Selasa, 23 Maret 2010

SYARIAT VS HAKIKAT: MERENUNGKAN AJARAN SYEIKH SITI JENAR

Dalam sejarah, kita mengenal dua nama besar yang menjadi simbol pertarungan antara dua modus beragama: Syariat vs Hakikat, yaitu Mansur Al-Hallaj dan Syeikh Siti Jenar. Keduanya menempuh jalan kematian yang terbilang tragis dalam kacamata manusia pada umumnya, karena dieksekusi oleh mereka yang mengaku sebagai penguasa dan ulama pemilik kebenaran agama.

Kisah tersebut memang sudah lama berlalu. Kabut sejarahpun sebenarnya masih menyelimutinya; dalam pengertian, masih banyak rahasia kebenaran yang belum terungkap. Pada kasus Syeikh Siti Jenar misalnya, muncul pertanyaan, bagaimana mungkin para Waliyullah bisa menghakimi Waliyullah lainnya dengan cara yang kasar dan tidak manusiawi? Jika mereka berdalih Syeikh Siti Jenar patut dihukum karena keliru dalam cara menyampaikan ajaran – yaitu menyampaikan ajaran yang sebenarnya benar tapi disampaikan kepada khalayak yang kurang tepat – mengapa tidak diselesaikan secara baik-baik? Jika memang tidak ditemukan kesepakatan, bukankah bisa berpegang pada pendapat bahwa dua cara yang dipergunakan, yaitu cara Wali Sanga dan cara Syeikh Siti Jenar, sama-sama benar karena merupakan produk dari sesama Waliyullah? Jika ternyata yang sesungguhnya terjadi adalah bahwa eksekusi Syeikh Siti Jenar (sebagaimana eksekusi Manshur Al-Hallaj) adalah karena persoalan politik – yaitu demi melanggengkan kekuasaan dengan memanipulasi agama – bagaimana mungkin para Waliyullah bersepakat melakukan hal sekotor itu? Atau sebaliknya, bagaimana mungkin mereka yang melakukan kekejian dan tindakan sekotor itu disebut Waliyullah?

Saya tak akan mengajak sahabat sekalian berdebat tentang sejarah berkabut sebagaimana di atas. Yang menjadi perhatian utama saya, adalah bagaimana kita bisa menemukan inspirasi dan makna dari kisah sejarah itu. Pertama, setidaknya kita bisa bertanya, manakah modus beragama yang kita pilih: cara beragama Mansur Al-Hallaj dan Syeikh Siti Jenar yang beresiko mengantarkan kita pada “tragedi”, atau cara beragama kaum “penguasa dan ulama pembela syariah” yang dinilai lebih “aman”? Saya pribadi jelas memilih mengikuti suara hati apapun resikonya. Bagaimana dengan Anda? Anda yang berhak untuk memilih....

Kedua, kita bisa merenungkan pernyataan bahwa “kaum hakikat”, dalam tradisi Islam adalah para para sufi atau pemeluk Islam Jawa, adalah para “penentang Syariat” atau mereka “mengabaikan Syariat”. Saya punya beberapa hasil perenungan soal hal ini yang ingin saya bagi dengan para sahabat.

Sahabat yang saya kasihi...jika kita renungkan dengan jernih, sebetulnya tak mungkin kita sampai “tujuan” tanpa menempuh “jalan”. Jika hakikat adalah sebuah tujuan, maka tak mungkin ia bisa dicapai tanpa syariat, karena makna syariat adalah jalan. Sejauh saya pelajari, hakikat dalam pengertian Syeikh Siti Jenar, adalah hakikat kebenaran dalam beragama, yaitu bahwa Kebenaran Tertinggi adalah ketika kita bisa “Manunggal” dengan Kebenaran itu sendiri (Manunggaling Kawulo-Gusti). Jika diibaratkan sebuah titik persinggahan dalam pendakian sebuah gunung, itu adalah titik persinggahan tertinggi atau puncak gunung sendiri. Sebagaimana dalam mendaki gunung secara harfiah, tidak mungkin puncak gunung dicapai tanpa titik-titik persinggahan sebelumnya. Dan mendaki titik persinggahan demi titik persinggahan itu, adalah sebuah perjalanan, sebuah ikhtiar menapaki “syariat” (jalan menuju tujuan akhir).

Syeikh Siti Jenar bukanlah penempuh hakikat tanpa syariat! Syeikh Siti Jenar juga bukan penentang syariat! Karena sebagai sosok yang menyadari sepenuhnya makna hukum semesta dan kehidupan......ia tahu persis tidak mungkin mencapai hakikat tanpa syariat! Yang ia lawan adalah kecenderungan untuk memutlakkan sebuah jalan dengan menafikan jalan lainnya. Syeikh Siti Jenar, sejauh saya pelajari, memahami Islam sebagai ajaran universal...ia menangkap intisarinya..Dalam hal ini, Islam dipahami benar-benar sebuah “tadzkirah” (pengingat) akan hal-hal sudah diketahui benar (ma’ruf) oleh setiap kaum. Diyakini bahwa sebetulnya ada kebenaran universal yang sepanjang sejarah dan peradaban tak pernah berubah dan tak pernah orang berselisih tentangnya. Islam mengingatkan kembali manusia akan kebenaran universal dan abadi (shopia perennia) ini. Tapi menyangkut implementasi Islam dalam kehidupan sehari-hari, Syeikh Siti Jenar benar-benar mempertimbangkan kearifan lokal. Toh faktanya, ketika Islam hadir ke Indonesia atau Jawa, tanah ini bukan tempat tanpa peradaban, bahkan telah memiliki budaya luhur plus peradaban yang relatif maju untuk ukuran jamannya.

Yang dilakukan Syeikh Siti Jenar adalah berkreasi untuk menciptakan “syariat” versi Jawa: menyangkut cara menyembah Tuhan, cara mengembangkan potensi diri, cara menyikapi setiap momen kehidupan, dan seterusnya. Pada titik ini, apa yang diajarkan Syeikh Siti Jenar tampak berbeda dengan “syariat” sebagaimana yang dipraktekkan Nabi Muhammad di Jazirah Arab. Tapi berbeda, bukan berarti bertentangan. Karena apa yang diajarkan Nabi Muhammad dan Syeikh Siti Jenar bersumber pada hakikat kebenaran yang sama. Bahkan dari sudut pandang mistis, ia sama-sama bersumber pada Ruhul Qudus yang bersemayam di kedalaman jiwa setiap manusia. Mengapa pendekatan men-Jawa-kan Islam atau mengembangkan “syariat versi Jawa” ini dilakukan? Karena itu merupakan implementasi sifat fathonah yang merupakan sifat kenabian: salah satunya tercermin dalam keberanian mengembangkan budaya sesuai tantangan dan karakteristik alam di mana dia hidup.

Pada level esensi, apa yang diajarkan Syeikh Siti Jenar, sebetulnya selaras atau bahkan sama dengan apa yang diajarkan para mistikus besar di seluruh peradaban: Nabi Muhammad itu sendiri, para waliyullah penerusnya seperti Imam Ali, Ibnu Arabi, Manshur al-Hallaj, Jalaluddin Rummi, termasuk “orang suci” dari tradisi lain: Budha Gautama, Lao Tzu, Plato, dan lainnya.

Sungguh sayang, jika kebijaksanaan agung ala Syeikh Siti Jenar dibumihanguskan baik karena alasan kebodohan maupun karena alasan melanggengkan kekuasaan duniawi.
Bagaimana menurut Anda?

31 komentar:

sumeleh mengatakan...

saya tertarik dengan ajaran syeikh siti jenar, setelah ternyata cara berislam mayoritas masyarakat indonesia ataupun dunia saat ini masih mengedepankan kepentingan dan mengabaikan substansi dari tujuan beragama itu sendiri.

Orang Hilang mengatakan...

aslamualikum...

sebelumnya saya ingin memberitahukan bahwa saya adalah salah satu orang yg mendalami ilmu ketuhanan(tasawuf)...

kalau pemahaman anda sudah cukup tinggi coba jawab teka teki dari saya ini:

- Tidak ada nafas di antara nafas..
- Tuhan Berada Di Dalam Rahasia Manusia dan Manusia Berada Di Dalam Tuhan
- Tuhan bukan Diluar Dan Tuhan Bukan Didalam. Jadi Dimanakah Tuahan ?
- Dia Bersembunyi Ditempat Yang Paling Tersembunyi. Dimanakah Dia ?

Orang Hilang mengatakan...

aslamualikum...

sebelumnya saya ingin memberitahukan bahwa saya adalah salah satu orang yg mendalami ilmu ketuhanan(tasawuf)...

kalau pemahaman anda sudah cukup tinggi coba jawab teka teki dari saya ini:

- Tidak ada nafas di antara nafas..
- Tuhan Berada Di Dalam Rahasia Manusia dan Manusia Berada Di Dalam Tuhan
- Tuhan bukan Diluar Dan Tuhan Bukan Didalam. Jadi Dimanakah Tuahan ?
- Dia Bersembunyi Ditempat Yang Paling Tersembunyi. Dimanakah Dia ?

Setyo Hajar Dewantoro mengatakan...

Saya tidak tahu mas...saya tidak pernah bertemu Tuhan di satu tempat, jadi tidak bisa menunjukkan Dia ada di mana.....

Anonim mengatakan...

rahayu..,, mas setyo@ raden pengging sastrodiningrat/kebo kenongo(pengging sepuh) itu buyut/canggah sepuh saya,makamnya ada dimana2 tp beliau msh hidup dan msh sering ketemu dan bepergian ama saya.beiau mempunyai anak yg keluar dari tubuh beliau dan siti jenar yg bernama mas karebet/joko tingkir.
orang hilang@ tasawuf dalah filsafat(manhaj/pemahaman) yg gak akan ketemu oleh jawaban pengerten/kesejaten.1)tdk ada nafas diantara nafas adalah hening(ning). 2)itu jawabannya tuhan maha tahu semua rahasia manusia krn tuhan maha besar sehingga,janganka manusia, semesta pun itu berada di dalam diri tuhan.
3)karena bagi tuhan,dalam dan luar sama saja tdk ada bedanya.dan luar dan dalam adalah dlm kesadaran tuhan. 4)tuhan tdk bersembunyi krn punya arsy,klo sampean iya memang bersembunyi.klo pun tuhan dikatakan ada dlm diri manusia maka tuhan bersemayam di nurrullah/tsir suci/tirta nirmala/.dan itu semua lebih dekat dari urat leher kita. ya jelas aja lebih dekat krn itu melebur/nyawiji /manunggal ing rogo lan nyowo/ruh tunggal.

X-Beat mengatakan...

tuhan itu tidak bisa di katakan dengan kata " dimana? " atau " dimanakah?"

...

Bayu Widyantoro mengatakan...

Aku ra dong...

BUDI SULISTYO mengatakan...

Yang tahu tidak bisa mengungkapkan
Yang bisa mengungkapkan tidak tahu
Karena Allah itu tidak terbatas jadi tidak bisa dibatasi

Anonim mengatakan...

Sebelum cari Tuhan, carilah dirimu sendiri duluan: Dimanakah Jatidirine?
Mosok terobsesi cari Tuhan dulu? Anak SD emang melompat ke S3 begitu aja?
Yg namanya sesat mungkin itulah, manusia cari Tuhan belum mengerti Siapakah Dirinya...

Anonim mengatakan...

kenalilah dirimu (jati dirimu) , sebelum mengenal agamamu , kenalilah agamamu sebelum mengenal allahmu ...

bejo jovi mengatakan...

kembali ke akar spiritual ajaran luhur sebelum dan terlepas dari bangsa arab yaitu yang tidak menyembah dan menuhankan apapun mengenal diri dan berbuat kebajikan menahan diri dari kemelekatan duniawi....

Anonim mengatakan...

sebagai orang yg berfikir wajar kiranya kita mencari siapa yg menciptakan kita pasti jawabanya Tuhan,kenapa kita d ciptakan pasti Tuhan sudah memikirkan itu.yakinlah tuhan didekat kita selama kita tetap berjalan di jalan NYA ....

aliyunusmaju.blogspot.com mengatakan...

wallahu a'lam, yg tau tenteng sejarah masa lalu hanyalah para auliya-illah, tapi selagi tuk endekatkan diri kpd Allah itu patut tuk ditiru, hanyalah perbedaan pendapatlah yg membedakan, tujuannya tetap sama yaitu endekatkan diri kpd Allah SWT, ambillah persamaannya jg perbedaannya, krn perbedaan pendapat adalah rohmat bagi umat nabi Muhammad SAW, salam.

Anonim mengatakan...

Segala puji bagi Allah yang nilai-Nya tak dapat diuraikan oleh para pembicara, yang nikmat-nikmat-Nya tak terhitung oleh para penghitung, yang hak-hak-Nya (atas ketaatan) tak dapat dipenuhi oleh orang-orang yang berusaha menaati-Nya; orang yang tinggi kemampuan akalnya tak dapat menilai, dan penyelam pengertian tak dapat mencapai-Nya; la yang untuk menggambarkan-Nya tak ada batas telah diletakkan, tak ada pujian yang maujud, tak ada waktu ditetapkan, dan tak ada jangka waktu ditentukan. la mengadakan ciptaan dengan kodrat-Nya, menebarkan angin dengan rahmat-Nya, dan mengukuhkan bumi yang goyah dengan batu.

Pangkal agama ialah makrifat tentang Dia, kesempurnaan makrifat (pengetahuan) tentang Dia ialah membenarkan-Nya, kesempurnaan pembenaran-Nya ialah mempercayai Keesaan-Nya, kesempurnaan iman akan Keesaan-Nya ialah memandang Dia Suci, dan kesempurnaan Kesucian-Nya ialah menolak sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat merupakan bukti bahwa (sifat) itu berbeda dengan apa yang kepadanya hal itu disifatkan, dan setiap sesuatu yang kepadanya sesuatu disifatkan berbeda dengan sifat itu. Maka barangsiapa melekatkan suatu sifat kepada Allah (berarti) ia mengakui keserupaan-Nya, dan barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia memandang-Nya dua, dan barangsiapa memandang-Nya dua, mengakui bagian-bagian bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui bagian-bagian bagi-Nya (berarti) tidak mengenal-Nya, dan barangsiapa tidak mengenal-Nya maka ia menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya (berarti) ia mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya (berarti) ia mengatakan jumlah-Nya.

Barangsiapa mengatakan “dalam apa la berada”, (berarti) ia berpendapat bahwa la bertempat, dan barangsiapa mengatakan “di atas apa la berada” maka ia beranggapan bahwa la tidak berada di atas sesuatu lainnya.

la Maujud tetapi tidak melalui fenomena muncul menjadi ada. la ada tetapi bukan dari sesuatu yang tak ada. la bersama segala sesuatu tetapi tidak dalam kedekatan fisik. la berbeda dari segala sesuatu tetapi bukan dalam keterpisahan fisik. la berbuat tetapi tanpa konotasi gerakan dan alat. la melihat sekalipun tak ada dari ciptaan-Nya yang dilihat. la hanya Satu, sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu yang dengannya la mungkin bersekutu atau yang mungkin la akan kehilangan karena ketiadaannya.

Anonim mengatakan...

Wes kono ngger, cah pinter.. do udrek-udrekan ngantek sirahmu mletek. Aku mung nitip unen-unen pinentang cengkir; "Pujilah Allahmu maka Kau akan terpuji. Hinalah Allahmu maka kau akan terhina."

Wes ngono ndisik yo ngger, cah pinter.. mugo bisao nemokno sejatine sopo siro sopo ingsun.

SD SLb

Anonim mengatakan...

Pesan saya kepada PEMBACA blog:
Ajaran ini adalah ajaran yang sesat. Dilarang tuk mempelajari ajaran ini karena mutlak akan membawa anda kearah kesesatan.
Ajaran ini bukan bacaan teori untuk para cendikiawan dan orang awam atau orang baru melek. Hati2x bisa menyebabkan anda terbawa sesat.
Klo pun niat baca hanya tuk sekedar tau saja boleh2 saja.

Pesan saya kepada PENULIS BLOG dan TEMAN2 se-ilmu.
Terimakasih sudah menuliskan ajaran sheik siti jenar. Inti dari ajarannya adalah tuk mencintai tuhan dengan makna seluas2nya.
Untuk yang bisa menelaah ilmu ini saya mo share dikit,
Saya kaget saat saya telaah salah satu dari 140 ajarannya saya mendapatkan efek luar biasa. Saya baru tau cara memindahkan hujan itu gmana..ternyata ditembak pake angin toh, trus saya dalami lagi (masih di ayat yang sama) wow
.ngk sengaja ngebuka pintu ke dimensi lain pertama hijau bulat..terus mulai pinggirannya dilapisi warna biru..tiba2 tuh cahaya langsung menaungi seluruh ruangan...stooopppp..saya belum kuat. Gilee beneerr nih ajaran..saktiiii mandra guna. Oh ya saya tekankan lagi itu hanya efeknya saja. Efek yang didapatkan saat memulai manunggaling kawula gusti.
Kepada teman2 yang sudah melihat kesaktiannya cukuplah itu kesaktian untuk kamu saja. Tidak perlu memaksakan tuk mengajarkan kepada orang lain. Karena tuhanlah yang mengajarkan orang2x itu termasuk kita dengan cara yg berbeda2. Klo pun ada yang mau belajar pasti akan mendatangi kita. Sekali lagi jangan membuat aliran baru. Apakah kalian masih belum puas juga..asikkan jadi orang sakti bisa pecah badan (membagi2 roh)..tembak jin..ngejailin jin..nyembuhin orang...dan banyak lagi.ngapain ngajarin orang2x yang malahan membuat anda menjadi laknat didepan mereka. Sudahlah ilmu ini untuk anda sendiri. Seperti saya ini. Cukuplah kita sembunyikan keberadaan kita. Mari kita jungjung quran dan hadist dan bersyalawat (memberi salut) kpd nabi muhammad. Nabi muhammad bisa memisahkan hak dan bathil juga menyambungkan antara hablumminallah dan hablumminannas (klo kamu sadar..siti jennar terbunuh karena susah menjabarkan hal ini, makanya salutlah kepada muhammad. Dan ajaran siti jennar hanya ketuhanan mutlak tapi kalo quran..wooooooww kereeeeeeeeen lengkap, klo kamu udah bisa ilmu siti jenar tela'ah tuh quran, kejengkang sampe kepental2x paling sakti paling komplit dan yang paling paling paling luaaaarrr biaaasaaa saktinya...pantas lah quran ini disebut mukjizat terbesar dan yang terakhir).

Terimakasih, jadi untuk semuanya.. dilarang tuk mempelajari ajaran ini. Karena bahaya dan akan membawa kesesatan.

Anonim mengatakan...

Subhanallah...
Biarkan angin membawa pribadi dengan kesejukanya. Biarkan tanah menopang pribadi dengan kekukuhanya. Biarkan air membawa pribadi dengan kerendahanya. Biarkan api membakar semangat pribadi dalam pencarianya.
Habluminallah itu manungaling sira ...ingsun lewat syariat. Habluminnanas..itu Masya Allah... banyak org , kyai , pendeta , dll yang bangkrut habluminallahnya di ahkirat karena hablumninnanas.
Semoga menjadi renungan kita semua dalam perjalanan mencari jati diri. Aamiin..Rahayu..Rahayu..Rahayu.

Anonim mengatakan...

Tuhan itu mangsudnya apa ya?

Anonim mengatakan...

Walah mindah ujan make ditembak2 segala. Ga usah dipindah malah asik.hahahaha

Anonim mengatakan...

NGAWITI INGSUN NGLARAS SYI’IRAN
KELAWAN MUJI MARING PENGIRAN
KANG PARING ROHMAT LAN KENIKMATAN
RINO WENGINE TANPO PRITUNGAN (2X)

DUH BOLO KONCO PRIO WANITO
OJO MUNG NGAJI SYAREAT BLOKO
GUR PINTER DONGENG NULIS LAN MOCO
TEMBEH MBURINE BAKAL SANGSORO (2X)

AKEH KANG APAL QUR’AN HADIS-E
SENENG NGAFIRKE MARANG LIYANE
KAFIRE DEWE GAK DIGATEKKE
YEN ISIH KOTOR ATI AKALE (2X)

GAMPANG KABUJUK NAFSU ANGKORO
ING PEPAESE GEBYARE NDUNYO
IRI LAN MERI SUGIHE TONGGO
MULO ATINE PETENG LAN NISTO (2X)

AYO SEDULUR JOH NGLALEKAKE
WAJIBE NGAJI SAK PRANATANE
NGGO NGANDELAKE IMAN TAUHID-E
BAGUSE SANGU MULYO MATINE (2X)

KANG ARAN SHOLEH BAGUS ATINE
KERONO MAPAN SARI NGILMUNE
LAKU TOREQOT LAN MA’RIFATE
UGO HAKEKAT MANJING RASANE (2X)

AL-QUR’AN QODIM WAHYU MINULYO
TANPO TINULIS ISO DIWOCO
IKU WEJANGAN GURU WASKITO
DEN TANCEPAKE ING NJERO DODO (2X)

KUMANTIL ATI LAN PIKIRAN
MRASUK ING BADAN KABEH JEROHAN
MUKJIZAT ROSUL DADI PEDOMAN
MINONGKO DALAN MANJINGE IMAN (2X)

KELAWAN ALLOH KANG MOHO SUCI
KUDU RANGKULAN RINO LAN WENGI
DITIRAKATI DIRIYADHO-I
DZIKIR LAN SULUK ‘JO NGANTI LALI (2X)

URIPE AYEM RUMONGSO AMAN
DUNUNGE ROSO TONDO YEN IMAN
SABAR NARIMO NAJAN PAS-PASAN
KABEH TINAKDIR SAKING PENGERAN (2X)

KELAWAN KONCO DULUR LAN TONGGO
KANG PODO RUKUN OJO GOK SIO
IKU SUNAHE ROSUL KANG MULYO
NABI MUHAMMAD PANUTAN KITO (2X)

AYO NGLAKONI SAKABEHANE
ALLOH KANG BAKAL NGANGKAT DRAJATE
SENAJAN ASOR TOTO DHOHIRE
ANANGING MULYO MAQOM DRAJATE (2X)

LAMUN PALASTRO ING PUNGKASANE
ORA KESASAR ROH LAN SUKMANE
DEN GADANG ALLAH SUARGO MANGGANE
UTUH MAYITE UGO ULESE (2X)

Riki yandi mengatakan...

Anonim@
Asaalamualaikum wr wb
Berikan alamat anda
Saya hnya mencari tuhan dg cara suluk saja dg cara memujanya saja
Saya ingin seprti anonim yg luarbiasa pemahaman akan agama dan allah

Riki yandi mengatakan...

Anonim@
Asaalamualaikum wr wb
Berikan alamat anda
Saya hnya mencari tuhan dg cara suluk saja dg cara memujanya saja
Saya ingin seprti anonim yg luarbiasa pemahaman akan agama dan allah

firzha hafidz mengatakan...

Saya tertarik dngan ajaran syeh s j

cokro mengatakan...

Saya tertarik dngan ajaran syeh s j

Anonim mengatakan...

agama arab radikal merusak dimana-mana

bahasa langit mengatakan...

memahami ajaran memang tdk sama dg memahami pelajaran....
bagi yg sdh paham,mudah2an pemahamannya benar....walaupun mungkin blm mencapai kebenaran....
bagi yg belum paham,sebaiknya belajar lg,agar mengenal yg benar,...
Benar bagi anda, belum tentu benar bagi saya atau lainnya, dan sebaliknya.....
...rahayu....

Anonim mengatakan...

substansinya hakekat...hakekat memaknai arti "Allah" seluas-luasnya.Syekh Siti Jenar wali yg tidak ingin disebut wali, mengajarkan tentang jalan menuju keTuhanan dengan cara yg universal salah satunya "Pancasila" mungkin dapat dikatakan "implementasi" dari ajaran syekh siti jenar.

wahyu aji mengatakan...

saya orang jawa asli,. ayah dr Solo, ibu dr keturunan kerajaan Jepara yg tdk lain adlh pecahan kerajaan demak baru serta raja jepara yg dibunuh oleh satrio jawa lainnya dan skg satrio itu dipuja2 bak pahlawan dlm ajaran kejawen.

saya tdk stuju dgn post diatas. sebab :

Wali Allah tdk membuat produk agama tetapi mengajarkan agama, dgn landasan Hadist dan kitab Quran.

kalau Islam kejawen tdk berpegangan pd Hadist dan Quran, masihkah dapat disebut islam.?

Anonim mengatakan...

Untuk wahyu aji, bacalah surat Ibrahim kalau tidak salah ayat 4. Renungkan dan pahami maknanya, sampeyan akan tahu arti agama dan dapat membedakannya dengan budaya setempat. Salam Arema

Nix Nox mengatakan...

Assalamualaikum Wr. Wb para hamba-Nya yg slalu dirahmati dengan ilmu dan kesehatan...

maaf, saya cuma curhat saja,
saya dari kecil udah ikut pesantren dan tmpat ngaji yg ustadz/ah yg dari ajaran NU ato Muhammadiyah, tapi setelah saya lulus dan khatam (SMP), saya masih bingung tentang ketuhanan dan makna kehidupan, kemudian saya mencari sendiri tentang pengetahuan itu... hingga ketemu buku tentang sejarah Syekh Lemah Abang/ Syech Siti Jenar, ternyata ajaran (hakekat) itu yg saya lakukan hingga sekarang (hasil dari pemahaman sendiri dari pesantren)
Saya juga ingin memperdalam jika para sesepuh disini ada yg mau mengajari saya?,
kelebihan itu (kerennya adlh "sakti") mungkin cuma buah dari ilmu dan syariat itu sendiri... Terima kasih.
Wassalam..

Anonim mengatakan...

hehe... sebuah kisah perebutan pmahaman 212 dgn penyusupan simbol dimana mana sehinga menimbulkan banyak cerita lagi,,salutlah buat leluhur atas simbol dlm penyampaian teguran,nasehat dan sindiran buat generasi selanjutnya..