Minggu, 28 September 2014

PERMENUNGAN HIDUP: TENTANG KESADARAN




Saat-saat datangnya kesadaran itu tidaklah terduga.  Tak pernah mengambil pola pasti.  Kadang ia datang saat saya duduk terpekur di keheningan malam, melihat langit berbintang.  Kadang ia datang saat saya duduk santai di bawah pohon mangga.  Kadang ia muncul saat saya duduk setengah melamun di angkutan umum.  Bagaimanapun prosesnya ia datang, namun kesadaran ini ibarat penerang di tengah kegelapan.  Kesadaran yang membuat kita mengerti berbagai perkara yang semula samar.  Kesadaran menghubungkan kita dengan kenyataan dan meluruhkan semua ilusi yang tertanam di benak.

Saya coba mencermati lebih jauh, apa sesungguhnya KESADARAN.  Dan bagaimana sesungguhnya penyadaran yang berarti proses munculnya kesadaran bisa datang dalam kehidupan satu pribadi.
Pengertian akan kesadaran ini tumbuh seiring pengertian akan diri.  Mencermati diri, mengurai lapis demi lapis keberadaan diri, bisa ditemukan keberadaan Sang Aku.  Sosok Aku inilah yang memiliki free will untuk melakukan apa yang dia mau, sesuai batas kemampuan yang ia miliki.  Di balut tubuh eterik dan tubuh ragawi, Sang Aku ini menjalani hari demi hari di bumi ini, hingga tibalah masa dia berpindah ke dimensi lain.

Yang unik adalah free will ini.  Ialah yang membuat manusia bisa memilih jalan manapun yang ia mau.  Suka dan duka dipilih sendiri.  

Melalui permenungan yang lebih mendalam, bisa ditemukan realitas bahwa Sang Aku ini mengambil pilihan tindakan, berdasarkan berbagai pengaruh: kadang hanya mengikuti insting, kadang mengikuti intuisi yang berakar pada matangnya pengalaman, kadang mengikuti asumsi-asumsi yang berakar kuat dalam nalar, kadang mengikuti kalkulasi nalar yang matang. Dalam beberapa kasus, ada pribadi yang Sang Akunya mengikuti bisikan-bisikan dari luar dirinya: ada kuasa supranatural yang memberikan panduan.   Dan, ada pribadi yang telah mencapat tataran dimana pilihan-pilihan tindakannya diselaraskan dengan dorongan dari dirinya yang paling dalam.  Tak mudah membahasakan realitas ini, tapi, secara sederhana, bisa dijelaskan sebagai keadaan dimana ketika Sang Aku sudah manunggal, selaras, tahu, terhadap Realitas Tertinggi/Tuhan/Brahman.

Menimbang perjalanan hidup saya, bisa saya katakan bahwa ada periode hidup dimana pilihan-pilihan tindakan saya banyak dipengaruhi oleh asumsi yang muncul dari penyimpulan terhadap apa yang saya cerap melalui panca indera.  Ini terjadi karena memang saya pada dasarnya adalah pribadi rasionalis yang sangat percaya pada kekuatan nalar saya.  

Ternyata, cara hidup seperti ini sering tidak membawa keselamatan.   Asumsi saya tidak jarang keliru, sehingga pengambilan keputusan bertindakpun menjadi keliru, dan kadang berakibat fatal.  
Hingga suatu masa, saya dibimbing Sang Hidup melalui beberapa sosok, untuk menggeser kesadaran dari nalar ke lokus lain: rahsa sejati.  Penamaan ini juga penyederhanaan dan simbolik.  Intinya, ada dimensi lain dalam diri kita yang merupakan manifestasi dari Sang Hidup sendiri untuk menjadi penuntun laku hidup kita.  Siapapun yang peka terhadap tuntunannya, otomatis laku hidupnya selaras dengan cetak biru kehidupan pribadi kita sebagaimana digariskan – mereka yang religius menyebutkan fenomena ini sebagai “mengikuti kehendak Tuhan/Gusti/Brahman”.

Langkah paling dasar untuk bisa mempraktekkan kesadaran yang berlokus pada rahsa sejati adalah mengerti apa bedanya berpikir dan merasa.  Latihan pertama saya, merasakan limpahan sinar matahari di pagi hari, untuk tahu dengan tepat apa bedanya dengan memikirkan sinar matahari.  Langkah berikutnya, adalah merasakan nafas dan juga realitas tubuh.  Semakin lama, saya semakin tahu apa bedanya berpikir dan merasa.  Lebih lanjut, adalah merasakan keberadaan sumber hidup di dalam diri: realitas yang dalam terminologi Jawa disebut Gusti dan bisa dirasakan bertahta di telenging manah atau pusat hati.  Tentu saja hati di sini bukan lever.  Ia adalah simbol untuk dimensi terdalam dari Sang Aku, esensi dari Sang Aku, yang bisa disebutkan sebagai Aku Sejati.

Semakin intensif menyadari keberadaan rahsa sejati yang berujung pada kesadaran akan realitas Aku Sejati, maka berubahlah pola hidup saya.  Bukan berarti selamanya saya tidak lagi mengikuti asumsi, kepercayaan, instink maupun intuisi.  Tapi, kini saya lebin sering membiarkan diri saya mendapatkan tuntutan dari kedalaman diri saya.

Tuntunan itulah yang saya mengerti sebagai sumber kesadaran: saya bisa mengerti realitas karena Sang Aku kini memilih bekerja berdasarkan tuntunan dari Sang Aku Sejati.

Bagaimana dengan Anda?