Rabu, 09 Juni 2010

BERAGAMA YANG BENAR, SEPERTI APA?

Tulisan ini saya buat sebagai tanggapan untuk sahabat saya, Yuga Nugraha. Semoga ia juga memberi manfaat buat teman2 lain.

Saya diingatkan oleh sahabat saya itu untuk berhati-hati. Mungkin Kang Yuga takut saya terjerembab dalam kesesatan. Saya bahkan diingatkan bahwa beragama itu mesti arogan..karena ada ayat inna diena indallahil islam. Kemudian, disajikan juga dalil ruhama'u bainahum ..asyidda'u alal kuffar..termasuk udkhulu fissilmi kaffah. Saya haturkan terima kasih atas perhatian Kang Yuga.

Apa yang disampaikan Kang Yuga sudah biasa saya temukan, baik di kalangan teman2, tetangga, termasuk mereka yang rela jadi murid saya. Dan sebetulnya, itu pula yang ditanamkan kepada saya sejak kecil...bahkan, doktrin semacam demikian, sangat kuat ditanamkan ketika saya SMA dan awal-awal kuliah.

Namun..bagi saya sendiri...masa-masa itu adalah masa jahiliyah...masa ketika kesadaran saya tertutup, dan nalar ini terkungkung oleh doktrin yang saya terima bulat-bulat tanpa pernah saya pertanyakan kebenarannya. Seiring dengan perjalanan waktu, sebagai buah jatuh bangun perjalanan spiritual, dan sebagai dampak dari perkembangan jiwa, maka saya punya kesadaran baru: kesadaran yang bersumber dari cahaya hati....

Kang Yuga mengatakan, yang penting itu iman dan takwa, bukan kebeningan jiwa. Saya bertanya, lalu, apa yang dimaksud dengan iman? Apa yang dimaksud dengan taqwa? Dan apa pula tujuan iman dan taqwa? Mengapa pula beriman? Dan apa dampak iman terhadap taqwa?

Ya, sejauh ini kita memang diajari untuk beriman secara membuta, lalu bertaqwa secara keliru. Iman itu adalah keyakinan. Apa yang kita yakini? Kita biasa diajari untuk meyakini kata-kata yang kita kadang tak pahami makna dan hakikatnya. Beriman kepada Allah..apa makna Allah? Beriman kepada akhirat..apa makna akhirat...Maka, pada akhirnya, kita beriman pada kata-kata itu, pada persepsi kita tentang kata-kata itu, tanpa kita pahami apa maknanya...

Bagaimana mungkin kita bisa beriman kepada sesuatu yang kita tak pahami maknanya? Secara sederhana, orang mungkin mengatakan bahwa Allah itu Tuhan yang Haq...satu-satunya Tuhan...Apa maksudnya? Samakah Sang Hyang Widhi, God dengan Allah? Apakah Allah yang Anda imani itu identik dengan Tuhan yang sesungguhnya?

Saya percaya, Kang Yuga belum pernah bertanya dan mencoba mencari jawabannya secara serius. Saya maklum..karena yang Anda ungkapkan sebagai keimanan itu hanya kata-kata yang dimasukkan kepada benak Anda tanpa boleh dipertanyakan..lalu keluar lagi melalui lisan..tanpa kurang tanpa tambah....Saya menyaksikan, bahwa selama ini bagi kebanyakan kaum Muslimin, keimanan dikukuhkan tanpa proses penalaran, apalagi proses penyinaran dari hati nurani..Ya..keimanan demikian, hanya mengandalkan proses transfer informasi dari generasi ke generasi semata-mata berbekal keyakinan bahwa informasi itu pasti benar tanpa ada upaya memverifikasinya....Dalam hal ini, manusia seolah-olah turun tingkatan menjadi sekadar kaset rekaman..bisanya sekadar mengulang2 apa yang pernah dimasukkan ke dalam memori ...

Lalu, apa gunanya ayat-ayat Allah yang mengajak Anda untuk merenung dan berpikir; afalaa ya'qiluun...afalaa yatafakkarun...afalaa yatadabbaruun..?

Jika Anda mempergunakan pikiran Anda, nalar Anda, lalu dibarengi dengan membiarkan hati nurani untuk bicara, dan itu hanya bisa dilakukan jika jiwa kita bening...Anda akan menemukan bahwa keimanan yang sesungguhnya, haruslah merupakan hasil sebuah penyaksian (syahadat). Menyatakan bahwa Allah itu Tuhan kita..haruslah dilandasasi penyaksian secara rasional sekaligus intuitif tentang keberadaan Allah itu sendiri...termasuk kesadaran akan makna Allah itu sendiri (Coba tanya sam ahli bahasa Arab: Allah itu apa..itu adalah kependekan dari Al-Ilah..Ilah (tuhan, sesembahan) yang didefinitifkan melalui isim ma'rifah..sehingga artinya adalah "Dzat yang selama ini biasa dipertuhankan, disembah...dalam hal ini adalah oleh orang Arab". Apakah kata ini sudah mewakili hakikat Tuhan yang sesungguhnya? Tentu saja tidak mungkin...karena tiada satu katapun yang bisa merepresentasikan hakikat dan keberadaan Tuhan. Bacalah dalam Nahjul Balaghah, betapa Imam Ali menjelaskan bahwa Tuhan itu adalah dzat yang tak bisa dibicarakan dan didefinisikan, bahkan disifati..setiap kita membicarakan, mendefinisikan, atau menyifati..hasilnya bukanlah Tuhan itu sendiri. Kata-kata tentang Tuhan, yang kemudian kita sebut sebagai makna Tuhan..pada dasarnya adalah ekspresi manusiawi kita berkenaan dengan sesuatu yang dalam Al Qur'an disebutkan laisa kamitslihi syaiun, atau dalam bahasa Jawa, disebut 'tan kena kinira, tan kena kinaya ngapa".

Sudahkah Anda menyadari hal tersebut? Atau Anda masih menyembah dan memberhalakan sebuah kata? Lebih jauh..siapa yang sebetulnya Anda imani? Saya khawatir, sebetulnya Anda itu mengimani Tuhan yang dikonstruksi oleh pikiran Anda sendiri..jadi yang menciptakan Tuhan yang Anda sembah itu adalah Anda sendiri....

Lalu, apa pula yang disebut dengan takwa? Jangan sebutkan definisi yang sudah biasa kita dengar semenjak kita sekolah dasar....Mari kita masuk ke dalam hakikatnya....Imam Khomeini menyebutkan bahwa taqwa itu asal katanya adalah wiqoyah, yang artinya perisai. Orang yang taqwa, itu punya perisai, yang membuat dirinya terbebas dari belengu, jebakan, dan hasutan hawa nafsu. Pertanda orang taqwa itu adalah perilaku yang serba baik, pikiran yang serba baik, dan ucapan yang serba baik, kepada siapapun. Dan apa landasannya? Landasannya adalah keberadaan jiwa yang telah bersih atau hati yang telah bening. Ya, karena hanya orang yang demikianlah yang bisa secara otomatis, tanpa rekayasa, untuk senantiasa berbuat, berpikir, dan berucap benar selaras dengan Al Haq. Ya, orang yang demikian itu adalah orang yang jiwanya, keakuannya, telah tunduk, sirna, dihadapan cahaya nurani. Dan sekali lagi, cahaya nurani ini hanya efektif berlaku bagi mereka yang telah bening hatinya.

Jika kurang sreg dengan pandangan Imam Khomeini, tengoklah ajaran Imam Ghozali..bahwa taqwa itu sebetulnya hanya sebuah stasiun, maqom, dalam perjalanan ruhani seseorang. Pada tingkat tertinggi, seseorang itu akan fana dan baqa fillah...keakuannya sirna..seseorang itu sepenuhnya tunduk patuh kepada Dzat Yang Maha Suci. Bagaimana wujudnya? Ia mengedepankan kebenarann yang disuarakan oleh dzauknya, basyirahnya, mata hatinya....doktrin dan dogma telah disingkirkan, nalarpun telah diistirahatkan, yang bersinar adalah dzauq atau basyirah.....!

Nah, pada kenyataannya, suara hati atau apa yang disuarakan oleh nurani kita, sering bertentangan dengan doktrin resmi agama? Mengapa? Karena doktrin resmi itu adalah hasil 'perselingkuhan" agama dengan kepentingan politik dan ekonomi. Bagi penguasa..lebih mudah mengatur mereka yang nalarnya beku dan basyirahnya gelap...cukup dikendalikan dengan pendekatan stick and carrot, selesai...! Atau cukup diberi iming-iming surga dan ancaman neraka, selesai juga!

Selanjutnya...saya punya kesadaran baru akan makna-makna ayat-ayat yang dulu sering saya jadikan landasan untuk bersikap arogan dalam beragama.

Inna diena indalahil Islam...artinya adalah agama yang benar itu, yang diridhai Allah itu, adalah agama yang membawa keselamatan, kedamaian....apapun mereknya! Setiap agama yang membuat pengikutnya bisa menjadi penebar keselamatan dan kedamaian, itu adalah agama yang benar! Sebaliknya, walau diberi merek Islam, tapi ia tidak membuat pengikutnya sebagai penebar keselamatan dan kedamaian, sesungguhnya ia tidak diridhai Allah. Apakah ini kesadaran saya sendiri? Tidak, ternyata, mursyid saya yang secara genetis masih punya hubungan dengan Rasulullahpun ternyata punya kesadaran demikian...

Sekarang, tengoklah kepada Anda pribadi..sudahkah perilaku, sikap, pikiran, dan ucapan Anda membawa kedamaian dan keselamatan kepada seluruh makhluk? Kepada sesama manusia dari ras apapun dan agama apapun, kepada bebungaan, kepada gunung, laut, hutan, semut dan semuanya, termasuk bangsa jin....? Jika ia, anda adalah Islam...jika tidak, Anda telah berdusta mengaku sebagai Muslim....

Lalu siapakah kafir itu? Kafir itu adalah orang yang mengingkari kebenaran. Orang yang hati nuraninya berkata A, tapi dia memilih B karena mengikuti hawa nafsunya. Kekafiran ini tak terkait dengan pilihan agama, tapi terkait dengan sikap dan perilaku...Jadi, di antara Muslim itu ada yang kafir ada yang mu'min..demikian juga di kalangan Hindu, Kristen, Budha..dan seterusnya...Bahkan tak sedikit yang tak punya agama resmi, pada hakikatnya dia adalah orang yang berserah diri pada Kebenaran (Muslim).

Udkhulu fi silmi kaaffah? Artinya adalah masuklah ke dalam kedamaian yang total..jangan ada rasa gelisah, khawatir..takut...dan itu hanya bisa dicapai oleh mereka yang sudah Manunggal kalawan Gusti! Hanya orang-orang yang punya ambisi politiklah yang memaknai ayat itu sebagai keharusan untuk mendirikan negar Islam (yang pada faktanya adalah negara berdasar hawa nafsu, prasangka, dan kebodohan, yang ditopengi dan dilabeli Islam...)

Silakan renungkan...

Tidak ada komentar: