Senin, 04 Mei 2009

RENUNGAN TENTANG TUJUAN SHALAT


Shalat sering disebut sebagai tiangnya dien, merujuk pada hadits, "Asshalatu imaduddien". Tanpa penegakan shalat, runtuhlah dien seseorang. Namun, perlulah kita merenung lebih dalam, agar pemahaman kita atas soal ini tak keliru. Pada kenyataannya, banyak di antara kita yang berangkat dari hadits ini, justru lebih peduli untuk mendakwa orang lain ketimbang bermuhassabah tentang dirinya. Mereka menyombongkan diri sebagai orang yang telah shalat..dan menganggap yang tidak shalat seperti mereka sebagai ahli neraka.

Agar kita bisa memperoleh pemahaman yang benar tentang shalat...dan agar shalat yang kita lakukan benar-benar memberi manfaat kepada kita -yang paling penting adalah tersibaknya kebahagiaan - kita perlu berangkat dari beberapa pernyataan al Qur'an dan al hadits tentang shalat. Kemudian kita mengevaluasi pemahaman yang umum terjadi seputar shalat.

Di dalam Al Qur'an dinyatakan sebagai berikut:

" Fa 'aqimisshalata li dzikry"
"Inna shalata tanha aniel fakhsya'i wal munkar"

Dalam hadits dinyatakan juga bahwa:
"Asshalata mi'rajul mu'minin"

Sementara itu..dalam pandangan masyarakat kebanyakan, shalat seringkali dipahami sebagai kegiatan yang bertujuan untuk menyembahnya, atau untuk mendekati-Nya.

Sahabat, mari kita selami rahasia shalat dengan coba terlebih dahulu memahami hakikatnya sebagaimana dinyatakan dalam hadits:

"Asshalatu mi'rajul mu'minin"

Shalat itu adalah momen bagi setiap mu'min untuk bermi'raj, mengangkat dan menerbangkan jiwa kepada ketinggian: pada tempat di mana Cahaya Ilahi bisa kita dapatkan. Melalui shalat sang mu'min hening sejenak dari hiruk pikuk dunia, menyelami kedalaman jiwanya, mengenali bisikan hati nuraninya, berdialog dengan suara ruhani yang suci. Melalui keheningan, sang mu'min membuka diri untuk mendapatkan kemesraan dari Sang Maha Suci....Mengapa? Ada sebuah ujaran sufistik, "Tuhan adalah sahabat kesunyian" Memang, hanya dengan hening dari segala ilusi panca indera, Tuhan benar-benar bisa kita sadari kehadiran-Nya dan kita rasakan Kasih Sayangnya.

Sahabat...mungkin Anda pernah nonton film Matrix yang dibintangi Keanu Reeves? Film itu sangat baik..penuh filsafat yang luar biasa mencerahkan...

Pada bagian akhir film itu, sang tokoh utama, Neo, dengan ditemani mitra dan kekasihnya Trinity, memutuskan untuk masuk ke markas The Machine. Dalam perjalanan..mereka dihadang berjuta-juta pasukan the Machine. Ada yang mengesankan kakak..pada tahap pertama pertarungan Neo dengan pasukan The Machine..kita bisa lihat bahwa salah satu kunci kemenangannya adalah kemampuan Neo untuk melihat dengan mata hati..dia bisa menang justru ketika ia menjadi buta...ia beralih dari ilusi panca indera kepada cahaya yang muncul dari kedalaman jiwa dan menghancurkan musuhnya menggunakan kekuatan fikiran. Kemudian..ketika perjuangan makin berat karena lawan seperti tak ada habisnya..yang membuat Neo bisa menang adalah satu hal: "Dia menerbangkan pesawatnya ke langit penuh Cahaya..dengan cara itu dia bisa melampaui tantangan yang ada."

Sahabat.....shalat kita, sesungguhnya adalah momen bagi kita untuk meraih kekuatan dari Yang Maha Kuat, untuk menutupi segala kelemahan dan kehinaan kita.

Berikutnya, apakah makna "tegakkan shalat untuk mengingatku"? Pertama, kita harus paham dulu apa yang disebut mengingat-Nya. Apakah itu sama dengan ketika mengingat kembali sebuah barang yang kita lupakan? Yang dalam prosesnya kita melakukan obyektifikasi: memasukkan citra benda yang kita lupa dan mau ingat dalam pikiran kita?

Tentu bukan..mengingat Allah artinya adalah mengingat kembali apa hakikat kehidupan ini, dan apa hubungan kita dengan-Nya. Dalam khazanah ilmu jawa dikenal istilah, "sangkan paraning dumadi". Allah itu, sejatinya dalah "asal muasal dan tujuan kehidupan". Kita berasal dari-Nya, dan akan kembali kepada-Nya. Kondisi ideal seorang manusia adalah ketika selalu ingat, sadar, bahwa hidup dia semata-mata merupakan nikmat dan wujud Kasih Sayang-Nya, dan bahwa kita ini sedang dalam perjalanan kembali menuju rumah peristirahatan terakhir, tempat dari mana kita berasal. Lebih jauh, manusia yang terbaik adalah manusia yang hatinya telah sanggup mengenal Allah..di dalam hatinya Allah bersemayam....dan yang ada di dalam hasratnya adalah kerinduan untuk kembali kepada Dia Yang Maha Indah, Dia Yang Maha Agung.

Sahabat.....kondisi ideal ini hanya bisa dicapai kalau manusia telah menegakkan shalat...Apakah yang dsebut menegakkan shalat? Menegakkan shalat adalah menterjemahkann nilai-nilai Shalat dalam sajadah kehidupan yang membentang luas. Orang yang menegakkan shalat adalah orang yang senantiasa berpikir, berbicara, bertindak dan berkehendak benar, serta menjadi Cahaya Tuhan. Ibarat pohon, dia adalah pohon yang dahannya kokok, daunnya rimbun menjadi tempat banyak orang bernaung, bunganya indah memberi kebahagiaan pada yang melihat, dan buahnya manis membuat orang senang karena dapat manfaat.

Nah..pelatihan yang disediakan oleh Allah agar kita bisa mencapai itu semua, adalah shalat. Shalat kita lakukan agar kekejian dan kemungkaran di dalam diri kita sirna, tergantikan oleh Cahaya-Nya.

Maka, shalat yang sesungguhnya bukanlah ritual di atas sajadah..itu hanyalah pelatihan bagi kita, persiapan bagi kita, untuk melakukan shalat sebenarnya..jihad dalam kehidupan sehari-hari, sebuah jihad untuk menjadi saksi atas Kebenaran, Cinta dan Keagungan-Nya.

Semestinya kesadaran dan pemahaman seperti inilah yang ada dalam pikiran kita.

Sahabat.....dengan demikian, kita harus merenung lebih jauh..bagaimana caranya agar ritual shalat di atas sajadah memberi kita energi untuk bisa menegakkan shalat dalam kehidupan nyata.

1 komentar:

Lomba mengatakan...

Betul Ang, shalat yang kita jalankan adalah untuk mengingatkan "shalat-shalat" di tempat lainnya. Shalat lima waktu dan sunnah adalah arena latihan, atau yang lebih pas adalah bagaimana caranya agar shalat-shalat tadi bisa mengubah cara berkehidupan kita sehari-hari. Dan shalat itu sangat berjenjang dalam melaksanakannya, semakin dalam pemahamannya maka akan semakin dalam pula cara melaksanakannya, tidak hanya gerakan badan dan ucapan belaka, tapi semuanya mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita.