Jumat, 29 April 2016

Setiap Pribadi Adalah Pengejawantahan Gusti






Para pelaku spiritual yang jernih, niscaya bisa mengerti bahwa setiap pribadi merupakan pengejawantahan dari Gusti Yaktining Hurip.  Bahkan bisa dinyatakan, manusia merupakan pengejawantahan paling utuh dan sempurna.  Kesempurnaan ini karena keberadaan manusia laksana jagad raya itu sendiri.  Sehingga kemudian manusia dinyatakan sebagai jagad alit, mikrokosmos: minatur dari jagad raya.

Sebagaimana pada jagad raya, ada lapisan-lapisan keberadaan pada diri manusia, mulai dari yang paling kasar dan pejal, hingga yang teramat halus dan tak terlihat.  Pada jagad raya, lapisan paling inti adalah kegelapan murni yang tak bergatra dan tak terlihat.  Demikianpula pada diri manusia.  Sejatinya lapisan ini bukanlah sosok atau pribadi.  Tetapi, ia juga bisa mempribadi sekalipun tetap tak terlihat.  Ia mempribadi dalam pengertian menunjukkan keberadaan-Nya sebagai Yang Maha Berkehendak, Maha Menuntun, Maha Mengarahkan.  Realitas Tanpa Batas yang mempribadi di dalam diri manusia inilah yang dinyatakan sebagai Hingsun.

Untuk mengerti tentang Hingsun, kita perlu mundur ke belakang dengan mengurai terdahulu proses kejadian manusia.

Kamis, 21 April 2016

HONG INTELLIGENCE






Hong adalah kata kunci untuk terhubung dengan rasa sejati.  Rasa sejati atau rasa sayekti, adalah perangkat kecerdasan utama bagi manusia. Realitas ini membantah pandangan bahwa otaklah perangkat kecerdasan satu-satunya manusia.  Otak memang perangkat kecerdasan manusia, tetapi bukan satu-satunya. 

Lokus atau tahta keberadaan rasa sejati adalah di telenging manah, susuhing angin, atau pusat hati.  Gatra fisiknya tidak ada, tetapi keberadaan dan fungsinya nyata.  Melalui perangkat ini manusia bisa mengetahui berbagai perkara termasuk perkara yang teramat halus dan rumit.  Cara kerjanya adalah dengan sistem deteksi getar, seperti sistem pendeteksi di dalam kapal selam yang bekerja mempergunakan gelombang sonar. 

Jumat, 15 April 2016

FORMULA KEBAHAGIAAN






Sebagian orang, bisa jadi merasakan hidup sebagai rangkaian penderitaan.  Kebahagiaan memang menjadi harapan utama dan bisa jadi sering dibicarakan.  Tapi kenyataannya, bagi sebagian orang yang dominan mewarnai hidup adalah rasa susah, nelangsa, menderita.

Penderitaan ini bisa muncul karena berbagai faktor.  Di antaranya adalah kekurangan uang, adanya penyakit, konflik rumah tangga, karier yang terhambat bahkan runtuh.  Ada kalanya, orang tetap menderita walau secara kongkrit tak persoalan berat yang muncul dalam kehidupannya.  Sebagai contoh, seseorang menderita karena ketakutan situasi buruk di masa depan.  Padahal itu belum tentu terjadi.  Bisa juga seseorang menderita karena bosan menjalani hidup yang tidak dinamis.  Semua serba ada, keadaan hidupnya serba aman, dan ia bosan karena itu.

Laku spiritual yang jernih, membawa manusia pada penyadaran tertentu yang tumbuhnya rasa sukacita walau menghadapi keadaan yang tidak seperti harapan, keadaan yang bisa dikategorikan sebagai “sulit” dan “membawa derita”.   Rasa sukacita ini berpangkal pada kesanggupan meresapi atau menikmati semua kesulitan dan derita.

Selasa, 29 Maret 2016

PERJALANAN SPIRITUAL MENYIBAK RAHASIA TUHAN







Laku spiritual yang tepat, niscaya membawa kejernihan pada nalar, rasa, dan tatanan energi pribadi sehingga realitas kehidupan sebagaimana adanya terungkapkan dan bisa dimengerti.  Termasuk yang menjadi bisa dimengerti adalah keberadaan Tuhan.  Itu tidak lagi menjadi sebatas konsepsi, tetapi menjadi realitas yang dialami.  

Tindakan praktis yang membawa kepada keadaan ini adalah memberi perhatian penuh dan mengarahkan penglihatan ke titik yang disebut susuhing angin di belakang ulu hati.  Siapapun yang melakukan tindakan ini, pada dasarnya tengah meniti sebuah perjalanan spiritual menembus lapisan-lapisan langit guna menyaksikan realitas tertinggi.  Tetapi lapisan-lapisan langit ini ada di dalam diri.  Ini adalah simbolisasi dari lapisan-lapisan tubuh pada diri manusia, yang bermula dari tubuh fisik dan berujung pada inti dan sumber hidup manusia.  

Rabu, 23 Maret 2016

CAHAYA KOSMIK DI DALAM DIRI




Kehidupan manusia, ditandai dengan keberadaan cahaya kosmik di dalam diri manusia.  Para leluhur Jawa di masa silam, mengungkapkan 5 cahaya kosmik itu: hitam, kuning, putih, merah, dan pelangi.  Cahaya kosmik itu mencerminkan unsur kosmik yang ada di dalam diri manusia: tanah, air, udara, api, dan ether.[1]

Cahaya berpendar dari berbagai unsur kosmik tersebut, karena ada energi yang bergetar dan berbunyi dengung, setiap manusia hambegan.  Pusat energi itu ada di telenging manah.  Menjadi permulaan kehidupan dan cahaya manusia. 

Lebih jelasnya begini.  Cahaya di dalam diri manusia bisa muncul ketika ada unsur-unsur kosmik pada raga yang bisa berpijar, lalu terkena energi murni dari pusat hati.  Energi itu muncul dan memancar ketika manusia hambegan.  Oksigen yang dihirup manusia, membuat horeg pada raga.  Horeg itu sederhananya adalah bergoyang, seperti tanah ketika terkena gempa.  Itu memunculkan getaran kehidupan, dan seiring dengan itu muncullah bunyi berdengung atau gemerenggeng.  Itulah Hong.  Selanjutnya, terjadilah fenomena kelistrikan pada raga manusia, lalu terjadilah cahaya.  Demikian proses terjadinya cahaya kosmik di dalam diri manusia.