Selasa, 04 November 2014

APAKAH TUHAN ITU KEJAM?





CANTRIK MBELING: Mbah....jika benar memang ada Tuhan Sang Pencipta, maka Dia adalah sosok yang kejam atau suka menonton penderitaan manusia...

EYANG GEMBLUNG: Bagaimana kok kamu bisa menyimpulkan begitu?

CANTRIK MBELING: Lha jelas tho Mbah.....manusia yang Dia ciptakan di muka bumi ini rata-rata menderita, terlebih mereka yang ada di kawasan konflik, di negeri-negeri melarat.

EYANG GEMBLUNG: Bisa dicontohkan lebih spesifik?

CANTRIK MBELING: Coba Mbah kita ambil kasus orang-orang Kurdi yang menjadi korban ISIS, atau suku-suku di Afrika yang menjadi korban genosida dari lawan politik mereka.  Bukankah yang menciptakan mereka adalah Tuhan itu sendiri, yang memberi kuasa pada salah satu pihak untuk bisa menganiaya pihak lainnya adalah Tuhan juga?  Dan ketika dalam waktu yang panjang, penderitaan para korban itu tak kunjung juga berakhir, apa yang bisa kita simpulkan?  Apakah Tuhan tak kuasa mengakhiri penderitaan manusia? Atau, jangan-jangan  Tuhan itu memang suka melihat penderitaan manusia.

EYANG GEMBLUNG: Wah..wah..sebentar..sebentar.....tampaknya kamu punya asumsi bahwa Tuhan itu mirip dirimu ya?

CANTRIK MBELING: Maksudnya bagaimana Mbah....

EYANG GEMBLUNG: Dari pernyataanmu, tersirat bahwa kamu membayangkan Tuhan itu satu sosok, satu pribadi, yang terpisah dari manusia yang diciptakannya.  Yah, mirip dengan pencipta robot dengan robot yang diciptakan.  Lalu, kamu membayangkan Tuhan bisa semaunya menyetel hasrat maupun tindakan manusia.......

Begini Thole.....justru kamu harus menyadari lebih dulu, bahwa Tuhan itu bukan satu sosok..Tuhan itu adalah Keberadaan itu sendiri, Tuhan itu adalah Realitas tanpa batas itu sendiri....dan semesta dengan segala hukum yang bekerja di dalamnya adalah pengejawantahan dari Keberadaan atau Realitas yang tak bisa dikatakan apa dan bagaimananya.

CANTRIK MBELING: Apa gunanya kesadaran demikian untuk menjawab pertanyaan saya Mbah?

EYANG GEMBLUNG: Begini....faktanya adalah, setiap manusia, begitu dia terlahir ke muka bumi, ia telah memiliki benih free will.  Setiap manusia punya otoritas untuk melakukan tindakan apapun yang dia mau, dalam bingkai dan batasan kuasa yang dia miliki.  Maka, dengan free will itu seorang manusia bisa menanam benih bunga mawar hingga tumbuh pohon mawar dengan bunga yang indah.  Tapi ia juga bisa menghancurkan pohon-pohon mawar yang ada.

Seorang manusia punya free will untuk membenci manusia lainnya dan menghancurkan kehidupan manusia lainnya dengan cara yang memungkinkan baginya.  Sebaliknya, ia juga memelihara kehidupan jika ia mau, sesuai kuasa yang ia miliki.

Nah, perang, konflik, adalah dampak dari free will manusia.   Sebagaimana kerukunan, persaudaraan, juga merupakan dampak dari free will manusia itu.  Manusia bebas melakukan apapun..tetapi semuanya terikat dalam sebuah hukum semesta: ada sebab ada akibat, ada tindakan ada konsekuensi.
Karena realitanya setiap manusia punya free will dan selalu punya kemungkinan untuk menghancurkan atau memelihara hidup manusia lainnya, maka siapapun perlu untuk selalu eling dan waspada agar tidak menjadi korban dari pilihan merugikan yang diambil pihak lain.

Konflik di Timur Tengah, di Afrika, adalah buah dari pilihan manusia sendiri.  Itu hanya bisa diakhiri jika manusia memang mau mengakhirinya.  Nah, korban yang muncul dalam konflik itu, masuk dalam jaring-jaring kausalitas yang ditentukan oleh pilihan-pilihan maupun tindakan mereka.  Supaya tidak menjadi korban, atau supaya penderitaan berakhir, manusia sendirilah yang harus melakukan tindakan yang sesuai.

Kehidupan pada dasarnya tetap tidak punya orientasi menghancurkan peradaban manusia.  Manusia sendirilah yang menghancurkan hidup yang sebetulnya merupakan anugerah.

CANTRIK MBELING: Hmmm....tidak mudah memahami apa yang dipaparkan Simbah.  Tapi saya mengerti......semua yang terjadi dalam kehidupan di muka bumi ini, termasuk tragedi yang ada, sebenarnya adalah buah atau konsekuensi logis dari tindakan kolektif manusia itu sendiri.  

EYANG GEMBLUNG: Ya...makanya setiap manusia mesti sadar bahwa dia membawa kuasa yang bisa dipergunakan untuk menghancurkan ataupun membangun.  Pilihan yang diambil tentu membawa rasa yang berbeda..sengsara atau bahagia.  Karena itulah, sadari setiap langkah hidupmu, dan bertindaklah yang nyata-nyata membawamu keluar dari derita menuju bahagia.  

CANTRIK MBELING:  He, he, he, ya Mbah...saya jelas akan memilih tindakan yang membawa pada bahagia.