Rabu, 23 Mei 2012

MOZAIK-MOZAIK KESADARAN TENTANG DIRI



Setiap orang punya cetak biru kehidupan.  Demikian yang saya sadari setelah merenungkan jalannya kehidupan, dan berdialog dengan para pinisepuh waskito.  Ada banyak cara untuk mengetahui cetak biru ini, lalu berangkat dari situ menentukan orientasi atau tujuan hidup kita, tentang peran yang kita jalankan dalam kehidupan di muka bumi ini.  Di tulisan lalu telah saya sampaikan tentang catur warna, atau 4 pembagian peran dalam masyarakat Nusantara di masa silam yang diadaptasi dari ajaran Hindu: brahmana, satria, waisya, dan sudra.  Maka, pada perlu bagi kita menemukan cetak biru pribadi untuk menemukan mana karakter yang paling dominan dalam diri kita dari keempat konsep peran kemanusiaan tersebut.


Salah satu cara menentukan cetak biru itu adalah dengan membaca siapa yang menitisi kita.  Lakon dan peran kita sejatinya adalah penyempurna dari apa yang sudah dicapai oleh para leluhur yang menitisi kita.  Pinisepuh yang membimbing saya tentang hal ini antara lain adalah Pak Sri Sasongko di Cirebon dan Mas Hermawan Dewabroto di Tulungagung (yang telah mendahului kita berpindah ke kehidupan baru...rahayu Mas...).  Untuk menyibak masa lalu, kita bisa lakukan sendiri jika kita bisa.  Jika tidak, cobalah cari pinisepuh yang bisa membaca secara akurat jejak masa lalu di dalam diri kita.  Dari cara ini, saya menemukan bahwa karakter dominan pada diri saya adalah pandhita, lalu satria: maka, saya menetapkan orientasi hidup saya untuk menjadi pujangga dan pandhita, yang pada situasi tertentu, juga menjalankan tugas sebagai satria.  


Metode lain adalah dengan bertanya kepada Hyang Ya Hu yang bersemayam di dalam diri kita, kepada Sukma Sejati kita.  Cara ini, diajarkan oleh Mas Bambang Susetyo, pamomong saya di Surakarta.  Cara ini cukup pelik karena membutuhkan ketajaman rasa untuk menangkap pesan-pesan non verbal dari dalam diri kita sendiri.  Untuk bisa mantap menggunakan cara ini, tentu saja kita perlu terus menerus mengasah kepekaan rahsa kita: agar kita bisa tahu dengan pasti, untuk apa sebenarnya kita hidup di muka bumi ini.


Untuk kasus saya pribadi, saya dibantu oleh karakter yang tegas dari nama saya - itulah sesungguhnya pembentuk takdir saya: Setyo Hajar Dewantoro.  Saya harus berlaku setia kepada tugas-tugas kecendekiawanan/kepandhitaan yag terkait dengan ajaran-ajaran dewa yang ngejawantah di alam antara/madyapada.  Dewa adalah manifestasi Hyang Murbeng Dumadi: entitas halus yang mewakili sifat agung tertentu.  Nama lainnya adalah Betara.  Dalam khazanah spiritualitas Nusantara kita mengenal Betara Ismaya, Betara Guru, Betara Narada, Betara Brahma, Betara Wisnu, dan seterusnya.  Dan sebagian mereka disadari ngejawantah atau nitis di muka bumi, seperti Sang Hyang Betara Ismaya yang mewujud ke dalam tokoh Eyang Semar Badranaya; atau Betara Wisnu yang nitis kepada Prabu Airlangga.  Nah, kawicaksanan dari beliau-beliau inilah yang disebut ajaran Kadewatan.


Hari-hari ini, saya terusik untuk kembali mempertanyakan cetak biru saya.  Karena ternyata, kesadaran akan cetak biru tersebut belum kukuh....ia menjadi sedikit buyar ketika saya tersedot oleh dinamika lapangan, saat saya mengalami fase "berkonsentrasi penuh menjalankan tugas sebagai ksatria di dunia politik".  Ternyata, saat saya melakukan itu dan mengabaikan tugas kepujanggaan saya, semua berjalan salah.  Saya terantuk, bahkan terjerembab.  Lalu saya menyadari, "musibah" ini sejatinya adalah cara semesta untuk mengembalikan saya pada cetak biru yang sesungguhnya.


Maka, mulailah perjalanan untuk menguatkan kesadaran akan cetak biru dan orientasi kehidupan.


KAWICAKSANAN DARI KLENTENG JAMBLANG


Suatu malam, saya bertandang ke rumah Mas Winta Aditia Guspara, kadang dari Jogja yang sama-sama terdampar di Tlatah Caruban.  Dari diskusi dengan Mas Winta, saya mendapatkan nama Klenteng Jamblang sebagai salah satu jejak kuno kehadiran masyarakat Tionghoa di Cirebon.  Saya, tanpa alasan yang saya mengerti, ingin sekali ke tempat itu.  Dan hari Sabtu, keinginan saya betul-betul menguat sehingga saya putuskan untuk berkunjung hari itu.  Setelah menunaikan tugas mengajar di Babakan Ciwaringin, saya ke Jamblang.  Ndilalah...di sana, telah menunggu seorang sesepuh, berusia 75 tahun.  Nama beliau Hermawan (atau nama Tionghoa-nya Yong Gie).  Beliau menuturkan, sebetulnya jadwal beliau hadir ke Jamblang dari Bandung adalah hari Minggu, tapi, entah kenapa, seperti ada yang menarik beliau untuk ke Jamblang hari Sabtu itu.  Tampaknya, di tingkat bathin, saya dan Pak Hermawan sudah terlebih dahulu saling tarik menarik.


Di temani alunan musik khas Klenteng, berupa kidung yang tak saya pahami artinya tapi saya bisa menikmatinya, kami ngobrol ngalor ngidul.  Dan dari beliau, saya mendapatkan banyak kawicaksananan.  Terlebih, beliau juga nguri-nguri budaya Jawa, sangat paham budaya Jawa, dan memiliki khazanah pengalaman menjalankan laku tapa di berbagai tempat.  Beliau menguasai juga perhitungan kalender Jawa, sehingga bisa memberikan gambaran proyeksi kehidupan untuk saya yang lahir Sabtu Pon.  Beliau juga memaparkan hari baik untuk saya, yang dimulai tanggal 5 setiap bulannya, dan setiap 4 hari sesudahnya.  Dan satu hal, beliau membabarkan satu tindakan paling mendasar bagi setiap penghayat spiritualitas Jawa: Kudu jujur ning awake dewe!  Ini adalah ajaran yang sering disebut-sebut, gampang diucapkan, tapi sulit dilaksanakan.  Tapi, sesulit apapun, kejujuran khususnya pada diri sendiri - yang termanifestasi melalui kejujuran pada orang lain, adalah landasan untuk menggapai tingkat tertinggi. Dan saya pribadi mengakui, ini tidak mudah.  Karena berbagai alasan, kebanyakan orang, termasuk saya, sering tidak mengatakan hal sebenarnya.


Selanjutnya, beliau juga memaparkan esensi ajaran Tridarma di Klenteng: Konfusianisme, Tao, dan Budha.  Ada beberapa hal fundamental tentang ketiga ajaran tersebut yang bersifat saling melengkapi dan bisa dihayati oleh siapapun yang menginginkan kehidupan lebih sejati.  Konfusianisme mengajarkan tentang bakti kepada kedua orang tua.  Merekalah yang menjadi sarana keberadaan kita di muka bumi.  Tanpa kedua orang tua kita tak akan pernah ada.  Maka, berbuat baik kepada kedua orang tua adalah mutlak menjadi tanda orang yang bijak dan bajik.  Beliau mengajarkan kepada saya, setiap meditasi, jangan lupa membayangkan kedua orang tua, minta secara bathin agar mereka ikut bermeditasi dengan kita, dan memberi pangestu atas meditasi kita.  Lalu, minimal setiap bangun dan akan tidur, kita mendoakan agar kedua orang tua mendapatkan limpahan anugerah dan keselamatan dari Gusti Hyang Murba Wasesa.


Sementara itu, Taoisme salah ajaran intinya adalah menghormati para orang suci, karena merekalah jembatan agar kita bisa menggapai Tuhan dan agar segenap doa kita bisa berjawab.  Sementara Budha mengajarkan kewelasasihan, kepada setiap makhluk hidup, yang diwakili oleh doa yang sangat universal: Amitabha, Semoga Semua Makhluk Berbahagia.  Menyangkut yang terakhir ini, saya mengalami sensasi khusus di Klenteng Jamblang.  Saat di toilet, saya melihat seekor cecak, yang tampaknya berada pada fase "remaja"...dan seolah, hati saya terbetot olehnya.  Timbul kasih yang demikian melimpah untuknya...dengan sensasi yang sulit untuk diucapkan.  Saat saya ceritakan ini pada Pak Hermawan, beliau mengatakan, "Budha sudah ada di dalam dirimu".


Hal terpenting yang saya peroleh dari perjumpaan saya dengan Pak Hermawan di Klenteng Jamblang adalah, pertama, pesan agar saya tidak terperangkap dalam politik sehingga meninggalkan tugas-tugas saya yang utama sebagai cendekiawan/pendidik/pujangga; kedua, saya masih harus terus berjalan, berusaha, untuk menyempurnakan ilmu...karena memang ilmu saya masih jauh dari sempurna bahkan untuk ukuran potensi saya sendiri.  Ibaratnya, dari potensi 100, paling yang sudah teraktualisasikan sepertiganya.  (Bahasa beliau adalah, "Wah....masih jauh.....".  Sangat sederhana, tapi saya paham artinya........)


PESONA TELAGA MADIRDA


Ada peristiwa hidup yang sangat saya syukuri: bertemu dengan orang-orang yang menjadi teladan dalam kebajikan, sekaligus menjadi guru saya, tempat saya bercermin, dan mendapatkan kawruh yang mengayakan spiritualitas saya.  Salah satu sosok tersebut adalah mas Diksa Dipasraya, atau nama aslinya adalah mas Heru Dipastraya.  Hidup Mas Dipa benar-benar didedikasikan untuk menjalankan Dharma, dan nguri-nguri budaya leluhur, termasuk ngabekti leluhur dengan melakukan tirtayatra ke banyak tempat, dengan intensitas sangat tinggi.


Semalam, tanggal 23 Mei 2012, saya berkesempatan kembali untuk menjalankan tirtayatra dengan Mas Dipa, kali ini di Telaga Madirda, di lembah Gunung Lawu.  Sebelumnya, kami berjumpa para kadang kinasih di salah satu pura di Karanganyar, Pak I Wayan Puja dan para kadang yang lain.  Dan saya sempat menikmati satu prosesi pengayaan spiritual di sana, "mendengarkan lantunan kidung dan darma wacana dari Pak Wayan dan beberapa sesepuh".


Sekitar pukul 10.30 malam kami meluncur dari Solo menuju Telaga Madirda.  Sampai di sana, sekitar pukul 11 malam.  Dan benar seperti yang dinyatakan Mas Dipa, tempat ini memang spektakuler, menakjubkan.  Terlebih, malam itu adalah malam sejuta bintang.  Langit sangat jernih...bintang-bintang bertebaran dan memancarkan segenap pesonanya dari ketinggian.  Berpadu dengan kesunyian lembah Gunung Lalu, sempurnalah ia menjadi tempat bagi para perindu kedamaian.....


Dan Telaga Madirda memang punya keistimewaan karena kelengkapan "sarana" di sana: di situ terdapat batu alam besar yang menjadi punden dan tempat terhubung dengan para leluhur dan para batara, berada di lereng gunung yang sakral yaitu Gunung Lawu, dan memiliki pancuran/gerojogan sekaligus tempat kungkum yang teramat jernih.  Saya pernah ke Jumprit dan Situs Pajajar.  Salah satu kelebihan Telaga Madirda adalah ia masih jarang disambangi orang karena tidak menjadi obyek wisata, sehingga benar-benar pas untuk tempat tapa dan menyatu dengan semesta.


Setelah meminta ijin kepada Pak Cipto, kuncen di situ, saya dan mas Dipa menuju lokasi di mana kami bisa kungkum dan meditasi.  Kami mengawalinya dengan menyiapkan sesaji secara teliti, sesuai pakem yang ditulis di lontar-lontar kuno.  Sejujurnya, Ma Dipa yang sangat memahami tradisi ini, sehingga saya belajar banyak dengan cara diam memperhatikan dan sekali-kali bertanya.  Sesaji yang disiapkan terdiri dari buah-buahan dan bunga-bungaan.  Tempatnya adalah nampan bundar kecil dari bambu, yang kemudian dialasi daun pisang.  


Dan, para leluhur menetapkan sesaji demikian, ternyata penuh dengan makna.  Namban bundar selain tanda kesopanan kepada leluhur dan para danyang yang ada di tempat kita memberikan sesaji, juga melambangkan kebulatan tekad.  Dalam melakukan tirtayatra dan menjalani hidup, memang kita harus punya tekad yang bulat, jangan ragu dan bimbang, ataupun dipengaruhi kelemahan jiwa.  Sementara daun pisang yang menjadi lambaran dasar menunjukkan, kita harus punya landasan atau dasar atau fondasi ketika melaksanakan apapun.  Dasar atau fondasi itu adalah ketulusan dan tujuan yang baik.


Bunga tiga warna (kembang telon) adalah simbol sembah bakti kita kepada Sang Purwa, Madya dan Wasana, tiga manifestasi dari Hyang Ya Hu, yang bisa disebut juga dengan tiga batara: Batara Siwa, Batara Brahma dan Batara Wisnu.  Buah, yang hidup dari tanah dan air, adalah simbol sembah bakti kita kepada para pangreh gaib, berbagai kekuatan alam, para danyang smarabumi.  Leluhur Jawa mengajarkan hidup selaras atau harmoni, dan itu harus dijalin tidak lewat kata-kata, tetapi harus melalui tindakan nyata.  Sesaji adalah salah satu bentuk tindakan nyata tersebut.  Lalu, salah satu buah, yang ditaruh di posisi tengah, adalah buah yang masih bertangkai, menghadap ke atas, melambahkan spirit yang kuat dan teguh.  Buah yang disajikan berjumlah 5 simbol dari sedulur papat kalima pancer.  Lalu, sesaji lain adalah makanan (saat itu yang kami bawa adalah roti, bisa diganti dan lebih baik lagi jika berbentuk singkong atau ubi).  Itu adalah simbol sembah bakti kita kepada para leluhur yang dulu pernah hidup di muka bumi, dan hidup itu juga berkat makanan.  Lalu, di nampan sesaji juga diletakkan uang, tersembunyi di balik rimbunan sesaji yang lain.  Itu adalah simbol rasa syukur kita kepada Gusti Ingkang Murbeng Gesang.  Dan juga melambangkan uang yang ditemukannya gampang-gampang susah: susah bagi yang tak mengerti rahasianya, gambang bagi yang mengerti rahasianya.  Selain uang kertas, disisipkan juga uang receh, simbol dari tambal, penutup jika ada kekurangan atau kebocoran.


Sesaji disiapkan dengan hati-hati, pertanda bahwa sikap hidup orang Jawa memang mesti titi, ati-ati, ora kesusu.  Lalu, kami mempersiapkan dupa tiga warna dan air putih.  Dupa yang semula panjangnya tidak sama disamakan dulu, itu pertanda hidup harus punya pijakan yang tepat supaya tidak timpang.


Setelah sesaji beres, kami memulai prosesi menghaturkan sesaji tersebut dan manembah kepada Gusti.  Mas Dipastraya yang memimpin prosesi tersebut dengan mantram-mantram tertentu yang sejujurnya saya sendiri belum hafal.  Sikap awal adalah duduk dengan tenang, sesuai dengan apa yang pas dengan diri kita sendiri.  Bisa posisi sila, padmasana, apapun.  Setelah merasa tenang, kami melakukan pensucian diri secara simbolik lalu pranayama (manajemen nafas): menarik, menahan dan mengeluarkan nafas dalam jeda yang agak panjang.  Pranayama adalah upaya untuk menghimpun energi agar kami bisa terhubung dengan semesta yang melingkupi kami dan terhubung dengan diri sejati.


Lalu, mengalirlah prosesi tersebut.....kami menyatakan keberserahan diri dan sembah kepada Gusti Ingkang Mahasuci, menghaturkan permohonan ampunan atas segala kesalahan yang disengaja maupun tak disengaja, dan memohon anugerah berupa kehidupan yang ayem, tentrem, raharja.  Salah satu mantra yang dibaca adalah Mantra Gayatri dalam bahasa Sanskerta: OM BHUUR BHUVAH SVAH TAT SAVITUR VARENYAM BHARGO DEVASYA DHIIMAHI DHIYO YO NAH PRACODAYAAT.  Ada versi bahasa Jawa dari doa ini,  dan ini adalah doa agar Gusti memberikan cahayanya untuk menerangi jiwa raga kita, dan membuat pikiran kita, penglihatan kita, penciuman kita, pendengaran kita, perasaan kita, dan tindakan kita, selaras dengan Kehendak dan Titah-Nya.

Selanjutnya, adalah mantra-mantra untuk menunjukkan sembah bakti kepada para batara yang bertahta di 8 penjuru mata angin, para danyang smarabumi, para leluhur, kakang kawah adi ari, dan seterusnya.  Demikianlah, saya merasakan sensasi sebuah ritual yang demikian mendalam dan penuh kesungguhan.  

Tuntas itu, baru kami  ke telaga untuk mandi di gerojogan dan kungkum.  Sebelumnya, kami kembali menghaturkan sesaji tepat di lokasi mata air.  Kami hening sesaat, mohon pangestu, lalu baru nyemplung.  Hawa dan air saat itu sangat dingin.  Karena itu, benarlah, untuk bisa melakukan tirtayatra di situ butuh kebulatan tekad.  Dengan tekad bulat, saya nyemplung, merasakan sensasi digerojogi pancuran besar tepat di atas kepala, lalu kungkum.    Dingin memang terasa, tetapi dengan coba menyelaraskan diri kita dengan semesta sekitar, badan kita bisa menyesuaikan diri.

Plasssssssssss....setelah itu, rasa yang ada adalah damai dan ringan.  

Setelah kungkum, kami kembali bermeditasi, kali ini di atas batu di tepian telaga.  Di bawah langit yang berhias sejuta bintang, yang kerlap kerlipnya memantul di telaga dan jernih, kami masuk dalam keheningan dan kedamaian.

Proses tirtayatra di Telaga Madirda kami akhiri dengan ritual pamitan dan menghaturkan terima kasih telah berkesempatan menikmati pesona spiritual di situ, dan sowan ke rumah sang kuncen, pak Cipto.

Tepat jam 01.45 malam, kami meninggalkan Telaga Madirda menuju Solo.  Dengan sebuah rahsa ingin kembali.......

Rahayu..rahayu..rahayu sagung dumadi.



Tidak ada komentar: