneki
anekaken pangarah

Ponang getih ing rahina wengi
angrowangi Allah kang kuwasa
andadekaken karsane
puser kuwasanipun
nguyu-uyu sembawa mami
nuruti ing panedha
kuwasanireku
jangkap kadang ingsut papat
kalimane pancer wus dadi sawiji
nunggal sawujudingwang"

Artinya:
" Ada sabda tentang saudara kita yang merawat kita dengan sungguh-sungguh. Yang memelihara berdasarkan kekuasaannya. Apa yang dicipta terwujud. Ketuban itu yang menjaga badanku. Yang menyampaikan kehendak, memperhatikan sungguh-sungguh diriku, memenuhi permintaanku. Kekuasaannya itu. Maka, lengkaplah empat saudaraku, kelimanya sebagai pusat. Sudah menjadi satu. Manunggal dengan wujudku."

Achmad Chojim memberikan penjelasan atas tembang Sunan Kalijaga di atas, "Sekarang, marilah kita cermati konsep 'saudara empat' yang dilestarikan dan diwariskan oleh Sunan Kalijaga. Ketika terjadi pembuahan dan menjadi embrio yang menempel di dinding rahim - pada lapisan endometrium, empat saudara di dalam rahim tumbuh lebih cepat. Kandungan berusia 14 minggu (3,5 bulan) sudah kelihatan besar. Meski jabang bayi di dalamnya baru berukuran 6 cm panjangnya. Apa artinya? Yang tampak membesar itu sebenarnya jaringan plasenta (adhi ari-ari). Keempat saudara secara bersama-sama mengalirkan energi ke dalam janin. Merekalah yang ngemong - mengasuh, diri kita ketika di dalam kandungan ibunda sehingga hanya dalam waku 2,5 bulan kemudian (janin berumur 6 bulan), jabang bayi itu telah tumbuh menjadi 30 cm panjangnya.

Prinsip utama empat saudara kita itu adalah memberi. Mereka memberikan jiwa dan raga mereka kepada kita. Raga mereka lungkrah, membusuk, demi bayi yang dilahirkan di dunia ini. Energi jasad mereka digunakan untuk membesarkan jabang bayi. Inilah kasih sejati! Memberi tanpa meminta imbalan."

2 komentar:

sabdalangitcorp mengatakan...

Mas Setyo yth
Perkenankan saya linkkan postingan saya yg ada kaitannya dengan tulisan panjenengan ini semoga bermanfaat.

http://sabdalangit.wordpress.com/pengalaman-gaib/rahasia-di-balik-40-har/

salam sih katresnan
sabda

handout mengatakan...

terimakasih sudah berbagi
semoga sukses selalu..
kunjungi saya di..
BLOG SAYA
lirik juga..
REPOSITORY