Rabu, 08 Juni 2016

WASPADALAH, JANGAN BIARKAN TUBUH DIJAJAH DEMIT!







Manusia memang dimungkinkan untuk mengakses energi dari luar dirinya, baik berupa energi benda-benda kosmik maupun energi dari titah hurip lain.  Ada laku atau tradisi yang berkembang berkenaan dengan ini.  Namun, ini bahkan memunculkan resiko yang lebih besar lagi ketimbang pola-pola pengaksesan energi dari dalam diri sebagaimana di paparkan di atas.

Setiap benda kosmik, seperti matahari, bulan, bahkan planet Bumi sendiri, memiliki energi tersendiri.  Tentunya, energi ini ada dengan peruntukan tertentu.  Dengan pola meditasi atau semedi tertentu, manusia bisa menyerap energi matahari, energi bulan, dan energi dari benda-benda lain di langit.  Manusia juga bisa menyerap energi air, api, tanah dari bumi. Nah, penyerapan yang dilakukan manusia tentunya membuat berbagai benda kosmik itu tidak bisa bekerja optimal karena ada daya yang dialihkan tidak sesuai peruntukannya.  Ini beresiko membuat tatanan kosmik menjadi tidak harmoni, dan pada jangka panjang pasti mempercepat proses destruksi tempat tinggal manusia.  Dan resiko lainnya, energi yang terserap merubah tatanan energi di dalam raga manusia, mengubahnya dari tatanan sewajarnya sebagaimana saat dilahirkan.  Sekalipun pada jangka pendek, energi yang terserap ini bisa berguna, pada jangka panjang, ia malah menghambat pencapaian kamuksan atau sampurnaning hurip.

ENERGI PADA MANUSIA



 

Manusia hidup karena energi.  Dan di dalam diri manusia, terdapat berbagai kategori dan simpul energi.  Semua energi bermula dan bersumber dari Realitas Tertinggi, yaitu Gusti Yaktining Hurip.  Namun, energi di dalam diri manusia ini berbeda-beda   

Energi yang paling murni bersumber pada telenging manah.  Inilah energi spiritual, energi ruh, atau divine energy pada diri manusia.  Keterhubungan dengan energi ini menegaskan posisi manusia sebagai makhluk spiritual atau sebagai titah urip yang paling sempurna mengejawantahkan keberadaan Gusti.

Minggu, 29 Mei 2016

APAKAH REINKARNASI ITU NYATA?






Idealnya, setiap manusia yang pernah hidup di muka bumi tidak mesti kembali ke muka bumi atau mengalami reinkarnasi.  Mereka bisa terus melanjutkan kehidupan dengan mendiami planet lain, baik di galaksi yang sama atau galaksi yang berbeda.  Capaian itu sesuai tataran perjalanan mereka ketika hidup di muka bumi.  Bahkan idealnya manusia bisa mencapai tataran ketika tidak lagi terikat oleh dimensi ruang dan waktu, benar-benar bettransformasi menjadi keberadaan dalam gatra energi murni yang omnipresence, bisa ada di mana-mana.

Senin, 23 Mei 2016

MENYINGKAP RAHASIA RASA SEJATI






Rasa sejati atau rasa sayekti, adalah perangkat kecerdasan utama bagi manusia. Realitas ini membantah pandangan bahwa otaklah perangkat kecerdasan satu-satunya manusia.  Otak memang perangkat kecerdasan manusia, tetapi bukan satu-satunya. 

Lokus atau tahta keberadaan rasa sejati adalah di telenging manah, susuhing angin, atau pusat hati.  Gatra fisiknya tidak ada, tetapi keberadaan dan fungsinya nyata.  Melalui perangkat ini manusia bisa mengetahui berbagai perkara termasuk perkara yang teramat halus dan rumit.  Cara kerjanya adalah dengan sistem deteksi getar, seperti sistem pendeteksi di dalam kapal selam yang bekerja mempergunakan gelombang sonar. 

Sabtu, 21 Mei 2016

ANAK-ANAK SEMESTA DARI LEMBAH GUNUNG TIDAR






Saya lahir di Magelang.   Semesta mengatur agar saya bisa berbuat sesuatu yang berguna di tanah kelahiran. 

Bermula dari perjumpaan dengan salah satu tetangga di kampung ayah saya di Magelang, bergulirlah sebuah proses yang memungkinkan kembalinya putra-putra Gunung Tidar kepada jalan kemurnian.

Demikianlah ceritanya.  Ayahnya tinggal di sebuah gubug di tepian kolam.  Benar-benar gubug.  Di situlah ayah saya mengisi hari tua, menyatu dengan alam, bercengkerama dengan ikan, ayam dan tetumbuhan.  Bagi saya, itulah cara semesta untuk membuat ayah saya kembali kepada hidup yang sejati.

Pada satu waktu, di gubug itu, saya bertemu dengan salah satu teman kongkow ayah saya, seorang pemuda berusia 30-an. Namanya Supriono. Ketika saya bertemu dengannya, ia masih jadi penjual togel, dan baru saja keluar dari masa hukuman di penjara selama 6 bulan karena tertangkap polisi.  Entah darimana mulainya, tapi pada saat itu ia tertarik untuk berbincang dengan saya.  Saat itu, arah perbincangan memang mengarah pada pembahasan pada laku kebatinan.