Sabtu, 17 Januari 2015

AJARAN KEHIDUPAN DI TANAH JAWA




Setahun belakangan, Bejo sangat sering mengunjungi Mbah Gemblung.  Tapi, jarang ia memperhatikan detail rumah tersebut.  Kini ia baru sadar, jendela di beranda tempat ia duduk dan mengobrol dengan Mbah Gemblung, ternyata terbuat dari susunan kayu-kayu bekas.  Kayu-kayu yang semula tak terpakai itu, bisa membentuk struktur jendela yang artistik karena gubahan tangan Mbah Gemblung.  Ternyata Mbah Gemblung memang senang mempergunakan kembali benda-benda bekas yang semula hanya tergolek di sudut tertentu.  Bakat artistik Mbah Gemblung ternyata menghasilkan karya yang bersahaja namun punya estetika unik dan menarik.

Siang itu, Bejo melanjutkan obrolannya tentang laku Jawa.  Ia melontarkan kata-kata pembuka sebagai berikut, “Mbah, kita pernah bicara sebelumnya bahwa laku Jawa itu menekankan pada penyadaran.  Dan salah satu indikator manusia yang sadar adalah tertuntun oleh Gusti yang bertahta di telenging manahnya.  Sehingga aturan-aturan eksternal dalam bentuk agama, tidaklah penting.  Tetapi kenyataannya begini Mbah, tidak semua orang bisa menyadari keberadaan Gustinya dan tertuntun oleh Gusti.  Bukankah orang-orang yang demikian tetap membutuhkan agama Mbah?”

Mbah Gemblung menanggapi, “Hmmmm.  Untuk mengerti perkara ini, mari kita urai lebih jelas.  Menurutmu Jo, dalam kaitannya dengan kehidupanmu di rumah tangga, atau dalam bertetangga, membutuhkan aturan dari luar?  Jika memang membutuhkan, apakah itu harus dalam bentuk agama?”

Bejo yang ditanya berkomentar, “Mbah ini kalau ditanya malah balik bertanya?”

Mbah Gemblung pun tertawa lalu berata lebih lanjut, “Lho ya biar jelas tho Jo.  Lagi pula buat apa nalarmu kalau tidak dipergunakan, eman-eman tho Jo.  Ha, ha, ha”

Bejo ikut tertawa dan berujar, “He, he, he.   Mbah Gemblung kok dilawan!  Menurut pertimbangan saya begini Mbah.  Prinsipnya, dalam segala perkara dan wilayah kehidupan, diperlukan aturan main.  Aturan main itu yang berfungsi memastikan setiap pribadi tetap bisa menyaman menjalani hidupnya tanpa terganggu oleh keberadaan pribadi lain.

Kenyataannya, satu pribadi dengan pribadi lainnya bisa mengganggu.  Sebagai contoh, tetangga saya bisa terganggu ketika saya meletakkan sampah dari rumah saya di halamannya.  Sebaliknya saya juga bisa terganggu ketika tetangga saya menyanyi keras-keras di tengah malam.  Agar semua merasa nyaman, perlu sebuah keselarasan perilaku.  Tetapi, agar keselarasan perilaku ini terjadi dan semua orang merasa nyaman, jelas tidak selalu diperlukan aturan tertulis.  Juga, tidak selalu dalam bentuk aturan dari Tuhan yang kemudian ketika disistematisasi dan diorganisasikan, menjadi apa yang kita kenal sebagai agama.  Dalam sebuah lingkungan sosial, bisa tumbuh nilai-nilai bersama, etika bersama, yang bisa menjadi sebuah tradisi, adat.    Nilai-nilai demikian, yang kemudian dipegang oleh warga sebuah lingkungan, tidak selalu tertulis tetapi hidup.  Dan itu juga tidak mesti berakar dan berbentuk agama.  Nilai-nilai demikian terbangun melalui nalar pribadi yang berkembang menjadi nalar kolektif.”

Mbah Gemblung diam sejenak.  Ia mencomot beberapa butir kacang rebus yang tersaji di meja.  Usai kacang tersebut habis dimakan, ia berkata lagi, “Hmmmm....pertanyaan berikutnya Jo.  Terkait dengan pakaianmu, atau apa yang kamu makan, apakah perlu ada peraturan tertentu yang tertulis, atau dibutuhkan juga sebuah agama yang mengatur tatacara berpakaian dan makan?”

Bejo dengan penuh kesungguhan mengungkapkan pandangannya, “Jika direnungkan, setiap manusia punya budi atau kecerdasan, punya pertimbangan-pertimbangan nalar.  Sebetulnya dengan perangkat itu ia bisa menentukan pakaian apa yang layak dikenakan,  juga makanan apa yang tepat dikonsumsi.  Juga melalui budi dan nalarnya orang bisa menentukan bagaimana cara makan dan cara mendapatkan makanan tersebut.  Termasuk bisa mengerti mengenakan pakaian apa pada kala apa dan di mana.   Secara natural, akan terbangun sebuah kesadaran bersama, yang seperti saya katakan tadi, membentuk tradisi, adat, ataupun etika kolektif.  Orang yang bertindak tidak sesuai dengan ini, pasti akan mendapatkan reaksi tertentu dari lingkungannya dan mau tidak mau juga akan menyesuaikan diri agar tidak terkucil.

Mempertimbangkan kenyataan demikian, lagi-lagi tidak selalu dibutuhkan aturan tertulis yang mengikat, sebagaimana tidak selalu dibutuhkan agama untuk membuat segalanya tertata.  Jikapun dibutuhkan sebuah hukum, atau aturan eksternal, itu untuk perkara-perkara tertentu yang menurut saya telah diperankan secara efektif oleh hukum positif.  Orang-orang, entah beragama ataupun tidak, terikat oleh hukum positif itu, yang di Indonesia diejawantahkan dalam Hukum Pidana dan Perdata.  Meskipun bisa jadi ada sebagian muatan di hukum positif itu berakar pada agama, tapi tanpa agamapun orang bisa membuat hukum positif.  Karena orang memiliki budi dan nalar.  Dan berbagai pribadi berbeda yang diberi otoritas dengan budi dan nalarnya itu bisa bersepakat untuk menentukan apa saja perkara kehidupan yang perlu dituliskan aturannya.”

Mbah Gemblung terus mengejar, “Hmmm..jika demikian pertimbanganmu, masihkah dibutuhkan agama?”

Dengan tangkas Bejo menjawab, “Begini Mbah....harus diakui juga, bahwa ada yang tidak bisa diselesaikan oleh hukum positif maupun sebuah tradisi.  Katakanlah, orang-orang perlu tahu jalan untuk lepas dari penderitaan.  Orang-orang juga perlu untuk dapat kepastian, ketika mati atau sukmanya berpisah dengan raga, mereka tetap berada dalam kesejahteraan, kesentausaan.   Pada titik ini menurut saya diperlukan agama, karena agamalah yang menguak rahasia hidup secara lebih luas, termasuk terkait perkara-perkara yang tak kasat mata.  Tentang kehidupan setelah mati, tentang Tuhan, dan perkara-perkara lainnya.”

Mbah Gemblung lalu menggenapi jawaban Bejo, “Tepatnya Jo, sebagian orang memang butuh tuntunan agar mereka bisa tertuntun oleh Gustinya.  Realitasnya sekalipun Gusti itu nyata di dalam diri dan melingkupi hidup ini, senantiasa memberikan tuntunan kepada jalan kesentausaan, tidak semua orang sadar.  Sebagian orang terikat oleh dimensi ragawinya, terbelengu oleh gejolak perasaannya, lebih mengikuti dorongan-dorongan kedagingan ketimbang menuju pada kebeningan.  Jikapun mereka sudah punya hasrat untuk masuk pada tataran jumbuh, bersenyawa, atau manunggal dengan Gusti, belum tentu juga mereka tahu caranya.

Tetapi, tuntunan demikian tak mesti dalam bentuk agama, tidak mesti juga dinamai agama.  Esensinya itu adalah tuntunan, yang jika dipraktikkan pasti membawa manusia menyibak tirai demi tirai penghalang antara dirinya dan Gusti.  Tapi kamu jangan bayangkan tirai ini berbentuk gorden lho Jo.  Ha, ha, ha.  Ini adalah pembahasaan untuk kesadaran yang terbatas.  Melalui penyadaran, kesadaran seseorang akan meluas.   Jika kesadaran seseorang ini terus meluas, ia akan sampai pada keberadaan tanpa batas, yang menjadi esensi semesta sekaligus esensi diri.”

Sambil tersenyum Bejo mengungkapkan kesepakatannya.“He, he, he, iya Mbah.”  Tapi lalu ia berujar,  “Pertanyaannya, tuntunan ini sejatinya apa, dibuat oleh siapa, bermula dari mana?”

Setelah melepas kacamatanya sebentar dan memakainya kembali, Mbah Gemblung menguraikan pendapatnya, “Begini Jo.  Kehidupan ini bukan sebatas apa yang engkau bisa lihat dengan mata ragawimu.  Bicara tentang titah urip tidak terbatas pada manusia, hewan.  Planet yang berpenghuni juga bukan cuma bumi.  Penggejawantahan Hyang Yaktining Hurip itu gatranya punya ragam tak terbatas, bertingkat-tingkat kedudukannya, tertata dalam sebuah sistem yang kompleks.   Tuhan yang tanpa batasan dan gatra sendiri juga realitasnya bisa mempribadi, menjadi penguasa semesta.  Di dalam Bhagawad Gita, Tuhan yang mempribadi inilah yang dikenal sebagai Wisnu atau Sri Kresna.  Di dalam layang-layang Jawa Kuno, Beliau dikenal dengan nama Gosoto yang berarti Kasih.  Nah, uniknya adalah, manusia itu bisa dikatakan sebagai jagad alit, miniatur dari jagad ageng atau semesta.  Apa yang ada pada semesta, struktur dan tatanan pada semesta, tercerminkan pada keberadaan manusia.  Maka, jika di semesta ini ada sang pribadi penguasanya, di dalam diri manusia juga demikian.  Itulah yang kita mengerti sebagai Diri Sejati, atau Gusti.

Maka, apa yang terjadi bisa dilihat dalam dua perspektif.  Di satu sisi, tuntunan bagi manusia itu bisa dilihat berasal dari Tuhan Sang Penguasa Semesta yang keberadaannya transenden, yang disampaikan kepada manusia melalui kuasa-kuasa tertentu atau pengejawantahan perdana dari Tuhan yang mempribadi.  Orang Jawa Kuna mengenal realitas demikian dengan nama “ngabidha”.  Tradisi semitik mengenalnya sebagai malaikat.  Tradisi Arya menyebutnya dewa.  

Di dalam Layang Joyoboyo dipaparkan sebagai berikut:

"NOTODOKO: 188 Kaca 67."
'Gusti kang welas asih,
Hamung Panjenengan ...
Saksi Hulun ingkang wiwitan,
Hingkang kuwasa ngutus:
Notodoko ...
Terogono ...
Gokonongodo ...
Gonodoko ...
Njagi gesang ...
Lan seda Hulun.'
SOHO.

Teks Jawa Kuna ini menjelaskan keberadaan Gusti dan utusan Gusti yang juga disebut sebagai sedulur papat yang momong manusia, termasuk menyampaikan pesan-pesan Gusti kepada manusia.

Tetapi dalam perspektif lain, tuntunan itu sebenarnya berasal dari dalam diri manusia sendiri, dari Gusti yang menjadi inti keberadaan manusia, dan bisa diperoleh melalui laku wening.   Utusan-utusan Gusti yaitu Notodhoko, Torogono, Gokonongodo dan Gonodoko juga berada di dalam diri, bertahta di lapisan-lapisan raga manusia.  Orang bisa menemui mereka dengan menyelam ke dalam diri.

Ada orang-orang tertentu yang secara natural punya kematangan jiwa dan perangkat-perangkat penyadarannya bisa dikatakan telah “ON” atau aktif, sehingga mereka lebih dahulu sampai pada tataran jumbuh atau manunggal dengan Gusti.  Maka, pesan-pesan Gusti, yang bisa menjadi tuntunan bagi manusia, bisa datang melalui orang-orang seperti ini.  Dalam tradisi Semitik mereka disebut sebagai nabi (pembawa berita).  Di Jawa, karena orang-orang seperti ini banyak jumlahnya, penamaan menjadi tidak begitu penting.  Yang pasti, orang bisa mendapatkan tuntunan dari mereka sebelum kemudian secara langsung terhubung dengan Gustinya.”

Bejo menyimak paparan yang panjang dari Mbah Gemblung.  Lalu dia memberikan tanggapan, “Hmmm...nah, itu dia Mbah.  Banyak orang yang membutuhkan tuntunan nyata tentang bagaimana manembah, bagaimana mengatasi problema hidup, bagaimana membuang sengkala atau kesialan, bagaimana memulihkan kehidupan yang kadung porak poranda, termasuk juga bagaimana bisa mendapatkan rejeki yang memadai.

Mbah Gemblungpun menegaskan, “Ya, dan perlu Mbah sampaikan bahwa sebelum datang agama-agama dari mancanegara, di Jawa ini sudah ada tuntunan canggih mengenai perkara-perkara itu.  Itu mengejawantah dalam tuntunan mengenai pola manembah, pola hidup, aksara, penanggalan, dan lainnya.  Kalau kita bicara aksara Jawa sebagai contoh, dibuat atau diperkenalkan oleh Mpu Hubayun pada tahun ± 911 SM (Sebelum Masehi). Kemudian, Prabu Sri Maha Punggung I atau Ki Ajar Padang I mengadakan perubahan pada Haksara  dan sastra Jawa pada  pada tahun 50 SM (Sebelum Masehi)

Kemudian, bertepatan tanggal  21 Juni 77 M oleh Prabu Ajisaka atau Prabu Sri Maha Punggung III melakukan kembali perubahan Aksara.  Ia juga mengembangkan sistem penanggalan Jawa.   

Ajisaka juga bernama Jaka Sengkala ... lahir tahun 704 masa Pancamakala ... ayahnya bernama Mpu Anggajali dari pegunungan Kendeng Selatan ibunya bernama Dewi Saka dari suku Avicaka ... dari India Utara.  Tahun itu semasa dengan tahun Adam 5088 dan 5260 tahun Matahari.

Ayah Mpu Anggajali bernama Mpu Ramayadi atau Ramadi  yang asli dari pegunungan Kendeng Selatan di pulau Jawa.  Hidup Aji Saka ini semasa dengan Maharaja Kaneshaka dari suku Avicaka yang mengadakan ekspansi ke Jawa.   Dan bisa jadi  Aji Saka ikut bersama ekspansi ini.  Terjadi perkawinan antara Aji Saka dengan putri dari keturunan Nie Rah Kie cucu dari Kie Seng Dang dari Pegunungan Kendeng Utara.

Prabu Kaneshaka menerapkan penanggalan Caka di Pegunungan Kendeng Utara sejak tanggal 23 Maret 78 Masehi. Itu menjadi permulaan 1 Sura tahun 1 Caka.  Aji Saka juga melakukan penerapan penanggalan yg berpatokan Pranata Mangsa Jawa dari Pegunungan Kendeng Selatan warisan leluhurnya  dimulai tanggal 21 Juni 78 Masehi.  Dan ini dijadikan mulainya 1 Sura 1 Saka  (Aji Saka) tahun Sangkala.

Nampaknya inilah yang membuat rancu penanggalan Jawa karena afa dua sistem penanggalan yang nampak serupa tapi ternyata berbeda.  Setidaknya selisih 3 bulan  dan  karakternya sungguh berlawanan karena penanggalan Caka berpedoman dari Surya pada garis balik Utara sedangkan penanggalan Sangkala berpedoman Surya pada garis balik Selatan.  Kala itu penanggalan Sangkala sudah masuk tahun ke 989.”

Mendengar paparan itu Bejo menukas, “Hmm...itu berbeda ya Mbah dengan informasi yang sering dipelajari di sekolah bahwa orang Jawa atau Nusantara itu animis-dinamis, tidak mengenal peradaban yang canggih.”

Mbah Gemblung tertawa pelan lalu melanjutkan uraiannya, “He, he, he, iya Jo.  Bahkan sebetulnya, kita punya ajaran yang lebih tua lagi.  Merujuk pada artefak dan manuskrip dari Klothok, kita bisa menemukan aksara dan ajaran yang telah ada sejak 4426 SM.  Aksaranya disebut Jawa Ngawi atau Jawa Nglegena.   Nah, tadi ketika Mbah mengutip ujaran Notodoko, itu dikutip dari Layang Joyoboyo yang memuat ajaran Jawa Kuno yang lebih kuna dari tradisi Ibrahim, tradisi Hindu juga Budha. 

Apa yang ada di dalam Layang Joyoboyo, sejatinya merupakan sabda GUSTI.  Itu diturunkan kepada Sang Paksi Tundha Mangkawa bernama JOSONO di gunung Klothok Kediri 6440 silam  pada hari Goso Pon (Selasa Pon).  Dan itu menjadi bulan Suro (Hosoro) yang asli Jawa, diperingati setiap tahunnya sebagai peristiwa Turunnya Sabda Gusti untuk Warang Djowo (manusia Jawa).

Dan kamu juga perlu mengerti  Jo, yang lebih tua dari itu juga ada.  Pawukon itu sudah ada sejak 17 ribu tahun yang lalu atau sekitar 15 ribu tahun SM. Pawukon adalah pengetahuan mengenai wuku-wuku.  Di dalamnya membeberkan pengaruh baik dan pengaruh buruk bagi seseorang yang dilahirkan pada wuku yang bersangkutan. Watak tabiat dari masing-masing wuku tersebut dipengaruhi oleh kuasa semesta yang menaunginya, serta atribut yang dibawanya. Atribut tersebut seperti misalnya: burung, kayu pohon dan yang lain. Menimbang pawukon seperti demikian, bisa kita pastikan bahwa itu hanya bisa terbentuk dalam konteks budaya atau latar tradisi yang maju.

Tetapi, inti ajaran Jawa dari berbagai periode itu sama.  Itulah yang disebut Sastra Cetha. 

ESTUNE ...
SUKMA SAYEKTI ...
DUMUNUNGE ...
ING SATELENGING ATI ...
SING SAPA WONGE ...
NGAWRUHI KANTHI NASTITI ...
MBENJANG BAKALE ...
GESANG LANGGENG SARENG GUSTI ...
HOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOONG
(Sesungguhnya
Sukma sejati
Bertahta di pusat hati
Siapa saja orangnya
Yang mengetahui perkara ini dengan cermat
Esok akan
Hidup langgeng bersama Gusti.
Hoooooong.”)

Bejo yang terkesan dengan paparan panjang lebar dari Mbah Gemblung bertanya lagi, “Mbah, bisakah dibabarkan pola manembah ala Jawa Kuno yang bisa saya praktekkan untuk mempercepat proses menjadi wening dan jumbuh dengan Gusti?”

Mbah Gemblung menanggapi sambil tertawa, “He, he, he, ada Jo.  Memang orang seperti kamu ini perlu ya tuntunan seperti itu.”

Bejo menjawab singkat, “Iya Mbah, benar....”

Mbah Gemblungpun memberikan sarannya pada Bejo, “Coba kamu pelajari pola manembah yang dipaparkan di Layang Joyoboyo ini.  Untuk yang dasar, ada 4 gerakan.  Setiap gerakan ada japa atau kata-kata tertentu.  Gerakan dan japa ini membawa energi perubahan tertentu pada manusia yang menjalankannya.”

Dengan penuh hormat Bejo berkata, “Baik Mbah...sendika dawuh...”