Minggu, 29 Juni 2014

RUWATAN DI CANDI SUKUH DAN CANDI CETHA


Pada hari Selasa Wage 15 bulan April 2014, malam Rabu Kliwon bertepatan dengan Sang Sasadara memasuki hari ke 15, Purnama Sidhi.   Ketika itu bulan yang bulat penuh benar-benar satu garis dengan bangunan kubus di Candi Cetha.  Perjalanan tersebut mengantarkan saya dan Mas Paulus Bambang Susetyo menemukan dan mengurai kode dari sebuah pesan masa silam yang diterakan di Candi Sukuh dan Candi Cetha: ruwat-lah (kelolalah) dirimu, agar hidupmu menjadi cetha (jelas sekali). 

 
Candi Sukuh
 
  
 
 
Candi adalah suatu bangunan luhur yang dipergunakan untuk me-langgeng-kan sesuatu, baik itu pesan atau perkara yang lainnya. Mungkin kita pernah mendengar ungkapan kosa kata Jawa “cinandhi” itu pengertiannya adalah “di-langgeng-kan”.  Pengertiannya secara utuh, tentang candi adalah suatu sarana untuk me-langgeng-kan atau mengabadikan pengetahuan.  Dengan menggunakan sarana berupa candi, maka para leluhur memberikan pembelajaran tentang kehidupan melalui struktur bangunan candi maupun relief yang ditera pada dinding candi.  Agar sebuah candi memiliki nilai guna dalam kehidupan kita pada masa kini, kita perlu mengurai kode yang tersimpan dalam sebuah candi untuk bisa mendapatkan pembelajaran berharga.

 
Kata “sukuh” adalah kata Jawa Kuna yang berarti “perang”.  Mengacu pada kata tersebut, candi ini dapat dimengerti sebagai bangunan yang menampilkan pesan dan  pelajaran tentang bagaimana kita bisa memerangi kejahatan atau keangkaramurkaan yang mencengkeram diri manusia. Perang ini merupakan tindakan peleburan atau penghancuran dan pemusnahan segala perkara yang dapat merugikan kehidupan manusia

 
Bangunan Candi  Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut pada koordinat 07o37, 38’ 85’’ Lintang Selatan dan 111o07,. 52’65’’ Bujur Barat. Candi ini terletak di Dukuh Berjo, Desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Letak bangunan Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta.  Situs candi Sukuh dilaporkan pertama kali dalam masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles dalam rangka untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan guna penulisan bukunya The History of Java. Setelah masa pemerintahan Britania Raya berlalu, pada tahun 1842, Van der Vlis, arkeolog Belanda, melakukan penelitian. Pemugaran pertama dimulai pada tahun 1928.


Jika kita mau memperhatikan Candi Sukuh dengan lebih cermat, maka akan diketemukan struktur bangunan yang terpapar sebagaimana berikut ini:


Teras pertama candi

Di teras pertama terdapat gapura utama. Pada gapura ini ada sebuah sangkala (penanda tahun berbentuk rangkaian kata-kata) dalam bahasa Jawa yang berbunyi ‘gapura buta abara wong’. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gerbang raksasa memangsa manusia”. Kata-kata ini memiliki pengertian mengenai angka penunjuk tahun: 9 (gapura), 5 (buta), 3 (abara), dan 1 (wong). Jika dibalik (karena memang cara membaca angka sangkala/sengkalan adalah dari belakang) maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi.

 
Teras kedua candi

Gapura pada teras kedua sudah rusak. Di kanan dan kiri gapura terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala yang biasa ada, namun dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak terdapat banyak patung-patung. Pada gapura ini terdapat sebuah candrasangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut’ yang berarti “Gajah pendeta menggigit ekor” dalam bahasa Indonesia. Kata-kata ini memiliki makna 8 (gajah), 7 (wiku), 3 (anahut), dan 1 (buntut). Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau bertepatan dengan tahun 1456 Masehi.


Teras ketiga candi

Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan.  Candi utama berbentuk gua garba atau vagina perempuan, simbol dari Ibu Pertiwi/Bumi.  Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang sejatinya merupakan portal dengan dimensi lain, adalah simbol keterhubungan kita dengan Bapak Angkasa  (Realitas langit yang tak terbatas).  Dan ini menyadarkan manusia akan realitasnya sebagai putra dari Bapa Angkasa dan Ibu Pertiwi.

Kemudian pada bagian kiri candi induk terdapat serangkaian relief-relief yang merupakan mitologi utama Candi Sukuh dan telah diidentifikasi sebagai relief cerita Kidung Sudamala. Urutan reliefnya adalah sebagai berikut.

Relief pertama


Di bagian sebelah kiri dilukiskan sang Sahadewa atau Sadewa, saudara kembar Nakula dan merupakan yang termuda dari para Pandawa Lima. Kedua-duanya adalah putra Prabu Pandu dari Dewi Madrim, istrinya yang kedua. Madrim meninggal dunia ketika Nakula dan Sadewa masih kecil dan keduanya diasuh oleh Dewi Kunti, istri utama Pandu. Dewi Kunti lalu mengasuh mereka bersama ketiga anaknya dari Pandu: Yudhistira, Bima dan Arjuna. Relief ini menggambarkan Sadewa yang sedang berjongkok dan diikuti oleh seorang punakawan atau pengiring. Berhadapan dengan Sadewa terlihatlah seorang tokoh wanita yaitu Dewi Durga yang juga disertai seorang punakawan.

 

Relief kedua

Pada relief kedua ini dipahatkan gambar Dewi Durga yang telah berubah menjadi seorang raseksi (raksasa wanita) dengan berwajah mengerikan. Dua orang raksasa mengerikan; Kalantaka (waktu kematian) dan Kalañjaya (waktu kemenangan) menyertai Batari Durga yang sedang murka dan mengancam akan membunuh Sadewa. Kalantaka dan Kalañjaya adalah jelmaan bidadara yang dikutuk karena tidak menghormati Dewa sehingga harus terlahir sebagai para raksasa berwajah buruk. Sadewa terikat pada sebuah pohon dan diancam dibunuh dengan pedang karena tidak mau membebaskan Batari Durga dari keterkutukannya. Di belakangnya terlihat antara lain ada Semar. Terlihat gatra (bentuk) hantu yang melayang-layang dan di atas pohon sebelah kanan ada dua ekor burung hantu. Lukisan mengerikan ini kelihatannya merupakan gambaran mengenai hutan Setra Gandamayu (Gandamayit/bau mayat/bau kematian) yaitu merupakan tempat pembuangan para dewa yang diusir dari kahyangan karena pelanggaran.

Relief ketiga

Pada bagian ini digambarkan bagaimana Sadewa bersama panakawan yang menyertainya, yaitu Semar berhadapan dengan pertapa buta bernama Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa di pertapaan Prangalas. Dalam ceritanya Sadewa akan menyembuhkan sang pertapa itu dari kebutaannya.

 

Relief keempat

Gambar pada relief ini melukiskan adegan dalam sebuah taman indah di mana sang Sadewa sedang bercengkerama dengan Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa serta seorang panakawan di pertapaan Prangalas. Tambrapetra sangat berterima kasih kepada Sadewa karena telah menolongnya untuk menyembuhkan dirinya dari kebutaannya dan sebagai tanda terima kasih maka sang pertapa memberikan putrinya kepada Sadewa untuk dinikahinya.


Relief kelima

Lukisan dalam relief ini merupakan adegan adu kekuatan antara Bima dan kedua raksasa Kalantaka (Sang Kematian) dan Kalañjaya (Sang Kemenangan). Bima dengan kekuatannya yang luar biasa sedang mengangkat kedua raksasa tersebut untuk dibunuh dengan kuku pañcanakanya. Ini menggambarkan mengenai keteguhan hati manusia yang akan mampu memusnahkan segala keraguan yang menghadang dan merintangi jalannya. Pancanaka merupakan lambang dari Panca Indera yang telah terasah sempurna, sehingga kesemuanya dapat dipergunakan secara optimal untuk menepis segala keraguan dalam diri manusia.

 

Patung-patung sang Garuda

Lalu pada bagian kanan terdapat dua buah patung Garuda, ini merupakan bagian dari cerita mengenai pencarian tirta amerta (air kehidupan) yang terdapat dalam serat Adiparwa, yaitu serat pertama dari Mahabharata. Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti.


Kemudian sebagai rangkaian dari cerita mengenai pencarian tirta amerta itu pada bagian ini terdapat pula tiga patung kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu. Bentuk kura-kura ini menyerupai meja, nampaknya ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat menaruh sesajian. Selanjutnya ada sebuah bangunan berbentuk piramida dengan puncak terpotong, ini merupakan lambang dari Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya dan dipergunakan untuk mengaduk-aduk samudera susu guna mencari air kehidupan atau tirta amerta.


Beberapa bangunan dan patung lainnya

Selain candi utama dan patung-patung kura-kura, garuda serta relief-relief, masih ditemukan pula beberapa patung hewan berbentuk celeng (babi hutan) dan gajah berpelana. Ini adalah merupakan simbol dari berbagai daya dorong yang ada dalam diri pribadi manusia.

 
Lalu ada pula bangunan yang reliefnya berbentuk tapal kuda dengan dua sosok manusia di dalamnya, di sebelah kiri dan kanan, berhadap-hadapan satu sama lain. Ada sebagian yang berpendapat relief ini melambangkan rahim seorang wanita, sedangkan sosok di sebelah kiri melambangkan kejahatan dan sosok di sebelah kanan melambangkan kebajikan. Kemudian ada lagi sebuah bangunan kecil di depan candi utama yang disebut candi perwara. Di bagian tengahnya, bangunan ini berlubang dan terdapat patung kecil tanpa kepala.

 

Candi Cetha
 
 

Cetha adalah kosakata Jawa yang bearti ”sangat jelas, tak terselimuti, senyatanya”.  Maka, Candi Cetha adalah bangunan yang menjadi bahan pembelajaran tentang bagaimana manusia  membangun kehidupan yang senyatanya, yang sangat jelas, penuh terang karena tersingkap semua perkara yang semula menyelimutinya.  Keadaan ini bisa diraih melalui sikap hidup yang selaras dengan seluruh keberadaan semesta agar terjaga harmoninya.

Candi Cetha berada di lereng Gunung Lawu pada ketinggian 1496 m di atas permukaan laut, dan secara administratif berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.  Pada keadaannya yang sekarang, kompleks Candi Cetha terdiri dari sembilan tingkatan berundak. Sebelum gapura besar berbentuk candi bentar, pengunjung mendapati dua pasang arca penjaga. Aras pertama setelah gapura masuk (yaitu teras ketiga) merupakan halaman candi. Aras kedua masih berupa halaman. Pada aras ketiga terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Ceto.

Sebelum memasuki aras kelima (teras ketujuh), pada dinding kanan gapura terdapat inskripsi (tulisan pada batu) dengan aksara Jawa Kuna berbahasa Jawa Kuna berbunyi pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397[1]. Tulisan ini diartikan sebagai fungsi candi adalah untuk menyucikan diri (ruwat) dan penanda tahun pembuatan gapura, yaitu 1397 Saka atau 1475 Masehi. Di teras ketujuh terdapat sebuah tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa, surya Majapahit (diduga sebagai lambang Majapahit), dan simbol phallus (penis, alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter dilengkapi dengan hiasan tindik (piercing) bertipe ampallang. Kura-kura adalah sebagai lambang penciptaan semesta raya sedangkan penis merupakan simbol penciptaan manusia. Terdapat penggambaran binatang-binatang lain, seperti mimi, katak, dan ketam. Simbol-simbol binatang yang ada, dapat dibaca sebagai suryasengkala berangka tahun 1373 Saka, atau 1451 era modern. Dapat diperkirakan bahwa kompleks candi ini dibangun bertahap atau melalui beberapa kali renovasi.

 
Pada aras selanjutnya dapat ditemui jajaran batu pada dua dataran bersebelahan yang memuat relief cuplikan cerita Sudamala, seperti yang terdapat pula di Candi Sukuh. Cerita ini masih populer di kalangan masyarakat Jawa sebagai dasar upacara ruwatan. Dua aras berikutnya memuat bangunan-bangunan pendapa yang mengapit jalan masuk candi. Sampai waktu ini pendapa-pendapa tersebut masih digunakan sebagai tempat pelangsungan upacara-upacara keagamaan. Pada aras ketujuh dapat ditemui dua arca di sisi utara dan selatan. Di sisi utara merupakan arca Sabdapalon dan di selatan Nayagenggong, dua tokoh setengah mitos (banyak yang menganggap sebetulnya keduanya adalah tokoh yang sama) yang dipercayai sebagai abdi dan penasehat spiritual Sang Prabu Brawijaya V.  Pada aras kedelapan terdapat arca phallus (disebut "kuntabima") di sisi utara dan arca Sang Prabu Brawijaya V dalam bentuk mahadewa. Pemujaan terhadap arca phallus melambangkan ungkapan syukur dan pengharapan akan kesuburan yang melimpah atas bumi setempat. Aras terakhir (kesembilan) adalah aras tertinggi sebagai tempat orang bermeditasi. Di sini terdapat bangunan batu berbentuk kubus.


Mengurai Pesan

Candi itu sesungguhnya adalah merupakan teks yang berbentuk bangunan.  Itu adalah sarana penyampaian pesan para leluhur dari masa silam, medianya melalui estetika simbolik.  Generasi sekarang yang sering tidak tepat dalam menyikapinya – baik dengan menempatkannya sekadar sebagai obyek wisata, maupun sebagai tempat penyembahan realitas yang dianggap sakral - sehingga malah tak bisa menangkap pesan dan ajaran yang disampaikan lewat candi.

Demikian pula Candi Sukuh, sesungguhnya juga memberi pesan tentang mekanisme atau cara meruwat diri.  Berbagai relief dan patung yang ada di Candi Sukuh menjelaskan bahwa meruwat diri adalah menjalani penyadaran secara tuntas tentang realitas pribadi sekaligus missi hidupnya.  Peruwatan diri dimulai dengan menyadari realitas pribadi yang berupa raga, jiwa dan cahaya sejati/sukma sejati.  Sebagai pribadi, kita selalu dalam kondisi perang Barata Yudha antara daya dorong yang disimbolkan dalam berbagai rupa binatang dan raksasa, dengan cahaya terang yang disampaikan sang sukma sejati sebagai manifestasi dari Hyang Yaktining Hurip (Sang Essensi Hidup) di dalam diri.  

Berangkat dari penyadaran ini, kita menata diri secara cerdas sehingga nalar, rasa dan laku kita tidak lagi terdistorsi oleh dorongan dalam diri yang tidak terkelola dengan tepat.  Daya dorong dalam diri yang tidak dikelola secara tepat, menyebabkann distorsi pada nalar, rasa dan laku.  Distorsi/gangguan inilah yang menjadikan keadaan pribadi kita menjadi ruwet, sehingga hiduppun menjadi penuh kabut, tidak cetha atau tidak jelas.  Urip kang cetha, atau hidup yang jelas, cemerlang, gilang gemilang, hanya bisa diraih oleh siapapun yang telah me-ruwat nalar atau intelejensianya, sehingga bisa bernalar dengan tepat, dan dampaknya, bisa merasa dan bertindak dengan tepat pula.

Demikianlah, penulis menangkap pesan dari Candi Sukuh dan Candi Cetha, dan itu mendorong lahirnya buku karya saya dan Mas Paulus Bambang Susetyo berjudul Ruwatan Intelejensia, sebuah buku yang dibuat untuk menjadi sarana ruwatan/ perawatan/pengelolaan intelejensia.