Rabu, 05 Oktober 2016

INDIA DAN KAITANNYA DENGAN NUSANTARA

Pertama-tama kita perlu mengerti tentang India, peradaban dan warisan intelektualnya.  Karena, persepsi yang kadung terbangun selama ini bisa dikatakan jauh dari akurasi.

Teori umum tentang bangsa India, adalah bahwa ada 2 ras besar: yaitu ras Dravida, yang kemudian terdesak oleh ras pendatang dari Jerman: ras Arya.  Bangsa Dravida merupakan bangsa yang berasal dari ras australoid yakni berkulit coklat dan berhidung pipih. Sedangkan Bangsa Arya  dinyatakan berasal dari ras kaukasoid (Indo-Jerman) sehingga memiliki hidung mancung dan berkulit putih.  Bangsa Arya dinyatakan menginvasi bangsa Dravida.

Selasa, 04 Oktober 2016

LAKU SPIRITUAL MENURUT KAKAWIN SUTASOMA

Sarwajñâmûrti çûnyâganal alit inucap mus.t.ining dharmatattwa

Perwujudan segala ilmu Kasunyatan baik kasar ataupun halus, diajikan dalam sebuah doa dan puja yang khusyuk.

Sangsipta n pèt wulik ring hati sira sekung ing yoga lâwan samadhi.

Singkatnya, mari mencari-Nya dengan betul dalam hati, didukung dengan yoga dan samadi penuh.

Byakta lwir bhrântacittângrasa riwa-riwaning nirmalâcintyarûpa

Persis bagaikan seseorang yang merana hatinya merasakan rasa kemurnian Yang Tak Bisa Dibayangkan.

Ndah yêka n mangkana ng çânti kineñep i tutur sang huwus siddhayogi.

Maka itulah ketentraman hati yang dituju seorang yogi sempurna.

Pûjan ring jñâna çuddhâprimita çaran.âning miket langwa-langwan

Biarkan aku memuja dengan kemurnian dan kebaktian tak tertara sebagai sarana untuk menulis syair indah

LAKU SPIRITUAL SATRIA PINANDITA FASE II (1)

Selalu ada momen untuk penyadaran baru yang membawa pada penyempurnaan laku.  Demikianlah yang saya alami pada permulaan 2016.  Semesta menuntun untuk mempertanyakan kembali segenap laku dan capaian selama 2 tahun terakhir.  Maka tersingkaplah kasunyatan: kemajuan telah banyak dicapai, tapi mesti ada perubahan-perubahan revolusioner untuk mencapai kemajuan yang lebih signifikan dalam berbagai aspek kehidupan.

Kamis, 04 Agustus 2016

KOSMOLOGI JAWA






Gusti Hingkang Welas Hasih, Hingkang Handeg Wikan lan Waskita, hingkang hanitahake tinggewikan jeng salir wose. Lan kiye kang dadi wahananing Gusti sawara sakabehe, kang ngutus hulun maringi warta marang tumitah Djowo.

Gusti  Yang Maha Pengasih, Yang Maha Mengetahui dan Bijaksana, yang menjadikan semesta ini beserta isinya. Dan ini yang menjadi sabda Gusti, permulaan segalanya, yang mengutus aku memberi berita kepada tumitah Djowo.

(LAYANG DJOJOBOJO, Bagian dari Manuskrip Gunung Klothok)

Semesta adalah tempat kita berada. Dalam bahasa Jawa Kuno keberadaan ini dinamai dengan tinggewikan atau karasuh gumelar. Planet Bumi yang kita diami serupa satu noktah kecil pada semesta yang mahaluas. Kita memperbincangkan semesta sebagai bahan bercermin bagi diri kita sendiri karena kita adalah semesta kecil atau mikrokosmos.  Selain itu, memang diperlukan pengertian terhadap semesta ini karena dalam nalar spiritual Nusantara Kuna sangat ditekankan pentingnya keselarasan antara manusia dan semesta.

Minggu, 31 Juli 2016

Panduan Menemukan Guru Spiritual yang Sejati





Perjalanan spiritual meniti tangga-tangga kesadaran memang bukan perkara mudah.  Untuk mencapai tangga kesadaran yang semakin tinggi, jalannya memang berliku, penuh aral melintang.  Namun berita gembiranya, siapapun yang punya ketulusan dan bisa melampaui hasrat egoistiknya, niscaya bisa sampai tangga kesadaran tertinggi sesuai cetak birunya.  Demikianlah pengertian yang muncul saat saya merenungkan liku-liku perjalanan spiritual.

Bahkan ketika berbicara tentang “guru spiritual”, sungguh tidak mudah untuk menemukannya.  Banyak kasus dimana para pejalan spiritual mendapatkan penyingkapan betapa “guru spiritual” mereka sejatinya belum memiliki kejernihan jiwa.  “Guru spiritual” itu hanya punya kemampuan memainkan energi dan membuat banyak orang terkecoh persepsi dan penglihatannya.