Minggu, 14 September 2014

KERJA SPIRITUAL UNTUK NUSANTARA





Menjadi sukarelawan adalah tindakan melampaui kepentingan ego.  Keluar dari rumah ego dengan berbuat sesuatu tidak untuk kepentingan diri pribadi melainkan untuk kepentingan sesama dan bersama, adalah tindakan yang dianggap mulia oleh berbagai tradisi spiritual.  Dalam ajaran Jawa yang saya hayati,  dinyatakan bahwa sewajarnya setiap manusia menjalankan missi hamemayu hayuning bawono  (memperindah jagad yang sejatinya telah indah).  Praktisnya, setiap orang perlu punya sumbangsih untuk membuat jagad yang kita tempati bersama ini menjadi lebih damai, indah, penuh harmoni dan berkelimpahan.  

Maka, ketika ada momen Pemilihan Presiden 2014 yang potensial untuk mengubah nasib bangsa, membaralah hasrat kesukarelawanan yang tertanam di kedalaman hati penulis.  

Manifestasi Kesukarelawanan


Semesta memberi anugerah besar bagi saya, untuk berbuat sesuatu yang berdampak besar.  Semuanya seperti mengalir begitu saja.  Tanpa direncanakan, penulis terlibat dalam beberapa kerja spiritual untuk mendorong tertatanya Indonesia, dan dalam kaitannya dengan Pemilu 2014, Indonesia tetap bisa damai sekaligus melahirkan pemimpin yang memiliki pembelaan kuat terhadap wong cilik.
Kerja spiritual yang saya maksudkan, sebenarnya tidak langsung ditujukan untuk kepentingan politik praktis.  Tetapi, ini berkaitan dengan tindakan untuk mengerti dengan tepat sinyal-sinyal semesta dan melakukan penyelarasan pada atmosfer yang melingkupi Nusantara.

Saat itu, adalah hari-hari menjelang pelaksanaan Pilpres 2014.  Dalam batin penulis, muncul sebuah dorongan untuk melakukan satu kerja yang serius, demi kebaikan bangsa ini.  Sekalipun penulis tak tahu pasti, kerja tersebut berbentuk apa.  Ternyata,dalam rembugan dengan rekan kerja sekaligus pembimbing spiritual penulis yang tinggal di Solo, yaitu Mas P.B. Susetyo bersama Ibu Nur Apiri, Pak Adi Muljaawan dan Pak Agus Suprapto, disepakati untuk pergi ke Candi Sukuh dan Candi Cetha.  Di dua tempat tersebut, kami membahasakannya apa yang kami lakukan sebagai berikut, “mengikuti sinyal semesta untuk menggelar tindakan penyelarasan demi keselamatan bangsa ini.”

Tindakan penyelarasan dibutuhkan, agar pada tanggal 9 Juli 2014 saat Pilpres dilakukan Indonesia tetap damai, dan terpilih pemimpin yang betul-betul mendapatkan dukungan semesta (dalam terminologi Jawa, mendapatkan “Wahyu Keprabon”).   

Pilihan untuk melakukan tindakan penyelarasan di Candi Sukuh dan Candi Cetha tentunya bukan tanpa alasan.  Candi Sukuh merupakan tempat kita meruwat diri maupun bangsa.  Sementara Candi Cetha adalah tempat untuk menegaskan kesiapan melahirkan karya cemerlang setelah pribadi dan bangsa diruwat dari segala bentuk distorsi.

Maka, sore hari pada tanggal 6 Agustus 2014, saya pergi bersama rombongan terdiri dari 5 orang, menuju Candi Sukuh dan Candi Cetha.  Ketika berangkat, saya pribadi mengajak via HP puluhan teman yang saya pandang memiliki kesamaan kesadaran tentang pentingnya berbuat sesuatu untuk bangsa ini.  Pesan yang saya sampaikan kepada teman-teman tersebut adalah agar sama-sama bermeditasi, memasuki keheningan, lalu memancarkan kasih murni dari pusat hati dan menyabdakan agar kejernihan meliputi bangsa ini.

Kami tiba di Candi Sukuh yang terletak di lereng kaki Gunung Lawu  tepatnya di  Dukuh Berjo, Desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah saat senja dan hari mulai gelap.  Setelah minta ijin petugas di candi tersebut, kami menaiki teras demi teras hingga berada di bangunan tertinggi, sebuah altar.

Di altar tersebut, setelah melakukan persiapan sepertinya, kami semua hening, manunggal dengan sejatinya diri, manunggal dengan semesta.  Penulis pribadi melakukan apa yang bisa dilakukan, dari pusat hati penulis alirkan kasih murni ke atmosfer Nusantara untuk keselamatan, kedamaian dan kemakmuran negeri ini.  Penulis keluar dari rumah ego dan menempatkan negeri ini sebagai lokus kesadaran.  Dalam kesadaran penulis – selaras dengan apa yang dilakukan oleh anggota rombongan lain – penulis menyabdakan agar Ibu Pertiwi (sesuai dengan karakter feminin dari Candi Sukuh) dengan kekuatan kasihnya “melahirkan kembali” anak-anak negeri ini.  Itulah pengertian meruwat negeri, membiarkan Kekuatan Kasih Murni membasuh segala luka dan distorsi nalar yang diderita anak-anak negeri.

Malam dan dingin yang menyelimuti Candi Sukuh, membuat kesyahduan kegiatan kami.  Penulis sendiri bersyukur kepada Sang Pemberi Hidup, diberi kesempatan untuk terlibat dalam satu agenda yang berorientasi bagi kebaikan bangsa, dan sekalipun terkesan sederhana, dipastikan punya dampak besar bagi pulihnya kejayaan negeri ini.

Tuntas kegiatan di Candi Sukuh, penulis dan rombongan bergerak ke Candi Cetha.  Candi ini berada di lereng Gunung Lawu pada ketinggian 1496 m di atas permukaan laut, dan secara administratif berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.

Rombongan memusatkan kegiatan di teras tertinggi, dimana terdapat bangunan kubus dengan selubung Bendera Merah Putih.  Di sini, di candi dengan karakter energi maskulin, kami kembali hening lalu dengan kesadaran penuh mengalirkan kasih murni dan menyabdakan kejayaan Nusantara.  Lewat hening di tempat ini, sebetulnya telah jelas wahyu keprabon itu menjadi milik siapa: ia menjadi milik siapapun yang paling tulus dalam melayani rakyat. 

Bagi penulis sendiri, bermeditasi di Candi Cetha pada kesempatan kali ini terasa berbeda.  Kali ini terasa sungguh berat, terasa dingin sekali.  Sehingga penulis bermeditasi sambil menggigil.  Padahal, biasanya penulis cukup akrab dengan cuaca dingin seperti apapun karena sudah terbiasa berkelana ke berbagai tempat yang dingin.  Rupanya, rasa dingin ini terkait dengan terbukanya portal energi semesta.  Dengan terbukanya portal energi semesta itulah tindakan penyelarasan dengan mengubah beberapa kode bisa dilakukan oleh Mas P.B. Susetyo sebagai pimpinan rombongan.

Kerja Lanjutan


Pilpres 2014 pada tanggal 2014, berjalan dengan lancar dan damai.  Hasil Quick Count dari berbagai lembaga survey kredibel menunjukkan kemenangan pasangan Jokowi-JK.  Tapi, gejolak politik rupanya belum usai karena kubu Prabowo-Hatta belum bisa menerima kekalahan dengan legowo.  Jagad Nusantara masih potensial gonjang-ganjing...!  Mengikuti aliran semesta, penulis kembali terlibat dalam tindakan kesukarelawanan dalam tataran metafisika.  Bertempat di rumah salah satu saudara seperjalanan spiritual di Salatiga, sehari menjelang pengumuman pemenang Pilpres 2014 oleh KPU, penulis terlibat dalam sebuah ritual simbolik untuk “mengamankan suara kandidat yang didukung wong cilik” dan  menegakkan “payung kedamaian” untuk negeri ini. 

Maka.....terjadilah apa yang semestinya terjadi.  Jokowi-JK terpilih sebagai pemenang Pilpres 2014 dan tetaplah damai negeri ini sekalipun ada manuver-manuver untuk membuat kekacauan dari pihak yang merasa kepentingannya terganggu.

Berikutnya, saya kembali mendapatkan kesempatan untuk berbuat sesuatu bagi negeri ini.  Beberapa hari menjelang Lebaran, disepakati untuk menjalankan agenda mengelilingi Jawa Tengah sebagai punjer-nya Nusantara, dan di berbagai titik meletakkan piranti yang membentuk jaring-jaring energi yang melindungi Nusantara.  Kali ini saya bergabung dalam rombongan Mas P.B. Susetyo, Ibu Nur Apiri dan Pak Adi Muljawan.

Di mulai dari titik pembuka di Cemara Sewu di Kaki Gunung Lawu, rombongan dengan menggunakan jip kuno keluaran 1982, menyusuri desa dan kota yang mengelilingi Jawa Tengah.  Selama 4 hari kami melintasi Magetan, Ngawi, Cepu, Tuban, Rembang, Jepara, menyusuri Pantai Utara hingga ke Losari di Cirebon, belok ke arah Luragung, Ciamis, Pangandaran, lalu menyusuri Pantai Selatan hingga melintasi Ponorogo dan kembali ke titik semula di Cemara Sewu.  Di tiap titik, kami juga menyabdakan pulihnya kejayaan Nusantara dan berseminya kemakmuran yang merata di negeri ini.

Tentunya, perjalanan ini penuh suka duka, dengan muara suka tentunya.  Betapa tidak, perjalanan ini memang melelahkan secara fisik dan mental.  Penulis sendiri kebagian tugas untuk meletakkan piranti pembentuk jaring-jaring energi.  Otomatis penulis yang sering turun dari mobil.  Penulis menanamkan piranti itu kadang di alun-alun kota yang ramai, sehingga harus “menyamar” sebagai pengunjung biasa.  Kadang menanamnya di lokasi yang sunyi, di tengah bukit, hutan atau pantai, saat malam tiba.  Untuk yang terakhir ini, sejujurnya, penulis beberapa kali merasakan sunyi yang mencekam, merinding, serem juga.  Tempat yang paling mencekam bagi penulis adalah kawasan perbukitan di antara Kuningan-Ciamis, Jawa Barat.  Persentuhan dengan dimensi lain terasa demikian nyata.  Namun, itu memang lakon yang harus dilalui.  Dengan cara demikianlah penulis bisa berkontribusi untuk negeri ini.

Satu momen emosional lainnya adalah ketika penulis dan rombongan melintasi Kuningan, Jawa Barat.  Rumah penulis berada di Kuningan, dan disanalah istri dan anak-anak penulis tinggal.  Tentu saja, tarikan rasa untuk pulang ke rumah demikian besar, karena jalur jalan yang dilalui penulis berjarak tak lebih 25 km dari rumah penulis.  Tapi, hasrat untuk berkumpul dengan keluarga harus ditahan, demi tuntasnya kerja bagi negeri.

Sementara itu, dalam perjalanan ini, penulis menemukan dua sinyal semesta yang  mengesankan hati.  Pertama, di Pulau Nusa Kambangan.  Kami memasuki pulau ini, dan di pantai selatan pulau ini bermeditasi untuk kedamaian penghuni Nusa Kambangan dan bangsa ini secara keseluruhan.  Ketika itu, suasana yang semula disaput mendung pekat yang membekukan hati, berganti atmosfer ceria ketika meditasi usai dilaksanakan.  Lalu, di titik akhir, yaitu di Cemara Sewu, kabut yang sangat pekat ketika itu, sirna saat meditasi pamungkas selesai dilakukan.  Bagi penulis, ini adalah simbol sirnanya kegelapan di negeri ini dan terbukanya gerbang kegemilangan.

Pulihlah kejayaan Nusantara sebagaimana ternyatakan dalam Serat Jayabaya Watisara:

.......Wus pinurag Tanah Jawa dadi udur
(sudah lama Tanah Jawa diperebutkan),
Prabu Anom majeng ngrana
(Raja Muda maju ke medan perang),
mawor jalma rucah mbenjing
(bercampur dengan orang awam nanti).

Ambelani Tanah Jawa
(membela Tanah Jawa),
kinarubut saking njero lan njawi
(dikeroyok dari dalam dan luar),
sinaranan agal alus
(secara kasar dan halus),
nging cabar kabadharan
(tetapi dapat ketahuan),
thingak-thinguk temah angrarampek sampun
(celingukan hingga merajuk minta dikasihani),
mungsuh njaba bobodholan
(musuh dari luar tercerai berai),
kesah nging taksih ngrarampit
(pergi tapi masih menyerang).....

(Cuplikan dari ALMENAK MAHA-DEWA" 1954.  Diterbitkan oleh Badan Penerbit "MAHA - DEWA" di Ngayogyakarta Hadiningrat. Dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia oleh RMT Dwija Setya Nagara di Surakarta Hadiningrat)