Senin, 23 Mei 2016

MENYINGKAP RAHASIA RASA SEJATI






Rasa sejati atau rasa sayekti, adalah perangkat kecerdasan utama bagi manusia. Realitas ini membantah pandangan bahwa otaklah perangkat kecerdasan satu-satunya manusia.  Otak memang perangkat kecerdasan manusia, tetapi bukan satu-satunya. 

Lokus atau tahta keberadaan rasa sejati adalah di telenging manah, susuhing angin, atau pusat hati.  Gatra fisiknya tidak ada, tetapi keberadaan dan fungsinya nyata.  Melalui perangkat ini manusia bisa mengetahui berbagai perkara termasuk perkara yang teramat halus dan rumit.  Cara kerjanya adalah dengan sistem deteksi getar, seperti sistem pendeteksi di dalam kapal selam yang bekerja mempergunakan gelombang sonar. 

Sabtu, 21 Mei 2016

ANAK-ANAK SEMESTA DARI LEMBAH GUNUNG TIDAR






Saya lahir di Magelang.   Semesta mengatur agar saya bisa berbuat sesuatu yang berguna di tanah kelahiran. 

Bermula dari perjumpaan dengan salah satu tetangga di kampung ayah saya di Magelang, bergulirlah sebuah proses yang memungkinkan kembalinya putra-putra Gunung Tidar kepada jalan kemurnian.

Demikianlah ceritanya.  Ayahnya tinggal di sebuah gubug di tepian kolam.  Benar-benar gubug.  Di situlah ayah saya mengisi hari tua, menyatu dengan alam, bercengkerama dengan ikan, ayam dan tetumbuhan.  Bagi saya, itulah cara semesta untuk membuat ayah saya kembali kepada hidup yang sejati.

Pada satu waktu, di gubug itu, saya bertemu dengan salah satu teman kongkow ayah saya, seorang pemuda berusia 30-an. Namanya Supriono. Ketika saya bertemu dengannya, ia masih jadi penjual togel, dan baru saja keluar dari masa hukuman di penjara selama 6 bulan karena tertangkap polisi.  Entah darimana mulainya, tapi pada saat itu ia tertarik untuk berbincang dengan saya.  Saat itu, arah perbincangan memang mengarah pada pembahasan pada laku kebatinan. 

Selasa, 17 Mei 2016

CATATAN REVOLUSI DIRI







Mengenang masa lalu, saya pernah mengalami fase-fase penuh kesulitan karena kekeliruan dalam melangkah dan mengambil keputusan.  Termasuk dalam perkara spiritual.  Saya sempat menekuni jalan berliku yang ternyata tak kunjung membawa pada tataran dan keadaan yang diharapkan.

Sebuah kilas balik.  Pada tahun 2008 lalu, ada satu peristiwa penyadaran yang menggerakkan saya untuk menemukan jati dirinya sebagai manusia yang lahir dan hidup di Nusantara.  Saya lalu menjadi sangat bersemangat menggali kembali berbagai ajaran spiritual yang tumbuh di Nusantara ini, termasuk ajaran spiritual Jawa.  Bertahun-tahun, saya mendedikasikan hidup untuk terus belajar bahkan berkelana menemukan kaweruh yang bisa membawa pada kesempurnaan hidup.  Namun, ternyata, jalan spiritual tidak semudah yang dibayangkan. 

Rabu, 04 Mei 2016

KEJADIAN MANUSIA MENURUT MANUSKRIP GUNUNG KLOTHOK






Sebuah manuskrip kuna dari Gunung Klothok, Kediri, Jawa Timur, menyajikan penjelasan yang relatif lengkap mengenai proses kelahiran manusia.  Diuraikan dengan jernih bagaimana kejadian manusia merupakan peristiwa yang kompleks.  Kualitas dan karakter manusia mulai terbentuk saat berbagai chip semesta mulai diakses seorang ayah dan itu terekam dalam spermanya.  Selanjutnya, di dalam kandungan sang ibu yang memiliki daya penumbuh, zygot atau janin manusia yang terbentuk melalui penyatuan sperma dan sel telur, secara bertahap dilengkapi dengan berbagai perangkat yang memungkinkan kehidupannya kelak di Planet Bumi menjadi sangat dinamis.

Jumat, 29 April 2016

Setiap Pribadi Adalah Pengejawantahan Gusti






Para pelaku spiritual yang jernih, niscaya bisa mengerti bahwa setiap pribadi merupakan pengejawantahan dari Gusti Yaktining Hurip.  Bahkan bisa dinyatakan, manusia merupakan pengejawantahan paling utuh dan sempurna.  Kesempurnaan ini karena keberadaan manusia laksana jagad raya itu sendiri.  Sehingga kemudian manusia dinyatakan sebagai jagad alit, mikrokosmos: minatur dari jagad raya.

Sebagaimana pada jagad raya, ada lapisan-lapisan keberadaan pada diri manusia, mulai dari yang paling kasar dan pejal, hingga yang teramat halus dan tak terlihat.  Pada jagad raya, lapisan paling inti adalah kegelapan murni yang tak bergatra dan tak terlihat.  Demikianpula pada diri manusia.  Sejatinya lapisan ini bukanlah sosok atau pribadi.  Tetapi, ia juga bisa mempribadi sekalipun tetap tak terlihat.  Ia mempribadi dalam pengertian menunjukkan keberadaan-Nya sebagai Yang Maha Berkehendak, Maha Menuntun, Maha Mengarahkan.  Realitas Tanpa Batas yang mempribadi di dalam diri manusia inilah yang dinyatakan sebagai Hingsun.

Untuk mengerti tentang Hingsun, kita perlu mundur ke belakang dengan mengurai terdahulu proses kejadian manusia.