Selasa, 19 Juni 2012

PERJALANAN MENEMUKAN TIRTA PERWITASARI (IV)



Hidup adalah momen pencarian terus menerus; sebuah dinamika yang tak berkesudahan.  Demikian yang saya rasakan: tak ada kata selesai.  Sebuah tangga pencapaian, tak pernah menjadi tangga terakhir.  Selalu ada tangga lain yang harus digapai.  Malah tak jarang, bukannya naik kita malah turun – bahkan jatuh terjerembab.   Bahkan, tampaknya perpisahan sukma dengan sang raga yang ditandai dengan pelepasan nafas terakhirpun tak akan pernah menjadi momen berhentinya dinamika itu.  Dalam kesadaran saya, tatkala sudah berpisah dengan ragapun, sang sukma masih harus terus berjalan, menuai semua buah dari apa yang ditanam di madyapada ini.  “Kematian” hanyalah momen perpindahan dimensi hidup; dan penanda kita memasuki sebuah siklus kehidupan yang baru.

Lalu, dengan latar demikian, apa tujuan hidup ini?  Di mana sesungguhnya letak kebahagiaan?  Dan sejatinya, adakah kebahagiaan yang kekal – yang mengandaikan dicapainya titik finish dalam marathon kehidupan?  Dan bagaimana kita bisa meraih kebahagiaan tersebut?

Pada tulisan kali ini, ijinkan saya berbagi renungan menyangkut soal-soal di atas.

SETITIK KESADARAN
Para leluhur Tanah Jawa mewariskan kepada kita konsepsi sangkan paraning dumadi, asal dan muara kehidupan:  Manungsa awitipun saking Gusti, wangsul dumateng Gusti.  Konsep ini memberi kita kesadaran akan akar kita di masa silam, dan visi di masa depan.  Menengok ke masa silam, ternyata yang kita jumpai adalah sebuah dinding misteri - kahanan kang tan kena kinira tan kena kinaya ngapa.   Membayangkan masa depan, kita juga akan membentur misteri yang sama: kahanan kang tan kena kinira tan kena kinaya ngapa.

Mengapa saya katakan kita membentur misteri?  Sibaklah masa lalu, bukalah tirai tentang SANG AKU di masa silam, maka menyeruaklah sebuah misteri tentang masa ketika SANG AKU itu belum ada dan belum bisa dinamai.   Apakah yang ada ketika Sang Aku yang bisa menamai itu belum ada?  Menjawab secara sederhana persoalan filosofis ini, kita bisa katakan bahwa akar keberadaan kita adalah KEKOSONGAN, sebagaimana berbagai unsur dan bagian dari jagad raya ini juga berakar pada KEKOSONGAN.   Ya, pada awalnya yang tiada apa-apa: KOSONG.  Tapi, KEKOSONGAN ini bukanlah KEKOSONGAN yang mati, melainkan KEKOSONGAN yang hidup, karena di sana ada benih kehidupan, yang pada masanya menjelma menjadi diri kita dan segenap unsur/bagian jagad raya.  Dari KEKOSONGAN, muncullah manusia, bulan, bintang, planet, yang jika digabungkan membentuk  galaksi demi galaksi, dan pada akhirnya, membentuk semesta yang tak berujung: jagad raya. 
  
Saat kita coba meneropong masa depan, muncul sebuah bayangan, bahwa ujung dari semuanya adalah KEKOSONGAN juga.  Semua yang sekarang dikatakan ada karena memiliki dimensi ruang dan waktu, terus mengalami perubahan, hingga mengurai dan menjadi tiada kembali: kembali ke KOSONG.  Maka, diri ini, muaranyapun adalah ketika bisa melebur kembali ke dalam KEKOSONGAN tersebut.

Berbicara tentang Tuhan, maka sejatinya kita bicara tentang sangkan lan paraning urip, yaitu KEKOSONGAN itu sendiri, sebuah keadaan dan keberadaan yang tak bisa didefinisikan, dikira-kira, dibayangkan, dikonsepsikan.  Maka, manunggal kawula kalawan Gusti adalah keadaan ketika manusia menjadi tiada karena melebur dengan asalnya, ibarat air dari pegunungan yang setelah melewati jalur-jalur sungai kembali ke samudera: tak lagi bisa dikenali karena telah menyatu dengan semesta air yang membentuk samudera.

Maka, tepatlah rumusan leluhur tentang misteri hidup itu, lewat mantra: HONG WILAHENG SEKARING BAWANA LANGGENG.  Bahwa pada asal segala sesuatunya adalah KEKOSONGAN – Hong – Suwung.  Lalu, seiring perjalanan waktu, dari yang Kosong atau suwung itu menjelmalah berbagai entitas berbungkus raga/materi – yang pada akhirnya, kesemuanya itu kembali pada Ketiadaan – Kosong – Suwung.  Dan, sejatinya, hanya esensi hidup dan esensi jagad raya, yang hanya bisa disifati dengan kata Kosong atau Suwung itulah, yang abadi.

Maka, bicara tentang kebahagiaan yang kekal, sejatinya bicara tentang kesanggupan kita untuk terus mengalir hingga menggapai sangkan paraning dumadi, asal sekaligus muara kehidupan.  Kebahagiaan yang kekal itu, hanya mungkin tatkala Sang Aku ini sudah melebur ke dalam KEKOSONGAN atau SUWUNG yang abadi itu sendiri.  Selama Sang Aku masih ada, dengan bungkusan raganya, entah raga kasar ataupun raga halus, maka selama itu pula ia masih akan terseret oleh pusaran kehidupan, yang menempatkannya kadang di atas, kadang di bawah; kadang dalam benderang siang, kadang diselimuti malam; kadang dalam bahagia, kadang dalam derita.

Leluhur Jawa memberi petuah, untuk bisa melebur dalam KEKOSONGAN ini, dan mendapat damai abadi, seseorang harus mempraktekkan ngelmu “ sugih ngelmu, banda lan kuwoso, nangging ora nduweni rasa duwe”: kita menggenggam dunia tanpa terpenjara olehnya.

TIRTAYATRA DI GUA CERME

Memahami kehidupan bisa menjadi pekerjaan tak berujung, karena hidup yang kita jalani demikian panjangnya, tak tahu di mana batasnya.  Begitu satu rahasia kehidupan bisa dipecahkan, maka rahasia kehidupan di lapis berikutnya langsung muncul dan menantang pikiran kita.  Karena itu, sungguh bijak jika kita bisa bersikap realistis, dengan memahami hidup tahap demi tahap, lalu mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan tahapan itu. 

Saat ini kita hidup di madyapada: maka langkah bijak bagi kita adalah membenahi kehidupan saat ini, agar bisa menggapai kehidupan terbaik, dan pada saatnya kita mengakhiri kehidupan di madyapada ini, kita juga bisa mendapatkan yang terbaik.

Terkait dengan hal ini, saya mendapat anugerah melakukan perjalanan spiritual atau tirtayatra ke Gua Ciremai: sebuah perjalanan menemukan Tirta Amerta/Tirta Kahuripan yang memberi pelajaran tentang bagaimana menjalani hidup.  Gua Ciremai atau Gua Cerme, terletak di Dusun Srunggo, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta.  Saya tirtayatra ke tempat ini, bersama Mas Dipa dan teman-teman satu perguruan.

Gua ini, dalam tradisi spiritual Jawa adalah tempat menjalankan laku methukke tirta (menjemput tirta sebagai sangune laku).  Kami ke tempat ini malam hari, memulai perjalanan dari pintu gua jam 22.00.  Sebelum mencapai pintu gua, mobil yang kami kendarai harus menyusuri jalan yang menanjak, dan punya beberapa kelokan tajam.  Di tepi kanan dan kiri, terlihat gerumbul pepohonan yang cukup lebat.  Diselimuti malam, gerumbul pepohonan itu memancarkan aura yang menyimpan misteri.  Di kawasan yang cukup tinggi, sudah mulai dekat dengan lokasi gua, kita bisa melihat Kota Jogja yang dipenuhi pendar lampu di seluruh sudutnya.  Jogja yang diselimuti malam, ditatap dari kejauhan, indah juga.......

Bagi yang mengendarai kendaraan roda dua atau roda empat, tersedia tempat parkir di lokasi Gua Ciremai.  Sekaligus, ada beberapa warung di situ, tempat men-charge energi fisik jika kita kelelahan. 

Untuk bisa masuk ke dalam gua, kita sebaiknya menghubungi beberapa juru kunci di situ yang bisa berperan sebagai pemandu, sembari menyewa senter, karena di dalam gua, tak ada bedanya antara siang dan malam, sama-sama gua.  Rombongan kami, malam itu, diiringi dua pemandu.

Dari tempat parkir, untuk sampai ke pintu gua, kami berjalan menyusuri jalan setapak, yang di sekelilingnya tumbuh pohon-pohon besar.  Dari balik pohon-pohon yang menjulang, bintang-bintang mengintip sembari berkerlap kerlip.  Di pintu gua, terdapat satu altar, tempat kita melaksanakan prosesi manembah, sebagai laku pembuka perjalanan untuk mendapatkan restu dari Gusti Pangeran Ingkang Murbeng Dumadi, para panguwasa kekiatan jagad dan para leluhur, khususnya yang jumeneng di Gua Ciremai.  Dalam prosesi ini kami menghaturkan sesaji berupa pisang raja tadah, kembang telon dan dupa wangi.  Apa yang kami lakukan ini adalah bagian dari mengikuti etika tirtayatra di pepunden-pepunden: sebuah pembeda dengan lakunya para wisatawan biasa.  Ini dilakukanagar tirtayatra memberi hasil dan dampak maksimal bagi kehidupan kita. 

Dalam prosesi ini, mantra pembuka disampaikan oleh Mas Dipa, selanjutnya Pak Puja yang merapalkan doa, dilanjutkan oleh meditasi masing-masing anggota rombongan.   Setelah tuntas, baru kami memulai perjalanan, memasuki mulut gua, menuruni tangga, dan mulai meniti lajur sungai di dalam gua.  Jalan yang bisa kita lalui memang lajur sungai bawah tanah di dalam gua tersebut.

Panjang Gua Ciremai, total mencapai 1,3 km.  Kami menempuhnya selama 4 jam: masuk jam 22.00, keluar dari pintu gua di ujung yang berbeda, jam 02.00.  Yang membuat waktu tempuh perjalanan selama itu, pertama, adalah medan berat yang harus ditempuh dengan hati-hati agar tidak celaka – karena kita harus menghindari batu tajam di dasar sungai, semacam palung sungai yang bisa menjerumuskan kita, juga beberapa batu karang yang menggantung mengancam kepala. Kedua, adalah prosesi ritual/manembah/upacara yang kami lakukan di beberapa pepunden yang ada di gua tersebut.  Prosesi ni pula yang menjadi pembeda antara perjalanan wisata.

Tujuan utama dari perjalanan ke  Gua Ciremai, adalah meraih Tirta Amerta/Tirta Kahuripan, yang berada di tengah gua.  Tirta Amerta/Tirta Kahuripan adalah simbol jiwa yang bening dan hidup.  Secara fisik, Tirta/Amerta ini adalah air bening yang keluar dari tuk/mata air di celah-celah gua: lalu menggenang di sebuah cekungan pada batu karang yang membulat.  Airnya sungguh segar: tatkala diminum memang menyegarkan raga yang lelah.  Secara filosofis, air ini mengingatkan kita pada prasyarat untuk mencapai kebahagiaan yang kekal: kita harus kembali pada kesucian dan kemurnian jiwa.  Dan secara mistis, air ini punya energi khusus yang membantu kita untuk menjadi lebih hening, murni, dan berdaya.

Sebelum kita membasuh raga dan jiwa dengan Tirta Amerta/Tirta Kahuripan ini dan memperoleh daya magisnya, kita harus melalui tiga patirtan lainnya, yang masing-masing memiliki arti tersendiri.  Pertama, adalah Tirta Panglukatan: sebuah mata air yang memiliki fungsi seperti Curug Panglebur Gongso, tempat kita mensucikan jiwa dan raga.  Patirtan kedua, adalah Tirta Suci, yang juga menjadi tempat kita mensucikan jiwa raga.  Bersuci di dua patirtan ini, membantu kita menyingkirkan segenap penyakit, derita, halangan, kesialan, dan berbagai hal negatif lainnya yang melekat pada diri kita.

Patirtan ketiga adalah Grojogan Sewu, yang mirip fungsinya dengan Telaga Madirda.  Di sinilah kita membersihkan jiwa raga secara total.  Untuk mereguk energi air di tempat ini, kita bisa mengguyur diri kita dengan air yang menggerojok dari atas, laksana air terjun mini  di dalam gua, dan kungkum di lekukan-lekukan agak dalam yang bisa membuat tubuh kita tertutup air.  Baru setelah kita membersihkan jiwa dan raga secara penuh, kita baru menggapai Tirta Amerta/Tirta Kahuripan.

Dalam kehidupan, untuk meraih mutiara dari samudera kehidupan berupa Tirta Perwitasari yang menjadi simbol pencapaian spiritual, kita memang harus bersedia menjalani proses pemurnian diri yang panjang, tahap demi tahap, yang harus dilakukan penuh kesungguhan.  Hanya dengan begitu pencerahan bisa diraih, dan kautamaan & kasampurnan urip bisa diraih.  Berjalan di Gua Cerme, membuat sadar, untuk meraih hal yang istimewa dalam hidup ini, kita memang harus siap rekoso, tidak bisa golek penake dewe. 

RENUNGAN TENTANG PENCAPAIAN-PENCAPAIAN DALAM HIDUP

Berbicara tentang ngelmu kebathinan atau ngelmu kasampurnan Jawa, seringkali kita terpaku pada hal-hal yang bersifat bathin/spiritual.  Ada kecenderungan kita mengabaikan pencapaian hal-hal yang bersifat kadonyan (keduniaan) berupa sandang, pangan, papan dan berbagai kebutuhan hidup lainnya, karena dianggap bisa menjadi penghalang.  Sehingga, ketika kita bicara seorang spiritualis Jawa, yang biasanya muncul dalam benak kita adalah gambaran sosok yang amat sangat bersahaja, hidup tanpa memiliki harta, laksana para rahim pengelana.  Dan laku bathin menuju kasunyatan seringkali diasumsikan tidak sejalan dan tidak berhubungan dengan membangun karier dan keberhasilan pada tata tataran finansial.

Pola seperti ini, dalam pengalaman saya, cenderung membawa kita terjebak pada labirin panjang dunia kebathinan yang tak berujung, yang kadang eksesnya adalah membuat kita tak bisa mengikuti derap dan dinamika kehidupan dunia.  Kita seperti hidup di dunia yang lain: antitesis dari manusia kebanyakan yang hidup dalam jeratan gemerlap dunia.  Sayangnya – ini renungan saya – dengan menjalani hidup semacam demikian, kita cuma berpindah dari satu sudut kegelapan ke sudut kegelapan yang lain.  Esensinya adalah sama: mereka yang materialistis disibukkan dengan egoisme menumpuk kekayaan, dan mereka yang ada di seberangnya – tenggelam dalam spiritualitas yang terpisah dari derap kehidupan– juga sibuk oleh egoisme dalam bentuk lain; memikirkan keselamatan diri sendiri, mengabaikan tugas hamemayu hayuning bawono dalam bentuk yang kongkrit: menolong mereka yang kesusahan, membebaskan mereka yang tengah mengalami perbudakan, dan semacamnya.  Spiritualis yang tenggelam dalam dunia keterasingannya itu, kadang tak peduli pada realita di depan mata yang membutuhkan sentuhan, kadang merasa cukup dengan berdoa dan berkata-kata tentang kebaikan. 

Dalam kesadaran saya, kita harus keluar dari jebakan jalan spiritual yang membuat kita terasing dari dunia.  Sebaliknya, kita perlu menempuh jalan spiritual yang membuat kita mampu menggenggam dunia, dan membawa kita pada keadaan sugih ngelmu, bondo dan kuwoso.  Menjadi spiritualis, tak berarti kita menjadi orang berkekurangan, tak punya harta.  Sebaliknya, menjadi spiritualis, seiring dengan peningkatan tataran keilmuan kita, selayaknyalah keadaan kita secara finansial juga mengalami peningkatan.  Dalam renungan saya, seiring dengan makin tingginya ilmu kita, maka tanggung jawab hamemayu hayuning bawono juga makin besar.  Makin banyak yang harus kita tolong, makin kompleks realitas sosial yang perlu kita transformasi.  Agar kita bisa melakukan itu, jelas kita butuh power atau daya: dalam bentuk kekuatan ide, kekuatan dana, dan kekuatan politik.  Nilai seorang spiritualis terletak pada berapa banyak orang yang bisa ditolong secara kongkrit, juga dari seberapa jauh ia bisa mentransformasi sebuah realitas sosial.

Para leluhur Nusantara yang menjadi teladan sebagai spiritualis tingkat tinggi, bukanlah sosok yang lemah dan papa.  Tapi mereka adalah manusia-manusia yang bisa menjadi ujung tombak perubahan dunia karena kekuatan yang ada dalam genggaman: seperti KGPAA Mangkunegoro IV, Sultan Agung, Panembahan Senopati, dan seterusnya: para raja seperti Prabu Kertanegara, Prabu Airlangga, Prabu Jayabaya, dan para satria pinandhita yang mendampingi mereka.  Menengok pewayangan, teladan kita juga bukan sosok papa, tapi para satria dan ratu yang berkuasa: Prabu Arjuna Sastrabahu dan Patih Suwanda, Pendawa Lima, Prabu Kresna, dan seterusnya.  Hanya satu contoh teladan yang digambarkan dalam keadaan papa dan hidup bersama rakyat jelata: Kaki Semar yang diiringi anak-anaknya para punakawan.

Dalam hemat saya, dunia pewayangan memberi pesan, agar kita tidak memperbanyak jumlah spiritualis yang papa dan tidak punya kuasa politik ekonomi.  Cukup ada satu dua begawan yang hidup sebagai rakyat jelata: perannya adalah sebagai penyeimbang dan penyalur suara rakyat.  Tetapi, agar tercipta keadaan negeri yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja, harus ada sebanyak mungkin satrio pinandhita yang sugih ngelmu, bondo lan kuwoso.

Mari kita pikirkan kehidupan kita saat ini: bagaimana kita bisa memperbaiki negeri ini yang telah diporakporandakan kekuatan politik ekonomi asing, lewat berbagai perusahaan multinasional yang mengeruk sumber daya negeri ini bekerjasama dengan para mitra lokalnya yang tak kalah serakah, jika kita hanya punya bekal mantra?  Itu tidak mungkin: kita harus punya kekuatan yang setara!  Dalam Bharata Yudha, Pendawa yang di jalan kebenaranpun harus punya senjata yang ampuh untuk melawan Kurawa: mereka menang bukan hanya karena mereka benar, lalu mencukupkan diri berbekal mantra.  Tidak, mereka menang karena benar plus punya kekuatan yang disimbolkan oleh penguasaan berbagai senjata ampuh seperti Pasopati dan pasukan perang yang besar!

Jadi, sebagai pejalan spiritual, menurut hemat saya, kita juga harus punya kepedulian untuk menata kadonyan, membangun hidup berkelimpahan.  Dan tentu saja, kita mencapai itu juga dengan jalan dharma, bukan dengan jalan yang licik merugikan orang lain.  Lalu, apa yang kita raih, bukanlah untuk kita tumpuk dan nikmati sendiri, tapi menjadi sarana menolong kaum papa dan tertindas.  Saya membayangkan, pada suatu saat nanti, negeri ini punya satrio pinandhita yang sugih ngelmu, bondho lan kuwoso, yang tidak kalah dengan Georgo Soros: sosok kaya raya keturunan Yahudi itu, yang berkarya melalui berbagai lembaga sosial, antara lain Open Society Institute.  Sikap inilah yang dimaksud dengan “ora nduwe rasa duwe”: kita tidak memiliki kemelekatan, atau merasa memiliki apa yang ada pada kita, hati kita murah hati, siap berbagi untuk semua hal yang kita punyai termasuk harta berharga kita.  Yang harus disadari, tanpa punya sesuatu kita tak mungkin bisa memberi sesuatu.  Yang bisa memberi anugerah kehidupan adalah tanah yang subur, bukan tanah yang tandus!

Demikianlah bayangan masa depan yang ingin saya ciptakan.  Saya ingin menjadi spiritualis yang berdaya – jauh lebih berdaya daripada saat ini - sehingga mampu mengubah dunia dengan tindakan nyata dengan kekuatan sendiri, seperti para guru saya.  Sebagai orang yang lama bergelut dalam dunia pemberdayaan masyarakat lewat berbagai NGO, saya sadar betul tentang realitas ketimpangan sosial di negeri ini.  Selama ini, NGO kita hidup dari bantuan para dermawan luar negeri.  Hal demikian, tentu saja tak akan pernah membawa kita pada perubahan yang signifikan karena kita bagaimanapun tetap berada dalam ketergantungan pada pihak asing.   Sudah saatnya kita membangun negeri ini dengan kekuatan kita sendiri!

CATATAN AKHIR

Ada satu hal yang cukup menggangu saat saya menceritakan soal Gua Ciremai atau Gua Cerme.  Yaitu tentang klaim sesat yang harus kita luruskan.  Di situs Wikipedia dan beberapa situs lainnya disebutkan demikian: Cerme dulunya digunakan oleh para Walisongo untuk menyebarkan agama Islam di Jawa. Selain itu, Gua Cerme juga digunakan untuk membahas rencana pendirian Masjid Agung Demak.  Kata Cerme sendiri disebut berasal dari kata Ceramah.I

Saya, pada dasarnya menghargai pilihan jalan spiritual setiap orang, yang niscaya berbeda-beda.  Orang bebas untuk menjalani sufisme Islam, gnostikisme Katholik, ataupun Zen dan lainnya.  Termasuk saya hargai jika orang merasa puas dengan menjalani agama pada tataran eksoteris.  Tapi, saya paling tidak bisa menerima segala bentuk dusta, apalagi itu dilekatkan pada upaya penyebaran agama.

Klaim seperti pada Gua Ciremai di Imogiri, juga terjadi pada berbagai patirtan di sekitar Gunung Ciremai Kuningan, seperti Balong Darmaloka, Balong Dalem, Sumur Cikejayan Pesawahan, dan Cibulan. Kesemua patirtan tersebut, disebutkan sebagai buatan para wali, yang notabene adalah para penyiara agama keturunan luar negeri semua.  Ini jelas mengusik patriotisme saya: sebuah gugatan menyeruak, memang leluhur saya demikian bodoh, sehingga untuk urusan patirtanpun harus diajari oleh pemuka agama dari negeri seberang?

Sudah saatnya klaim demikian dipatahkan, karena ia adalah bagian dari hegemoni kebudayaan, dan sebuah strategi politik ekspansif yang membonceng penyiaran agama, untuk menaklukkan negeri ini dimulai dari tataran budaya, dengan membuat anak-anak Nusantara melupakan jatidiri dan karya leluhurnya.  Seperti Gua Cerme, kita harus mulai meluruskan sejarah dengan menegaskan, bahwa ia merupakan bagian dari kekayaan Nusantara yang sejak jaman dahulu telah menjadi tempat mendadar diri bagi para leluhur kita.  Leluhur kita, sejak dahulu kala, sebelum para walisanga datang pada abad 13-15 M, telah memiliki berbagai tempat favorit untuk menjalankan laku spiritual.  Salah satunya adalah Gua Ciremai, yang disamping memiliki beberapa patirtan sebagaimana telah disebutkan di atas, juga memiliki beberapa simbol tradisi kuno: batu berbentuk lembu nandini, batu berbentuk kura-kura yang merupakan salah satu awatara (penjelmaan) Betara Wisnu, dan batu berbentuk Garuda plus telurnya – yang mengingatkan saya pada konsep Garuda Endogan pada wangsit leluhur Tanah Sunda – pralambang lahirnya para satria berjiwa Garuda yang setyotuhu kepada budaya leluhur - sebagaimana dituturkan Mang Tablo kuncen Sagarahyang.  Ingat, konsep kadewatan bukanlah semata-mata dimiliki bangsa India, sejak dahulu kala leluhur kita telah memiliki konsepi kadewatan juga.  (Soal relasi dan kemiripan antara tradisi spiritual Nusantara dan India, akan saya bahas lain waktu).

Generasi masa kini, perlu menyadari bahwa Gua seperti Gua Cerme, bukanlah sekadar tempat piknik, apalagi dianggap sebagai museum para wali, tapi benar-benar merupakan tempat mendadar diri, karena memang merupakan pepunden yang berenergi besar, sebuah anugerah dari Gusti Hyang Murbeng Gesang bagi para penduduk Nusantara dan siapa saja yang ingin mengecap pesona spiritual Nusantara.  Kita perlu mengikuti jejak Panembahan Senopati yang gemar tirtayatra sebagaimana digambarkan dalam tembang berikut:

Saben mendra saking wisma,
Lelana lalading sepi,
Ngingsep sepuhing supana,
Mrih pana pranaweng kapti,
Tis tising tyas marsudi,
Mardawaning budya tulus,
Mesu reh kasudarman,
Neng tepining jalanidhi,
Sruning brata kataman wahyu dyatmika.
Setiap mengembara meninggalkan rumah (istana),
berkelana ke tempat yang sunyi,
menghirup  tingginya ilmu,
agar jelas apa yang menjadi tujuan (hidup) sejati.
Hati bertekad selalu berusaha dengan tekun,
memperdayakan akal budi
menghayati cinta kasih,
ditepinya samudra.
Kuatnya bertapa diterimalah wahyu dyatmika (hidup yang sejati).

Rahayu sagung dumadi.


Tidak ada komentar: