Rabu, 11 Agustus 2010

MOMEN TITIK BALIK (1)

Kisah Awal
Cirebon, suatu pagi di bulan April 2008. Ketika itu, fajar mulai menyingsing. Langit yang semula gelap pekat, mulai menyemburatkan segaris terang. Kulangkahkan kakiku, mengikuti dorongan hatiku yang paling dalam. Ya, dari kedalaman hati, memang mengalun lembut bisikan untuk mengambil sebuah keputusan berat: “Sudah saatnya aku mengembalikan semua yang selama ini kurasa sebagai milikku, kepada Sang Pemilik sejati!” Setelah bertahun-tahun aku merasakan hidup yang demikian menghimpit, memang telah tiba saatnya mengakhiri semua itu.

Tanpa pernah kubayangkan, ternyata kehidupan yang menghimpit itu justru berakar di rumah..terkait dengan belahan jiwaku sendiri. Kepahitan, derita, serta beragam kesulitan yang pada tingkatan terdalamnya sempat mengantarku pada jurang keputusasaan, tragisnya, memang berhubungan dengan kian memburuknya rumah tanggaku. Rumahku telah menjadi penjara bahkan neraka bagiku! Dan sejujurnya...aku ingin segera meluluhlantakkannya! Aku ingin keluar dari segenap penderitaan yang sesungguhnya konyol ini....pada faktanya, aku memang sudah tak tahan lagi!

Tapi, selama ini...aku memang sangat khawatir kepada nasib anak-anaku jika bahtera yang selama ini menjadi wahana bagi anak-anakku dalam melewati samudera kehidupan harus karam. Seburuk apapun rumah tanggaku, ia masih bisa menjadi tempat bernaung bagi anak-anakku...tempat mereka masih bisa menikmati sejumput kasih sayang. Aku tak bisa bayangkan....jika anak-anakku mesti kehilangan ayahnya, atau ibunya, semata-mata karena ketidaksabaranku.

Pagi itu...ada kemantapan dari kedalaman hatiku untuk memulai sebuah perubahan. Kulangkahkan kakiku ke luar rumah. Sejuknya udara pagi hari, menemani awal perjalananku untuk menemukan pintu gerbang kebahagiaan. Kudengar bisikan dari dalam hatiku...bahwa aku mesti mulai mencarinya di tanah kelahiranku: Magelang! Maka...setelah berpamitan kepada orang tua dan mertuaku di Bekasi, memang ke sanalah akhirnya aku bawa diriku. Meninggalkan istri dan anak-anakku di rumah. Saat itu, sembari melangkahkan kakiku menjauhi rumah, dalam relung jiwaku kuucapkan dengan penuh kesungguhan serangkaian suara hati: “Wahai Tuhanku...kini kukembalikan semua yang sempat Engkau titipkan kepadaku. Kupasrahkan istri dan anak-anakku kepada-Mu. Engkaulah Sang Pemilik Sejati. Engkaulah Dzat Pemberi Kehidupan. Tanpa keberadaanku, jika Engkau kehendaki istri dan anak-anakku hidup, mereka pastilah bisa hidup. Aku benar-benar pasrah. Ijinkan aku untuk berkelana, menemukan sesuatu yang selama ini sungguh-sungguh kurindukan.”

Petunjuk Awal
Entah mengapa, orang yang pertama terlintas di benakku untuk aku kunjungi adalah Pak Dhe-ku di Muntilan, yang berjarak 13 km dari Kota Magelang. Ia seorang dalang di Keraton Yogyakarta, yang dikenal dengan julukan Romo Siwi. Mungkin karena memang Pak Dhe-ku itu yang aku duga paling tahu silsilah keluarga, dan pada saat yang sama, aku tiba-tiba didera kerinduan untuk mengetahui siapa sesungguhnya leluhurku.

Di rumah Pak Dhe-ku itu, pertama, kutemukan silsilah keluargaku. Kedua, aku memperoleh kisah tentang keyakinan yang dipilih Kakek dan Nenekku dari pihak ayah. Beliau berdua, sebagaimana Pak Dhe-ku itu, adalah penghayat ajaran Adam Ma’rifat, yang kemudian pada masa pemerintahan Gus Dur berubah nama menjadi Agama Pransuh.

Kebetulan, saat itu, sedang ada asisten Pak Dhe-ku dalam memproduksi wayang kulit. Ia biasa disebut Romo Pujiyono, dan tercatat sebagai salah satu pengurus di Balai Suci Agama Pransuh di Muntilan. Maka, untuk memenuhi rasa ingin tahuku tentang agama yang dipeluk oleh Kakek dan Nenekku, aku mohon ijin agar bisa bermukim di Balai Suci Pransuh barang satu dua malam, sembari berdiskusi dengan Romo Pujiyono. Yang pasti, penampilan bersahaja Romo Pujiyono sendiri sangat mengesankan untukku. Terlebih, akupun kemudian tahu bahwa sehari-hari ia memilih vegetarian sekaligus membiasakan “puasa mutih”, dengan hanya menyantap makanan yang tak berasa, baik rasa asin maupun manis.

Maka, begitu sore menjelang, aku mengikuti Romo Pujiyono ke Balai Suci Pransuh, yang jaraknya sekitar 3 km dari rumah Pak Dhe-ku. Malam itu kulewati dengan diskusi yang hangat plus perenungan panjang. Dari diskusi dengan Romo Pujiyono, kudapatkan wawasan baru tentang sebuah agama lokal, yang dirintis oleh Romo Pransuh. Sejauh kurujukkan dengan berbagai pengetahuan yang kumiliki, maka ajaran Agama Pransuh itu merupakan sintesis dari tradisi Kejawen, Sufisme, dan Hindu-Budha. Sekalipun tentu saja, dari sudut pandang yang lain, bisa dinyatakan bahwa Agama Pransuh adalah sebuah agama yang independen dan genuine.

Agama Pransuh, menurut penuturan Romo Pujiyono juga Pak Dhe-ku, adalah buah perjalanan ruhani Romo Pransuh, yang saat itu merupakan bagian dari keluarga istana, dan merasa prihatin karena kalangan istana tampaknya “terjajah” oleh rasa takut kepada oleh makhluk-makhluk ghaib. Dikisahkan bahwa Romo Pransuh mencoba menguak hakikat keghaiban yang seolah memenjara pikiran kalangan Istana, dengan pertama-tama mendatangi Pantai Laut Selatan. Tapi di sana ia tak mendapatkan apa yang dicari. Iapun teruskan mengelana ke Gunung Merapi. Di sanalah ia bertemu dengan sosok yang ia persepsi sebagai Idajil, sosok raja kegelapan. Pertempuran terjadi, yang diakhiri dengan kemenangan Romo Pransuh. Peristiwa ini menjadi titik balik perjalanannya sebagai seorang perintis jalan spiritual made in Jawa: sejak saat itu ia sering menerima “wahyu” yang kemudian diformulasikan menjadi ajaran Adam Ma’rifat (Pransuh).

Setiap penganut Agama Pransuh didorong untuk bisa bertemu dengan sukma sejatinya – dan inilah yang disebut dengan peristiwa ma’rifat. Dalam hal mencapai ma’rifat inilah, berbagai laku prihatin harus dijalankan secara konsisten dan terus menerus. Laku prihatin itu mencakup mengurangi makan,minum, dan berbagai kenikmatan badani lainnya. Juga meliputi praktek berbuat baik kepada sesama makhluk. Selain itu, Agama Pransuh memiliki ritual seperti wudhu dan shalatnya kaum Muslimin, yang biasa dilaksanakan di dalam Balai Suci.

Ada satu hal yang sangat kuhargai, bahwa Romo Pujiyono tidak mengklaim sebagai pemilik tunggal kebenaran. Ia memilih jalan Pransuh karena memang demikianlah panggilan jiwanya, karena itulah yang ditunjukkan akal budi dan nuraninya. Tapi pada saat yang sama, dia menghormati mereka yang memilih jalan lain. Tak ada klaim bahwa surga adalah semata-mata milik pemeluk Pransuh.

Semalam kuhabiskan waktu di Balai Suci Pransuh. Hati nuraniku membisikkan bahwa aku harus terus berjalan. Sekalipun Kakek dan Nenekku penganut Pransuh, aku merasa bahwa aku tak mesti mengikuti beliau-beliau itu secara lahiriah. Aku merasa tak perlu berganti baju agama. Dan memang bukan itu jawaban yang aku cari.

Maka kulanjutkan perjalanan. Berdasarkan penjelasan mengenai silsilah keluarga, aku mulai merancang agenda napak tilas, dengan mengunjungi makam-makam leluhurku: Magelang, di mana di situ dimakamkan Kakek, Nenek dan Buyutku, lalu Prapag – salah satu desa di Temanggung, di mana juga dimakamkan beberapa leluhurku, dan tak lupa, Kota Gede, di mana disitu dimakamkan Sultan Hamengkubuwono II, Panembahan Senapati, dan berbagai leluhur lainnya. Sementara berdasarkan petunjuk dari Romo Pujiyono, akupun mencatat salah satu tempat ziarah yang harus kukunjungi: Makam Ki Kebo Kanigoro di Selo, Boyolali.

2 komentar:

wahyu handoro mengatakan...

Maaf, apa yang di maksud romo siwi itu eyang Soekarjo Mangunwijoyo? rumahnya di jl. Sleko Kec. Muntilan.

Setyo Hajar Dewantoro mengatakan...

Inggih leres Mas Wahyu Handoro...baru 2 minggu yang lalu saya sowan ke Sleko lagi....