Jumat, 30 Maret 2012

PERJALANAN KE TIMUR: MENITI JALAN MENJADI SATRIO PINANDHITO (2)


Ijinkan saya kembali bercerita tentang perjalanan pribadi dalam menggapai visi ideal menyangkut kualitas diri dan peran dalam kehidupan: Satrio Pinandhito. Sesungguhnya, Nusantara saat ini membutuhkan kehadiran ribuan bahkan jutaan satrio pinandhita untuk mengisi ruang-ruang kepemimpinan di berbagai sektor, sektor pemerintahan, militer, maupun masyarakat sipil. Di tengah gonjang-ganjing politik yang terus meningkat, ketimpangan sosial yang demikian akut, kualitas lingkungan yang memburuk, kekacauan budaya, plus ancaman bencana alam, jelas dibutuhkan kehadiran manusia-manusia yang mampu memberikan terobosan, ide-ide segar, dan kepemimpinan yang bisa membawa negeri ini ke arah yang baru.

Lalu mengapa harus satrio pinandhito? Satrio pinandhito menggambarkan sosok ksatria, pemimpin komunitas, politik atau militer, yang juga memiliki jiwa kepanditaan. Jiwa kepanditaan ini tercerminkan dalam kesadaran spiritual yang tinggi dan budi pekerti luhur. Kontras dengan yang terjadi saat ini: tengah meruyak fenomena “Petruk dadi ratu”. Petruk, sejatinya adalah profil punakawan atau pengemong para satria yang baik. Namun, ketika ia memaksakan diri menjadi ratu atau satria tingkat puncak, ia justru melahirkan berbagai kekacauan dan ketidakselarasan. Sebabnya adalah, tanpa kapasitas menjadi pemimpin, ia memaksakan diri menjadi pemimpin. Lebih jelas, “Petruk dadi ratu” menggambarkan sosok “pemimpin yang gagal dalam kepemimpinannya, karena tidak memiliki kecakapan, kharisma, kualitas moral, keteladanan dalam budi pekerti, dan justru terjebak oleh egoisme dan nafsu tercela”. Berlawanan dengan itu, satrio pinandhito mengandaikan keberadaan sosok pemimpin yang benar-benar bisa menjadi pemimpin dan sanggup menghadirkan kebaikan karena memang memiliki semua kualitas yang dibutuhkan: kualitas spiritual, manajerial, emosional. Dalam konsepsi modern, satrio pinandhito sebanding dengan pemimpin profetik – pemimpin yang memiliki kualitas “kenabian”, yang sanggup melakukan hal-hal yang tak bisa dilakukan manusia pada umumnya, melampaui tantangan yang teramat sulit, bahkan menciptakan keajaiban.

Kini, saya ingin kembali ke cerita saya. Pada tulisan terdahulu saya telah mengungkap perjalanan saya ke Sendang Semangling, di Bawen Kabupaten Semarang, bersama kadhang kinasih Mas Heru Dipastraya. Sendang Semangling, merujuk pada konsep penggemblengan seseorang menjadi satrio pinandhito sebagaimana tertera dalam lontar Jawa Kuno, adalah salah satu tempat penggemblengan agar seseorang memiliki ketajaman pikiran dan ketajaman intuisi sehingga bisa bertransformasi dari tataran satrio muda menjadi satria pinandhito. Ini mirip dengan proses Pawintenan pada ajaran Hindu yang harus dilaksanakan di tempat-tempat tertentu yang mengandung yoni pawintenan, seperti Sendang Semangling.

Sebelum saya lanjutkan cerita saya, rasanya saya perlu mengungkapkan, bahwa lontar Jawa Kuno mengungkapkan 4 jenjang menuju tataran satrio pinandhito. Dalam tradisi Hindu, juga terdapat empat jenjang untuk mencapai taraf pandita. Jenjang pertama untuk menjadi pandita dalam tradisi Hindu, disebut upanayana, berupa proses awal agar seorang seseorang yang telah mempelajari berbagai pengetahuan/kawruh juga mengalami pensucian jiwa. Jenjang kedua, disebut pensudian, yang dilaksanakan melalui penghayatan dan pelaksanaan laku utama berupa penyelarasan pikiran, perkataan dan perbuatan. Baru setelah itu, masuk ke jenjang ketiga yang disebut pawintenan sebagaimana dijelaskan di atas. Dan jenjang terakhir disebut dengan pendiksaan, sebuah proses agar seseorang benar-benar memiliki kematangan bathin sehingga sanggup berpegang pada “sesananing wiku”. Sementara untuk menjadi satrio pinandhito dalam tradisi Jawa, tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut: Pertama, mawiji, ngangsu kawruh dari alam, dari berbagai guru, namin masih bersifat acak. Kedua, anguati, sebuah proses pembimbingan yang terarah di bawah bimbingan guru tertentu. Tahap ketiga, disebut nyumunar/penyanglingan, di tempat-tempat tertentu. Dan keempat, adalah mangiket, penyempurnaan seseorang menjadi satrio pinandhito.

Pelaksanaan mawiji dan anguati, sebagaimana upanayana dan pensudian tidak terikat oleh tempat, bisa dilakukan di mana saja. Namun, prosesi pawintenan dan pendiksaan mesti dilakukan di tempat-tempat khusus. Dan saya pribadi, baru menyelesaikan tahap penyanglingan yang setara dengan prosesi pawintenan dalam tradisi Hindu, dan baru berencana untuk menuntaskan jenjang keempat dengan melaksanakan proses penyempurnaan di tempat yang sesuai.

Catatan dari Desa Butuh dan Desa Tarub
Setelah melakukan prosesi tirta yatra di Semangling, saya sempat dijamu Mas Heru Dipastraya menikmati sajian gurami goreng di salah satu warung lesehan di dekat sendang tersebut. Kami menikmati lezatnya hidangan di situ sambil bertukar pengalaman dan berbagi gagasan. Dari situ, kami meluncur menuju Butuh, dimana terletak petilasan para tokoh Pengging: Ki Ageng Kebo Kenongo (putra Adipati Pengging Handayaningrat, cucu Prabu Brawijaya V) dan garwo, Sultan Hadiwijaya/Raden Mas Karebet/Joko Tingkir (putra dari Ki Ageng Kebo Kenongo), KP Tejowulan adik dari Raden Mas Karebet, lalu para putra Raden Mas Karebet: Pangeran Benowo, Kanjeng Pangeran Sinawung, KRt Kadilangu, dan para tokoh yang terkait dengan mereka seperti Ki Ageng Ngerang dan Nyi Ageng Ngerang, Kyai Getek Tambak Boro, dan lainnya.

Kami tiba di Butuh senja hari, dan langsung melaksanakan proses nyambung roso dan penghaturan sembah pangabekti kepada para leluhur di situ. Adalah sebuah anugerah besar bagi kami, karena merujuk pada tanda-tanda alam dan petunjuk dari rasa bathin kami, kami mengerti bahwa para leluhur merestui langkah-langkah kami. Dan bagi kami, restu leluhur merupakan sesuatu yang penting karena menjadi tangga untuk meraih kemajuan spiritual dan menggapai keselarasan semesta.

Sosok Ki Ageng Kebo Kenongo, maupun Sultan Hadiwijaya, benar-benar bisa menjadi inspirasi bagi siapapun yang tengah menggembleng diri menjadi satrio pinandhito. Ki Ageng Kebo Kenongo terkenal dalam sejarah, sebagai sosok pangeran yang hidupnya sangat merakyat, betul-betul mempraktekkan prinsip manunggaling kawulo (rakyat kecil) dengan gusti (pemimpin/pejabat). Dan tindakan demikian, dilandasi oleh kesadaran spiritual yang tinggi, menerapkan filosofi Neng, Ning, Nung, Nang (seseorang harus bisa Meneng - sering meditasi untuk mencapai kondisi Samadhi, agar jiwanya menjadi Wening. Dengan begitu ia bisa menggapai Kasinungan, naik derajatnya, dan Menang). Sementara itu, sosok Eyang Joko Tingkir, adalah inspirasi sosok manusia yang sabar, tekun dan tangguh dalam mengarungi rangkaian seleksi alam yang demikian ketat dan berat, untuk meraih wahyu keprabon (yang menjadi simbol dukungan semesta – para leluhur dan titah urip di berbagai dimensi, yang mencerminkan dukungan Hyang Widhi kepada seseorang untuk bisa memimpin, dan pada akhirnya menjadi salah satu Raja besar di Tanah Jawa. Sejatinya, jalan untuk meraih wahyu keprabon itu tidak mudah, penuh onak dan duri. Hanya orang-orang berjiwa besar dan konsisten menjalankan laku prihatin yang bisa melalui prosesnya.

Setelah tuntas tirta yatra di Petilasan Butuh, kami melanjutkan perjalanan, dan berpisah. Saya meluncur menuju Purwodadi, tepatnya ke Desa Tarub. Sementara Mas Heru Dipastraya harus menjalankan tugas mempersiapkan berbagai upacara terkait dengan Hari Raya Nyepi, bersama para sesepuh Hindu Jawa, yang saat itu berkumpul di sekitar Surakarta.

Sebetulnya, saya hendak ke Puncak Songolikur, tapi ternyata, saat sampai Terminal Purwodadi, tempat itu sudah gelap, kosong dari segala jenis bis. Jadi saya tak bisa melanjutkan perjalanan, dan akhirnya mengubah jadwal. Rencana semula saya hendak ke Petilasan Ki Ageng Tarub dan Eyang Bondan Kejawan esok hari setelah dari Puncak Songolikur. Dengan kondisi terakhir, saya putuskan untuk bermalam di Desa Tarub.
Dari Terminal Purwodadi, saya naik ojeg, dan ndilalah, sang tukang ojeg sering lelampahan ke Puncak Songolikur di Kudus, sehingga ia bercerita tentang Puncak Songolikur sebagai tempat naik hajinya orang Jawa, dan salah satu “neraka dunia”, karena di situ, setiap orang yang lelampahan, akan mendapatkan bayaran kontan atas segenap kesalahan yang pernah diperbuat, dalam rangka pembersihan diri. Saya mencatat itu dan dalam hati, dan menguatkan diri untuk tetap ke Puncak Songolikur pada waktunya.

Di Petilasan Tarub, malam hari, setelah sowan pada juru kunci, saya masuk ke area makam Ki Ageng Tarub lalu ke area Makam Eyang Bondan Kejawan. Sayangnya, kurang bisa konsentrasi karena saat itu sedang banyak orang – kebetulan memang sedang malam Jumat. Dan berbeda dengan kebiasaan saya dan para pejalan spiritual Jawa pada umumnya yang mengedepankan hening saat nyambung roso dengan leluhur, orang-orang yang hadir saat itu, memakai metode Timur Tengah: membaca tahlil dengan suara keras.
Jadi, saya meditasi sebentar, lalu beristirahat. Meditasi yang lebih intensif saya laksanakan pada keesokan harinya.

Selanjutnya, saya ingin bicara soal sejarah. Di petilasan Ki Ageng Tarub, terdapat informasi silsilah. Yang menohok mata, adalah catatan silsilah di dinding petilasan yang menyebutkan bahwa Ki Ageng Tarub, yang memiliki nama lain Kidang Telangkas, merupakan putra Syeikh Maulana Magribi dengan Dewi Roso Wulan adik Sunan Kalijaga. Jika ini benar, maka Panembahan Senopati dan para raja Mataram lainnya, pada dasarnya adalah keturunan dari negeri Magrib/Timur Tengah sekaligus turunan paa Wali. Rahsa sejati saya menunjukkan bahwa ada yang kurang pas dengan info ini, tapi saya kurang tahu yang sebenarnya bagaimana. Secara logika, juga ada yang aneh: tidak mungkin Syeikh Maulana Magribi menamai anaknya Kidang Telangkas. Ia semestinya memberi nama ala Timur Tengah pula, seperti Ahmad, Abdurrohman, Mustafa, atau sejenisnya. Selain itu, Dewi Roso Wulan adalah istri dari Empu Supo Anom, dan Empu Supo Anom anak Tumenggung Supondriyo kepala empu pembuat senjata Majapahit jaman Prabu Brawijaya pamungkas. Itu yang mendorong saya mencari jawaban.

Saya mendapatkan jawaban melalui Mas Heru Dipastraya yang membabarkan sejarah Ki Ageng Tarub berdasarkan lontar Jawa Kuno. Dalam Rontal Tiwikra yang disalin terus menerus dari generasi ke generasi pun banyak versi tentang Eyang Kidang Telangkas. Ada yang menyebut beliau putra dari Lembu Amisani(Brawijaya 3). Tapi ada rontal yang menyebut beliau putra Roro Kuning dengan Dang Acarya Namaskara yang titisan Dewa Brahma. Dang Acarya ini salah satu Maharesi jaman Brawijaya 3. Brawijaya 3 memerintah selama 10 tahun. lalu di ganti Brawijaya 4 yang hanya memerintah selama 2tahun. Lalu diganti Brawijaya 5.

Dang Acarya adalah Brahmana utama jaman Brawijaya 3. Seperti Dahyang Lohgawe pada jaman kerajaan Tumapel, Saat itu Dahyang Lohgawe menjadi orang tua angkat Ken Arok karena ada panggilan tugas dari dewata bahwa Dahyang Lohgawe, ia harus mengasuh Ken Arok karena Ken Arok adalah orang yang nantinya bisa menurunkan Raja-raja Tanah Jawa.

Dang Acarya Namaskara juga begitu. Beliau tahu bahwa dari keturunannya kelak akan menjadi penerus Raja-raja yang sudah dirintis oleh Ken Arok tersebut. Kita selanjutnya tahu bahwa anak Dang Acarya Namaskara yang bernama Kidang Alit dan setelah besar bergelar Kidang Telangkas mempunyai istri bidadari Nawangwulan yang akhirnya menurunkan Nawangsih.dan setelah menikah dengan Bondan kejawan melahirkan Ki Petas pendawa dan seterusnya hingga sampai kepada Panembahan Senopati.

Sayang sekali, sumber-sumber seperti itu seringkali sudah dibumihanguskan, dan hanya dipegang segelintir orang, yang lalu merahasiakannya. Sehingga berita yang tersebar kemudian adalah sesuatu yang jauh dari kenyataan.

Kasus yang mirip dengan itu, juga bisa kita temukan ketika bicara soal Adipati Pengging Sepuh Eyang Handayaningrat. Ada sebuah situs internet yang menceritakan begini: “Ki Ageng Pengging Sepuh adalah ayah dari Ki Kebo Kanigara dan Ki Ageng Pengging alias Kebo Kenanga dan Nyai Ageng Tingkir, atau dengan kata lain ia adalah kakek dari Mas Karebet yang berjulukan Jaka Tingkir, yang kemudian menjadi raja Hadiwijaya Pajang Nama sebenarnya Ki Ageng Pengging ialah Sharif Muhammad Kebungsuan atau Sayyid Muhammad Kebungsuan putra bongsu Sayyid Husein Jamadil Kubro hasil perkahwinan beliau dengan Putri Jauhar dari Kerajaan Muar Lama, Malaysia. Sayyid Muhammad Kebungsuan juga merupakan pendiri Kerajaan Maguindanao di Philippines.”

Sejatinya, Ki Ageng Pengging Sepuh dikenal juga dengan nama Srimakurung Prabu Handayaningrat, dan memiliki nama lain Jaka Sengara, adalah penerus trah Kraton Pengging yang sudah ada sejak beberapa ratus tahun sebelumnya. Berikut analisis sejarah tentang Kraton Pengging dalam blog sejarahpengging: “Dari persebaran artefak yang ditemukan disekitar situs Pengging ditemukan fragmen piring dari dinasti T’ang ( 618 – 906 M ) dan fragmen mangkok cina tipe Yueh ( 906 -960 M). Serta fragmen lain yang dibuat pada masa dinasti Sung ( 960 – 1279 M ) Jika dilihat dari persebaran fragmen keramik ini dapat dipastikan bahwa komunitas sosial budaya masyarakat Pengging sejalan dengan kehidupan masyarakat pada masa kerajaan Mataram Hindu yang didirikan oleh wangsa Sanjaya pada tahun 654 Caka (732 M ). Bukti lain bahwa Kerajaan Pengging satu jaman dengan Mataram Hindu yaitu terdapat sisa sisa bangunan monumental berupa candi-candi disekitar wilayah Pengging. N.J. Krom pernah melaporkan tentang temuan bangunan candi disekitar wilayah Pengging antara lain candi Krikil dan candi lor di kecamatan Selo candi ini seusia dengan candi Sewu dekat Prambanan.”

Artinya, Jaka Sengara adalah ksatria Jawa, putra Jawa, bukan Timur Tengah. Lagi pula, sekali lagi, jika ia adalah keturunan seorang Sayyid dari Timur Tengah, ia tak akan memiliki nama Jaka Sengara, tapi tetap menggunakan gelar Sayyid dan disambung nama Timur Tengah.

Fenomena seperti yang saya sebutkan di atas, para pepunden Jawa diklaim sebagai keturunan para tokoh agama dari Timur Tengah, tampaknya merupakan dampak dari penetrasi politik Demak sebagai kerajaan Islam puritan yang meruntuhkan Kerajaan Majapahit pada 1478 M dan ingin mengukuhkan hegemoninya. Sangat bisa dipahami, jika ada penyebaran opini-opini tertentu yang menguntungkan kepentingan pihak-pihak yang berada di balik Kerajaan Demak.

Sayangnya, bagi manusia Jawa, hal demikian sungguh merugikan, karena kita kemudian menjadi tak tahu lagi sebetulnya siapa leluhur kita atau para tokoh masa silam yang asal muasal keberadaan kita. Pada skala yang lebih luas, ini menjadi penyebab lunturnya kesadaran kita sebagai sebuah bangsa yang agung dengan peradaban besar di masa silam – dan selanjutnya malah terjerembab menjadi bangsa yang inferior.
Karena itulah, saya memandang perlu bagi kita untuk menguak semua tabir misteri yang menggelayuti sejarah kita. Demi terkuaknya kebenaran, bagi diri kita di masa kini dan anak keturunan kita di masa depan. Dan tentu saja, itu juga demi pulihnya kesadaran bahwa kita adalah bangsa dengan tradisi agung yang harus senantiasa dihidupkan, karena justru itulah ang menjadi modal besar kita dalam percaturan antar bangsa pada masa kini.

Salah satu issue lain yang ingin saya bahas dalam tulisan ini adalah tentang apakah, atau siapa sesungguhnya penyebab keruntuhan Kraton Majapahit pada era Prabu Brawijaya V. Sebagian sejarahwan menjelaskan bahwa Majapahit runtuh semata-mata karena perang saudara, dan tidak ada yang disebut dengan peristiwa penyerbuat Demak, ketika Raden Patah/Jimbun mengkudeta ayahnya sendiri. Prof. Dr. N. J. Krom misalnya, dalam buku “Javaansche Geschiedenis” menolak anggapan bahwa pihak yang telah menyerang Majapahit pada masa Prabu Brawijaya V (Kertabhumi) adalah Demak. Tetapi, menurut Prof. Krom serangan yang dianggap menewaskan Prabu Brawijaya V tersebut dilakukan oleh Prabu Girindrawardhana. Demikian juga Prof. Moh. Yamin dalam buku “Gajah Mada” menjelaskan bahwa raja Kertabhumi atau Brawijaya V tewas dalam keraton yang diserang oleh Prabu Rana Wijaya dari Keling atau Kediri. Prabu Rana Wijaya yang dimaksud adalah nama lain dari Prabu Girindrawardhana.

Tesis ini didukung terutama oleh mereka yang punya pendapat bahwa Islam disebarkan di Nusantara sepenuhnya dengan cara damai, sehingga tidak masuk akal bagi mereka para wali terlibat intrik politik dan penghancuran sebuah kraton. Tentu saja, tesis seperti ini mengabaikan fakta sejarah baik di Timur Tengah maupun di Nusantara baik pada masa lalu maupun pada masa kini. Di Timur Tengah sendiri, penyebaran paham Islam tertentu yang berkait kelindan dengan kekuasaan, biasanya diiringin peristiwa pertumbahan darah. Dominannya Dinasti Umayah yang membawa sebuah pola keberislaman yang dilabeli Mazhab Sunni, terjadi setelah rangkaian peristiwa berdarah, berupa pembantaian terhadap lawan-lawan politik mereka khususnya para pengikut Ali bin Abi Tholib. Bahkan, terkenal sejarah yang sangat kelam, Tragedi Karbala, dimana cucu Nabi Muhammad sendiri, Husein bin Ali, dipenggal kepalanya oleh pasukan Dinasti Umayah dibawah komando Hajjaj bin Yusuf pada masa Khalifah Yazid bin Muawiyah. Lalu, baca pula sejarah Aurangzeb di India yang mengukuhkan Dinasti Mogul dengan kekerasan yang massif, berbeda dengan leluhurnya Sultan Akbar yang sangat toleran. Dan jangan lupakan cerita masa kini: keberadaan FPI, MMI, JAT sebangsanya plus peristiwa terror bom, adalah indikasi yang valid bahwa memang ada elemen di dalam umat Islam yang memilih menyebarkan Islam dengan cara kekerasan. Tentu saja tak sedikit tokoh Islam, di masa lalu dan di masa kini, yang menyebarkan Islam dengan cara damai. Tapi, jangan lupakan yang sebaliknya, dan yang sebaliknya itu bukan hal yang tak masuk akal.

Secara akademik, teori penyerangan Prabu Girindrawardhana terhadap Majapahit ini ditolak oleh Prof. Dr. Slamet Muljana. Menurut Muljana, nama Girindrawardhana ditemukan pada prasasti Jiyu 1408 tahun Saka atau 1486 M, delapan tahun setelah tahun yang dianggap sebagai masa keruntuhan Majapahit akibat serangan Demak. Muljana lantas menghubungkannya dengan kronik Cina yang berasal dari kuil Sam Po Kong di Semarang. Muljana menyatakan bahwa seorang menantu Kertabhumi menjadi bawahan Demak dan harus membayar upeti. Tarikh tahun yang digunakan adalah 1488. Tokoh yang dimaksud dalam kronik Tionghoa disebutkan dengan nama Pa Bu Ta La. Slamet Muljana berspekulasi bahwa Pa Bu Ta La yang dimaksud adalah Girindrawardhana, sebab menurutnya kata “Ta La” adalah transkripsi dari dra sebagai unsur nama Girindrawardhana. Dari analisa ini maka ditarik kesimpulan bahwa Girindrawardhana tidak mungkin menyerang kepada Majapahit sebab justru Girindrawardhana justru tunduk kepada Demak. Menurut Muljana, Demaklah yang menyerang Majapahit pada masa Prabu Brawijaya V.

Saya sendiri, punya analisis yang mendukung kesimpulan bahwa Majapahit memang runtuh oleh Kerajaan Demak, dan setelah itu terjadi pembumihangusan yang sistematik terhadap kekuatan politik bahkan warisan budaya Majapahit. Peristiwa “pembunuhan” Ki Ageng Kebo Kenongo oleh Sunan Kudus atas perintah Raden Patah adalah salah satu petunjuk akan benarnya kesimpulan tersebut. Tak lama setelah Demak menghancurkan Majapahit, guna mengukuhkan kekuasaan politik yang baru digenggam, maka seluruh pengganggu potensial harus disingkirkan, lepas dari mereka benar-benar akan mengganggu atau tidak.

Petunjuk lain, adalah apa yang terjadi dengan para keturunan Prabu Brawijaya V. Prabu Brawijaya V memiliki anak sebagai berikut:
1. Raden Jaka Dilah, menjabat Adipati di Palembang;
2. Raden Jaka Pekik (Harya Jaran Panoleh), menjabat Adipati di Sumenep;
3. Putri Ratna Pambayun, menikah dengan Prabu Srimakurung Handayaningrat
4. Raden Jaka Peteng
5. Raden Jaka Maya (Harya Dewa Ketuk) adipati di Bali.
6. Dewi Manik, menikah dengan Hario Sumangsang Adipati Gagelang
7. Raden Jaka Prabangkara, pergi ke negeri Cina
8. Raden Harya Kuwik Adipati Borneo
9. Raden Jaka Kutik (Harya Tarunaba) Adipati Makasar;
10. Raden Jaka Sujalma (Adipati Suralegawa di Blambangan)
11. Raden Surenggana tewas dalam peristiwa penyerbuat Demak
12. Retno Bintara istri Tumenggung Singosaren Adipati Nusabarung
13. Raden Patah; Sultan Demak
14. Raden Bondan Kejawan, Ki Ageng Tarub III yang menurunkan raja-raja Mataram;
15. Retno Kedaton, kamuksan di Umbul Kendat Pengging.
16. Retno Kumolo (Raden Ayu Adipati Jipang), menikah dengan Ki Hajar Windusana;
17. Raden Jaka Mulya (Raden Gajah Permada);
18. Putri Retno Mas Sakti, menikah dengan Juru Paningrat
19. Putri Retno Marlangen, menikah dengan Adipati Lowanu;
20. Putri Retno Setaman, menikah dengan Adipati Jaran Panoleh di Gawang;
21. Retno Setapan istri Harya Bangah Bupati Kedu Wilayah Pengging
22. Raden Jakar Piturun, Adipati Ponorogo dikenal sebagai Betara Katong.
23. Raden Gugur, hilang di Gunung Lawu
24. Putri Kaniten, menikah dengan Hario Baribin, di Madura;
25. Putri Baniraras, menikah dengan Hario Pekik, di Pengging;
26. Raden Bondan Surati mati obong di Hutan Lawar Gunung Kidul
27. Retno Amba, menikah dengan Hario Partaka;
28. Retno Kaniraras
29. Raden Ariwangsa
30. Raden Harya Suwangsa (Ki Ageng Wotsinom di Kedu)
31. Retno Bukasari istri Haryo Bacuk
32. Raden Jaka Dandun, nama gelar Syeh Belabelu;
33. Retno Mundri (Nyai Gadung Mlati) istri Raden Bubaran, kamuksan di Sendak Pandak Bantul
34. Raden Jaka Sander, nama gelar Nawangsaka;
35. Raden Jaka Bolod, nama gelar Kidangsoka;
36. Raden Jaka Barak, nama gelar Carang Gana;
37. Raden Jaka Balarong
38. Raden Jaka Kekurih/Pacangkringan
39. Retno Campur
40. Raden Jaka Dubruk/Raden Semawung/Pangeran Tatung Malara
41. Raden Jaka Lepih/Raden Kanduruhan
42. Raden Jaka Jadhing/Raden Malang Semirang
43. Raden Jaka Balurd/Ki Ageng Megatsari/Ki Ageng Mangir I
44. Raden Jaka Lanang, dimakamkan di Mentaok Jogja
45. Raden Jaka Wuri
46. Retno Sekati;
47. Raden Jaka Balarang
48. Raden Jaka Tuka/Raden Banyak Wulan
49. Raden Jaka Maluda/Banyak Modang dimakamkan di Prengguk Gunung Kidul
50. Raden Jaka Lacung/Banyak Patra/Harya Surengbala
51. Retno Rantam
52. Raden Jaka Jantur
53. Raden Jaka Semprung/Raden Tepas makam di Brosot Kulonprogo
54. Raden Jaka Gambyong
55. Raden Jaka Lambare/Pecattanda dimakamkan di Gunung Gambar Ngawen Gunung Kidul
56. Raden Jaka Umyang/Harya Tiran
57. Raden Jaka Sirih/Raden Andamoing
58. Raden Joko Dolok/Raden Manguri
59. Retno Maniwen
60. Raden Jaka Tambak
61. Raden Jaka Lawu/Raden Paningrong
62. Raden Jaka Darong/Raden Atasingron
63. Raden Jaka Balado/Raden Barat Ketigo
64. Raden Beladu/Raden Tawangtalun
65. Raden Jaka Gurit
66. Raden Jaka Balang
67. Raden Jaka Lengis/Jajatan
68. Raden Jaka Guntur
69. Raden Jaka Malad/Raden Panjangjiwo
70. Raden Jaka Mareng/Raden Pulangjiwo
71. Raden Jaka Jotang/Raden Sitayadu
72. Raden Jaka Karadu/Raden Macanpura
73. Raden Jaka Pengalasan
74. Raden Jaka Dander/Ki Ageng Gagak Aking
75. Raden Jaka Jenggring/Raden Karawita
76. Raden Jaka Haryo
77. Raden Jaka Pamekas
78. Raden Jaka Krendha/Raden Harya Panular
79. Retna Kentringmanik
80. Raden Jaka Salembar/Raden Panangkilan
81. Retno Palupi istri Ki Surawijaya (Pangeran Jenu Kanoman)
82. Raden Jaka Tangkeban/Raden Anengwulan dimakamkan di Gunung Kidul
83. Raden Kudana Wangsa
84. Raden Jaka Trubus
85. Raden Jaka Buras/Raden Salingsingan dimakamkan di Gunung Kidul
86. Raden Jaka Lambung/Raden Astracapa/Kyai Wanapala
87. Raden Jaka Lemburu
88. Raden Jaka Deplang/Raden Yudasara
89. Raden Jaka Nara/Sawunggaling
90. Raden Jaka Panekti/Raden Jaka Tawangsari/Pangeran Banjaransari dimakamkan di Taruwongso Sukoharjo
91. Raden Jaka Penatas/Raden Panuroto
92. Raden Jaka Raras/Raden Lokananta
93. Raden Jaka Gatot/Raden Balacuri
94. Raden Jaka Badu/Raden Suragading
95. Raden Jaka Suseno/Raden Kaniten
96. Raden Jaka Wirun/Raden Larasido
97. Raden Jaka Ketuk/Raden Lehaksin
98. Raden Jaka Dalem/Raden Gagak Pranala
99. Raden Jaka Suwarna/Raden Taningkingkung
100. Raden Rasukrama istri Adipati Penanggungan
101. Raden Jaka Suwanda/Raden Harya Lelana
102. Raden Jaka Suweda/Raden Lembu Narada
103. Raden Jaka Temburu/Raden Adangkara
104. Raden Jaka Pengawe/Raden Sangumerta
105. Raden Jaka Suwana/Raden Tembayat
106. Raden Jaka Gapyuk/Ki Ageng Pancungan
107. Raden Jaka Bodo/Ki Ageng Majasto
108. Raden Jaka Wadag/Raden kaliyatu
109. Raden Jaka Wajar/Seh Sabuk Janur
110. Raden Jaka Bluwo/Seh Sekardelimo
111. Raden Jaka Sengara/Ki Ageng Pring
112. Raden Jaka Suwida
113. Raden Jaka Balabur/Raden Kudanara Angsa
114. Raden Jaka Taningkung
115. Raden Retno Kanitren
116. Raden Jaka Sander (Harya Sander)
117. Raden Jaka Delog/Ki Ageng Jatinom Klaten

Di antara keturunan Prabu BRAWIJAYA V Pamungkas, sebanyak 8 (delapan) putera-puteri pindah dan berkedudukan di pulau Bali, beserta banyak punggawa (abdi dalem) dan rakyat pengikutnya (kawulo). Mereka mendirikan kerajaan dan menurunkan para raja di Bali. Dan mereka tergolong yang selamat atau dalam relatif baik karena tidak terjangkau oleh kejaran lawan politik mereka. Sementara itu, banyak putra Prabu Brawijaya V yang benar-benar sampai bertebaran ke berbagai tempat, sebagian mereka bahkan melarikan diri ke hutan dan gunung. Salah seorang putra yang bernama Raden Jaka Surenggana tewas dalam penyerbuan Demak. Dan sebagian lainnya ada yang gugur dalam pertempuran berikutnya saat mereka dikejar oleh tentara Demak. Di Pandak, Bantul, juga dikenal makam Kyai Ewer/Klewer. Dia adalah prajurit Majapahit yang dikejar tentara Demak, hingga bersembunyi di tanah tandus dan bajunya sobek-sobek (pating klewer). Ini yang menguatkan kesimpulan bahwa apa yang dikisahkan dalam Serat Darmagandul, sekalipun serat itu lebih berbentuk sebagai sebuah buku sastra ketimbang buku sejarah, bahwa Majapahit memang runtuh oleh Demak, memang sulit diabaikan kebenarannya.

Agenda Kedepan

Saat ini adalah masa transisi menuju masa depan baru: sebuah masa dimana nujuman tentang kembalinya kejayaan Jawa dan Nusantara akan kembali hadir. Seiring dengan itu, saat semesta memunculkan orang-orang yang tahu tentang masa silam, dan mengungkap kebenaran di masa silam. Dalam perspektif saya, itu adalah bagian dari skenario leluhur yang ingin kita, para putra wayah, kembali menikmati kamukten dan karaharjan.

Terkait dengan itu, penting bagi kita untuk menyadari tugas kita masing-masing, dan menggembleng diri agar bisa menjalankan tugas itu dengan baik. Salah satunya, siapapun yang terpanggil menjadi satrio pinandhito, sudah saatnya untuk memulai lelampahan/laku penggemblengan diri.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Sampai bertemu pada tulisan berikutnya, tentang pengalaman di Gunung Kemukus, Sendang Lanji, dan dialog dengan Mas Paulus Bambang Susetyo di Solo.

Mari kita songsong jaman baru. Rahayu, rahayu, rahayu sagung dumadi.

21 komentar:

Eko Nunog mengatakan...

"Ternyata budaya 'pemutarbalikan' fakta dan sejarah telah terjadi sejak jaman kerajaan demak hingga sekarang,, dan itu menjadi suatu pembodohan untuk setiap generasi",,,, terimakasih pak setyo telah berbagi tabir yang sebenarnya....."semoga akan segera terwujud jaman baru yang toto titi temtrem dan tak ada lagi pemelintiran fakta fakta yang ada,,sehingga tercipta generasi yang benar benar amanah terhadap leluhur mereka,,, amin

Setyo Hajar Dewantoro mengatakan...

Inggih mas..rahayu

mochtar mengatakan...

wah cover Sabda Palon yah

Anonim mengatakan...

siiiP !!!!!!! kangmas setyo
klo ada perjalanan menelisik leluhur lg ajak2 mas Setyo
lesung@art@yahoo.com

Ki Ajar Alang Alang, Putra Radian Kolosingo, Trah Ki Ageng Mangir mengatakan...

Salam kenal yaaa. Tulisan yang menarik, kunjungi blogku juga ya pak.bu, mas dan mbak!. Tak ada yang lebih menyedihkan dan mengharukan dari kisah Mangir Pembayun, seperti juga ketika saya bersimpuh di makam Pembayun di Kebayunan Tapos Depok Jawa Barat, bersebelahan dengan makam anaknya Raden Bagus Wonoboyo dan makam Tumenggung Upashanta, kadang sebagai trah Mangir, aku merasa bahwa akhirnya mataram dan mangir bersatu mengusir penjajah Belanda di tahun 1628-29, cobalah cermati makam cucu Pembayun yang bernama Utari Sandi Jayaningsih, Penyanyi batavia yang akhirnya memenggal kepala Jaan Pieterz Soen Coen pada tanggal 20 September 1629, setelah sebelumnya membunuh Eva Ment istri JP Coen 4 hari sebelumnya, kepala JP Coen yang dipenggal oleh Utari inilah yang dimakamkan di tangga Imogiri, Spionase Mataram lagi lagi dijalankan oleh cucu Pembayun dan ki Ageng Mangir, informasi buka http://pahlawan-kali-sunter.blogspot.com/2013/01/ki-ageng-mangir-mempunyai-keturunan-di.html

Anonim mengatakan...

Menurut Saya mungkin banyak aib yang ditutupi pada masa lalu, sebagai contoh cerita Rawa Pening menurut DUA DUNIA Trans7 episode "Rawa Pening" (ada di Youtube.com) dan juga episode "Sendang Beji" 30 Januari 2013. Di Episode "Sendang Beji" ada info bahwa anak dari Dewi Rosowulan adalah anak di luar nikah dan menjadi aib kerajaan. Dewi Rosowulan meminta Syeh Maulana Magribi untuk menjadi ayah angkat dari anak yang sedang dikandungnya, karena Dewi Rosowulan tidak mau melahirkan tanpa suami. Bagaimana menurut Anda ?

Anonim mengatakan...

semuanya hanya hanya kira kira,tak ada yang menjamin kebenaran 100%,baik sejarah versi kejawen ataupun versi islam

Anonim mengatakan...

Orang islam emang pandai dabul.....songolikur..........merasa dirinya paling sendiri...........jadinya takabor, yang nantinya akan membawa kehancurannya sendiri.

Anonim mengatakan...

dadi pengen neng pengging....
sowan eyang kebo kenongo.....

Anonim mengatakan...

heleh... Blok ini,sprt tau,,,,aja,,,,jngn munafik....emang kmu hidup di zaman it,,,,,,cerita kok mcm tau smua,,,,yg mnulis blog umur brpa! 100000juta taon??

Anonim mengatakan...

ok asik jga neh...penambah wawasan culture budaya...

Anonim mengatakan...

JAYA NUSWANTARA

Anonim mengatakan...

If thez water in your diet is not at all good enough for
you to with the rain necessary, our own bodies withholds drinking by means of liver.
This process ended in wusthof setting aside time for previously fifty percent the perfect billion
pounds wearing orders outside in The year
2003 by yourself! Specific modern-day day espresso machine is preparing to many while to get ready caffeine caused from newly first entire, toward
the contact of the button to get ready some flat
white or maybe cappuccino. It's a good idea this unique cure for is go over once per week, nonetheless should location use attention for a way many times you employ very own peice of workout equipment. Omega-3 krill enables combat problem and avoid tenderness, troubles, rheumatoid arthritis moreover guts health problems.

Feel free to surf to my web-site: coffee grinding equipment

Anonim mengatakan...

Hmm..lumayan sbg sbh wacana alternatif. Hanya perlu diwaspadai sumber wacana sejarah dari kaum kafir hanya akan membawa bangsa ini kembali kepada peradaban jaman jahiliyah dan semakin tertinggal berabad-abad dari bangsa asing dalam 'perang peradaban'. Hati-hati pada jebakan masa lampau yang melenakan angan. Tataplah masa depan yang gemilang penuh harapan! Tetap eling lan waspada.

Siti Djenar Syekh Lemahbang

Anonim mengatakan...

Salam kenal ya...saya termasuk pengagum budaya nusantara yang adiluhung. Kita memerlukan sumber2 alternatif yg valid spt.lontar2, prasasti yg selama ini belum terungkap kepermukaan utk mengetahui perjalanan bangsa kita yg besar ini tanpa terpengaruh oleh politik kekuasaan sekarang. Marilah gali terus budaya timur bangsa kita yg adiluhung.

Anonim mengatakan...

Kita smua tahu, dalam sejarah apapun pasti ada distorsi. Tetapi apa yang kita terima pada masa kini tentang adanya distorsi sejarah, itu pun belum tentu kebenarannya. Bisa jadi kita mendapatkan distorsi baru sebgai lawan dari distorsi lama.Karena kita bukan saksi mata.
Kebanggaan sbg garis keturunan atau trah suatu dinasti tidaklah salah. Tetapi yang terpenting adalah kita sendiri sebagai pribadi. Karena trah hanyalah syariat, sementara tarekat dan hakikat ada dalam diri kita sendiri.Jika kita mau mempelajari lebih dalam tentang Al Quran, yang bukan hanya sbegai terjemahan tekstual, tapi terjemahan yang tersirat, maka akan kita dapatkan intisari ajaran kejawen sebagai budaya luhur tanah jawa ada didalam Al Quran.
" Jgnlah kamu mengira bahwa orang2 yang gugur dijalan Alloh itu mati, bahkan mereka itu hidup disisi Tuhan nya dengan mendapat rejeki (Q.S. Ali Imran 169)". Jadi tidaklah aneh kalo kita mendapat cerita2 mistis dari para lelaku bathin kalo mereka pernah bertemu denga oranga2 di jaman lampau. Dan kita sbg manusia sekarng, sudah wajar adanya kalo kita tetap menjaga tata krama, sopan santun adab dan adat kepada dan terhadap para leluhur, karena sebgaian dari mereka masih ada, seperti dimaksud ayat Quran diatas. Isal dan Alquran adalah rahmatan lil alamin. Untuk manusia bukan untuk orang arab.Dan adat budaya islam bukanlah kearab2an. Islam tidak mengalihkan budaya arab kedalam budaya jawa. Tepai oranga2 yang berpikiran sempitlah yang mencoba memaksakan budaya itu. Wallahualam bishawab..

panji jayawardhana mengatakan...

dari nama2 putra2 Brawijaya diatas di urutan 11 ada nama Raden Surenggana, sbenarnya dia tidak tewas dlm penyerangan Demak tsb, akan tetapi masih tetap hidup dan mengungsi ke Gel Gel Bali lalu menetap di Lombok

Anonim mengatakan...

Tuhan dari dahulu kala tetap/ langgeng/tdk pernah ganti, meskipun manusia bisa berganti keyakinan/agama 1000 kali tetapi sesungguhnya Yang Maha Esa tetap tdk pernah berganti. Setiap kaum sdh ditunjuk manusia pilihan Tuhan untuk menyampaikan kebenaran menurut bahasa dan budaya kaum itu sendiri. Hidup Budaya Jawa!

arjuna wiwaha mengatakan...

penemuan jati diri adalah upaya mengenal urip atau tuhan...menurut saya sulit utk kita bisa buktikan masa lampau. bagi sy apa yg sy rasa pas dan nyaman dihati sy pakai utk ageman saya....kita saling hargai satu sama lain. mereka yg pas dg budaya luhur jawa atau mereka yg pas dg hal baru jg tdk bisa kita hindarkan sebagai kodrat perjalanan alam. saat kita merasa paling benar tanpa sadar melihat yg lain sbg keburukan. kita akan terjebak pada keakuan palsu...salam dari sy(argopuro) buat mas setyo hajar dewantoro lain kali kita sambung lagi

sri yanto mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
sri yanto mengatakan...

wa moro gage do rebut bener dewe dewe,angger ra jotos jotosan,rapopo aq tak ngademm waelah.