Rabu, 31 Oktober 2012

CATATAN DARI SPIRITUAL ODYSSEY TRIP PERTAMA





Prolog
Agenda Spiritual Odyssey Trip 1 telah terlaksana dengan baik, walau tak sepenuhnya sesuai rencana dalam hal tempat yang dikunjungi.  Puji syukur kepada Gusti Ingkang Akaryo Jagad.  Terima kasih kepada Kang Sabdalangit dan Bu Untari, kepada Mas Gilang, Mas Mul, Mbak Rika dan teman2 tim asisten, kepada para peserta yang sangat bersemangat, Mas Amir Pohan dan seluruh kru yang rela berlelah-lelah mendokumentasikan acara demi mengungkap bagaimana ekspresi Kejawen di masa kini, dan kepada seluruh pihak yang telah membantu acara ini hingga berhasil: Mas Biyan, Pak Slamet dan para abdi dalem di Pesarean Agung Kotagede, Mas Sri di Dlepih, dan banyak nama yang tak bisa saya sebutkan satu persatu.  Tentunya, terima kasih tak terhingga juga patut saya sampaikan kepada istri dan anak-anak saya tercinta yang merelakan saya meninggalkan rumah beberapa hari.

Sungguh, begitu acara selesai dengan baik, saya lega luar biasa.  Karena, saya mengalami banyak hal sebelum acara berlangsung, yang membuat saya “agak tertekan”, he, he.  Pas kebetulan, mendekati pelaksanaan acara, saya mengalami momen-momen penting terkait dengan perubahan mendasar dalam arah hidup saya.  Ada momen jatuh bangun yang sangat cepat pada masa-masa itu.  Saya sempat bimbang seolah kehilangan arah.  Saya juga sempat berada kondisi lemah seolah tak punya energi.  Untunglah, saya masih bisa mengerjakan persiapan-persiapan acara Spiritual Odyssey tersebut.  Dan sehari sebelum acara, melalui meditasi dengan sikap dasar sumeleh total, saya mulai pulih dan berada dalam kondisi siap menjalankan tugas.

Dalam meditasi yang saya lakukan di kamar pojok di rumah Kang Sabdalangit, saya mendapatkan cahaya kesadaran.  Cahaya kesadaran tersebut mengkristal dalam sebuah semangat: “Sebagai bakti pada Ibu Pertiwi, saya harus melahirkan karya yang berharga.  Nusantara ini ibarat kanvas. Maka, saya harus bisa membuat lukisan nan indah di atasnya.”  Agenda Spiritual Odyssey, adalah salah satu “lukisan” saya, yang saya garap bersama teman-teman yang memiliki satu visi...

Pesarean Agung Kotagede


Saya tiba di Kotagede sekitar 4 sore; saya bergegas meluncur ke situ agar bisa menyambut teman-teman peserta Spiritual Odyssey yang telah mengabarkan via SMS telah mulai berada di Jogja.  Dengan hati penuh kegembiraan saya menjadi penerima tamu-tamu agung yang berdatangan dari berbagai kota: Maumere, Surabaya, Jakarta, Bandung, Surabaya, Tasikmalaya, dan lain sebagainya.  

Sekitar pukul 17.00 mayoritas peserta sudah hadir, dan pada 17.30 acara resmi dimulai.  Saya kebagian tugas memberi sambutan singkat, lalu selanjutnya Kang Sabdalangit yang memandu.  Kemudian, Pak Slamet sebagai Lurah Abdi Dalem Pesarean Agung Kotagede juga turut memberikan beberapa patah kata yang menjelaskan perihal sejarah Mataram dan Pesarean Agung Kotagede.  Kotagede, dulunya bernama Alas Mentaok, tempat di mana Tanah Perdikan Mataram pertama kali dibuka oleh Ki Ageng Pemanahan. Seiring perkembangan waktu, Tanah Perdikan Mataram berkembang menjadi sebuah kerajaan, menggantikan Kerajaan Pajang sebagai pusat kekuasaan politik di Tanah Jawa, dengan pimpinan pertama Raden Sutawijaya yang kemudian dikenal dengan gelar Panembahan Senopati.  Nama Kotagede sendiri menyimbolkan keberadaan tempat itu sebagai ibu kota Kerajaan Mataram.

Saat malam mulai turun, dan peserta masih menyimak wedaran dari Kang Sabdalangit mapun Pak Slamet, hadirlah wedang yang eksotik khas Kotagede: Cangrehe.  Wedang atau minuman ini terdiri dari Secang, Sereh dan Jahe.  Rasanya manis dan membawa kehangatan....sungguh nikmat...apalagi dipadu dengan hidangan tahu bacem.  Banyak peserta yang baru pertama kali menikmati wedang ini.
Setelah istirahat lalu makan malam dengan hidangan Gudeng Roda Bu Citra – dan sebagian peserta menunaikan ibadah shalat – para peserta menuju Sendang Kakung dan Sendang Putri sesuai jenis kelamin masing-masing untuk mandi mensucikan diri, dengan dipandu para abdi dalem.  Kang Sabda sendiri memberi petunjuk agar para peserta menyiram tubuh 17 kali, sebagai simbol permohonan agar hadir pitulungan lan kawelasan dari Gusti Ingkang Akarya Jagad.

Para peserta yang telah mandi mensucikan diri, diarahkan untuk segera berganti dengan pakaian adat, lalu secara berombongan bergiliran masuk ke ruang utama Pesarean Agung Kotagede, sowan kepada para leluhur yang sumare di situ: Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Senopati, Sultan Hadiwijaya, Ki Juru Martani, Ratu Kalinyamat, Sultan Hamengkubuwono II, Ki Ageng Mangir dan lain sebagainya.  Peserta juga dipandu untuk melakukan ritual khusus di soko atau tiang yang dulu menjadi tempat semedi Pangeran Puger – yang kemudian menjadi raja di Kraton Surakarta dan bergelar Sunan Pakubuwono I.

Banyak di antara peserta yang baru pertama kali menggunakan pakaian adat dan sowan ke makam raja-raja.  Karena itu, aya perhatikan, banyak yang merasakan kegembiraan tersendiri, dan bergegas mengabadikannya menggunakan kamera. Tentu saja, sesuai paugeran, kamera hanya bisa dipergunakan di halaman utama dekat bangsal, bukan di dalam pesarean.  Sungguh mengharukan menyaksikan Wong Jawa bali menyang Jawane......

Ada 4 rombongan yang bergantian masuk ke pesarean.  Itulah salah satu manifestasi berbakti kepada leluhur.  Saya sendiri, bersama Mas Diaz, menyusul sowan dan manekung di pesarean saat semua peserta telah tuntas.  Sungguh damai...menyatu dalam rasa, dengan para leluhur tanah Jawa....

Selanjutnya, Kang Sabdalangit memandu peserta memahami konsep dasar meditasi dan bersama-sama mempraktekkannya.  Peserta duduk bersila, berbaris-baris di halaman Pesarean Agung Kotagede.  Mereka mengikuti instruksi untuk mengatur nafas, menarik – menahan – dan menghembuskan nafas – serta memejamkan mata.  Pada momen ini, ada pelajaran berharga.  Salah satu peserta dari Jawa Timur yang juga menggeluti ilmu kebatinan, mendadak kerasukan entitas metafisik yang ada di situ.  Saya kebetulan menyaksikan sejak awal...mula-mula ia memutar-mutarkan wajahnya...sementara tatapan matanya makin nanar.  Lama-lama, ia mengaum, dan berlaku seperti harimau.  Rupanya, entitas metafisika berbentuk harimau yang merupakan salah satu “pusaka” Panembahan Senopati yang merasuki peserta tersebut.  Mengapa ini terjadi?  Yah....sederhana saja...Pesarean Agung Kotagede memang wingit...kita harus berlaku santun dan rendah hati ketika di situ.  Jangan sampai berlaku sembrono, apalagi iseng mencoba-coba ilmu ghaib di situ.  Peserta ini kembali normal setelah didekati oleh Kang Sabdalangit dan Bu Untari.

Kegiatan di Pesarean Agung Kota Gede berlangsung hingga sekitar pukul 23.00.  Kami semua – panitia maupun peserta – mengakhiri kegiatan kami di sana dengan bersama-sama menghaturkan sembah hormat kepada para leluhur di Kotagede.

Parangkusumo


Kami, rombongan Spiritual Odyssey, tiba sekitar pukul 00.00 alias pukul 24.00.  Setelah mobil diparkir, kami berjalan beriringan menuju tepian pantai.  Di sekitar, pemandangan sungguh beragam.  Ya, Parangkusumo memang tempat untuk semua niatan.  Anda mau berspiritual bisa, berhedonisria juga bisa.

Oh ya, ada satu peristiwa yang patut menjadi renungan.  Kepada para peserta, sudah diumumkan bahwa di Parangkusumo dan Kahyangan Dlepih dilarang menggunakan pakaian berwarna hijau.  Kok ndilalah, jaket Mbak Sri Rahayu yang berwarna hijau, ketinggalan di Kotagede sehingga Mbak Sri Rahayu tidak mempergunakannya saat itu.  Rupanya, Mbak Sri Rahayu diparingi anugerah oleh leluhur dengan diingatkan melalui peristiwa tersebut.  Jaket itu sendiri pada akhirnya ditemukan Kang Sabdalangit dan diserahkan kepada sang pemilik dibarengi sedikit wewarah.

Kang Sabdalangit selanjutnya meminta para peserta berbaris dua saf, menghadap ke pantai.  Lalu, sebuah garis persegi yang melingkari para peserta dibuat, dan para peserta diminta untuk tidak keluar dari garis tersebut.  Para asisten Kang Sabda menyiapkan lentera di beberapa sudut, untuk menambah terang lokasi tersebut.  Sebetulnya, saat itu tepian pantai Parangkusumo sudah cukup terang karena disinari bulan tiga perempat,  dan langitpun sedang cerah.

Tak lama kemudian, seiring dengan peserta yang mulai duduk bersila, sesaji diletakkan di tepian pantai.  Untuk selanjutnya, dilarung oleh Kang Sabdalangit.

Sejujurnya, saya sendiri, untuk momen di Parangkusumo ini, malah sibuk dengan pergulatan atau dinamika di dalam diri.  Mumpung Kang Sabdalangit yang secara penuh memandu peserta, saya rehat untuk membiarkan diri ini menyelesaikan masalahnya sendiri...antara lain rasa kantuk, lelah, yang terakumulasi sekian lama dan mencapai puncaknya pada saat itu.  Saya coba bertahan dan mengendalikan diri agar bisa tetap dalam kondisi sadar dan duduk bersila, he, he...jika tidak, saya pasti sudah tidur terlentang di tepian pantai....

Jadi, mohon maaf, tak banyak yang bisa saya ceritakan selanjutnya soal apa yang terjadi di Parangkusumo.  Silakan baca saja ulasan Kang Sabdalangit di: http://sabdalangit.wordpress.com/2012/10/31/ihtisar-so-1-going-to-so-2/.  (Sebetulnya ada banyak peristiwa metafisika yang disaksikan oleh para peserta sesuai tingkat kepekaan mereka....)

Kahyangan Dlepih


Kami meninggalkan Parangkusumo menuju Kahyangan Dlepih pukul 01.30 WIB.  Saya tak banyak ingat apa yang terjadi di sepanjang perjalanan, karena saya langsung tertidur pulas di dalam mobil yang dikendarari Mas Gendon, bersama Mas Diaz.  Bangun-bangun, kendaraan sudah mendekati Kahyangan Dlepih.  Saat itu fajar sudah mulai merekah.  Jadi pemandangan yang indah di sisi kanan dan kiri jalan, terlihat dengan jelas.  Barisan perbukitan yang anggun, dengan pepohonan yang berdiri kokoh, diselingi areal persawahan yang menghijau, sungguh sajian penuh pesona yang bisa dinikmati dengan rasa penuh syukur. Saya membayangkan, pemandangan seperti ini, tentunya sesuatu yang sangat istimewa khususnya bagi para sederek yang hidup di kota besar dan terbiasa dikelilingi hutan beton.

Sekitar pukul 05.30 rombongan tiba di Kahyangan Dlepih.  Kami semua turun dari kendaraan, lalu menikmati sajian teh dan kopi hangat yang tersaji dan sudah kami pesan dari salah satu warung.  Minuman hangat ini cukuplah untuk mengembalikan kami pada kondisi berkesadaran penuh. 

Sambil menikmati wedang teh dan kopi, kami ngobrol dengan santai.  Saya dan Kang Sabda bergantian menjelaskan berbagai informasi terkait dengan Kahyangan Dlepih.  Di antaranya, saya menjelaskan bahwa Kahyangan Dlepih merupakan salah satu simpul dari konfigurasi tempat-tempat berenergi tinggi di Pulau Jawa yang berpusat di Gunung Tidar.  Sehingga, wajar jika banyak spiritualis yang menempa diri di sini.  Selanjutnya Kang Sabda menjelaskan, bahwa Pak Harto, the smiling general yang pernah jadi pemimpin terlama di negeri ini, juga menjadikan Kahyangan Dlepih sebagai salah satu tempat favoritnya.  Salah satu rahasianya, di Kahyangan Dlepih terdapat entitas metafisik berupa ular besi yang bisa menjadi pusaka bagi para pemimpin.

Kahyangan Dlepih berada di tepian sungai berbatu-batu, di kaki perbukitan di kawasan Tirtomoyo Wonogiri.  Terdapat batu-batuan besar di situ, dengan beragam posisi.  Ada batu besar yang terjepit oleh tebing, ada juga batu besar yang berdiri menjulang dan membentuk satu ceruk yang biasa dijadikan tempat manembah/meditasi.  Di sekeliling tumbuh pohon-pohon besar dengan daun yang rimbun.  Suasana alam di situ telah mengisyaratkan Kahyangan Dlepih sebagai tempat yang berenergi tinggi dan wingit.

Setelah beristirahat sejenak, para peserta berbondong-bondong menuju halaman yang telah berlapis pavingblock.  Menuju ke situ, para peserta harus melewati jalan setapak.  Sebelumnya, ada beberapa pepunden yang harus dilalui.  Maka, saya menyempatkan diri untuk manekung menyapa leluhur di pepunden tersebut, sembari menghaturkan sesaji kembang setaman.

Di halaman berpaving block, para peserta kemudian duduk bersila dan mengikuti instruksi dari Kang Sabdalangit untuk melatih beberapa gerakan olah nafas dan meditasi.

Setelah tuntas berlatih olah nafas dan meditasi, para peserta kembali meniti jalan setapak, menuju areal paling puncak dari Kahyangan Dlepih.  Di situ ada pepunden berupa batu besar yang merupakan tempat pertemuan antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul.  Di sekelilingnya terdapat batu-batu besar menghiasi sungai – dan batu-batu tersebut bisa menjadi tempat untuk duduk bersila dan bermeditasi.  Maka, para peserta duduk bersila dan bermeditasi di situ.

Saya sendiri coba menelusuri beberapa tempat di sekitar situ.  Antara lain, saya menemukan batu bulat yang teramat besar tapi terjepit tebing.  Di dalamnya, terbentuk satu aliran sungai dan terlihat di ujungnya satu air terjun kecil.  Ingin saya mandi di air terjun itu.  Tapi tak ada jalan ke situ kecuali melewati bagian sungai – berupa kedung, yang menurut feeling saya pasti sangat dalam, dan saya tak mau gegabah.  Maka, saya hanya bisa melihat air terjun tersebut dari kejauhan.  Selain itu, ada satu titik lagi yang belum saya temukan, di bagian paling atas dari Kahyangan Dlepih.  Saya bertekad kembali lagi ke sini, dan menikmati aura spiritual yang demikian mempesona.

Puas bermeditasi dan menikmati indahnya alam di kawasan tersebut, kami lalu kembali ke lokasi parkir di mana terletak warung tempat kami bisa sarapan.  Maka, kami serombonganpun makan dengan lahap hidangan yang tersaji berupa sayur nangka, tumis, tahu dan tempe bacem, dan ikan goreng.

Sekitar pukul 10.00, kami meninggalkan Kahyangan Dlepih menuju Candi Sukuh di kaki Gunung Lawu.

Candi Sukuh


Kami mencapai Candi Sukuh melalui jalur alternatif melewati Jumapolo, Jumantono dan Matesih.  Jalan yang kami lalui berkelak-kelok, turun dan naik.  Pukul 14.00 kami tiba di Candi Sukuh.  Tapi, rombongan yang menggunakan bus tertahan karena tidak kuat melintasi salah satu tanjakan.  Maka, mobil-mobil yang lain dikerahkan untuk menjemputi para peserta yang tertinggal itu. 

Setelah istirahat sejenak dan makan siang, sekitar pukul 15.00, kami memulai acara di Candi Sukuh.  Saat hendak mulai, tiba-tiba turun gerimis.  Maka, saya bertanya kepada Kang Sabda, apakah ini bentuk sambutan dari leluhur, atau hujan biasa – sehingga kita perlu menyingkir ke Pendopo.  Kang Sabda menyarankan kami bertahan di situ – dan benarlah bahwa itu adalah gerimis sambutan dari leluhur yang segera hilang tak lama setelah kita mulai acara.

Saya mengawali acara dengan memaparkan sekilas tentang candi-candi yang ada di Indonesia – corak dan fungsi berbagai candi.  Di antara penjelasan saya adalah soal candi-candi warisan leluhur yang bercorak Budhis. Saya paparkan tentang Borobudur yang lebih sebagai “buku berbentuk candi” tempat kita membaca tentang sejarah dan kisah yang memuat nilai-nilai luhur.  Di Borobudur malah tak dijumpai tempat untuk meditasi atau manembah.  Jika mau meditasi atau manembah, itu malah bisa dilakukan di Candi Mendut.

Sementara itu untuk candi warisan leluhur yang bercorak Hindu, kita bisa temukan candi yang berfungsi sebagai tempat perabuan, tempat manembah, dan tempat bertapa.  Candi bercorak Hindu ini sebagian terbuat dari batu bata merah, sebagian lagi terbuat dari batu andhesit hitam.

Nah, Candi Sukuh, sebagaimana Candi Cetho, memiliki ciri-ciri yang agak berbeda dengan umumnya candi-candi di Indonesia yang berada dalam kategori-kategori di atas.  Candi ini lebih mirip dengan bangunan suci milik Suku Inca di Peru dan Suku Maya di Mexico.  Pertanyaannya adalah, mengapa kemiripan ini bisa terjadi?  Salah satu jawaban yang saya temukan adalah, memang ada hubungan antara Nusantara dengan kaum Indian Benua Amerika.  Sebagaimana diungkap Prof. Gualberto Alonzo Zapata, memang ada kemiripan antara pola kesadaran spiritual antara suku-suku tersebut dengan masyarakat di Asia termasuk Nusantara.  Kemiripan ini terjadi karena peristiwa saling mempengaruhi antara dua kebudayaan melalui kontak dan komunkasi langsung: baik di masa silam sebelum abad 1 Masehi, maupun pada abad 15 saat Prabu Brawijaya V memerintah - ketika Candi Sukuh dan Candi Cetho mengalami renovasi. 

Saya juga coba menjelaskan bahwa Candi Sukuh adalah tempat suci, sehingga kita harus memegang teguh etika yang ada sebagai bentuk penghormatan pada leluhur.  Antara lain, kita masuk ke candi lewat pintu depan, dan menghaturkan uluk salam.  Sementara itu Kang Sabdalangit menjelaskan struktur Candi Sukuh yang terdiri dari 9 teras, yang menyimbolkan babagan howo songo – 9 lubang nafsu pada diri manusia.  Maka, sambil kita meniti teras demi teras, kita perlu membangun kesadaran tentang pengendalian terhadap semua lubang nafsu kita.

Demikianlah, setelah itu, kami berombongan masuk ke komplek Candi Sukuh, mulai dari teras pertama, naik teras demi teras.  Saya kembali menjelaskan beberapa hal, dilengkapi oleh Kang Sabdalangit.  Antara lain mengenai soal relief yang menggambarkan interaksi antara Sadewa, salah satu dari Pendawa Lima, dengan Betari Durga.  Saya juga menjelaskan soal posisi wayang sebagai simbolisasi terhadap satu fakta historis, bukan sekadar dongeng.  Dari Candi Sukuh, kita memang bisa belajar tentang berbagai hal, mengenai sejarah bangsa kita, juga soal filosofi dan budaya luhur di tanah air tercinta ini.

Akhirnya, kami sampai ke puncak Candi Sukuh, di teras ke-9.  Kami bersama-sama bermeditasi di sana.  Dalam hening, dan hembusan angin sepoi-sepoi yang sangat menyejukkan kami semua memanunggalkan diri dengan semesta.  Sungguh momen yang eksotis!
Berikutnya, kami menuju ke lapangan rumput di teras 2.  Para peserta mengikuti instruksi dari Kang Sabdalangit untuk berlatih olah nafas dan meditasi, dilanjutkan dengan ujicoba langsung pembuktian sensitivitas peserta terhadap peserta energi.  Sungguh menarik, melihat para peserta bergantian mencoba mendemonstrasikan inner power yang terbangkitkan....

Akhirnya, materi demi materi terselesaikan.  Karena waktu telah menjelang senja dan ada beberapa peserta yang harus kembali pulang, kami rembugan dan menyepakati untuk mengakhiri acara di Candi Sukuh dan menunda kunjungan ke Candi Cetho. 

Maka, segeralah digelar acara penutupan, dimulai dengan membentangkan bendera Merah Putih, diikuti dengan kegiatan mengheningkan cipta diiringi lagu nan syahdu karya Ismail Marzuki:

Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja sepanjang masa
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala
Reff:
Melambai lambai
Nyiur di pantai
Berbisik bisik
Raja Kelana
Memuja pulau
Nan indah permai
Tanah Airku
Indonesia

Berikutnya kami semua bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian mengikuti Kang Sabdalangit mengucapkan Sumpah Pemuda.  Terakhir, Pak Fx. Kamari mewakili para peserta menyampaikan kesan dan pesan.  Kata-kata beliau sungguh menggugah nasionalisme, dan menyadarkan saya pribadi, betapa kita memang perlu memperbanyak acara semacam Spiritual Odyssey ini.

Epilog
Tibalah kami berpisah sementara.  Para peserta pulang ke rumah masing-masing.  Sebagian sempat sowan dulu ke rumah Kang Sabdalangit dan ngobrol hingga pagi di sana.

Saya, keesokan harinya, sebelum pulang ke rumah, saya memutuskan untuk naik ke puncak Gunung Tidar dulu, untuk menunjukkan rasa terima kasih saya kepada Gusti Ingkang Akaryo Jagad, juga para leluhur dan para pamomong Nusantara.

Dan, ada satu peristiwa yang menggetarkan hati saya ketika tiba di sana...ini akan saya ceritakan di kemudian hari, jika sesuatunya telah jelas dan tuntas.

Rahayu sagung dumadi.

10 komentar:

bambang setiawan mengatakan...

KangMas Setyo terimakasih atas kebersamaannya..saya mendapat pengalaman berharga.
Salam Hormat
bambangsetiawan

Kang Dudung mengatakan...

Ass... mas setyo, saya dapat sms dari mas gugi, katanya mas menitipkan buku untuk saya? meskipun bukunya belum sampai, saya menghaturkan terima kasih, semoga kebaikan panjenengan dapat balasan dari Allah SWT.... Rahayu

Setyo Hajar Dewantoro mengatakan...

Inggih Mas Bambang, saya sungguh gemberi bisa merekat persaudaraan dengan Mas Bambang dan teman-teman lain. Rahayu

Setyo Hajar Dewantoro mengatakan...

Wassalam Kang Dudung...saya menitipkan buku karya Pak Fx. Kamari, sebuah buku yang bagus dan mengandung banyak pencerahan.

Anonim mengatakan...

Pak Setyo, sebelumnya perkenalkan saya adalah seorang TKI di Abu Dhabi yg belum lama ini tertarik untuk mengenal lebih dalam tentang Kejawen.
Rasanya saya lebih memilih SO yg ini daripada yg jauh ke seberang sana. Sebenarnya saya ingin bergabung di SO-2, namun kondisi tak mengizinkan. Visa sedang dalam proses perpanjangan, jadi tak bisa pulang ke Nusantara.

Semoga akan ada SO-3, 4 dst dimana sayapun memiliki kesempatan ambil bagian menimba ilmu dan merajut persaudaraan dengan saudara2 yg lain.

Setyo Hajar Dewantoro mengatakan...

Pada waktunya panjenengan pasti bisa bergabung Mas.....Semoga pekerjaan panjenengan terlaksana dengan baik. Untuk sementara waktu, mari kita merekat persuadaraan lewat dunia maya ini.

Rahayu

mochtar mengatakan...

asem tenan, gek idene sopo tuk nyanyi, coba ada clips nya, jadi tambah jealous tenan ada "soul"nya

sabdalangit spirits & motivation mengatakan...

Mas Setyo, syair Tanah Airku yg satunya. Kan sekarang ada dua. Berikut yg kita nyanyikan di Halaman Candi Sukuh :

TANAH AIRKU

TANAH AIRKU TIDAK KULUPAKAN
KAN TERKENANG SELAMA HIDUPKU
BIAR PUN SAYA PERGI JAUH
TIDAK KAN HILANG DARI KALBU
TANAHKU YANG KUCINTAI
ENGKAU KU HARGAI

WALAUPUN BANYAK NEGERI KU JALANI
YANG MASHUR PERMAI DIKATA ORANG
TETAPI KALBU DAN RUMAHKU
DI SANALAH KU RASA SENANG
TANAH KU TAK KULUPAKAN
ENGKAU KU BANGGAKAN

TANAH AIRKU TIDAK KU LUPAKAN
KAN TERKENANG SELAMA HIDUPKU
BIAR PUN SAYA PERGI JAUH
TIDAK KAN HILANG DARI KALBU
TANAHKU YANG KUCINTAI
ENGKAU KU HARGAI

m4stono mengatakan...

rahayu mas setyo dan sedulur2.........
acaranya bagus sekali mohon maaf pas di sukuh saya "ditodong" untuk menjelaskan masalah percandian tidak bisa ikut urun rembug, kebiasaan saya kalo ditodong gitu suka blank...... o iya pas saya jalan ke atas mungkin belum sampai paling atas ada petilasan prabu airlangga di selo gowok, dan diatasnya lagi ada petilasan pangeran jatikusumo anak sultan hadiwijoyo juga murid sunan kalijogo menurut info yg saya dapat....mau keatas lagi tiba2 tanahnya longsor dr atas pertanda gak boleh meneruskan....demikian sedikit share saya......nuwun

Anonim mengatakan...

2 lagu diatas yg jd wirid sy saat memulai meditasi hening.....

sunggun dahsyat getaran hati...