Selasa, 14 Agustus 2012

PERJALANAN MENEMUKAN TIRTA PERWITASARI VIII




Pelajaran dari Eyang Singoprono
Pertengan Juli 2012, saya berkesempatan melakukan tirtayatra ke makam Eyang Singoprono di Gunung Tugel Simo Boyolali, bersama Mas Dipa dan Mas Marjoko.  Eyang Singprono adalah cicit Prabu Brawijaya V dari jalur Raden Jakadandung.  Beliau hidup semasa dengan Kanjeng Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja Mataram ke-3.  Kunjungan ke makam ini perlu saya ungkap, karena ada beberapa pelajaran penting bagi kita semua.  

Secara visual, petilasan Eyang Singoprono cukup enak dipandang karena keindahannya.  Masuk ke komplek makam ini, kita terlebih dahulu harus meniti anak-anak tangga yang menanjak.  Jumlah anak tangganya, ternyata berbeda-beda untuk setiap yang menghitung..karena kadang yang menghitung kurang akurat.  Saya pribadi menghitung 415 anak tangga, sementara Mas Joko 417 anak tangga, sementara angka akuratnya adalah 418 anak tangga. Ini mirip dengan kalau kita meniti anak tangga di Pemakaman Imogiri.

Makam Eyang Singoprono yang berada di puncak Gunung Tugel, dinaungi pohon besar dengan dedaunan rimbun, menunjukkan usia pohon yang cukup tua.  Di dekat makam, terdapat area berpasir putih yang dilarang untuk diinjak, karena merupakan bagian yang disucikan.  Area berpasir putih tersebut menyimbolkan bagian atas atau kepala dari makam.  Tentu saja, tidak sopan jika kita menginjak-injak bagian tersebut.  Sama saja, jika kita berkunjung kepada orang tua atau yang lebih dihormati, tidak sopan jika kita mengambil posisi duduk yang lebih tinggi.  Makamnya sendiri, dihiasi bebatuan hitam.  Di depan makam, terdapat tempat untuk menyimpan dupa.

Saat itu, kami melakukan prosesi manembah kepada Gusti dan penghaturan sembah pangabekti di depan makam, setelah terlebih dahulu menunggu seorang peziarah lain tuntas dengan doanya.  Mula-mula sesaji berupa kembang telon dan pisang raja disiapkan di atas nampan kecil dari bambu.  Setelah siap, baru prosesi dimulai, dengan mantra-mantra pembuka yang disampaikan Mas Dipastraya.  Mantra-mantra tersebut pada intinya menghaturkan pemujaan kepada Hyang Widhi, dan menghaturkan penghormatan kepada para sinarnya Hyang Widhi yang dalam khazanah Jawa kuno dikenal dengan istilah Sang Hyang Purwa, Sang Hyang Madya dan Sang Hyang Wasana, kepada Bapak Angkasa dan Ibu Pertiwi serta sedulur papat kalima pancer, kepada para leluhur, dan kepada padanyangan, para penguasa kekuatan jagad, khususnya yang jumeneng di Gunung Tugel.  Kepada beliau-beliau disampaikan penghaturan sesaji dan permohonan maaf jika ada kekurangan, juga maksud dan tujuan kehadiran ke tempat tersebut.  Setelah mantra pembuka, Mas Dipastraya mempersilakan kami untuk melakukan meditasi masing-masing dan menepuk tanah tiga kali.

Saat kami melakukan proses demikian dan bermeditasi, angin mendadak terdengar menderu-deru.  Pohon-pohon besar yang ada di situ berderak-derak diterpa angin besar.  Fenomena semesta seperti ini, adalah pertanda sambutan dari sang leluhur.  Beliau yang tak beraga daging dan tulang, menggunakan unsur alam berupa bayu/angin untuk menunjukkan keberadaannya.

Mengkaji kisah hidup Eyang Singoprono, ada hal yang patut menjadi inspirasi bagi kehidupan kita di masa kini.  Salah satunya adalah soal kesungguhan, profesionalitas, dan sika[murah hati.  Terkenal cerita bahwa beliau membuat kebun sayuran di sebelah Timur Dusun Walen, Simo, Kabupaten Boyolali, yang dipagari sangat rapi, sehingga tidak ada orang maupun hewan yang bisa masuk dan merusak tanaman di dalamnya.  Maksudnya, adalah agar tanaman-tanaman di situ bisa tumbuh sampai masa panennya.  Tapi, begitu sudah siap panen, pagar akan dibuka, dan siapapun baik manusia ataupun hewan, boleh mengambil dan menikmatinya.

Ditarik ke laku spiritual, sikap Eyang Singoprono tersebut, bisa menjadi inspirasi, agar proses menggembleng diri, harus dilakukan penuh kesungguhan dan cara yang tepat, hingga mencapai kesempurnaan, dan dengan begitu, ada buah yang bisa dipetik, baik oleh diri kita, maupun oleh orang lain.  Seseorang yang menjalani laku prihatin dan penggemblengan bathin sampai tataran nimpuno, akan memberikan buah manis bagi kehidupan pribadi dan sesama.  Sebaliknya, jika cuma menjalankan laku prihatin dan penggemblengan diri secara setengah-setengah, apalagi keliru jalannya, hasilnya tidak akan manis, baik buat pribadi maupun orang lain.

Mengenai hal ini, saya sendiri punya pengalaman, bersentuhan dengan orang-orang yang menjalankan laku spiritual tapi tidak tuntas, bahkan dikotori dengan pikiran buruk. Orang yang demikian, kadang malah jadi penipu spiritual: bertopengkan spiritualitas, tapi pekerjaannya menipu dan merugikan orang lain.  Di beberapa petilasan atau pepunden, kadang tinggal orang-orang seperti ini.  Mereka mencari mangsa orang-orang yang sedang bingung karena mengalami masalah kehidupan yang berat, menawarkan formula ajaib, tapi ujung-ujungnya, uang dikeruk, masalah tak pernah selesai.  Karena itulah, penting bagi kita, untuk “membersihkan” pepunden dan petilasan leluhur dari praktek-praktek buruk seperti ini.  Karena itu, jelas mengotori nama baik para leluhur, sekaligus memberi pencitraan buruk pada ajaran Jawa.  Di makam Eyang Singoprono dulu juga ada orang-orang seperti itu, sebelum mereka disadarkan oleh guru saya, atau terpaksa harus pergi meninggalkan makam jika tak mau sadar.

Pelajaran dari Sendang Semangling
 
Pada hari Sabtu menjelang akhir Juli 2012, saya dan Mas Bayu Budi, kembali berkesempatan untuk melakukan tirtayatra bersama Mas Dipastraya, kali ini ke Sendang Semangling.  Sendang Semangling berada di Desa Poncoruso Bawen Kabupaten Semarang..  Menuju ke tempat itu, kita bisa masuk dari Desa Semban, dekat Pom Bensin Merak Mati Bawen Kabupaten Semarang.  Tapi, walau saya pernah ke sana dua kali, dan ada petunjuk rute, tetap saja saya dan Mas Bayu Budi kesasar lebih dahulu.  He, he, tampaknya kecerdasan spasial saya di bawah standar, kurang berbakat jadi supir taksi.  Tapi, setelah berjuang keras, melewati jalur berbatu yang sempit – karena memilih jalur yang salah, akhirnya kami sampai juga ke Sendang Semangling.  Pas bertepatan dengan datangnya Mas Dipa yang saat itu bersama sang istri.

Setiba di sana, kami menjalankan proses manembah kepada Gusti dan manekung.  Setelah menyiapkan sesaji berupa kembang telon dan pisang raja, serta menyalakan dupa, Mas Dipa mengucapkan mantra-mantra berbahasa Sanskerta, berupa penghaturan sembah bakti kepada Gusti, para dewa, leluhur, dan padanyangan. Dilanjutkan doa permohonan ampun dan permintaan anugerah. Setelah itu, kami semua masing-masing melakukan semedi atau manekung.  Mengheningkan pikiran, berfokus pada rasa.

Sendang Semangling merupakan salah satu sendang penting dalam proses pendadaran seorang satria pinandhita.  Di sini bersemayam Begawan Mayangkara atau Hanoman, tokoh dalam cerita Ramayana, sang pembantu Prabu Rama.  Kedatangan berulang kali ke Sendang Semangling, berguna sebagai bagian dari proses untuk membersihkan jiwa akar kotorannya hilang, dan bisa berkilau.  Seperti kita tahu, untuk memiliki jiwa yang berkilau, dan termanifestasi dalam kesadaran tinggi dan perilaku mulia, kita memang membutuhkan proses yang panjang.  Pada manusia kebanyakan, kita tersekat dari rahsa sejati kita, atau sukma sejati kita, karena adanya endapan pikiran yang kotor dan perilaku yang keliru.  Untuk mengikisnya, tentu tak bisa sekali laku prihatin, tapi harus melalui laku prihatin terus menerus dan berkesinambungan.

Pesona Candi Cetho


Akhir Juli 2012, saya juga berkesempatan ke Candi Cetho.  Sudah lama saya ingin ke candi ini, setelah pada 2010 saya ke Candi Sukuh.  Saya ke Candi Cetho bersama Pak Puja, menggunakan sepeda motor dari Desa Munggur.  Sebelumnya, kami ke Telaga Madirda dulu, untuk membersihkan diri.  Di Telaga Madirda, kami manembah dan manekung terlebih dahulu di pepunden di mana Dewi Anjani, sang ibunda Hanoman, bersemayam.  Lalu, kami mandi di pancuran dan kungkum di telaga tersebut.  Setelah merasakan kesegaran di situ, dan jiwa terasa tenteram, kami lanjutkan perjalanan ke Candi Cetho.

Candi Cetho berada di dataran tinggi, di kaki Gunung Lawu.  Situs Wikipedia menyebutkan sebagai berikut: Candi Cetho (ejaan bahasa Jawa: cethÃ¥) merupakan sebuah candi bercorak agama Hindu peninggalan masa akhir pemerintahan Majapahit (abad ke-15). Laporan ilmiah pertama mengenainya dibuat oleh Van de Vlies pada 1842. A.J. Bernet Kempers juga melakukan penelitian mengenainya. Ekskavasi (penggalian) untuk kepentingan rekonstruksi dilakukan pertama kali pada tahun 1928 oleh Dinas Purbakala Hindia Belanda. Berdasarkan keadaannya ketika reruntuhannya mulai diteliti, candi ini memiliki usia yang tidak jauh dengan Candi Sukuh. Lokasi candi berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, pada ketinggian 1400m di atas permukaan laut.

Kami tiba di Candi Cetho ketika hari sudah memasuki senja.  Setelah melewati jalan berkelak kelok yang menanjak, dan kadang sangat curam, kami sampai ke pintu gerbang candi.  Setelah menarik nafas sekejap, kami mulai melaksanakan prosesi manembah dan manekung di situ.  Pada setiap pepunden yang ada di situ, kami duduk bersila, membaca mantra penghaturan sembah pangabekti kepada Hyang Widhi, para dewa dan dewi, betara dan betari, para leluhur, dan padanyangan, juga kepada Bapa Angkoso, Ibu Pertiwi dan sedulur papat kalima pancer.  

Di candi tersebut, pepunden atau tempat manembah dan manekung, ada mulai dari di bagian bawah candi, hingga di bagian atas.  Di bagian atas, terdapat patung Eyang Sabdo Palon dan Eyang Noyo Genggong, lalu Eyang Brawijaya V. Di puncak, terdapat batu persegi.  Sayang, saat itu pepunden paling puncak terkunci sehingga kami tak bisa masuk.  Maka, kamipun manembah dan manekung di bagian luar.
 
Semedi di Candi Cetho sungguh mengasyikkan.  Berada di dalam bangunan candi yang indah, dengan lanskap semesta yang mempesona, dan udara dingin yang menyelimuti raga, membuat kita mudah tenggelam dalam hening yang membius. 

Oh ya, mengenai sejarah Candi Cetho, ada informasi yang bisa saya tambahkan.  Keberadaan candi ini sempat membingungkan para peneliti.  Karena di satu sisi, ada prasasti yang menunjukkan tahun pendirian adalah 1475 M, pada masa Majapahit, tetapi bahan bangunan candi adalah batu andesit hitam, bukan batu bata yang menjadi ciri khas candi di era Majapahit.  Jika disebut candi yang lebih tua daripada era Majapahit, kita dibenturkan pada fakta keberadaan patung Eyang Brawijaya V yang memang memerintah pada saat candi didirikan (1475 M), juga keberadaan patung Eyang Sabdopalon dan Eyang Noyogenggong, pengiring setia sang prabu.  

Misteri ini baru terkuak saat saya mendapatkan penjelasan dari Mas Dipa, yang mendapatkan informasi dari lontar kuno, dan dari proses tutur pitara (dialog dengan leluhur yang terkait dengan Candi Cetho).  Candi Cetho memang candi yang dibuat pada masa Majapahit, tetapi bukan oleh arsitek asli Majapahit, melainkan arsitek dari salah satu suku di Indian.  Sang arsitek membangun Candi Cetho mirip dengan candi-candi yang ada pada suku Inca, sebagai penghormatan atas keberadaan imperium Majapahit yang pengaruhnya hingga ke Amerika Selatan.  Pengaruh ini dibuktikan oleh terpeliharanya tradisi membaca mantra-mantra berbahasa Jawa purwa oleh para petinggi spiritual pada suku Inca kontemporer hingga pada saat ini.  Ya, manusia Jawa ternyata memiliki ikatan spiritual dengan suku Inca!

Merenungkan kebesaran Majapahit di masa silam, yang berarti kebesaran Nusantara, sungguh sedih jika melihat keadaan saat ini.  Jika dulu Majapahit tak tergerogoti dari dalam oleh pendatang dari tanah seberang, tampaknya Nusantara tak akan pernah terjajah.  Hanya, setelah peristiwa kudeta oleh sang anak kepada ayahnya atas motif keagamaan itu terjadi, dan Majapahit lalu luluh lantak, kekuatan besar negeri inipun ikut lenyap, dan tangan-tangan penjajah mencengkeram kuat.

Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantoro, dan banyak tokoh lainnya, yang bisa menggali sumber persatuan bangsa, berupa spirit Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangruwa, penjajahan Belanda bisa disingkirkan.  Sayang sekali, saat ini, kita belum sepenuhnya merdeka...hegemoni budaya asing masing menghunjam kuat.  Terlebih saat ini...di beberapa tempat dan pada beberapa komunitas, kita seperti bukan Nusantara lagi, tapi lebih mirip seperti serambinya negeri padang pasir.

Kita tentu tak bisa memutar waktu.  Kita juga harus mengakui, leluhur di masa lalu pasti berbuat keliru, minimal tidak eling lan waspada, sehingga menyebabkan kita jatuh terperosok.  Salah satunya adalah dengan membuat kebijakan memberi lahan khusus di pesisir utara Jawa bagi para saudagar dan penyebar agama Timur Tengah.  Itu malah menjadi awal bencana, karena sang tamu malah “memakan” tuan rumah.  Tugas kita saat inilah untuk memperbaiki itu semua, sebagai bentuk bakti kita pada leluhur.  Kita punya tanggung jawab sejarah untuk membangkitkan kejayaan Nusantara, diawali dengan mendidik diri kita masing-masing agar benar-benar menjadi manusia nimpuno, dan dengan itu, bisa memberi karya terbaik bagi Ibu Pertiwi.

Tentang Sugih Ngelmu, Bondo lan Kuwoso
Dalam tulisan terdahulu, saya berungkali perlunya kita mendadar diri agar bisa sugih ngelmu, sugih bondo, lan sugih kuwoso, agar punya daya untuk mengabdi pada Ibu Pertiwi.  Dalam tulisan kali ini, perlulah saya jelaskan, khususnya menyangkut istilah sugih bondo lan sugih kuwoso, agar tidak terjadi kesalahpahaman, seolah saya menganjurkan agar para spiritualis menjadi manusia materialistis dan haus kekuasaan.

Menyangkut sugih bondo, mengapa ia perlu menjadi titik tekan?  Sederhana jawabannya: saat ini, negeri perlu dibangun, tak hanya oleh aktor pemerintah, tapi juga oleh masyarakat, agar semakin banyak orang bisa mengecap kesejahteraan. Dalam membangun negeri ini, tentu saja, kita tak bisa hanya bermodalkan ilmu, tapi juga harus memiliki kekuatan finansial, sebagai modal pembangunan.  Contoh kasus, ketika kita masuk ke desa tertinggal dengan banyak warga miskin, apakah cukup jika kita di situ hanya datang untuk memberikan nasihat? Tentu tidak!  Kita harus hadir dengan strategi pemberdayaan yang canggih, plus keberadaan dana untuk menunjang aksi kita, baik untuk menolong saat mereka punya kebutuhan mendesak, maupun untuk memberdayakan mereka agar mereka mandiri.

Dalam pengalaman saya sebagai aktivis NGO, saya tahu persis, banyak agenda pemberdayaan di negeri ini didanai oleh pihak donatur luar negeri.  Setelah saya merenungkan pola ini, saya menemukan bahwa itu kurang ideal.  Akan lebih baik jika kita membangun negeri ini, dengan kekuatan dana kita sendiri, bukan memintap-minta kepada pihak asing. 

Nah, proses penggemblengan diri agar sugih bondo, diarahkan untuk menjadikan diri kita sugih ning ora semugih (ora rumongso nduweni, atau dalam bahasa lain, sugih ning ora numpuk bondo).  Kita perlu sugih, perlu punya kekayaan, agar hidup sejahtera.  Tapi, itu bukan untuk kepuasan diri semata, dengan menumpuk harta benda termasuk yang tidak perlu, tapi sebaliknya, agar kita bisa memberi kesejahteraan pada keluarga dan orang-orang dekat kita, serta bisa menolong sesama.

Dan perilaku sugih ning ora semugih, dengan nyata bisa saya lihat diteladankan oleh guru saya.  Dengan harta yang berlimpah, guru saya tidak terikat dengan hartanya, tidak pelit, dan bisa menolong banyak orang.
 
Untuk mencapai tataran sugih bondo tersebut, tentu saja, bukan melalui persekutuan dengan entitas metafisik/energi negatif – yang dikenal dengan istilah pesugihan.  Tapi, justru melalui kewirausahaan, melalui pengembangan bisnis, yang selaras dengan jalan dharma, ditunjang dengan upaya pembangkitan kekuatan di dalam diri, sehingga diri kita malah “dikejar rejeki”.  Seperti dipaparkan secara saintifik oleh Rhonda Byrne dalam The Secret, sesungguhnya kita bisa membangun energi diri yang berfungsi sebagai penarik anugerah termasuk berupa rejeki berlimpah.  Dan ngelmu Jowo yang setara atau lebih powerfull ketimbang teori The Secret jelas melimpah..dan itu tak ada kaitannya dengan energi negatif!

Demikian juga, konsep sugih kuwoso bukan berarti menganjurkan agar kita haus kekuasaan, dan menghalalkan semua cara untuk meraihnya.  Konsep ini sebetulnya mengarahkan kita untuk menumbuhkan jiwa ksatria, jiwa kepemimpinan. Melalui pendadaran jiwa yang panjang, pada akhirnya, kita akan memiliki kualitas menjadi seorang pemimpin. Karena pemimpin yang sejati dan layak diikuti hanyalah yang berjiwa pandhita: dia telah bertemu dengan diri sejatina dan harmoni dengan semesta.  Saat seseorang telah mencapai tataran satria pinandhita yang sejati, secara alami dia akan jadi pemimpin.  Dan melalui kuwoso atau jabatan sebagai pemimpin, kita bisa mengabdi pada Ibu Pertiwi, mengayomi dan melayani masyarakat banyak.
 
Saya mendapatkan contoh nyata, guru saya, justru sering bersikap melayani, tak hanya mengayomi.   Keadaan yang powerfull, bukan alasan untuk bersikap tirani dan lalim, tapi justru menjadi faktor pendukung untuk memberi manfaat pada sesama lewat perilaku welas asih.  

Dalam kondisi negara saat ini yang telah rusak-rusakan, dibutuhkan kehadiran semakin banyak satrio pinandhita untuk menjadi negarawan, agar jabatan di negeri ini, benar-benar menjadi anugerah bagi rakyat.  Dan untuk bisa meraih jabatan di negeri ini, seorang satria pinandhita tidak melakukan kampanye murahan dan pencitraan kosong, tapi melalui aksi nyata yang memberdayakan rakyat, dan dengan itu, secara alami rakyat menerima kepemimpinannya.  Dan begitu jabatan dipegang, karya yang lebih besar dan berdampak luas, bisa dilaksanakan.

Demikian yang bisa saya sampaikan saat ini, sampai jumpa dalam tulisan berikutnya...Rahayu sagung dumadi.

0 komentar: