Kamis, 19 April 2018

SASTRAJENDRA



Pada suatu masa, Sastrajendra pasti akan muncul ke permukaan dan membangkitkan kesadaran banyak manusia. Pembabaran Sastrajendra oleh Resi Wisrawa kepada Dewi Sukesi harus dilakukan agar ilmu pamungkas ini terekam dalam pusat penyimpanan pengetahuan semesta. Kemudian, jika sudah tiba waktunya, akan ada orang-orang terpilih yang bisa mengunduhnya dan menggunakannya untuk menjalankan tugas agung kehidupan.

Selasa, 10 April 2018

DANYANG



Danyang adalah terminologi khas Jawa, sekalipun realitasnya tentu saja ada di semua tempat di jagad raya ini.  Intinya danyang adalah entitas metafisik yang bertugas menjaga atau melindungi suatu tempat.  Dalam bahasa lain mereka dijuluki Ingkang Mbahurekso (Yang bertanggung jawab/mengatur/menjaga keselarasan).  Di setiap daerah di Nusantara tentu saja ada penamaan yang berbeda-beda untuk entitas ini.  Di Bali, danyang dikenal dengan nama Betara/Betari Lingsir, yang artinya adalah entitas suci yang disepuhkan dan menjadi pelindung sebuah kawasan tertentu – terutama kawasan yang dianggap sakral dan merupakan portal energi.

Kamis, 22 Februari 2018

INTISARI SASTRA JENDRA





Intisari dari Sastra Jendra sejatinya adalah tuntunan agar setiap pribadi mencapai kesempurnaan jiwa dan kebahagiaan sejati.  Tataran ini dicapai melalui proses jumbuhing kawula lan Gusti, atau tumbuhnya kesadaran akan sifat roroning atunggil (dwi tunggal) di dalam diri, yang ditunjukkan oleh konsep Aku ing sajroning Ingsun, Ingsuning sajroning Aku. Ajaran mistik Jawa dalam berbagai variannya – yang sejatinya mengurai Sastra Jendra - membimbing para penghayatnya untuk memasuki kondisi hening, sehingga bisa bertemu dengan alam sunyaruri. Mereka yang telah mencapai titik ini, akan mendapatkan ketenangan batin sekalipun menghadapai situasi dan kondisi yang sangat gawat. Karena antara manusia sebagai manifestasi dengan Tuhan sebagai Sang Sumber Keberadaan terjadi titik temu yang harmonis. Batin manusia selalu tersambung dengan getaran energi Tuhan: kehendak Tuhan menjadi dasar atas segala tindakan yang dilakukannya. Atau diistilahkan sebagai sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair. Sesotya adalah ungkapan yang mengandaikan Tuhan bagaikan permata yang indah tiada taranya. "Permata" yang menyatu ke dalam embanan. Embanan sebagai ungkapan dari raga. Praktisi spiritualis Jawa yang sejati,adalah sosok ideal sebagaimana dilukiskan dalam The Book of Mirdad karya Mikhail Naimy, pujangga keturunan Lebanon sahabat Kahlil Gibran: Ia yang berpikir, berbicara, bertindak, bersikap, dan berkehendak selaras dengan Kebenaran (karena Kebenaran, Tuhan, telah bersemayam di dalam dirinya!).
Untuk mencapai kondisi di atas, pembelajar Sastra Jendra menumbuhkan kesadaran sejati lapis demi lapis, melalui kegiatan semedi dan rangkaian laku prihatin. Semedi adalah meditasi ala Jawa: seseorang menarik diri dari kesibukan raga dan pikiran, memberi perhatian mendalam pada helaan nafas, dan perlahan-lahan memasuki alam hening. Pada titik tertentu, pelaku semedi niscaya bisa bertemu dengan Sukma Sejati atau Guru Sejati, manifestasi keberadaan Gusti di dalam diri. Lebih jauh lagi, pelaku semedi juga bisa mengalami persentuhan dengan Kekosongan Sejati (alam sunyaruri). Melalui semedi, mata batin kita menjadi terasah. Cakrawala pandang kita, dunia yang kita sentuh, akan melampaui apa yang selama ini begitu terbatas karena sekadar mengandalkan pencerapan oleh panca indera. Sementara itu, laku prihatin adalah pelengkap dari kegiatan semedi: di sini, berbagai kegiatan pengelolaan Angkara sekaligus ekspresi kewelasasihan kepada sesama dalam rangka hamemayu Hayuning Bawono dikondisikan menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup seorang penghayat mistisisme Jawa. Melalui peningkatan intensitas dan kualitas semedi maupun laku prihatin, diasumsikan seorang pelaku mistisisme Jawa bisa makin dekat dengan jatidirinya, makin tak berjarak dengan Gusti (Hyang ingkang papanipun ing bagusing ati), yang pada titik idealnya disebut dengan keadaan manunggaling kawulo kalawan gusti.
Seorang pembelajar Sastra Jendra yang konsisten, akan mengalami peningkatan kesadaran secara terus menerus, dari kesadaran ragawi,kesadaran rasional, hingga kesadaran sukma dan rasa sejati. Makin lama, doktrin yang beku, rumusan kebenaran yang bersifat eksternal yang dikondisikan atau dijejalkan dari luar,makin ditinggalkan, seiring dengan meningkatnya kesadaran bahwa sumber kebenaran itu sebenarnya ada di dalam diri.Saat yang sama, keselarasan dengan alam semesta makin meningkat: diri ini makin terasah untuk membaca tanda-tanda alam, alam telah menjadi buku suci yang menginformasikan keagungan Gusti sekaligus hukum-hukum-Nya yang kekal.

Rabu, 26 Juli 2017

BLESSING





Blessing atau pemberkatan, pada intinya adalah pengaliran energi kasih agar terjadi harmoni, kedamaian dan kesukacitaan.  Blessing bisa dilakukan pada satu individu, bisa juga secara kolosal kepada Planet Bumi bahkan jagad raya beserta segenap penghuninya.
Blessing kepada individu dilakukan baik kepada orang yang memang kita sayangi, maupun kepada orang yang punya masalah dengan kita – kita anggap musuh atau menganggap kita musuh.  Blessing membawa kita melampaui kebencian, ketakutan, dan masuk sepenuhnya kepada kondisi penuh cinta kasih yang paling murni.
Kepada setiap anak, tentu sewajarnya melakukan blessing atau memberkati orang tuanya. Sebagai orang tua juga sewajarnya kita memberkati anak-anak kita.  Ini bisa kita lakukan dengan mengalirkan energi kasih murni dari pusat hati kepada mereka.  Sembari menyabda mereka terlindungi, berada dalam damai dan sukacita.
Tindakan yang sama juga bisa dilakukan kepada orang-orang yang punya masalah dengan kita.  Maafkan mereka, lalu alirkan energi kasih murni yang meningkatkan frekuensi vibrasi mereka.  Banyak keajaiban terjadi dimana ketika tindakan ini dilakukan, hubungan yang retak bisa terpulihkan.  Tentu saja, tidak semua kasus berhasil.  Pada kasus dimana orang yang kita blessing benar-benar memilih untuk tetap berada dalam angkara murka, maka persoalannya tidak terletak pada kita.  Tapi itu adalah bagian dari free willnya: ia memilih mengingkari sentuhan kasih yang sudah kita berikan.

Sabtu, 24 Juni 2017

MEDITASI PENJERNIHAN JIWA DARI PARASIT ENERGI



Dengan sengaja maupun tak sengaja, manusia bisa ditempeli bahkan dirasuki makhluk astral berfrekuensi rendah dari dimensi bawah.  Keberadaan makhluk astral ini membuat seseorang menjadi tidak murni jiwanya.  Makhluk astral ini menjadi parasit energi yang menyedot energi murni sekaligus menjadi tirai penghalang keterhubungan penuh dengan Guru Sejati.  Cara kerja yang umum, makhluk astral ini mengendalikan pikiran manusia yang ditempeli atau dirasukinya sehingga bisa bertindak sesuai agenda mereka.  Perlu dimengerti, bahwa sebagaimana manusia, makhluk astral berfrekuensi rendah dari dimensi bawah juga memiliki free will.  Jadi, mereka juga bisa memilih untuk memperalat manusia ketika ada kesempatan, dengan resiko tertentu yang pasti mereka tanggung pada waktunya.
Dalam khazanah supranatural, keberadaan makhluk astral yang menempel atau merasuki manusia ini dijuluki prewangan (bahasa Jawa) atau khodam (bahasa Arab).  Ada yang mendapatannya melalui ritual khusus baik melalui pembacaan mantra/wirid tertentu dengan berbagai bahasa, lewat upacara pemberian sesaji bahkan lewat laku penyiksaan diri seperti puasa pati geni atau ngebleng.  Ada juga yang mendapatkannya tanpa upaya demikian, tetapi prewangan/khodam itu datang sendiri atau diwariskan dari leluhur.   Sebagian orang yang punya talenta supranatural seperti yang dikategorikan anak indigo, seringkali tanpa mencari dan meminta mereka malah didatangi oleh makhluk-makhluk astral dari dimensi bawah yang ingin menumpang dengan alasan hendak membantu atau melindungi.